
Suara ketukan pintu membuyarkan keromantisan Hansen dan Emily. Hansen beralih membuka pintu, ternyata sekretarisnya yang membawakan pesanan makanan.
"Maaf, Tuan. Ini makanan Anda," ucapnya merasa tidak enak.
"Terima kasih," sahutnya mengulurkan tangan, menerimanya.
Wanita itu segera pamit undur diri. Hansen menoleh pada Emily yang merapikan penampilannya. "Sayang, kita makan di rooftop aja," ajak Hansen.
"Enggak panas?" sahut Emily dengan ragu.
Hansen menggerakkan kepala mengarah keluar, Emily segera beranjak dan berlari menghampiri kekasihnya. Tangannya melingkar erat di lengan kekar Hansen.
Dua sejoli itu masuk ke dalam lift yang mengantarkan mereka ke rooftop. Ternyata tidak seperti dalam bayangan Emily. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung disajikan beberapa meja yang dikelilingi beberapa kursi. Setiap meja terdapat atap seperti payung raksasa yang meneduhkan.
"Wah! Keren!" pekik Emily berlari hingga ke tepi, menyandarkan tubuhnya pada dinding yang tingginya setengah meter saja. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kota yang terlihat dari atap gedung tinggi itu.
Desir angin menyapa seluruh tubuhnya. Rambut panjangnya yang tergerai mulai berhamburan. Hansen sudah menyiapkan beberapa makanan dan minuman di meja.
Ia berjalan tenang hingga berdiri di belakang Emily. Memeluk perut ramping gadis itu, menopang dagu di puncak kepala Emily. Kedua pasang mata mereka tertutup rapat, merasakan kedamaian dan kenyamanan.
"Sayang, nanti aku pengen resepsinya out door aja ya!" pinta Emily menangkup punggung tangan Hansen di perutnya.
"Hmm ... terserah kamu, Sayang. Sudah discuss sama Sasa?" tanya pria itu.
"Belum sih, nanti aja setelah ketemu orang tua kamu," jawab Emily memiringkan kepala dan sedikit mendongak. Ada sorot kekhawatiran yang berpendar dari mata jernih gadis itu.
"Ya udah, ayo makan dulu. Keburu dingin," ajak Hansen merengkuh pinggang Emily dan mengajaknya duduk.
Keduanya melewati makan siang diiringi canda dan tawa. Hansen berusaha mengurai ketegangan yang dirasakan Emily. Tiga puluh menit kemudian, sesuai rencana Hansen mengantarkan Emily ke salon terbaik di kota itu. Salon yang memiliki ruangan dan fasilitas VIP agar mereka nyaman.
Sembari menunggu, Hansen melakukan panggilan dengan Bara. Ia duduk di sofa tunggu sembari menikmati secangkir kopi dan camilan yang memang disediakan oleh pihak salon.
"Halo, ganteng!" sambut Bara dengan ceria.
"Bar, tolong kirim video engangement dadakan dulu ke semua media sosial. Jangan lupa tag aku sama Emily!" perintah Hansen to the point.
__ADS_1
"Eh, ciyus nih?" tanya Bara dengan ragu.
"Ya! Oh ya dan satu lagi, kamu jemput Emily di Golden Skin Care. Aku sebentar lagi ada urusan."
"Asiiyaap! Ini yang kutunggu-tunggu."
Tanpa membalas lagi, Hansen menutup sambungan ponselnya. Ia meraih cangkir kopi yang masih mengepulkan asap robusta. Disesapnya perlahan minuman tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebagai asisten sekaligus manager dari artis ternama, tentu saja pengikut Bara juga sangat banyak. Hampir separuh follower Emily juga mengikuti pria gemulai itu untuk mengetahui segala ativitas sang idola.
Dan tak berapa lama, postingan yang ia kirim di instagram dan media sosial lainnya langsung menjadi trending seketika. Acara wedding proposal yang penuh kejutan, sederhana namun terlihat romantis sukses membuat orang-orang baper bahkan tak sedikit yang memberi komentar menangis haru melihatnya.
Puluhan ribu komentar langsung menyerbu video yang diambil amatir tersebut. Bahkan sudah dibagikan ulang oleh ribuan netizen. Mereka sangat mendukung pasangan tersebut.
"Gunung es meleleh, ketemu pawangnya," sebut salah satu komentar.
"Cocok sekali mereka! Satu pendiam, satu super ceria. Bagai api dan air."
"Benar-benar fantastis! Nggak sia-sia ngeship mereka sejak lima tahun lalu."
"Memang fantastis sih artis satu itu! Gila baru beberapa menit langsung trending! Ckckck!" Bara tersenyum memandangi layar ponselnya yang dibanjiri notif. Ia menyimpan ponselnya, lalu melenggang pergi menjemput bosnya itu.
Seketika ponsel Hansen dan Emily juga dibanjiri ucapan selamat dari para penggemarnya. Pria itu tersenyum miring lalu beranjak dari duduknya, kemudian masuk ke dalam ruang perawatan Emily.
"Sayang, aku ada urusan. Nggak bisa dipending. Aku sudah suruh Bara jemput ke sini!" pamit Hansen saat Emily sedang menikmati threatment di wajahnya.
"Ok, hati-hati!" seru Emily mengangkat ibu jarinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di kediaman Mahendra, Jennifer memekik kegirangan di dalam kamarnya. Betapa tidak, gadis itu adalah salah satu fans berat Emily. Ia tahu dari iklan kosmetik yang sering muncul di Australia. Terkadang Jen juga menonton film yang dibintangi oleh artis itu melalui sebuah aplikasi.
"Gila! Kak Han kenapa selama ini diem aja coba. Aaaahh seneng banget!" pekiknya melompat-lompat di atas ranjang.
__ADS_1
Jen pun mencoba mengirim DM pada Emily. Tangannya bahkan sampai gemetar karena saking bahagianya. Ini pertama kalinya Jen hendak berkomunikasi pada idolanya itu.
"Kak! Ini aku Jennifer, adiknya Kak Han."
Jen sedikit ragu, ia takut Emily tidak membalasnya. Berdiri sejenak, mengatur napas dan tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Jen terlonjak kaget hingga jarinya menekan tombol sent.
"Hah! Terkirim! Aduh kok takut ya." Jen menggenggam ponselnya. Ia lalu mengarahkan pandangan pada pintu.
"Ck! Ibu apaan sih buka pintu sekasar itu. Untung Jen nggak jantungan!" gerutu gadis manis itu sembari mendudukkan tubuh mungilnya.
"Kamu itu yang apa-apaan! Teriak-teriak nggak jelas," cebik Agnes melipat kedua lengannya.
"Iya, maaf. Habis Jen seneng banget, Bu. Lihat deh! Ada kabar yang bombastis!" serunya bersemangat.
Jennifer melompat dari ranjang menghampiri ibunya. Tepat pada saat Alexa hendak melalui kamar Jen yang pintunya terbuka lebar. Ia pun berhenti melangkah.
"Apa sih?"
"Nih lihat, Bu. Kakak itu sudah punya kekasih. Beritanya aja langsung viral di negara ini. Semua netizen bahkan mendukung hubungan mereka berdua. Bu, lihatlah Kakak melamarnya dengan sangat romantis. Dan ibu tahu, dia siapa? Tahu tidak?" Jen menggoyangkan lengan ibunya dengan begitu hebohnya.
Agnes menggeleng dengan tatapan mata tak lepas dari video yang ditayangkan di media sosial itu. Keningnya mengernyit dengan alis yang saling bertaut.
"Emily Kurniawan, Bu. Artis terkenal, salah satu artis yang paling besar di negara ini. Aaaaa seneng banget deh!" Jen masih meluapkan kebahagiaannya.
Kaki Alexa melemas, tidak bisa berdiri tegak untuk menopang tubuhnya. Tadi ia merasa sulit percaya karena tidak ada bukti apa-apa selain cincin yang ditunjukkan rivalnya itu. Dan lagi, ia mendapat dukungan penuh dari Nyonya Mahendra.
'Jadi, jadi itu semua benar. Mereka tidak mengada-ada?' gumamnya dalam hati. Menyandarkan punggungnya pada dinding kamar Jennifer. Dadanya teramat sesak.
Apa yang ia dengar seperti petir yang menyambar jantungnya. Begitupun dengan Agnes yang tampak syok dengan berita tersebut.
Bersambung~
Seneng banget, Em 🙄 Abis dapet apa?
__ADS_1
Emily; Dapet Ayang, Thor. Nggak boleh ngiri!
Kagak, aku sukanya nganan 🙁