Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 122. Hancur dengan Perlahan


__ADS_3

Jihan meringkuk di sudut ruang rawat ibunya. Tangannya gemetar saat melihat berita yang telah meledak di seluruh penjuru kota. Tangisnya pun pecah, hingga meraung begitu keras.


Hidupnya terombang-ambing, tidak memiliki pegangan. Yenny yang menjanjikannya hidup di luar negeri kini sudah dijebloskan ke penjara. Ibunya yang selalu menjadi penopang hidupnya selama ini, koma entah sampai kapan bisa kembali sadar.


"Ibu! Jihan harus gimana? Jihan harus apa sekarang?" Jihan meraung dengan air mata bercucuran. Ia merangkak di lantai yang dingin itu, kedua kakinya sudah lemas, seluruh tulangnya seolah terlepas.


Tangannya menggapai tepi ranjang sang ibu. Mencoba berdiri dan menggoyangkan tubuh Maharani. "Ibu! Bangun, Bu! Jihan nggak tahu harus ngapain sekarang. Kakak dipenjara, Bu. Ayo bangun!" teriak Jihan menangis dengan keras.


Jihan sudah kehilangan arah, seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Dia merunduk memeluk erat tubuh Maharani yang terbujur di atas ranjang.


"Tok! Tok! Tok!"


Terdengar suara ketukan pintu, sebelum akhirnya beberapa perawat masuk ke ruangan Maharani. Jihan mendongak dengan raut wajah bingung dan berantakan.


"Permisi, Nona. Mohon maaf sebelumnya, tapi dimohon untuk segera membayar biaya perawatan atas nama Nyonya Maharani secepatnya. Jika dalam tiga hari tidak ada pembayaran, kami dari pihak rumah sakit akan segera mencabut seluruh fasilitas pengobatan untuk beliau," ucap salah seorang perawat menyodorkan sebuah dokumen.


Jihan mengulurkan tangannya, menerima dokumen tersebut. Matanya menunduk membaca deretan angka yang menunjukkan rincian biaya pengobatan dan rawat inap Maharani. Sampai detik ini, sudah mencapai 55 juta rupiah.


Yenny yang memilihkan fasilitas kamar VIP. Kabar yang tersiar, membuat pihak rumah sakit bergegas memberikan peringatan dan akan menindak tegas jika memang ada kendala dalam pembayaran.


"Kami permisi dulu, Nona. Mohon segera dibayarkan," ucap perawat itu lalu melenggang pergi.


Tangan Jihan menyentuh kepalanya yang berdenyut nyeri. Serasa ada beban yang sangat berat menghantamnya saat ini. "Dari mana? Dari mana aku bisa mendapatkan uang segini banyaknya?" teriak Jihan frustasi melemparkan kertas-kertas itu.


Deru napasnya terdengar kasar. Jihan menyeka air matanya, lalu bergegas meninggalkan rumah sakit. Ia tidak bisa berdiam diri dan meratapi nasib. Apalagi dia sudah tidak bisa bergantung pada siapa pun lagi.


Dengan mengendarai taksi, Jihan telah sampai di depan perusahaan Isvara setelah tiga puluh menit lamanya. Pandangannya menangkap puluhan wartawan yang berjubal di pelataran.


Jihan menghela napas panjang, "Pak, Anda punya masker?" tanya Jihan pada supir taksi.


"Ada, Nona. Silakan," sahut sang supir menyerahkan sebuah masker berwarna hitam.


Jihan mengulurkan tangan menerimanya, lalu mengenakan masker itu. "Pak, tolong tunggu sebentar. Saya nggak akan lama," pesan Jihan lalu bergegas keluar.


Kepalanya menunduk, ia berjalan cepat bahkan nyaris berlari. Ada seorang wartawan yang cukup jeli dan mengenalinya. "Eh, itu Jihan!" teriak seorang pemburu berita.


"Mana?!" tanya mereka bersamaan.


"Itu yang mau masuk!"


Mereka berbondong-bondong berlarian mengejar Jihan. Wanita itu menghindar, ia segera berlari agar segera masuk ke dalam perusahaan.


"Jihan! Tunggu!" teriak mereka bersamaan.


"Jihan! Tolong minta waktunya sebentar!"


Beberapa di antaranya, ada yang sempat menarik tangan, baju, juga tas yang dikenakannya. Jihan bersikeras untuk melepaskannya dan kembali berlari.


Napasnya tersengal-sengal. Akhirnya ia bisa terlepas dari keroyokan pemburu berita. Kedua kakinya gemetar saat sudah masuk ke dalam lift, tubuhnya membungkuk membuka masker dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Hingga suara pintu lift terbuka, kembali menegakkan tubuhnya. Jihan berjalan sempoyongan menuju ruangan ayahnya. Tanpa menyapa sang sekretaris, Jihan langsung menerobos masuk begitu saja.


"Ayah!" panggil Jihan.


Kosong, Jihan tidak menemukan ayahnya di kursi kebesarannya. Perempuan itu semakin masuk, langkahnya memelan, hingga ia menemukan sang ayah sedang duduk di bawah jendela sembari menekan kepalanya.


"Yah," panggil Jihan menunduk, menepuk bahu pria itu.


Fauzan mendongak dengan mata memerah. Melihat Jihan, membuat darahnya mendidih. Maharani dan keturunannya, membuat Fauzan menggeram marah.


"Mau apa kau ke sini?!" sentak Fauzan melotot tajam.


"Jihan mau minta tolong untuk membayar biaya rumah sakit ibu sebanyak 55 juta, Yah. Kalau tidak dibayar dalam tiga hari, semua pengobatan akan dihentikan. Dan peralatan medis dilepaskan dari tubuh ibu," papar Jihan dengan nada sendu.


"Saya tidak peduli! Mau dia mati sekalipun saya tidak peduli lagi! Pergi dari sini!" berang Fauzan berdiri tegap menunjuk pintu keluar.


Jihan mengernyitkan keningnya, telinganya sampai berdengung saking kerasnya suara sang ayah yang menggelegar. Dia kembali menangis. "Tapi, Yah. Tolong selamatkan ibu, bagaimana pun juga, ibu pernah membantu mengelola perusahaan ini," papar Jihan berkaca-kaca.


"Saya tidak peduli!" teriak Fauzan sekali lagi. Kedua tangannya mendorong bahu Jihan agar segera keluar dari ruangannya. Suasana hati dan pikirannya memang sedang tidak baik. Kedatangan Jihan hanya menjadi pelampiasan kemarahannya saja.


"Ayah jahat!" teriak Jihan menangis lalu berlari keluar.


Saat hendak memasuki lift, bahunya bersinggungan sangat keras dengan seseorang. Tubuhnya terpelanting ke lantai.


"Aaawwhh!“ rintih Jihan memegang bahunya.


"Sorry ya, sengaja!" cebik wanita itu yang suaranya tidak asing di telinganya.


"Enggak usah sentuh-sentuh. Harusnya kamu bersujud di kakiku. Karena sebentar lagi aku akan menjadi ibumu. Hahaha!" pekik Jane tertawa terbahak-bahak.


Jihan semakin melebarkan kedua matanya. Ia menjambak rambut Jane dengan keras. "Nggak usah mimpi kamu! Lagian, Fauzan itu cocoknya jadi ayah kamu, bukan suami. Cihh! Emang dasar jalangg!" cibir Jihan meledek mantan sahabatnya itu.


"Terserah apa katamu. Yang pasti akan ada saatnya aku yang menginjakmu sampai kamu berteriak memohon ampun padaku. Hahaha!" ancam Jane berbalik berjalan dengan anggun masuk ke ruangan Fauzan.


Jihan sungguh tak percaya, andai saja matanya tidak melihat sendiri secara langsung. Jihan memutuskan kembali lagi, berjalan dengan sangat pelan. Dia mencoba menguping dari balik pintu.


Dan yang didengar sungguh di luar nalar. Percakapan mesra dua orang itu tertangkap pendengaran Jihan. Bahkan semakin lama, ia semakin mendengar suara-suara aneh yang menggelitik telinganya. Kedua tangan Jihan mengepal dengan kuat. Darahnya terasa mendidih.


Jihan kembali mengenakan maskernya lalu berlari keluar melalui pintu belakang. Ia yakin, para wartawan masih mengincarnya. Dan benar saja, Jihan bisa mengelabuhi para wartawan itu.


"Pak, kita ke kediaman Isvara!" pinta Jihan.


"Baik, Nona!" sahut supir itu lalu melesat pergi dari sana.


Panas dingin dirasakan Jihan, dadanya berdegub kasar ketika teringat ucapan Jane dan suara yang tidak asing baginya. Karena dirinya pun cukup berpengalaman dalam hal itu, sewaktu bersama Hendra dulu.


Kini Jihan sampai di kediaman Isvara. Setelah turun, ia segera berlari masuk ke rumah, menerobos kamar orang tuanya. Jihan mengobrak-abrik seluruh isi lemari.


"Di mana Ayah menyimpan sertifikat tanahnya?" gumam Jihan masih membongkar isi lemarinya.

__ADS_1


Jihan tidak menemukan yang ia cari. Namun berhasil menemukan seluruh perhiasan ibunya. Jihan tidak menyerah, kini ia beralih ke ruang kerja. Di sana, Jihan juga mengobrak-abrik ruangan itu. Dari meja, laci hingga ke kolong.


"Aiisss sial! Aku harus bisa mendapatkannya." Jihan berkacak pingang. Matanya masih mengeliling. Hingga setelah beberapa lama, Jihan menemukan sebuah brankas tersembunyi.


Matanya semakin terbuka lebar, bibirnya melengkung membentuk senyum seringai. Ia berjongkok dan meraba benda persegi berbahan baja itu.


"Passwordnya berapa?" Jihan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.


Ia mulai mencoba memasukkan password tanggal lahir sang ayah, ibunya, Yenny, dan tanggal lahirnya, tapi gagal. Pintu itu masih tertutup rapat dan tidak bergerak.


Jihan mondar mandir di ruang kerja Fauzan. Ia mencari dokumen-dokumen penting yang sekiranya dipakai untuk menjadi pembuka kunci brankas tersebut. Sampailah dia di laci yang terlihat paling berbeda, keadaannya terkunci namun untungnya kunci tersebut menggantung.


Jihan pantang menyerah, dia membukanya dan ternyata berisi mengenai kenangannya bersama istri pertama Fauzan dan Khansa semasa kecil. Jihan menemukan identitas Stefanny, dia mencoba memasukkan password berdasar tanggal lahir wanita itu. Dan, klik. Pintu brankas terbuka.


"Haah? Yess!" seru Jihan dengan mata berbinar.


Buru-buru ia memasukkan seluruh aset yang ada di sana. Ia mengambil sejumlah uang, emas dan juga sertifikat tanah dan bangunan rumah itu.


Buru-buru Jihan kembali menutupnya, dia meminta pelayan untuk kembali membereskan kamar dan ruang kerja Fauzan sebelum meninggalkan rumah itu lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hansen dengan mudah mengetahui alamat Emily tanpa disebutkan. Emily hanya mengernyitkan keningnya. Ia pikir, mungkin tahu karena dia artis. Entahlah, Emily tidak mau memikirkannya. Sepanjang perjalanan terasa hambar, tidak ada pembicaraan apa pun. Hal itu membuat gadis yang biasanya cerewet itu menjadi badmood.


"Terima kasih, Tuan Han ...." Emily belum selesai berucap, namun Hansen sudah keluar dari mobil.


"Loh eh, Anda mau ke mana, Tuan?" tanya Emily menaikkan sebelah alisnya.


"Masuk!" tunjuk Hansen ke arah rumah.


"Siapa yang nyuruh mampir?"


"Enggak ada!" Hansen menggelengkan kepala namun tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan Emily.


Emily berlari mengejarnya, menarik rompi rajut yang dikenakan Hansen. "Tunggu! Lalu ngapain Anda mau masuk?" tanya Emily berhasil menyamakan langkah.


"Bertemu orang tuamu!" ucap Hansen sambil mengurai senyumnya.


Bersambung~


SaLe mana Thor?


Lagi istirahat bentar 😄



yaah... puasin deh, Tong!


Kemaleman yaa... aku ketiduran..wkwkwkwk.

__ADS_1


Gaskeundd yukk komennya... Seninn jan lupa kasih votenya yaa. MAKSA 😆😆😆 Giftnya juga boleh, seiklasnya 😘


__ADS_2