Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 165. Kabar Bahagia


__ADS_3

Racauan dan semua ungkapan Emily dapat terdengar oleh Hansen, meskipun samar karena hingar bingar suasana bar tersebut. Pria berkacamata itu, menatap lekat wajah Emily yang memerah karena kebanyakan minum.


Diam, tidak ada pergerakan apa pun dari Hansen. Helaan napas berat ia embuskan, punggungnya bersandar dengan pandangan menengadah ke langit-langit kantornya. Kelopak mata sipitnya terpejam.


Emily memang bisa membuatnya kembali merasakan debaran dada yang telah lama terkubur. Namun, pria itu teguh dengan prinsipnya. Tegas dalam mengambil keputusan. Sekali ditolak, ia sulit untuk kembali membangun pondasi lagi.


Bara menghentakkan kakinya saat melihat layar ponsel Emily. Sudah terbaca, masih online, namun tidak ada balasan apa pun. "Iih gemes banget deh. Untung ganteng! Pulanglah!" ucapnya membereskan barang-barang Emily.


Bara menunduk, "Baby! Jangan ke mana-mana. Aku mau bayar dulu," bisiknya menepuk-nepuk punggung Emily. Tubuhnya sudah ambruk di atas sofa.


Langkah pria itu panjang, namun kepalanya terus menoleh pada Emily. Takut jika ada yang mengganggu gadis itu. Matanya memicing ke kiri dan kanan memastikan kondisi aman.


"Minta bill cepet! Meja 15!" seru Bara menepuk-nepuk meja. Kepalanya masih terus menoleh pada Emily.


"Silakan, Tuan!" ucap pelayan menyerahkannya.


Buru-buru Bara mengeluarkan uang dua lembar seratus ribuan dan berlari menghampiri Emily lagi. Matanya membelalak saat melihat seseorang berani duduk di sebelah Emily dan hampir menyentuh bahunya. Rambut panjang Emily menutupi sebagian wajahnya.


"Woy!" Bara menepis lengan pria berkepala botak. "Jangan macem-macem!" semburnya melotot tajam lalu berdiri tepat di hadapannya.


Pria botak itu mengangkat kedua tangannya. Namun matanya menelisik Bara. Ia segera membangunkan Emily, melingkarkan lengan gadis itu di bahunya lalu memaksanya keluar dari tempat itu.


"Berat banget ya Tuhan! Jangan-jangan kebanyakan dosa nih anak!" Bara sedikit kesulitan membawa Emily.


Bara membuka pintu mobil, merebahkan Emily di kursi belakang. Sedikit berkeringat karena kebetulan mobilnya parkir cukup jauh. "Huuft!" Bara menyeka keringat di kening dengan telapak tangannya. Napasnya sedikit tersengal. Setelah beberapa saat, barulah ia melajukan mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Bara sudah absen ke Villa Emily. Pria itu berkacak pinggang di ambang pintu yang terbuka, napasnya berembus kasar saat melihat gadis itu masih bergelung di bawah selimut tebal.


Bara melangkah masuk dan menyibak semua gorden yang menggantung di kamar Emily. Gadis itu mengerjap saat cahaya matahari menembus dinding kelopak matanya. Satu lengannya menutup mata lalu beralih membelakangi jendela besar di ruangan itu.


"Baby! Bangun, nanti terlambat!" Bara menggoyangkan bahu Emily.


Emily semakin menaikkan selimutnya hingga ujung kepala. Bara mendecak kesal, ia pun tersenyum saat mendapat sebuah ide. "Aduh, Ganteng! Emily nggak mau bangun nih. Seret aja apa ya!" teriak Bara.


Sontak, Emily membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya beranjak dengan cepat, padahal kepalanya berdentum dengan kuat, ia kembali memejamkan mata. "Mana, Bar? Dia ke sini?" gumam Emily menaikkan kedua lutut sembari menekan kepala dengan kedua tangannya.


Bara mensejajarkan wajahnya dengan Emily. "Buka matamu," ucapnya pelan.

__ADS_1


Perlahan, Emily membuka kelopak matanya. Wajah Bara memenuhi pandangannya, ia pun beralih menatap sekeliling. Kembali cemberut saat tidak menemukan siapa pun di kamar itu selain mereka. Kepalanya menunduk memeluk kedua lututnya.


"Jadi si kulkas nggak ke sini, Bar? Ternyata gagal. Dia marah banget ya sama gue. Dia pasti kecewa. Gue masih mau berkarir, tapi gue juga nggak rela kalau dia nantinya sama wanita lain. Gimana dong, Barbara?" rengek Emily hampir menangis.


Bara mendaratkan tubuhnya di depan Emily. "Mungkin baiknya kamu bicarain baik-baik dulu, Baby. Bikin komitmen, lagian kamu masih ada kontrak." Kedua lengannya menopang kasur di belakang punggungnya. Kakinya bertumpu menjadi satu, lalu menoleh pada gadis itu.


"Aku takut dia nggak ngizinin, makanya kemarin aku langsung jawab kayak gitu," ucapnya lirih.


"Nah!" teriak Bara menepuk bahu Emily hingga membuatnya terkejut.


Emily mendorong bahu pria di depannya. "Sialan! Ngagetin tahu nggak!" gerutunya mengerutkan bibir tipisnya.


Bara terkekeh melihat perubahan ekspresi Emily. Sedangkan gadis itu semakin kesal karena ditertawakan. Wajahnya semakin kusut dan berantakan.


"Itu namanya kamu overthinking, Baby. Siapa tahu setelah kamu bicara baik-baik, dia bisa memakluminya," terangnya merebahkan tubuh di ranjang Emily.


"Lu 'kan cowok, Bar? Kalau lu jadi Hansen bakal bersikap gimana?" tanya Emily menegakkan duduknya, memperhatikan pria itu lekat-lekat.


"Kamu lupa, aku udah mati rasa, Baby! Nggak bisa membayangkan dan merasakan. Kamu salah nanya kayak gitu sama aku," ucap Bara menoleh pada Emily, terdiam beberapa saat hanya saling melempar pandang lalu tertawa terbahak bersama-sama.


"Badan doang gede. Tapi jiwanya ...." Emily mendekatkan kepalanya pada muka Bara. "LEMAH!" lanjutnya penuh penekanan.


Bara menutup hidungnya sembari mendorong kepala Emily dengan telapak tangannya. Gadis itu sampai terjengkang ke belakang. "Bau alkohol tau! Sana mandi!"


Bara hanya tertawa sambil menahan serangan-serangan Emily dengan kedua lengan kekarnya. Emily terus memukulnya sekuat tenaga, sekaligus melampiaskan rasa kesal fi hatinya.


"Udah cukup! Sekarang mandi!" tegas Bara merebut gulingnya dan hendak memukul balik Emily. Gadis itu segera menurunkan kedua kakinya ke lantai dan berlari ke kamar mandi.


Bara bernapas lega, ia kembali duduk memutar tubuhnya dan menatap nanar ke arah pintu kamar mandi. Tiba-tiba dia teringat dengan adik perempuannya yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu. "Persis banget sama kamu, Dek. Gimana kabar kamu sekarang? Kakak kangen," gumamnya menyeka air mata yang menerobos dari kedua sudut matanya.


Bara memang sangat menyayangi Emily, semua sikapnya, manjanya, selalu mengingatkan pada adik kandungnya. Ia tulus melindungi Emily, berharap adiknya juga akan mendapat perlakuan yang sama.


Rutinitas seperti biasa dijalani oleh Emily. Ia berusaha profesional melakukan pekerjaannya. Meski berat, tapi mau tidak mau harus dia lakukan. Bara tengah asyik merapikan rambut Emily, ia sudah selesai merias wajah gadis cantik itu. Sedangkan Emily mengotak atik ponselnya.


Tiba-tiba kedua bola matanya melebar dengan sempurna, mulutnya juga menganga. "Barbara! Apa yang kamu lakukan!" teriak Emily melengking di telinga Bara.


Pria itu terjingkat beberapa langkah ke belakang sambil menutup telinga. "Buset! Ni cewek nggak ada manis-manisnya sama sekali. Kok bisa sih manusia kulkas itu jatuh cinta sama yang model begini!" gerutunya menepuk-nepuk daun telinga yang berdenging.


"Barbara!!" teriak Emily lagi meletakkan ponsel di meja rias sambil menghentakkan kedua kakinya.

__ADS_1


"Apasih, Baby. Untung jantung aku kuat!" celetuk Bara mendekat.


Emily melempar tatapan tajam disertai deru napas yang terdengar kasar. Bara masih tidak sadar kesalahannya. Ia melongokkan kepala untuk mencari sumber kekesaalan gadis itu.


"Oh!" katanya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Kenapa kamu kirim video aku pas mabuk sama Hansen?" pekik Emily menyibak rambutnya.


Bara menepuk dahi Emily dengan sisir yang dia genggam. "Haduh, mengcapek deh serba salah. Bukannya kamu sendiri yang bilang, pengen mabuk lagi biar si kulkas itu balik lagi ke sini?" ucapnya melipat kedua lengannya di dada.


Emily meneguk ludahnya, dadanya masih naik turun. "Ya, enggak harus dikirimin videonya juga. Aduh, Barbara! Muka gue, Bar. Selametin muka gue!" serunya panik menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Udah deh, kalau cinta ya bilang aja cinta. Nggak usah gengsi-gengsian lagi. Gue embat tahu rasa loh!" gurau Bara dengan nada centilnya.


"Heh! Beraninya!" sentak Emily meninju dada kekar pria itu.


"Bercanda, Baby." Buru-buru Bara mengelak. "Dua hari ini kamu harus kerja keras biar bisa dapet libur seminggu," cetusnya merapikan alat-alat make up Emily, mengapit tasnya lalu melenggang pergi.


Emily masih tercengang, pasalnya ia tidak ada jadwal libur selama satu bulan ini. Tapi tiba-tiba Bara berkata seperti itu. Mata indahnya mengerjap perlahan.


"Bar! Seriusly? Gue dapet libur seminggu?" pekik Emily berlari keluar menyusul langkah Bara.


"Hmm!" jawabnya hanya berdehem.


"Aaaaa!! Sumpah demi apa?" Emily kegirangan merengkuh lengan Bara.


"Demi manusia kulkas dua pintu. Biar bisa pulang, terus ungkapin sana perasaanmu. Biar nggak dilanda galau terus cari perhatian nggak jelas gitu!" cebik pria itu membukakan pintu untuk Emily.


Gadis itu tersenyum lebar, entah kenapa rasanya bahagia sekali mendengar kabar tersebut. Ia pun bersemangat menjalani aktivitasnya yang sangat padat.


"Enggak bakal kena pinalty 'kan, Bar?"


Bersambung~


Siapa kemaren yg nyari visual Barbara,😌



Bodyguard emily nih 🤭

__ADS_1



Diihh enggak sabaran!


__ADS_2