
"Halo!" sapa Emily ketika mendengar suara Hansen di seberang.
Khansa buru-buru merangkak naik ke ranjang dan mendekatkan telinga pada Emily untuk mendengar suara Hansen. Kebetulan pria itu memang tidak bisa tidur.
"Sayang, Leon tidur di sana 'kan?" tanya Emily yang beralih menekan loudspeaker.
"Iya, Sayang. Kenapa?" jawab Hansen.
"Han! Leon baik-baik saja 'kan? Dia lagi apa? Kenapa telepon aku nggak diangkat ya? Apa udah tidur?" cecar Khansa tak sabaran.
"Eee ... Kak Leon di kamar kakak ipar," ucap Hansen singkat.
"Han, tolong liatin Leon. Perasaanku nggak enak deh. Dia mudah terbangun kalau tidur. Tapi aku telepon berkali-kali nggak diangkat," keluh Khansa memohon.
"Oke, sebentar."
Hansen bergegas menuju kamarnya. Pria itu mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Untuk mematahkan kekhawatiran Khansa, Hansen menerobos masuk. Pintu memang tidak terkunci.
"Kak?" panggil Hansen.
Kakinya melangkah dengan sangat pelan, takut mengejutkan saudaranya itu. Namun ia terkejut saat tak menemukan Leon di atas ranjang.
"Kak Leon?!" seru Hansen lagi.
Di tengah kebingungannya, Hansen mendengar suara dari kamar mandi. Segera ia berlari ke sana karena Leon terdengar tidak baik-baik saja.
"Astaga, Kak! Kenapa?" tanya Hansen memijit tengkuk Leon yang muntah-muntah di wastafel.
Beberapa menit kemudian, Leon membersihkan diri dan dipapah Hansen menuju ranjang. Leon melempar tubuhnya yang lemah tak berdaya usai memuntahkan seluruh isi perutnya. Pria itu malas bersuara, hanya memejamkan mata, sembari mengatur napas.
Hansen menaikkan selimut hingga dada. Jemarinya bergerak cepat mengirim pesan pada Emily, memberitahukan kondisi Leon.
Khansa membelalak, "Emily! Aku harus ke sana sekarang!" ucapnya khawatir.
"Tapi ...."
"Nggak bisa! Aku nggak bisa biarin Leon sendirian. Maaf ya, aku cuma bisa menghabiskan waktu bersamamu sampai detik ini saja. Suamiku sedang membutuhkanku," ucap Khansa.
"Bentar!"
Emily mengambil outer sepanjang lutut agar tidak kelamaan harus mengganti gaun. Ia juga bergegas ke kamar Bara menggedornya.
Karena biasanya tidak dikunci, Emily pun menerobos masuk. Ternyata di sana Bara masih asyik menonton pertandingan bola.
"Calon pengantin ngapain jam segini keluyuran?" tanya pria itu menoleh pada adiknya.
"Bang, tolong anterin Sasa ke rumah Hansen," pintanya duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Bara menatap jam di sebelah tv nya. "Jam segini?" tanyanya memastikan.
"Iya, suaminya sakit. Tolong ya!" rengek Emily.
"Oke!" Jawaban singkat Bara membuat Emily mendesah lega. Bara segera turun meraih jaket.
"Makasih, Bang. Kamu terbaik! Aku tunggu di luar. Jangan lama-lama ya!" Emily berlari meminta Khansa menunggu kakaknya yang sedang bersiap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan tidak membutuhkan waktu lama. Karena sudah lewat tengah malam. Khansa segera turun setelah mengucapkan terima kasih. Hansen sudah menunggunya sedari tadi setelah saling berkabar dengan Emily. Bara langsung putar balik. Karena tidak ingin kesiangan besok untuk acara penting adiknya.
"Gimana?" Khansa berjalan cepat.
"Kakak ipar lihat sendiri saja. Dia nggak mau ngomong dan nggak mau aku kasih obat," jawab Hansen sembari berjalan menunjukkan kamarnya.
Sesampainya di depan kamar, Hansen meninggalkan pengantin lama itu. Khansa membuka pintu sedikit kasar.
"Sudah kubilang, tinggalkan aku sendiri!" ucap Leon yang membelakangi pintu.
Khansa melangkah tanpa berucap apa pun. Ia langsung melompat ke atas ranjang dan memeluk suaminya dari belakang.
Leon membuka mata dengan cepat. Ia hafal aroma tubuh siapa yang tengah memeluknya. Leon juga hafal sentuhan dan pelukan hangat itu. Namun pria itu bergeming.
"Sayang. Are you ok?" bisik Khansa di telinga suaminya.
"Kangen sama daddy nya twins," ucap Khansa mencium pipinya, Leon tentu saja menahan senyum. Ia sendiri sudah tidak selemah tadi, seolah mampu menyerap kekuatan dari sang istri.
Melihat tak ada pergerakan dari pria itu, Khansa mencebik kesal. "Sayang! Aku balik lagi nih, dianggurin gini!"
Decakan halus pun terdengar dari bibir tipisnya. Khansa yang kesal segera beranjak, namun dengan cepat lengannya ditahan oleh Leon dan menariknya hingga terjatuh pada dada bidangnya.
Leon memeluknya dengan sangat erat, mencium puncak kepala wanita itu dengan bersemangat. "Makasih, Sayang. Eh, siapa yang anter kamu?" tanya Leon, mengingat ini sudah lewat tengah malam.
Khansa pun membenarkan posisinya. "Kakaknya Emily, langsung pulang tadi. Abisnya kamu bikin khawatir, aku telepon bolak balik nggak diangkat," ucapnya mendongak menatap wajah tampan suaminya.
"Kan udah pernah bilang twins nggak mau jauh-jauh dari daddy nya. Duduk di mana tadi?" Leon beralih ke perut Khansa mengusapnya lembut lalu menciumnya beberapa kali.
"Di belakang lah. Masa di atap mobil?" balas Khansa.
Leon tertawa, ia menghujani ciuman pada wajah istrinya. Meluapkan kerinduannya yang hanya beberapa jam saja tak bertemu. Memeluknya dengan sangat erat.
"Eh, ini kenapa kamu tidur di kamar pengantin sih?" tanya Khansa ketika menyadari mereka menempati kamar Hansen.
"Biarin! Pengennya di sini!" seloroh Leon cuek.
Sebuah cubitan dilayangkan di perut sixpack Leon, "Nakal kamu ya."
__ADS_1
Leon mendesis kecil, "Tidurlah, Sayang. Sudah mau pagi! Terima kasih selalu ngertiin aku. I love you," bisiknya mencium kening Khansa.
"Love you too, Daddy," balas Khansa menelusupkan kepala di dada bidang suaminya.
Tidak sesuai rencana, walaupun sempat menghabiskan waktu berdua bersama Emily, endingnya tetap bersama sang suami. Kedua peran yang dijalani dalam satu malam. Sahabat sekaligus istri yang baik. Adil 'kan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi pun mulai menyapa, Leon dan Khansa sudah dijemput assisten Gerry untuk bersiap hadir ke acara pernikahan Hansen dan Emily.
Sedangkan di kediaman Emily, kini gadis itu tengah dirias oleh MUA ternama. Tangannya saling menggenggam, merasakan hawa dingin yang menguar di kamarnya.
Detak jantungnya pun mulai bertalu kuat, mengingat sebentar lagi statusnya akan berubah.
"Emily!" panggil Bara mengetuk pintu kamarnya.
"Iya?" sahutnya.
"Aku masuk ya," izin lelaki itu.
"Iya masuk aja. Udah selesai!" jawab Emily yang tengah dirapikan gaun putihnya. Ada juga hair stylish yang merias rambutnya agar lebih indah.
Pintu terbuka lebar, Emily masih fokus dengan gaun lebarnya yang cukup ribet. Pandangannya menunduk sembari berbincang dengan wardrobe untuk menemukan posisi nyaman dan tetap terlihat elegan.
"Surprise!"
Teriakan beberapa wanita menggema di kamar Emily setelah pintu terbuka dengan lebar.
Sontak Emily menoleh, manik matanya yang indah kini melebar dengan sempurna. Terkejut bukan main dengan kehadiran rekan-rekan sesama artis yang mengenakan pakaian senada.
"Hai! Kalian datang?" pekik Emily bersemangat.
Enam orang gadis cantik kini mendekati Emily, melingkari calon pengantin itu lalu memeluknya.
"Kalian bilang nggak bisa dateng. Ah, ini benar-benar kejutan," seru Emily.
"Ya nggak mungkin dong, apalagi ini permintaan langsung dari manajer kamu yang kece badai dan semlohay itu! Sengaja emang!" tunjuk salah satunya pada Bara sembari mengedipkan mata.
"Dih!" decih Bara memutar bola matanya malas.
"Dia kakak kandungku," ucap Emily mengakui status mereka sebenarnya.
"What?!" teriak mereka berenam terkejut. Mereka saling pandang, lalu menarik lengan Emily.
"Eh maulah jadi kakak ipar kamu!" celetuk mereka bergantian.
Emily tertawa melihat tingkah teman-temannya yang memang masih single itu. Berbeda dengan Bara yang justru mendengkus kesal. Ia memilih pergi meninggalkan kamar Emily.
__ADS_1
Bersambung~