
Kepanikan kini melanda Arief Wandana. Langkahnya begitu cepat dan panjang agar bisa segera mencapai istrinya. Maharani pun tersentak kaget, tubuhnya terpaku di tempat melihat Nyonya Wandana yang sudah seperti singa keluar dari kandangnya.
“Sa—sayang!” panggil Arief menyentuh bahu istrinya.
Kedua manik hitam wanita itu berubah nyalang, aura kemarahan memancar dari seluruh gestur tubuhnya. Tidak ada senyum sedikit pun yang biasa menghias bibir cantiknya.
“Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu, hah?” teriak Nyonya Wandana menepis tangan sang suami.
Beberapa orang kini memusatkan pandangan ke depan. Tidak menyangka bahwa istri dari Arief Wandana hadir dengan kemarahan yang siap meletus saat itu juga.
“Tenang dulu, tenang. I—ini nggak seperti yang kamu lihat kok. Duduk dulu ya,” ucap Arief Wandana terbata-bata.
“Tenang-tenang gimana? Masih mau mengelak? Aku sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri kalau kamu sedang bermesraan sama wanita murahan itu!” teriak Nyonya Wandana menggelegar.
Musik yang sedari tadi mengalun indah, bahkan dihentikan oleh operator. Semua orang pun bungkam tidak berani mengeluarkan suara. Sehingga pertengkaran mereka terdengar sangat jelas.
Arief Wandana merengkuh bahu istrinya, lalu mendudukkan di kursi yang ada di sebelahnya.
‘Ck! Ah nggak seru!’ ucap Khansa dalam hati. Ia pergi menemui EO di belakang panggung.
“Aku bisa jelasin semuanya.” Arief menarik kursi dan duduk di depan sang istri. Tangannya meraih jemari sang istri dan menggenggam di atas pahanya.
Pria itu menghela napas panjang, memberanikan diri untuk menatap kedua manik istrinya. Ia meneguk ludah dengan susah payah. “Begini, eee … sebenarnya Maharani itu adalah anak angkatku, Sayang,” ucapnya pelan membelai punggung tangan sang istri.
Mendengar pernyataan itu, Maharani bergegas turun dari area dansa. Ia pun memberanikan diri untuk mendekat pada pasangan itu. “Itu benar, Nyonya. Tuan Wandana adalah papa angkat saya. Hubungan kami sekedar ayah dan putri kok,” imbuh Maharani agar lebih meyakinkan Nyonya Wandana.
Nyonya Wandana menatap sinis pada Maharani. Pandangannya menilik ujung rambut hingga ujung kakinya. Ditatap seperti itu, membuat Maharani bergidik dan menelan saliva dengan berat.
“Tuh kan, Sayang. Kamu denger sendiri? Ini tuh anak angkat aku, percaya deh,” rengek Tuan Wandana seperti anak kecil yang takut akan kemarahan ibunya.
Arief Wandana terus berusaha meyakinkan istrinya, kalau Maharani adalah putri angkatnya.
Wanita itu menatap Maharani dan suaminya bergantian. Ia menangkap raut ketakutan pada kedua wajah orang itu.
Maharani pun menarik paksa kedua sudut bibirnya agar tersenyum. Tanpa diduga, yang terjadi selanjutnya adalah Nyonya Wandana berdiri sambil meraih gelas berisi minuman dan menyiramkannya tepat di wajah Maharani.
“Byurr!”
Maharani tersentak, ia gelagapan sembari menyeka air yang mengguyur mukanya tiba-tiba. Semua orang menutup mulutnya yang menganga. Mata mereka pun membelalak karena terkejut.
__ADS_1
“Cih? Anak angkat? Mana ada anak angkat mesra begitu, he?” cibir Nyonya Wandana menatap sinis sembari melipat kedua lengannya.
“Kamu memang wanita gatal!” imbuhnya mendorong Maharani hingga terjengkang dan jatuh ke lantai.
Fauzan sangat membenci Maharani, tapi tidak berani membesarkan masalah karena memerlukan dana investasi. Khansa berjalan pelan sembari menonton pertunjukan live itu. Ia kembali menuju tempat duduknya tadi sambil tertawa. Orang-orang merasakan suasana tegang, dia malah tertawa sendiri.
Fauzan mendekati Maharani, ia membantu membangunkan istrinya yang sudah seperti kucing kecebur got itu.
“Nyonya Wandana, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Tapi memang benar, bahwa istri saya ini adalah anak angkat Tuan Arief Wandana,” jelas Fauzan membungkukkan setengah tubuhnya. Ia juga masih merengkuh Maharani yang sudah gemetar ketakutan.
“Tuh ‘kan, bener, Sayang. Aku nggak bohong,” imbuh Arief.
Nyonya Wandana menatap Fauzan penuh selidik. Melihat keseriusan pria itu, Nyonya Wandana sedikit percaya dan kemarahannya mulai mereda. Namun masih terlihat jelas kilat mata tajam milik wanita itu. Bahkan dadanya masih naik turun dengan deru napas kasar karena emosi.
“Jadi bener cuma ayah angkat?” Orang-orang mulai bergosip.
“Entahlah, Fauzan aja percaya. Tapi insting kita selama ini belum pernah meleset ‘kan?” timpal teman satunya.
“Iya juga sih, aku sendiri ragu. Jangan-jangan ayah angkat hanya kedok aja kali.”
“Bener tuh. Lagian nih ya, kalau ayah angkat pastinya Nyonya Wandana tahu dong. Lah ini sembunyi-sembunyi. Mana lengket begitu. Siapa yang bakal percaya?”
Belum sempat menjawab, pencahayaan di ruangan itu tiba-tiba meredup. Layar monitor yang sangat besar kini mulai menyala. Semua mata mengarah ke sana karena sudah mencuri perhatian mereka.
“Berasa di bioskop. Sayangnya nggak ada popcorn nih, kurang afdhal,” gumam Khansa dengan senyum menyeringai.
Awalnya, layar tersebut akan memutar video kemesraan Fauzan dan Maharani beberapa tahun ini, tapi ternyata tidak sesuai dengan rencana awal.
Mesin proyektor itu membiaskan video-video Maharani saat ia masih muda dan menjadi bintang film ternama. Video yang pertama adalah pernikahannya dengan Fauzan, namun selanjutnya membuat semua orang tercengang.
“Hah? Itu yang disebut ayah sama anak angkat?” tunjuk salah seorang tamu berkomentar.
“Ternyata sudah sejak lama mereka memiliki hubungan,” sahut rekan di sebelahnya.
Dalam video tersebut, tampak jelas Maharani bermesraan dengan Arief Wandana di lokasi syuting. Wanita itu duduk di pangkuan Arief dan melingkarkan kedua lengan di lehernya. Wajah mereka tak berjarak, keduanya saling bersenda gurau. Bahkan Arief memegang kedua pinggang Maharani.
Tubuh Maharani gemetar ketakutan saat melihatnya. Keringat pun mulai membasahi seluruh wajahnya. Jemarinya terasa dingin dengan irama jantung berdegub kuat.
Nyonya Wandana kembali tersulut emosi. Matanya menyala merah. Ia menatap suaminya yang samar-samar tampak sangat terkejut. Berganti menatap Maharani yang terlihat ketakutan sekali. Sedangkan Fauzan menggeram marah, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
__ADS_1
Tak hanya itu, slide berikutnya menunjukkan Maharani dan Arief yang berjalan mesra di sebuah hotel. Di sana, mereka bertemu dengan beberapa pria kaya, ternyata melakukan transaksi.
Arief Wandana menjual Maharani pada bos-bos besar saat itu. Maharani menurutinya, ia akan melakukan apa saja demi bisa mendongkrak karirnya. Karena Arief Wandana memang menawarkan hal yang menjanjikan.
“Maharani!” pekik Nyonya Wandana saat video itu sudah berakhir dan lampu kembali menyala.
Yang dipanggil menoleh ketakutan. Nyonya Wandana mendekat lalu manjambak rambut Maharani, hingga sanggulnya terlepas. “Kamu benar-benar pelakor kelas kakap ya! Pelakor berkedok anak angkat? Cuih!”
Nyonya Wandana melemparkannya ke lantai, Maharani hanya bisa menangis tanpa perlawanan. Arief Wandana pun tidak berani melerai karena takut akan menjadi boomerang untuknya sendiri.
“Jadi ternyata kamu melakukannya sudah sejak lama? Seharusnya aku membunuhmu, Maharani!” teriak Nyonya Wandana menginjak-injak kedua kaki Maharani dengan heels yang dikenakannya.
“Aaarrggh … ampun, Nyonya. Maafkan saya!” teriak Maharani mengerang kesakitan.
Seolah tak mendengar rintihan kesakitannya, Nyonya Wandana terus memukuli Maharani dengan membabi buta. Tidak ada yang berani melarangnya. Fauzan pun tak berkutik karena ia sendiri sangat emosi usia melihatnya.
“Ampun, maafkan saya Nyonya,” rintih Maharani memelas. Jihan menangis tersedu-sedu. Namun ia sendiri tidak berani berbuat apa-apa.
Nyonya Wandana melampiaskan seluruh amarahnya. Menampar, memukuli wajah, perut, menginjak-injaknya sampai Maharani terkapar tak berdaya.
Bersambung~
Cieee yang weekend dikasih lima bab lagi~
Selamat liburan and happy readings~
Love sekebon Cabe milik sendiri dari author kremes 😘😘
__ADS_1