Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 114. Batu Giok Hijau


__ADS_3

Fauzan nampak terkejut, bibirnya sedikit terbuka. Namun detik berikutnya ia segera kembali menarik kesadarannya. Mulutnya mendecih dan menatap remeh Khansa.


"Hng! Jadi kamu ke sini untuk mengarang cerita?" gumam Fauzan menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. Jemarinya menggerak-gerakkan bolpoin hingga menimbulkan suara karena bersinggungan dengan meja.


"Tidak masalah kalau Anda tidak percaya. Tapi, saya sarankan agar Anda bersiap-siap jika sewaktu-waktu nanti perusahaan ini gulung tikar," ucap Khansa tersenyum misterius menegakkan tubuhnya. "Dan satu lagi, jangan kaget ya kalau nanti perusahaan ini pindah kepemilikan, namaku pula," lanjutnya memainkan kuku-kuku cantiknya.


Kening Fauzan tampak berkedut, giginya bergemelatuk dengan pandangan yang tajam. "Pulanglah, Sa. Sepertinya kamu sedang mabuk," cetus Fauzan dengan dingin.


"Saya sadar sesadar-sadarnya, Tuan Fauzan yang terhormat! Makanya, urus dengan benar pernikahan putrimu. Sampai-sampai menantunya saja tidak tahu, mungkin lebih tepatnya tidak mau tahu ya. Harta aja yang ada di otak kamu itu. Untung saja aku punya nenek mertua yang sangat baik. Lebih memanusiakan manusia, mau mengurus semua dokumen pernikahan bahkan sampai memberikan hartanya untukku!" Khansa tertawa puas setelah mengatakannya.


"Pria itu, bukan pria sekarat seperti yang kalian pikirkan!" lanjutnya berbalik dan melenggang pergi.


Leon yang tidak hadir saat resepsi pernikahannya, semakin menguatkan dugaan bahwa pria yang menikah dengan Khansa adalah pria sekarat.


Nenek Sebastian dan Paman Indra yang mengurus semuanya. Nenek memang mengatakan cucunya sakit parah dan ingin segera mendapatkan keturunan.


Namun, anggapan Fauzan dan keluarga, pria itu sedang sekarat dan hampir mati. Karenanya Maharani meminta Khansa untuk menggantikannya. Padahal yang dimaksud nenek adalah penyakit insomnia parah yang diderita Leon. Nenek ingin segera menikahkannya karena Leon tidak pernah dekat dengan perempuan. Hingga nenek sempat berpikir bahwa Leon impoten.


Khansa membuka pintu, kedua kakinya sudah menapak di luar ruangan. Ia memutar tubuhnya, "Semoga Anda masih panjang umur sampai aku bisa melihat kehancuran Anda!" ucapnya terkekeh menutup pintu.


"Brak!"


"Kamu sama jalangnya seperti ibumu!" pekik Fauzan melempar vas bunga tepat pada daun pintu.


Pintu kembali terbuka. Sorot mata tajam dengan deru napas memburu begitu jelas terlihat dari gestur tubuh Khansa. Langkahnya tegas dan cepat menghampiri Fauzan lalu melayangkan sebuah tamparan keras pada lelaki itu.


"Kamu boleh menghina saya sepuasnya! Tapi jangan sekali-kali menghina ibu saya!" pekik Khansa dengan mata menyalang.


"Dia wanita baik-baik yang difitnah dan dibunuh dengan perlahan oleh manusia iblis seperti Maharani!" teriak Khansa tepat di depan muka Fauzan.


Tidak ingin emosinya semakin meledak, Khansa segera berbalik meninggalkan Fauzan yang termenung dan seperti orang ling-lung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua hari kemudian ....

__ADS_1


"Sasa! Kita berangkat bareng 'kan?" ucap Emily yang masih sibuk merias wajahnya.


"Bukannya kamu harus hadir saat opening? Duluan saja nggak apa-apa. Dari pada nanti terlambat," sahut Khansa masih mencari gaunnya.


Emily sudah selesai menyapukan make up di wajahnya. Ia menoleh pada Khansa yang ada di belakangnya, "Nanti kamu naik apa?"


"Taksi online banyak. Udah buruan sana!" Khansa mendorong tubuh Emily.


"Yaudah, nanti pulangnya aja bareng ya," ucap Emily yang dibalas anggukan oleh Khansa.


Selang 30 menit, Khansa sudah bersiap dengan balutan dress panjang, yang memperlihatkan lekuk tubuh yang ramping. Rambut panjangnya dijepit sebelah, sisanya digerai. Ia bergegas hadir, tak lupa membawa undangannya.


Khansa tiba di sebuah gedung serbaguna setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit. Ia melangkahkan kaki jenjangnya dengan anggun.


"Permisi, maaf kartu undangannya."


Di depan pintu masuk, petugas keamanan meminta untuk menunjukkan undangan. Setelah itu, ia dipersilakan masuk dan berhenti di depan petugas penerima tamu.


Acara bazar amal tahunan, dihadiri oleh seluruh pengusaha di kota Palembang. Beberapa pejabat juga turut hadir. Tak lupa awak media juga berbondong-bondong untuk mendapatkan berita besar.


Khansa memutar bola matanya malas. Sepertinya Yenny tidak terpengaruh dengan gertakan yang dilayangkannya. Perempuan itu mampu menutupinya dengan baik. Wajahnya nampak biasa saja.


"Aku dapet undangan nih, VIP lagi," ucap Khansa menggoyangkan kartu itu di depan Yenny.


"Nggak mungkin! Nyolong di mana kamu?" pekik yenny menatap remeh.


Yenny mengerutkan keningnya dalam, dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa? Orang-orang di sekitarnya pun menatap ke arah mereka dan mulai bergunjing.


"Enggak ada kapoknya ya si Khansa cari gara-gara sama Yenny?" cibir beberapa tamu.


"Iya, ya. Aduh, nyalinya tinggi banget sih! Udah dihujat seluruh rakyat kok masih berani berulah," sahut yang lainnya.


"Nyolong? Aku nggak pernah ya berbuat serendah itu!" ucap Khansa dengan santai.


"Helleh, nggak usah munafik deh kamu, Sa!" ucap Yenny dengan sinis.

__ADS_1


Khansa maju beberapa langkah, jarak keduanya semakin rapat. Tatapan Khansa berubah menyeringai tajam. "Kau sudah menyiapkan 10 milyar belum? Atau udah siap dituntut?" bisik Khansa menjambak rambut Yenny hingga mendongak.


Wajah Yenny mendadak pias, jantungnya seolah berhenti berdetak, matanya membelalak semakin lebar. 'Bagaimana Khansa bisa tahu?' batinnya bergejolak.


"Kenapa? Kaget ya?" Khansa terkekeh.


Dari kejauhan, Leon sempat melihat interaksi dua perempuan itu. Leon berjalan santai dan tegas diikuti Gerry di belakangnya. Selama ini, Leon tidak pernah mau menghadiri acara-acara besar seperti ini.


Namun karena ucapan Khansa, Leon memutuskan untuk menghadirinya. Gerry sedari tadi berusaha mencegahnya, ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada tuannya itu. Banyak yang mengincar nyawa Leon Sebastian.


"Tuan, Nyonya?" tanya Gerry berbisik. Leon menaikkan kelima jarinya agar Gerry tetap diam. Sebelum diberi tahu pun, mata elang Leon sudah menangkap istri kesayangannya.


"Lepas! Apa maksudmu?" tanya Yenny dengan wajah pucatnya. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Sudah berusaha dibasahi dengan saliva, tapi tetap sia-sia.


"Yenny, Yenny!" Khansa terkekeh menggelengkan kepalanya.


Leon terus melangkah, ia berusaha untuk mengabaikan kedua perempuan itu. Namun tiba-tiba, Yenny yang melihatnya langsung berlari menghampiri dan menggamit lengan Leon.


"Tuan! Senang sekali Anda datang. Tolong, dia mau menganiaya saya, Tuan!" ucap Yenny memelas mengangkat jari telunjuknya pada wajah Khansa.


Pandangan Khansa dan Leon saling beradu. Sepasang manik Khansa seperti berapi-api. Leon bergeming di tempatnya. Cukup lama keduanya saling bersitatap.


Yenny pun mengeluarkan kalung batu giok berwarna hijau yang sedari tadi berada di balik gaunnya, untuk menarik simpati Leon. Leon meliriknya sekilas. Pandangan Khansa beralih pada tangan Yenny yang sibuk membenahi kalungnya.


Khansa melihat kalung miliknya, kalung pemberian pria yang pernah dia tolong beberapa tahun lalu. Dia sangat yakin karena bentuknya unik dan tidak pasaran. Ada lambang huruf S di tengahnya.


Bersambung~


Setiap bab seribuan kata kok. Lebih malah. Jadi udah panjang yaa...klo pendek mah cuma 500an kata 😄😄 Jangan skip bab yaa.. yuk manjat lagi yang lgsg loncat ☺


Dua bab nih... Kasih like sama bom komennya harus rata ya. kalo enggak, aku ngambek... wkwkwk



😍😍 Mas Leee... Aku padamuu...

__ADS_1



__ADS_2