
Sepasang manik elang Leon menangkap sekelebat siluet Khansa dari balik jendela bangunan villa itu. Bibirnya menyungging penuh seringai. Pria itu melangkah sangat pelan agar benturan sepatunya dengan marmer tidak terdengar.
Leon sengaja berdiri tepat di depan pintu sembari memasukkan satu lengannya ke saku celana. Ia tidak berniat untuk memasuki rumah terlebih dahulu. Pria itu sengaja ingin mengerjai Khansa.
Sedangkan di dalam rumah, Khansa sudah gelisah sedari tadi. Ia menyibak gorden tipis berwarna putih yang menggantung di jendela. Mengintip ke halaman sembari celingukan, mengedarkan pandangan ke penjuru halaman.
“Kok sepi? Mobilnya udah sampai. Orangnya ke mana?” Khansa menatap jam yang melingkar di lengannya. Satu menit, dua menit, bahkan sampai lima menit masih tidak ada tanda-tanda kedatangan Leon.
Khansa pun sedikit kesal. Ia bersandar pada daun pintu sembari melipat kedua lengannya. “Perasaan jarak parkir ke teras nggak jauh-jauh banget. Tapi kenapa nggak sampai-sampai sih?” gerutunya.
Akhirnya Khansa berbalik, menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. Tangan kecilnya mengusap-usap dadanya untuk membantu meredam debaran jantungnya.
“Coba cek keluar deh,” gumam Khansa.
Lengannya terulur dan membuka pintu dengan kasar. “Aaaa!” pekiknya terkejut setengah mati. Khansa terlonjak saat melihat Leon berdiri dengan gagah di depannya. Matanya membelalak begitu lebar. Tubuhnya terhuyung ke belakang karena terkejut. Jantungnya seolah terlepas dari rongga dadanya.
Dengan sigap, lengan kekar Leon melingkar di punggung Khansa lalu menariknya hingga membentur dada bidangnya. Kedua tangan Khansa pun refleks memegang dada Leon. Tubuh mereka berhimpitan tak berjarak. Khansa terbuai dan hanyut dalam manik hitam Leon.
“Begini caranya menyambut suami?” ucap Leon menyadarkan Khansa dari lamunannya setelah beberapa saat.
“Hah! Kamu membuatku hampir mati!” cebik Khansa menegakkan tubuhnya sembari mengatur napasnya.
Wajahnya sudah memanas, pandangannya segera beralih dari Leon. Sedangkan pria itu hanya terkekeh geli melihat Khansa yang salah tingkah.
“Khansa! Ada apa? Kenapa teriak-teriak?” seru Nenek Sebastian berjalan cepat ke arahnya. Tak hanya itu, beberapa pelayan juga turut berlari mendekat, termasuk Paman Indra.
Khansa mendorong dada Leon, menjauhkan tubuhnya dari pria itu. Lalu berbalik untuk menghadap sang nenek. Dan betapa terkejutnya Khansa, karena banyak orang yang memperhatikannya.
“Nenek, maaf. Khansa tadi terkejut karena kedatangan Leon yang tiba-tiba. Jadi, refleks teriak. Maaf ya, Nek. Maaf semuanya,” ucap Khansa tidak enak sembari membungkukkan tubuhnya.
Leon tertawa tanpa suara, ia melangkah masuk lalu merengkuh bahu Khansa, menempelkan tubuh mereka.
“Itu sambutan untuk Leon versi Sasa, Nek,” gurau Leon menundukkan pandangan menatap Khansa yang hendak melayangkan protes.
“Eee … bukan, bukan seperti itu, Nek. Leon aja yang tiba-tiba mengejutkanku,” elaknya mendongak dengan tatapan tajam.
“Hah, syukurlah. Nenek pikir kamu kenapa-napa, Sa,” ucap Nenek mengusap lengan Khansa. “Ayo masuk. Pelayan, bawakan minuman hangat untuk kami!” ucap sang nenek menghela napas lega.
__ADS_1
“Baik, Nyonya!” Semua pelayan segera bergegas membubarkan diri. Salah seorang dari mereka menyeduh teh hangat untuk keluarga tersebut.
Nenek Sebastian menarik lengan kedua cucunya untuk duduk di sofa keluarga. Leon tidak melepaskan rengkuhan lengannya dari bahu Khansa. Meski sedari tadi gadis itu mengelak karena malu. Pria itu duduk dan memaksa Khansa untuk duduk di sampingnya.
“Leon lepasin dong, malu sama nenek,” bisik Khansa di telinga Leon.
Bukannya dilepas, justru Leon semakin mendekapnya dengan erat. “Eh, eh! Kecekik Leon!” pekik Khansa menepuk-nepuk lengan yang membelit lehernya. Leon sangat merindukan gadis itu. Matanya terpejam, menghirup aroma wangi yang selalu ia rindukan dari gadis itu.
“Leon, bahaya! Jangan seperti itu! Kamu bisa menyakiti Khansa!” teriak sang nenek penuh kekhawatiran.
Pria itu tak menggubris, membuka kelopak matanya lalu tertawa menangkap wajah Khansa yang semakin memerah, malu bercampur bahagia. Mata Leon tak lepas dari wajah Khansa yang sangat dekat dengannya. Hingga, sebuah gigitan yang sangat keras dari Khansa di lengan Leon, membuatnya terlepas.
“Aaarrghh! Sasa!” teriak Leon kesakitan meremas bekas gigitan Khansa.
Akhirnya, Khansa bisa bernapas lega. Nenek Sebastian bukannya marah, ia justru tertawa terbahak-bahak.
“Bagus, Sa. Nenek mendukungmu, hahaha!” seru sang nenek.
“Nek, ini kekerasan, Nek! Bukannya dilarang malah didukung,” protes Leon meringis kesakitan.
Leon membuka jas yang dikenakannya, lalu membuka kancing kemeja dan menggulungnya hingga ke siku. Tampak jelas bekas gigitan Khansa melingkar di lengan Leon.
“Silakan, Tuan dan Nyonya,” ucap seorang pelayan meletakkan teh herbal seperti resep nenek Sebastian di meja.
“Terima kasih, Bi,” ujar Khansa tersenyum menatap sang pelayan, lalu keduanya saling menganggukkan kepala.
Pelayan segera pamit undur diri usai membungkukkan tubuhnya. Nenek dan Khansa segera meneguk minuman tersebut, benar-benar bisa menghangatkan tubuhnya.
“Kenapa nggak diminum, Leon?” tanya nenek meletakkan cangkir di meja.
“Kan tangannya sakit, Nek. Pelakunya harus tanggung jawab dong.” Leon memicingkan mata menatap Khansa di sebelahnya.
Hampir saja Khansa tersedak minumannya. Buru-buru ia menelan air agar melalui tenggorokannya, menoleh pada Leon.
“Maksudnya apa?” tanya Khansa menggenggam cangkir di pangkuannya.
“Suapi lah. Kan kamu yang udah bikin aku kayak gini!” goda Leon menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Khansa mengembuskan napas beratnya lalu meletakkan cangkirnya, meraih cangkir milik Leon dan menyuapkannya perlahan. Leon tersenyum penuh kemenangan.
“Cuma gitu aja, jangan lemah Leon!” seru sang nenek dengan nada mengejek.
“Uhuk! Uhuk!” Leon tersedak, Khansa menurunkan cangkir menjauhkan dari bibir Leon lalu menepuk-nepuk punggung lebar pria itu.
“Ah, nenek. Ini ‘kan trik, Nek,” cetus Leon tidak terima.
Khansa menghentikan gerakannya. Ia langsung meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Leon menoleh, menampilkan senyum seringai dengan tatapan penuh nafsu.
“Leon akan buktiin kalau Leon tidak lemah,” ucapnya membuat Khansa meneguk saliva berkali-kali.
“Apa?” tanya Khansa mengerutkan alisnya. Ia mundur sedikit membuat jarak dari Leon, merasa ada yang aneh dari tatapan itu.
Leon beranjak berdiri dan dalam sekejap, Khansa berada di gendongannya. Gadis itu terperanjat dengan mata membelalak lebar. Bukan hal yang sulit, tubuh Khansa yang tidak genap 50 kg itu sangat ringan bagi Leon.
“Leon, turunin aku!” jerit Khansa menggerakkan kedua kakinya. Lengannya melingkar erat di leher kokoh pria itu.
“Aku cuma buktiin sama nenek kalau aku kuat, enggak lemah,” bisik Leon membuat Khansa merinding di sekujur tubuhnya. Ia merasa sangat malu, membuang muka ke sembarang arah.
Nenek Sebastian menyunggingkan senyuman lebar di bibirnya. “Nenek sangat berharap bisa segera mendapatkan cicit,” ucapnya sambil tertawa.
Khansa menjadi canggung. Leon pun tersenyum penuh arti menatap perempuan dalam rengkuhannya itu. Terlihat sekali wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
“Nenek beristirahatlah, sudah larut. Kami ke atas dulu ya, Nek,” pamit Leon melenggang meninggalkan neneknya.
“Iya, jangan lupa pesanan nenek,” celetuk nenek Sebastian beranjak berdiri.
Langkah Leon terhenti, lalu berbalik menaikkan kedua alisnya. “Pesanan?”
“Iya, buatin cicit yang banyak!” seru sang nenek tertawa lalu melangkah ke kamarnya.
Leon lalu menggendong Khansa naik ke lantai atas dengan secepat kilat.
Bersambung~
__ADS_1
Maap ya Cintaah semuanya telat banget... semalem gak bisa ngebut. Kemarin abis vaksin dan lengannya rasanya MasyaAllah ngilu linu kemeng gimana gitu 😭 Kepala juga ikutan migrain... padahal aku paling takut ama jarum. sampe didatengin ama petugas medis. wkwkwk
Ini yang empat menyusul secepatnya. ditunggu ya 😘