Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 119. Tidak Mau Menjauh


__ADS_3

Berita boombastis tengah meledak di seluruh penjuru kota. Yenny Isvara yang tadinya dielu-elukan semua orang kini berbanding terbalik menjadi bullyan seantero jagat raya.


Kasus penipuan dan pencemaran nama baik ditambah tuntutan pengembalian dana dari Tuan dan Nyonya Sebastian, mencoreng nama Yenny seketika. Seluruh stasiun televisi tak melewatkan dari berita besar tersebut. Majalah, koran dan media-media lainnya juga tidak mau ketinggalan. Sesuai rencana, nama Khansa dan Leon sama sekali tidak terekspose.


Fauzan terdiam melihat kabar besar itu. Dering ponsel, telepon, menggema di seluruh penjuru ruangan. Pikirannya mendadak kosong. Ia merasa, ucapan Khansa tidak main-main.


"Tuan," panggil sekretaris Fauzan tergesa-gesa. "Semua klien mencabut investor yang baru saja ditanam. Termasuk ... termasuk Tuan Sebastian," lanjutnya sembari meletakkan berkas-berkas di hadapan pria itu.


Melihat kemarahan Tuan Sebastian, tidak ada perusahaan yang berani menjalin kerja sama dengan Fauzan lagi. Mereka tidak mau mengambil resiko kehilangan relasi bisnis pengusaha raksasa itu, jika masih berani berhubungan dengan perusahaan Isvara.


Fauzan masih bergeming, ia sudah tidak bisa berpikir lagi. Kedua tangannya menopang kepala yang berdenyut nyeri di atas meja. "Aaaarrghhhh!" teriaknya menyibak semua benda yang ada di meja.


Berkas-berkas, alat tulis, telepon juga gelas berhamburan di lantai. Sang sekretaris terjingkat kaget. Ia hanya bisa menunduk lalu meninggalkan ruangan bossnya itu.


"Yenny!" geramnya mengepalkan kedua tangannya. Matanya menyalang merah, dengusan napasnya terdengar sangat kasar.


Putri yang dia banggakan selama ini, dalam sekejap menjatuhkannya ke dasar jurang yang sangat gelap. Emosi, marah, menggumpal menjadi satu yang bergemuruh di dadanya.


Di depan perusahaan Isvara, para wartawan sudah memenuhi gedung untuk meminta tanggapan Fauzan mengenai kasus putrinya. Pria itu membuka tirai jendela dan mengintip. Fauzan tidak berani keluar dari ruangannya.


Kepalanya serasa mau pecah, tubuhnya luruh ke lantai sambil menekan kepalanya. Disaat seperti ini, ia teringat dengan Stefanny. Wanita yang menemaninya berjuang dari nol. Selama bersamanya, hidupnya tentram, penuh kedamaian. Sebuah fitnah dan godaan Maharani, membuat awal kehancuran hidupnya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khansa memaksa Leon masuk ke UGD, agar lukanya segera ditangani. Emily menunggu mereka di luar ruangan, sembari memainkan ponselnya. Di saat senggang, ratu gosip itu selalu suka scroll berita-berita hangat yang sedang merebak.


Bibir tipis Emily, menyunggingkan senyum kepuasan saat melihat kehancuran Yenny secara perlahan. "Mampus aja di penjara!" umpatnya.


Tiba-tiba keningnya mengerut dalam, bibirnya sedikit terbuka saat melihat berita trending lainnya. Dirinya kini menjadi sorotan publik. Para netizen tengah menjodoh-jodohkannya dengan salah satu konglomerat di Palembang. Siapa lagi kalau bukan Hansen?


"Iiih kok bisa sih!" seru Emily menatap berbagai foto candidnya yang terlihat bersama Hansen.


Tak dapat terpungkiri, dadanya berdegub kasar, tangannya bahkan gemetar dengan pipi bersemu merah. "Bisa-bisanya kayak orang gila gini!" gumamnya tersenyum sendiri sembari menutup muka dengan kedua telapak tangannya.


Sementara di dalam UGD, Leon menolak perawat yang akan mengobati lukanya. "Biarkan dokter saya yang mengobatinya, Anda keluarlah!" tolak pria itu dengan tegas.


"Dokter Anda? Kalau boleh tahu, siapa ya Tuan. Akan segera saya panggilkan," ucap perawat tersebut dengan sopan.

__ADS_1


Leon beralih menatap Khansa yang berdiri di sampingnya. Khansa menaikkan kedua alisnya, "Apa?" tanyanya.


"Obati aku," ucap Leon tersenyum lebar.


"Haiss, aku 'kan bukan dokter!" elak Khansa menautkan kedua alisnya.


Leon mengulurkan tangannya, meraih jemari Khansa dan menggenggamnya. "Aku maunya kamu!" Sebenarnya, memang enggan disentuh-sentuh oleh perempuan lain. Meski petugas medis sekalipun.


Perawat itu terkekeh sambil menggelengkan kepala. Ia hendak membuka balutan kain di tangan Leon, namun segera diurungkan karena Leon menyingkirkan tangannya.


"Saya cuma mau istri saya!" tegasnya dengan wajah serius.


"Maaf, Tuan. Izinkan saya melihat seberapa besar lukanya untuk menentukan tindakan selanjutnya," ucap perawat itu masih bersabar.


Khansa mendesah kasar. Ia merasa tidak enak, lalu segera membuka kain yang sudah berubah warna menjadi merah itu. Leon terus menatap Khansa yang sibuk mengulik tangannya. Darahnya kembali mengalir deras.


"Sepertinya, lukanya harus dijahit, Tuan," ujar perawat itu setelah melihatnya.


Khansa menyodorkan tangan Leon pada perawat itu, "Tangani saja. Abaikan ucapannya," tegas Khansa melirik sang suami dengan ekor matanya dan hendak pergi.


"Astaga, Leon!" gerutu Khansa geram bercampur malu.


"Tidak apa-apa, Nyonya di sini saja. Biar prosesnya lancar," ucap perawat itu setelah menyiapkan semua alatnya di atas nampan stainless.


Decakan kecil terdengar dari lidah Khansa. Ia pun memeluk Leon yang merebahkan kepala di dadanya. Satu tangannya menyangga tangan Leon yang langsung dijahit oleh perempuan berseragam putih.


Setelah tiga puluh menit, tangan Leon selesai diobati, kini sudah terbalut kasa berwarna putih. Pria itu masih nyaman dengan posisinya. Sang perawat hanya tersenyum melihatnya. 'Untung saya nggak jomblo,' gumamnya dalam hati.


"Sudah ya, Nyonya. Berikut resep obatnya, tolong digantin perbannya setiap hari, semoga lekas sembuh, Tuan. Permisi," pamit perawat itu meninggalkan pasangan yang ia anggap pengantin baru. Lama-lama berada di sana hanya membuatnya ingin segera pulang.


"Terima kasih," ucap Khansa mengangguk.


Leon masih tak melepaskan pelukannya, masih nyaman bersandar di dada Khansa. Wanita itu menunduk, menatap Leon yang terpejam. Bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir tipisnya, ah pahatan Tuhan yang sempurna. Khansa menyunggingkan senyum sembari mengusap kepala Leon.


"Aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi. Ternyata setelah beberapa tahun, kamu terlihat semakin dewasa, berwibawa dan semakin tampan," gumamnya dengan dada berdegub kencang.


"Aku memang tampan dari lahir," ucap Leon mendongak.

__ADS_1


Khansa membelalak, ia pikir Leon tertidur. Refleks, Khansa menjauhkan tubuhnya. Namun Leon semakin menekan punggung Khansa agar tidak menjauh darinya.


"Leon ini di rumah sakit!" seru Khansa menyentuh bahu Leon dengan gugup.


"Kenapa emangnya? Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Leon menatap kedua mata Khansa.


Wanita itu memalingkan mukanya. Jika boleh jujur, dia juga sangat merindukan pria itu. Namun, perih di hatinya belum menghilang sepenuhnya. Mungkin masih membutuhkan waktu.


"Aku mau ketemu Bibi Fida, lepas Leon," ucap Khansa mencoba melepaskan lilitan tangan Leon.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Leon.


"Ya makanya aku mau ke sana sekarang. Suster menelepon, tadi Bibi Fida sempat sadar. Ayolah," ajak Khansa menarik lengan Leon.


"Tunggu!"


Leon melompat dari ranjang, dengan cepat menyibak cadar Khansa dan menyerang bibirnya. Khansa membelalak, jantungnya hampir meledak saat itu juga. Ia sama sekali tidak ada persiapan apa pun. Kedua tangannya reflek mencengkeram jas milik Leon.


Satu tangan Leon menahan tengkuk Khansa, menyesap manisnya bibir wanita itu, mereguk kenikmatan yang sangat ia rindukan selama ini.


"Sasa!"


Bersambung~


Adudududuuuu.... Nggak tahu tempat!



😌: Eh! Enggak ada loh ya. Jangan fitness!


Mas Le: Fitnas fitness? Tuh lu ciptakan pengganggu pas lagi emmm....


😒: Siape suruh nggak tau tempat! Tempat umum itu wehh.


Maap ya bebskii.... kmren sibuk banget mondar mandir di RS, pulang ampe malem terus langsung tidur 😄 semoga hari ini gak ada gangguan dan hambatan biar sore bisa up lagii...


uuuhh mamaciwww loh dukungannyaa.. Lope youuu puullll sabang sampe meraukee 😂😘

__ADS_1


__ADS_2