
Hari sudah menjelang pagi. Banyak orang-orang yang sudah mulai beraktivitas. Baik pejuang rupiah maupun pelajar yang menempuh perjalanan panjang. Disaat matahari belum mulai menyembul, mereka sudah berjubal dalam bus seperti saat ini.
Khansa tetap menaikinya, meski pada akhirnya ia tidak mendapat tempat duduk.
“Sasa!” teriak Leon berlari mengejarnya. Leon bahkan sudah sampai di luar bar, namun terlambat karena bus sudah mulai melaju.
“Aaahh! Sial!” pekik Leon mengacak rambutnya.
Leon mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Kembali memasuki bar dan menaiki mobil sportnya.
Buru-buru ia nyalakan, memundurkannya beberapa meter dan keluar dari area parkir. Segera ia menginjak pedal gas dengan kuat untuk mengejar transportasi umum tadi.
Khansa berdiri menyandar di samping jendela dan melihat pemandangan yang berlalu di luar jendela.
“Eh eh, lihat deh ada mobil sport mewah yang ngejar bus ini!” ucap seorang gadis berseragam putih abu-abu pada teman sebangkunya.
Khansa menangkap pembicaraan itu. Namun ia mengabaikannya. Khansa masih bersandar dengan nyaman, menikmati pemandangan luar.
“Mana! Mana!” sahut temannya antusias.
Mereka kompak menengok ke belakang. “Tuh tuh, mobil mewah yang nggak ada atapnya. Dari tadi ngikutin kita terus tahu nggak?” tunjuk gadis berponi sepanjang alis itu.
“Serius? Oh my god! Ada pangerannya! Gila ganteng banget! Aah jangan-jangan mau jemput aku! Astaga, udah cantik belum? Udah rapi?” ungkap teman satunya yang berambut panjang merapikan rambutnya.
“Plak!”
Gadis berponi menepuk pipinya. “Kamu kalau halu ketinggian!” serunya.
“Sakit, Sisi!” gadis berambut panjang mengusap pipinya.
Mereka sibuk mengamati mobil di belakangnya, sampai tak sadar posisi duduk keduanya terus menghadap belakang. Kedua lututnya bertumpu pada kursi penumpang.
Semua orang penasaran dengan apa yang dilihat oleh dua remaja itu. Mereka tampak berbisik lalu tiba-tiba tertawa cekikikan.
Para penumpang pun mengarahkan pandangannya ke belakang. Barulah mereka sadar dengan mobil mewah dan keren disertai pengemudi yang sangat tampan.
“Aaaaa … ada pangeran tampan lagi ngejar bus!” seru seorang wanita berpakaian kantor. Ia bahkan sampai menghentakkan kedua kakinya.
__ADS_1
“Wow, bener-bener keren. Suami masa depanku itu!” celetuk orang di sebelahnya.
“Heh! Sembarangan kalau ngomong. Suami kamu sekarang mau dikemanain? Ini jatah untuk jomblo, yang udah sold out menyingkir,” ucap wanita berpakaian kantor tadi sembari merapikan dandanannya.
Ibu-ibu yang duduk di seberangnya menepuk bahu wanita itu. “Hei, Mbak! Emang pangerannya mau sama situ?” cibir wanita paruh baya yang sepertinya hendak ke pasar.
“Biarin aja lah, Bu. Namanya juga usaha!” balas wanita kantor itu menebalkan lipstiknya.
Banyak perempuan yang menjerit histeris setelah melihatnya. Suasana di bus pun menjadi sangat ramai karena membicarakan pria beserta mobil yang sangat keren itu.
Khansa yang berdiri tak jauh dari mereka pun penasaran. Ia mengikuti arah pandang mereka. Dan matanya seketika membulat.
“Leon? Mau ngapain?” jeritnya dalam hati.
Khansa terkejut karena Leon mengejar bus itu dengan mobil sportnya yang memang sangat keren itu. Khansa bingung dengan kelakuan Leon.
Saat melihat situasi jalan yang pas, Leon segera menyalip dan berhenti dengan jarak cukup jauh melintang di depan bus agar kendaraan itu tidak mengerem mendadak. Leon keluar dari mobil, menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Bus pun berhenti membuat orang bertanya-tanya.
“Pak, nggak ada penumpang juga? Kenapa berhenti sih?” teriak seorang ibu-ibu.
“Iya, Pak. Perjalanan masih jauh nih, nanti aku terlambat!” seru gadis berseragam abu-abu tadi.
“Pak sopir kalau saya telat nanti gantiin gaji saya yang dipotong ya!” teriak seorang karyawan.
Sopir itu bergeming, tidak menjawab semua racauan penumpangnya yang memang kebanyakan para wanita itu.
Tak berapa lama, Leon berjalan ke arah bus. Semuanya histeris saat Leon dengan langkah elegan dan mantap memasuki tranportasi umum itu. Pandangannya mengedar hingga mampu menemukan Khansa yang sedang memeluk erat pegangan bus, kepalanya menunduk sambil menggesek-gesekkan kakinya.
Teriakan yang sedari tadi menggema karena bus tiba-tiba berhenti, mendadak hening. Semua mata mengarah pada pria macho yang elegant itu. Banyak di antara mereka yang menganga dan melebarkan mata melihatnya. Tak ingin melewatkan mahakarya Tuhan yang sangat indah di depannya. Mereka seperti terhipnotis dengan ketampanan Leon.
Leon masih mengatupkan bibirnya. Jaraknya dengan Khansa cukup jauh. Khansa ada di bagian paling belakang, sedangkan Leon masuk melalui pintu depan.
Di dalam bus yang berjubal itu, banyak penumpang yang berdiri saling berdesakan. Bahkan untuk berjalan saja rasanya sempit. Pandangan Leon mengarah pada satu per satu orang yang ada di depannya.
“Kasih jalan, kasih jalan!” Sang sopir mengerti, pria tampan bak pangeran itu tengah mencari seseorang yang menjadi salah satu penumpangnya. Karena sedari tadi terus mengikutinya.
Satu persatu dari penumpang yang berdiri itu menghimpitkan tubuh pada kursi penumpang agar bisa membuka jalan untuk Leon.
__ADS_1
Jalan sudah terbuka lebar. Leon melangkah perlahan hingga berhenti tepat di hadapan Khansa. Kedua lengan Leon menyentuh bahu gadis itu. Semua pandangan mengarah pada dua orang itu. Banyak di antara mereka yang merasa iri pada Khansa.
“Tuan Leon ngapain di sini?” bisik Khansa melirik sekitarnya.
Leon menggendong Khansa tanpa basa basi, “Kenapa tidak menjawab teleponku? Tunggu saja hukuman dariku!” ucapnya tegas melenggang pergi melalui pintu belakang.
Khansa yang terkejut refleks mengalungkan tangannya di leher Leon, dengan mata membelalak dan hati yang meleyot.
“Yaaah! Kecewa,” desah beberapa perempuan melihat Leon pergi yang menggendong Khansa.
“Perempuan bercadar itu mematahkan haluku,” ucap wanita kantor dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
“Mungkin kamu harus memakai cadar juga biar dapet yang seperti itu,” celetuk ibu-ibu di seberangnya.
“Begitukah?” tanyanya tampak memikirkan pendapat ibu itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mendudukkan Khansa di mobilnya, Leon langsung memasangkan sabuk pengaman dan bergegas duduk di balik kemudi.
“Ya ampun sweetnya milik orang,” celetuk salah satu penumpang bus yang masih mengamati pergerakan mereka.
Leon segera menginjak pedal gas, melajukan mobil sport nya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada percakapan apa pun. Khansa masih shock dengan aksi Leon yang gentelmen tadi.
Saat mengamati jalan ternyata berlawanan arah menuju villa. Khansa melihat Leon yang masih fokus dengan jalan di depannya.
“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Khansa lirih. Tidak ada sahutan apa pun dari pria di sebelahnya itu.
Tak berapa lama, mobil terparkir rapi. Leon bergegas turun dan membukakan pintu untuk Khansa. Namun, pria itu tidak membiarkannya menginjak lantai. Leon kembali menggendongnya.
“Turunkan aku!” Khansa memberontak turun.
“Diam!” Leon menatapnya tajam. Khansa tidak berani membantah lagi, jemarinya meremas kerah kemeja Leon.
Khansa dibawa Leon ke sebuah kamar presiden suite. Leon tersenyum tipis lalu merebahkan Khansa ke atas ranjang yang empuk. Leon mulai melepaskan celana, Khansa sangat ketakutan, “Leon, jangan mendekat!”
Khansa memundurkan tubuhnya hingga terpentok headboard kasur.
__ADS_1
Bersambung~