Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 125. Eksekusi


__ADS_3

Iring-iringan mobil Leon dan para pengawalnya melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Leon memfokuskan pandangannya, tangannya mencengkeram setir dengan kuat, dengan kaki yang menginjak pedal gas dalam-dalam.


Tak butuh waktu lama, Leon dan beberapa anak buahnya telah sampai di pelataran gedung kosong yang cukup jauh dari pusat kota dan pemukiman penduduk.


Leon menjajakkan kedua kakinya di tanah lapang, menutup pintu mobilnya hingga berdebam sangat keras. Langkah kakinya tegas dan panjang, diikuti beberapa anak buahnya. Banyak pasang sepatu kini menggema di ruangan yang sangat luas. Mata tajam, gigi bergemeletuk dan kepalan kuat kedua tangan Leon, membuat siapapun yang melihatnya merasa merinding seketika.


"Tuan!" Gerry dan beberapa orang lainnya serentak membungkukkan separuh tubuhnya saat melihat kedatangan Leon.


Tangan Leon menengadah, tatapannya mengarah pada seorang pria bongsor yang terikat di kursi. Wajahnya sudah dipenuhi luka dan darah. Matanya sayu dan tubuhnya pun sudah lemas tak bertenaga.


Seorang anak buah Leon menyerahkan sepasang sarung tangan. Dengan gerakan tegas, Leon mengenakannya. Lalu kembali menengadah lagi. Kali ini, Gerry yang maju selangkah, menyerahkan sebuah desert eagle jenis Max XIX berwarna silver.


"Apa dia sudah mengaku?" tanya Leon memeriksa amunisi pada senjata di tangannya.


"Belum, Tuan!" sahut Gerry menunduk. Ia merasa takut karena tidak berhasil menginterogasi pelaku penusukan Leon waktu itu.


Leon maju beberapa langkah hingga berdiri di tepat di depan orang itu. Menendang kaki kursi hingga terjatuh ke lantai. Leon mengangkat salah satu ujung sepatunya, mendongakkan dagu pria yang sudah tak berdaya di lantai itu.


Matanya memicing mengamati wajah itu lamat-lamat. Ia meletakkan moncong pistol tepat pada kening targetnya. Dia berjongkok dengan salah satu sudut bibirnya terangkat.


"DOR!" Sebuah peluru menembus kepala targetnya.


Dengan sekali tarik pelatuk, hancur kepala pria itu. Darah segar menyembur kemana-mana. Bahkan mengenai wajah, juga kemeja putih yang dikenakan Leon. Pria tampan itu tersenyum mengerikan.


Berbeda dengan seluruh anak buahnya yang sangat terkejut. Tidak menyangka tuannya akan langsung membunuhnya. Suara tembakan tiba-tiba, memekakkan telinga mereka.


"Tuan, kenapa Anda langsung membunuhnya? Kita bahkan belum mendapatkan informasi apa pun!" seru Gerry menyayangkan tindakan tuannya.


Leon memutar bola matanya, tatapan tajam kini mengarah pada sang asisten. "Dia tipe orang setia. Kamu gebukin sampai mati pun, dia tidak akan mau mengaku. Saya sudah tahu siapa orangnya," jelas Leon bersuara dingin.


Gerry masih nampak ragu, "Sekarang saya kembalikan padamu. Bagaimana jika waktu kamu menyusup ke Jakarta kemarin tertangkap sama mereka. Apa kamu akan mengaku siapa bosmu?" lanjutnya mengumpakan.


Berulang kali Gerry menggeleng. Kini ia mengerti maksud dari atasannya itu. Leon kembali menyerahkan deaglenya pada peti yang masih dibawa oleh Gerry. Lalu membuang sarung tangan pada tempat sampah tak jauh dari jangkauannya.


"Bereskan dan bersihkan mayatnya. Tambah penjagaan untuk Khansa dan Bibi Fida. Karena Bibi Fida saksi kunci untuk menghancurkan mereka!" ucap Leon dingin menggerakkan kelima jari tangannya.


"Baik, Tuan!" jawab Gerry patuh. Ia lalu menyampaikan pesan pada pemimpin bodyguard itu.


"Gerry! Ikut denganku!" ucap Leon melempar kunci mobil yang langsung ditangkap oleh asistennya itu.


Semua orang membungkuk memberi hormat, saat Leon melenggang pergi. Beberapa pengawal kembali mengikutinya. Gerry dengan sedikit berlari, membukakan pintu penumpang dan mempersilakan Leon masuk.

__ADS_1


Setelahnya ia bergegas duduk di balik kemudi dan melajukan mobil Leon. "Kita, ke mana Tuan?" tanya Gerry menatap Leon.


"Ke Bar milik Simon!" jawabnya singkat.


"Baik," sahut Gerry mempercepat laju mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tunggu di sini! Saya hanya mandi sebentar!" pesan Leon lalu keluar dari mobilnya.


Untung saja, Leon masih punya beberapa setel pakaian di sana. Jika tidak, dia tidak tahu akan pulang ke mana. Tidak mungkin dalam kondisi seperti itu, pulang ke villa atau ke rumah sakit.


Hanya butuh tiga puluh menit, Leon sudah kembali bersih dan rapi. Leon lalu meminta Gerry untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Gerry!" panggil Leon serius.


"Iya, Tuan!" jawabnya sesekali menatap spion di depannya.


"Pulihkan CCTV sepuluh tahun yang lalu, Ger!" ucap Leon dengan santai.


Gerry segera menginjak pedal remnya kuat-kuat. Dua mobil pengikutnya juga turut berhenti dan bergegas turun mendekati mobil Leon.


"Maaf, Tuan. Habisnya Tuan seperti meminta es krim saja." Gerry membuka jendela dan memberi isyarat baik-baik saja. Mereka pun segera kembali ke mobil dan kembali melanjutkan perjalanan.


"Saya serius, Gerry! Bisa atau tidak? Kalau tidak bisa, kamu serahkan surat pengunduran diri sekarang juga!" ancam Leon menatapnya tajam.


Gerry membelalak, "Bi ... bisa, Tuan," sahutnya dengan cepat. "Tapi, membutuhkan waktu cukup lama," lanjutnya dengan ragu-ragu.


"Hmm ... tidak masalah. Saya juga harus mengumpulkan bukti lainnya! Besok sore kita ke lokasi."


Dalam benak Gerry sebenarnya ragu. Namun ia akan berusaha semaksimal mungkin. Keahliannya dalam bidang IT, tidak diragukan lagi. Selama ini, semua pekerjaannya tidak pernah mengecewakan Leon.


Perusahaan Leon yang bergerak di berbagai bidang, membuat Gerry harus menguasai berbagai keahlian juga. Dia cukup genius untuk cepat belajar. Karenanya Leon selalu bisa mengandalkannya sejak dulu.


"Baik, Tuan!"


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Leon meminta kunci mobilnya dan meminta Gerry untuk pulang saja. Karena dia tidak mau menunggu kalau butuh sesuatu.


Gerry hanya menghela napas panjang melihat atasannya semakin menjauh hingga menghilang dari pandangan. "Kenapa tadi nggak nyetir sendiri aja sih?" gerutunya berbalik mencari taksi untuk mengantarkannya pulang.


Leon membuka pintu ruangan dengan sangat pelan, takut membangunkan Khansa. Lalu menutupnya dengan sangat pelan juga. Saat berbalik ia terjingkat kaget karena Khansa berdiri tepat di hadapannya sembari melipat kedua lengannya.

__ADS_1


"Sasa! Hah, ngagetin aja!" ucap Leon menyentuh dadanya yang berdegub kencang.


"Dari mana?" tanya Khansa dingin sembari memicingkan mata.


"Ada urusan pekerjaan sama Gerry. Kan kamu tahu sendiri kita seharian sibuk," ucapnya santai merangkul bahu Khansa, mengajaknya kembali ke ranjang.


Keduanya duduk bersisian. Leon membelai rambut Khansa, "Kenapa bangun?" tanyanya lembut. "Nggak ada yang meluk ya?" candanya sambil terkekeh.


Khansa hanya menjawab dengan sebuah decakan. Kemudian segera memposisikan tidurnya membelakangi Leon. Sebenarnya ia terbangun beberapa menit yang lalu. Saat tangannya tak menemukan pria yang tadi memeluknya. Ia sempat kecewa karena Leon pergi tanpa berpamitan.


Pria itu tersenyum, lalu segera menyusul istrinya. Merapatkan tubuh mereka dan memeluknya erat. Keduanya pun bisa tidur dengan nyenyak.


Keesokan paginya, Khansa terbangun terlebih dahulu. Pandangan pertama menangkap ketampanan suaminya. Tangannya terulur membelai pipi pria itu.


Leon membuka kedua matanya dengan cepat. Ia sangat sensitif, bibirnya langsung menyunggingkan senyuman. "Pagi, Sayang!" sapanya mencium kening Khansa.


"Pagi, nggak ke kantor?" tanya Khansa.


Leon memeluk kembali wanita itu. "Maunya sih di sini aja. Tapi, aku mau kasih kejutan buat kamu."


"Apa tuh?" Khansa mengerutkan keningnya.


"Bukan kejutan kalau aku bicara sekarang," elak Leon memainkan rambut Khansa.


"Ya, ya, aku akan menunggunya," gumam gadis itu. Leon bergegas pergi setelah mencium kening Khansa.


Seharian Khansa tidak ke mana-mana. Ia hanya menjaga Bibi Fida. Makanan dan pakaian ganti sudah dikirim oleh Leon. Jadi, dia tidak perlu susah-susah mencarinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Fauzan berjalan gontai saat memasuki rumah. Ia menekan-nekan bell dan mengetuk beberapa kali, namun tidak ada jawaban. "Heii! Buka! Pelayan sialan!" teriaknya menendang pintu.


Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka lebar. Fauzan segera melangkah masuk. Namun alangkah terkejutnya saat pandangannya menengadah. Tubuhnya mematung begitu saja. Wajahnya pun terlihat pucat pasi.


Bersambung~


Selamat tengah malam 😄 maap... ketiduran lagi.. wkwkwk



ya mangap ... lagi PMS. 😂 Suka kek orang pingsan. Mampir ya ke @sensen_se di sini mamas Le keren bingit... 😌

__ADS_1


__ADS_2