Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 178. Post-Traumatic Stress Disorder


__ADS_3

Dada Khansa berdegub kencang, ia memberanikan diri untuk menjulurkan tangannya, menyentuh salah satu bahu Leon yang tampak menegang secara perlahan.


Namun tanpa diduga, Leon menepis lengan kurus Khansa dengan kasar. Sepasang manik elang pria itu menyalang merah. Khansa terkesiap, napasnya tercekat dan manik mata indahnya mulai dilapisi cairan bening yang siap terjun membasahi kedua pipinya.


"Leon, kamu kenapa?" tanya Khansa.


Leon segera memalingkan mukanya, sama sekali tidak mau menatap ke arahnya. Deru napasnya terdengar kasar, kedua tangannya masih mengepal kuat hingga urat-uratnya terlihat dengan jelas.


"Anak? Anak? Anak?" ucap Leon lirih secara berulang-ulang. Suaranya pun terdengar bergetar.


Matanya terpejam dengan rapat. Jauh jauh hari ia sudah mempersiapkan diri untuk ini. Tapi nyatanya gagal. Membayangkan punya anak, menggali ingatan kelamnya ketika masih kecil. Ketakutan menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia sangat takut, kelak anaknya akan mengalami hal yang sama dengannya.


Pria itu merasakan sesak di dadanya. Ia sampai kesulitan bernapas. Kepalan tangannya memukul-mukul dadanya, berharap memudarkan rasa sesak itu.


Kemudian beralih menutup telinga rapat-rapat. Teriakan demi teriakan ayahnya di masa lalu, seolah kembali terdengar, pukulan demi pukulan kembali terasa di tubuhnya. Bulir keringat mulai membasahi keningnya.


"Tidak, ayah. Jangan! Jangan pukul aku." Kalimat itu berulang-ulang keluar dari tenggorokan Leon.


Tubuhnya merosot ke lantai, kedua tangannya terangkat menjambak rambutnya sendiri dengan sangat kuat. Ia hampir berteriak tapi suaranya tertahan.


Sakit, Leon benar-benar kesakitan di sekujur tubuhnya. Nyeri yang luar biasa kini mendera kepalanya. Tubuhnya membungkuk hingga bersujud di lantai. Menahan diri agar tidak meluapkannya dan menyakiti Khansa.


"Pergi! Pergi!" seru Leon bertahan pada posisinya.


Khansa mulai menangis, ia berlutut di sebelah Leon. Ragu-ragu, tangannya menyentuh bahu Leon yang bergetar hebat. Napas pria itu masih tersengal dan tidak teratur.


"Bangunlah, Sayang. Aku mohon, kamu enggak sendiri." Khansa merebahkan kepalanya di punggung Leon, memberikan sentuhan dan usapan lembut di sana. Air matanya mengalir semakin deras. Memberi kekuatan untuk suaminya.


"Leon, ingatlah kami yang menyayangimu. Kamu pasti bisa!" lanjutnya lagi di tengah isakan tangisnya.


Kemeja yang dikenakan Leon mulai basah karena keringat ditambah air mata Khansa. Leon semakin menegang, ia juga meneteskan air mata. Semakin lama tidak bisa menahan gejolak amarah di hatinya. Ia seperti bom yang siap meledak. Suara Khansa kalah dengan teriakan sang ayah yang terus terngiang di telinga dan terekam di otaknya.


"Aaargghh! Pergi dari sini!" teriaknya menegakkan tubuh hingga Khansa hampir terjengkang. Tangannya sigap menopang di belakang tubuhnya sehingga tidak sempat terjatuh.


Khansa baru mengingat, ia meraih jarum yang diselipkan rapi di sebuah kotak yang menempel bajunya. Tangannya gemetar hingga kesulitan mengambil benda tersebut. Leon menatapnya dengan tajam. Langkahnya panjang dan semakin dekat dengan Khansa.


Raut wajahnya berubah menyeramkan, naluri keibuannya muncul. Kedua lengannya dengan sigap melingkar di perut datarnya. Ia mundur saat Leon hampir mencapai tubuhnya sebelum sempat meraih jarum peraknya.


"Enggak Leon, jangan lakukan apa pun. Sadarlah," lirih Khansa menutup rapat perutnya sambil berjalan mundur.


"Pergi dari sini!" pekik Leon tepat di depan wajah Khansa mendorong bahunya dengan kasar.

__ADS_1


Wanita itu segera berbalik dan berlari keluar kamar. Khansa menutup pintu dan menyandarkan badannya pada benda persegi penjang itu. Ia menangis sejadi-jadinya, terdengar jelas suara teriakan Leon disertai suara-suara pecahan kaca.


Menyesal karena tak mampu berbuat apa-apa. Jika saja dia masih sendiri, Khansa akan terus bertahan sekalipun Leon akan melukai dirinya. Tapi sekarang ia tak sendiri. Ada makhluk kecil yang harus ia jaga dan lindungi. Makhluk yang masih rapuh, tumbuh dalam rahimnya.


"Nyonya, apa yang terjadi?" tanya Paman Indra berlari mendekat saat mendengar teriakan Leon. Dan tanpa disangka, kepala pelayan itu justru menemukan Khansa terduduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Ia menangis menyembunyikan wajahnya.


"Khansa, ada apa, Sayang? Kamu kenapa? Apa Leon menyakitimu?" tanya nenek bertubi-tubi melangkah cepat ke arahnya.


Khansa mengangkat kepalanya. Nenek Sebastian segera berlutut dan memeluk cucu kesayangannya itu. Ia terkejut melihat Khansa yang menangis sampai sesenggukan seperti itu.


"Oh ya Tuhan, apa yang dilakukan Leon padamu, Sa?" tanya nenek khawatir memeluk perempuan itu. "Indra! Cepat periksa keadaan Leon!" serunya pada sang kepala pelayan.


"Tidak! Jangan masuk Paman!" tukas Khansa dengan cepat mencegahnya. Gerakan Paman Indra pun terhenti seketika. Padangannya beralih pada nyonya mudanya itu. Lalu Khansa menoleh pada sang nenek, "Nek, apa Tuan Suryo yang pernah mengobati Leon adalah dokter psikiater?" tanyanya pada wanita tua itu.


Nenek Sebastian mengernyit bingung atas pertanyaan Khansa, "Bukan, Sa ...."


"Kalau begitu, tolong carikan dokter psikiater yang paling bagus, Paman," tukas Khansa yang terdengar seperti perintah.


Paman Indra pun menoleh pada sang nyonya besar, mendengar perintah selanjutnya. Nenek tampak terkejut, selama ini ia tidak pernah tahu apa yang pernah dialami oleh Leon.


"Nek, Leon membutuhkannya," panggil Khansa menatap penuh permohonan.


"I ... iya, Indra. Segera cari Dokter Psikiater terbaik di kota ini!" perintah nenek segera dipatuhi oleh Paman Indra.


'Jangan stress, Sasa. Ada dia yang harus kamu jaga, kamu harus kuat demi mereka berdua,' gumamnya dalam hati melingkarkan kedua lengannya di perut.


Ada yang ingin nenek tanyakan, namun melihat kondisi Khansa yang terlihat tidak baik, ia pun memilih mengurungkannya dan akan menanyakan di waktu yang tepat. Karena takut akan memperburuk kondisi Khansa yang saat itu terus menangis, merebahkan kepala di bahu sang nenek.


Di dalam kamar masih terdengar riuhnya Leon menghempaskan barang-barang sesekali terdengar teriakan Leon. Khansa sangat khawatir dengan keadaannya. Ia takut jika Leon menyakiti dirinya sendiri.


Tiga puluh menit kemudian, seorang dokter pria masuk diantar oleh pelayan. Paman Indra pun langsung mengantarnya ke kamar tanpa menunggu lebih lama lagi. Dokter meminta waktu berdua saja bersama Leon, pintu pun kembali ditutup rapat.


Ruangan luas itu sudah tidak pantas disebut sebagai kamar, semua bantal hingga bedcover tersebar di lantai. Semua benda di atas meja rias, nakas bahkan hingga lampu tidur hancur.


Punggung tangan Leon mengalir darah segar, usai memukul cermin dengan kepalan tangannya. Ia meringkuk di lantai, dokter berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati. Lalu duduk di sebelah Leon yang menyembunyikan wajahnya. Napasnya masih tersengal-sengal. Kedua tangannya menekan kepala.


"Tuan Leon," sapa sang dokter menyentuh bahu Leon. Tidak ada tanggapan apapun dari pria itu. "Perkenalkan, saya Dokter Yuda yang akan membantu menengani masalah Anda saat ini."


Dokter tersebut memperkenalkan diri, lalu memancing Leon agar mau menceritakan apa yang dia rasakan saat ini. Dengan sugesti dan kesabaran meski harus menunggu sangat lama, Leon pun menceritakan segala yang ia rasakan saat ini.


Dokter segera mencatat semua gejala dan keluh kesah pasien barunya tersebut. Ia juga melakukan beberapa tes psikologi. Dua jam lebih dua pria itu saling berkomunikasi, Leon terus menatap lurus ke depan. Mengeluarkan beban dan ketakutannya di bawah alam sadarnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ketika pintu kamar terbuka setelah tiga jam lamanya, Khansa dan nenek segera beranjak dengan perlahan. Dua wanita beda generasi itu bertanya melalui sorot mata mereka.


"Post-Traumatic Stress Disorder atau bisa disebut PTSD. Yaitu gangguan kejiwaan yang ditandai dengan kegagalan untuk pulih setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Itu yang dialami oleh Tuan Leon saat ini, Nyonya," terang Dokter Yuda.


Khansa mengangguk lemah, ia sudah menduganya sejak awal. Sedangkan nenek Sebastian tampak sangat syok mendengarnya.


"Peristiwa mengerikan? Apa itu, Dok?" pekiknya.


"Pasien pernah mengalami suatu kejadian yang membuatnya stress berat, sehingga ia menjadi trauma. Dan akan kambuh ketika ada pemicunya. Jika tidak ditangani dengan baik, keadaannya bisa lebih buruk dari ini," jelas sang dokter.


"Apakah bisa disembuhkan? Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan cucu saya dokter. Ah ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi padamu Leon?"


Khansa menundukkan kepala, tangannya mengusap lembut perut ratanya. 'Tolong yang kuat ya, Nak. Kita pasti bisa membuat ayah sembuh,' gumamnya dalam hati sesekali menyeka air matanya.


"Tidak bisa dikatakan sembuh total. Tapi saya akan berusaha menanganinya. Pasien harus menjalani terapi minimal selama dua tahun atau bahkan seumur hidupnya. Ini resep obatnya, baru saja saya sudah memberikan obat penenang. Biarkan beliau beristirahat setelah kelelahan menghadapi traumanya tadi," papar sang dokter mengulurkan secarik kertas bertuliskan resep obat.


"Terima kasih, Dokter. Bisakah Anda menjadwalkan kunjungan ke sini untuk terapinya?" Khansa bertanya dengan lembut.


"Iya, Nyonya. Akan saya kirimkan jadwalnya melalui Tuan Indra, saya permisi dulu," pamit Dokter Yuda menjabat tangan sang pemilik rumah satu per satu.


Paman Indra mengantarnya hingga ke depan. Khansa masuk ke kamar dengan perlahan, sedangkan nenek mencari pelayan untuk membersihkan kamar Leon.


Dari pintu masuk, Khansa bisa melihat Leon yang tengah tidur meringkuk seperti bayi. Ia melangkah dengan perlahan. Hatinya teriris saat melihatnya kesakitan seperti tadi.


Khansa berjalan sembari memungut bantal yang berserakan, ia membenarkan posisi Leon agar nyaman. Lalu menaikkan selimut hingga dadanya.


Perempuan itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Membelai puncak kepala Leon dengan penuh kasih sayang, lalu mencium keningnya lama. "Kamu pasti bisa melewatinya, Sayang. Aku yakin kamu pria yang hebat. Kamu suami yang hebat, kamu juga akan menjadi ayah yang hebat untuk anak kita," gumamnya pelan menahan tangis agar tidak kembali pecah, tapi sia-sia. Isakannya terdengar memilukan.


Khansa merunduk, memeluk kepala Leon, memejamkan kedua matanya hingga mengalir deras air mata yang membasahi kedua pipinya.


Nenek yang tadinya ingin masuk untuk melihat kondisi Leon, mengurungkan niatnya. Memberikan waktu untuk mereka berdua. Wanita tua itu kembali menutup pintu.


"Tunggu! Akan menjadi ayah yang hebat? Leon akan menjadi ayah?" gumam nenek saat menyadari kalimat terakhir yang terucap dari bibir Khansa.


Bersambung~



😢 Stay strong ya Mbak Sa, 🥺 Kamu pasti bisa kok...

__ADS_1


Kasi semangat buat mbak sasa ya, Bestie.. 😩


__ADS_2