
Sementara itu di salah satu kamar rawat inap VIP RS. Sebastian, Bara mulai mengerjapkan matanya perlahan. Napasnya berembus teratur, ingatannya kembali melayang kejadian semalam. Keningnya sedikit mengerut. "Apakah semalam hanya mimpi?" gumamnya sembari mengingat dengan keras.
Pria itu beranjak bangun, duduk sebentar kemudian meraih infusnya. Ia bergegas ke ruangan Emily. Tubuhnya yang sudah lebih bugar, kini membuka pintu dengan kasar.
"Ibu! Bisa nggak sih pelan-pelan aja buka pintunya!" teriak Jennifer terlonjak kaget namun masih memejamkan matanya. Ia mengigau tengah dibangunkan ibunya seperti biasa.
Hansen dan Emily pun sama terkejutnya. Mereka menoleh ke sumber suara dan melihat Bara yang berdiri tegap di ambang pintu.
"Kakak, ngagetin tahu nggak?" ucap Emily sembari melempar senyum manisnya.
'Kakak? Jadi, ini bukan mimpi? Semua yang berputar di kepalaku kenyataan?' lanjutnya dalam hati meyakinkan diri.
Bibirnya bergetar hingga membentuk senyuman yang mengukir di wajah tampannya. Bara berjalan semakin mengikis jarak dengan brankar Emily.
"Boleh aku memelukmu lagi?" tanya Bara setelah berdiri berseberangan dengan Hansen.
Emily segera beranjak duduk dan memeluk pria itu. Menumpahkan segala kerinduan yang terpendam puluhan tahun lamanya. Pelukan mereka begitu erat, Hansen memalingkan mukanya. Ia belum terbiasa melihat pemandangan romantis kakak beradik itu.
"Ngapain kamu masih di sini?!" sinis Bara pada Hansen yang tepat menghadap ke arahnya.
Emily segera melepas pelukannya. Menangkup pipi Bara dan menggerakkannya, memaksa agar kini menatapnya, "Jangan gitu, Kak. Dia lagi ada musibah. Yang penting sekarang kita nggak apa-apa," ucap Emily menenangkan kakaknya.
"Sepulang dari sini, aku akan mengajaknya ke rumah. Kali ini aku yang akan menghadapi ibu," tutur Hansen menatap serius.
"Kalau aku tidak mengizinkannya bagaimana?" tantang Bara mengedikkan kepala.
Jen yang mendengar keributan pun terbangun dari tidurnya. Ia baru sadar jika saat ini masih berada di rumah sakit. Gadis itu segera melompat dari sofa hingga jas yang semalam disampirkan Hansen terjatuh ke lantai.
"Kakak," panggil Jennifer melingkarkan tangannya pada lengan Hansen. Ia takut jika sang kakak lepas kendali.
__ADS_1
"Kamu bisa ikut jika tidak percaya," balas Hansen.
Kini Emily yang bergelayut manja di lengan kakaknya. Menjatuhkan dagunya pada bahu kokoh Bara. Matanya menatap penuh permohonan. "Boleh ya?" bisik Emily dengan rengekan manja.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati Bara melihat Emily manja kepadanya seperti itu. Ia pun tersenyum sembari mengacak rambut Emily. "Baiklah, tapi aku harus ikut. Kalau orang itu berani menyakitimu lagi, jangan salahkan aku!" ujarnya dengan ekspresi wajah serius.
Seketika Emily pun berbinar, ia langsung menghambur ke pelukan sang kakak. "Makasih, Kak!" ucap Emily.
Jennifer pun tersenyum melihatnya. Mengerti dengan kebahagiaan mereka berdua. Apalagi keduanya benar-benar terpisah dan kembali disatukan oleh takdir setelah puluhan tahun lamanya.
Terlihat jelas jika Bara dan Emily saling menyayangi, tentu saja sebagai seorang kakak pasti akan melakukan apapun demi kebahagiaan adiknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dapur Villa Anggrek, Leon, Khansa dan nenek sudah mengenakan celemek. Siap untuk bertempur membuat makanan khas kota mereka.
Setelah menakar semua bahan, nenek mulai memberikan instruksi demi instruksi untuk menguleni semua bahan makanan tersebut. Mukanya memang terlihat sedikit geli, apalagi gerakan tangannya sangat kaku. Dan itu justru membuat Khansa tersenyum puas.
"Semangat, Sayang!" ucap Khansa menumpukan dagu pada bahu Leon.
Seketika kekesalannya meluruh, pria itu mengecup kening Khansa sembari tersenyum kaku. Nenek justru merasa puas, karena hanya Khansa yang bisa membuat Leon terjun langsung ke dapur.
Satu jam mereka bergelut di dapur, Leon sangat serius melakukannya. Kecerdasannya membuat ia mudah menangkap setiap instruksi nenek. Sedangkan Khansa sesekali bercanda sembari menyeka keringat di wajah Leon.
Akhirnya, makanan yang sangat diidamkan Khansa saat ini sudah tersaji beserta sausnya. Wanita itu tampak sangat bahagia.
"Pempek spesial ala Tuan Muda," cetus Khansa setelah duduk di meja makan sembari bertepuk tangan. "Terima kasih, suamiku!" ucap Khansa lagi.
Leon melingkarkan kedua lengannya di leher Khansa, tubuhnya merunduk hingga kepalanya sejajar dengan wanita itu. "Makasihnya nanti malam aja, bayar double harusnya," bisiknya di telinga Khansa membuatnya meremang. Ia mengerti arah pembicaraan sang suami.
__ADS_1
"Eehm, nenek. Ayo kita cobain," seru Khansa mengalihkan kegugupannya.
"Tidak usah, buat kamu saja semuanya, Sayang. Kan kamu yang pengen," balas nenek masih sibuk di dapur.
"Dih, pura-pura nggak denger? Atau mau sekarang aja, nih?" Leon berbisik lagi.
Khansa melirik ke kiri dan kanan takut ada yang mendengar ucapan suaminya. Ia segera menusuk satu buah pempek, dicocol pada sausnya lalu menyuapkan pada mulut Leon. Ia menjadi salah tingkah, lalu menyuapkan potongan baru ke mulutnya.
Leon terkekeh melihat Khansa yang tampak memerah wajahnya. "Aku mandi dulu, Sayang," pamitnya mencium pipi Khansa lalu melenggang pergi.
"Enak juga. Nggak kalah dari buatan nenek," puji Khansa menikmati potongan demi potongan pempek buatan suaminya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai santap makanan tersebut, Khansa segera membersihkan diri setelah Leon. Mereka bersiap untuk beraktivitas dengan pekerjaan masing-masing.
"Leon, kamu berangkat aja dulu. Biar aku diantar sama Paman Indra aja," ucap Khansa ketika membantu merapikan dasi.
Leon merengkuh pinggang istrinya sehingga tubuh keduanya semakin merapat. "Tidak! Aku akan mengantarmu dulu," tegasnya menaikkan dagu Khansa.
"Nanti kesiangan loh," elak Khansa menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.
"Kan memang sudah kesiangan, Sayang. Tenang aja, sudah diatasi assisten Gerry," jawab Leon menunduk lalu mencium bibir istrinya.
"Kalau begitu bawain pempeknya aja, Sayang. Dia pasti bangga dengan hasil karya bossnya," celetuk Khansa dengan ide gilanya.
Bersambung~
ngetiknya ngantuk bngt... maaf klo ada typo. besok diperbaiki ya 😁😘 makasih bnyak supportnya..
__ADS_1