
"Eee! Maaf, Sayang! Ada nyamuk tadi takut kena mata Cheryl," ucap Khansa sekenanya.
Khansa dan Leon menurunkan lengannya bersamaan, ketika dirasa sudah aman. Cheryl masih menggerutu, Khansa pun mencium pipi chubby gadis cantik itu, diikuti Leon mencium di sebelahnya hingga akhirnya, bisa mengembalikan tawa Cheryl.
Acara selanjutnya, ramah tamah keluarga yang digelar di kediaman Emily. Jemari Hansen dan Emily saling bertautan erat, mereka berjalan perlahan melalui karpet merah yang membentang hingga pintu keluar.
Semua tamu berdiri, menaburkan kelopak mawar sepanjang pengantin itu berjalan. Bibir mereka tak berhenti menguraikan senyum bahagia. Gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah pengantin baru itu.
Para bridesmaid sudah mengular di belakangnya, membantu memegangi ekor gaun Emily agar tidak terlalu ribet saat berjalan.
Simon kali ini sudah gagah dengan balutan jas rapi, berkaca mata hitam stan by di balik kemudi mobil mewahnya. Ia bertugas untuk menjadi sopir pengantin baru itu.
Atap mobil pun sudah terbuka, silaunya matahari mulai membias wajah tampan Simon. Yang tentu saja menjadi bahan pembicaraan para gadis cantik yang menemani Emily.
"Emily, sopirnya kece juga!" bisik salah satunya ketika Emily dan Hansen sudah duduk nyaman di kursi penumpang.
"Dia yang cosplay jadi pengantin wanita tadi!" cetus Emily menatap para rekan-rekannya.
"Gubrak!"
Enam rekan Emily menepuk dahi mereka sembari membelalak. Simon yang mendengar menaikkan kacamatanya, menoleh pada keenam gadis itu sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Ya ampun, meleyot hati adek!" ucap satu teman Emily menyentuh dadanya.
"Cakep ternyata ya ampun."
"Asyik nih kayaknya orangnya."
Mereka terus melontarkan pujian Simon. Mata mereka enggan berkedip sampai mobil tersebut melaju, meninggalkan mereka semua.
Bara keluar bersama orang tua dan juga keluarga Hansen. Frans dan istrinya menggunakan sopir keluarga untuk mengantarnya. Sedangkan Bara harus bersama para rekan Emily.
__ADS_1
Langkahnya terhenti, beberapa orang sudah mendahuluinya. Ia tengah menunggu seseorang, hingga akhirnya menarik lengan seorang gadis yang tengah mengenakan gaun berwarna pastel.
"Eh!" seru gadis itu terkejut. Namun saat mengetahui itu Bara, ia terdiam kembali. "Ada apa, Kak?"
"Ikut mobilku, Jen!" ajak Bara. Tanpa menunggu jawaban, Bara kembali melangkah dengan menggenggam tangan Jennifer.
Pria itu enggan satu mobil bersama para gadis cerewet dan suka menggodanya. Karenanya, Bara ingin menghindar dengan mengajak Jennifer.
"Kalian tunggu sini! Aku ambil mobil dulu!" titah Bara pada ke enam gadis cantik yang mengantar Emily tadi.
Bara melenggang masih tak melepas genggaman tangannya pada Jennifer. Membuat mereka bertanya-tanya. Pasalnya selama ini mereka tidak pernah melihat Bara dekat dengan perempuan mana pun. Apalagi gadis itu bukan circle mereka.
"Masa Bara sukanya bocil gitu sih?" Mereka saling melempar tanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak, mereka kayaknya gibahin aku deh," ucap Jennifer ketika sudah duduk di sebelah Bara.
Benar saja, sepanjang perjalanan mereka saling berbisik dan sesekali melihat ke arah Jennifer. Gadis itu tak nyaman menjadi pusat perhatian. Jen pun membalas dengan tatapan tajam melalui spion, seolah mengobarkan bendera perang.
Keenam wanita di belakangnya memutar bola mata malas, mereka pun memilih asyik sendiri.
'Enam vs satu, hmm! Siapa takut!' batin Jennifer masih memasang wajah garangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di pelataran kediaman Frans, semua tamu sudah berkumpul. Emily mengganti gaun yang lebih simpel. Sembari menunggu, para tamu diperkenankan untuk beristirahat dan makan berbagai hidangan mewah dan lengkap yang tersedia.
Setelah beberapa saat, mereka duduk di pelaminan, bersama kedua orang tua Emily dan juga orang tua Hansen.
"Baik, silakan untuk mempelai wanita mengucapkan sepatah dua patah kata ditujukan pada orang tua Anda. Yang mana, saat ini sudah melepas tanggung jawab pada suami." Pembawa acara mempersilakan.
__ADS_1
Emily berdiri, meraih mic yang diberikan lalu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan yang turut menjadi saksi di acara sakral ini. Teruntuk Mama Monica dan Papa Frans ...." Emily mulai berkaca-kaca. Hansen beranjak berdiri di samping istrinya karena nada suaranya mulai berubah.
"Ma, Pa, terima kasih banyak sudah mau merawat dan membesarkan Emily dengan penuh kasih sayang, seperti anak kalian sendiri. Bahkan mendukung semua keinginan Emily. Emily benar-benar beruntung. Sekalipun tidak ada aliran darah di antara kita, bagi Emily mama dan papa tetap orang tua Emily. Maaf jika sampai saat ini Emily belum bisa membahagiakan mama dan papa. Tapi satu hal yang pasti. Emily sangat menyayangi mama dan papa." Perempuan itu menunduk, air matanya berjatuhan.
Hansen memberikan tissu dan menyekanya, satu lengannya merangkul erat di bahu Emily. Sedangkan Frans dan Monica segera berdiri, memeluk putri semata wayangnya itu. Hansen menggeserkan tubuhnya.
"Kami juga sayang sama kamu, Emily!" seru pria dan wanita paruh baya itu.
Tepuk tangan bergemuruh menyelimuti suasana haru di sana. Acara pun dilanjutkan dengan beberapa sambutan dari pihak keluarga Hansen dan Emily. Kemudian foto bersama pihak keluarga. Agnes, ibu Hansen tampak tak bersuara sama sekali.
Hanya sekitar dua jam, acara selesai. Para tamu pamit undur diri. Emily dan Hansen juga kembali ke kamar untuk beristirahat sebelum memasuki acara resepsi pernikahan, yang digelar bersama Leon dan Khansa nanti malam di sebuah taman terbuka.
Jennifer tampak enggan beranjak dari kursi. Sedari tadi ia duduk berdampingan dengan Bara, sembari memakan cake dan beberapa hidangan yang tersedia.
"Kak!" panggil Jennifer ketika suasana sudah mulai sepi.
"Hemm?" gumam Bara yang matanya tampak memerah.
"Kenapa keliatan sedih gitu? Harusnya bahagia lihat Kak Emily bahagia," cetus Jen sambil menyuap es krim, namun tatapannya menatap lekat pria dewasa di sebelahnya.
"Aku masih belum rela pisah sama Emily. Belum genap dua bulan kami tahu hubungan darah kami. Rasanya, masih belum cukup waktu kebersamaanku sama Emily," balas Bara memainkan gelas di genggamannya.
"Bukannya kakak udah bertahun-tahun sama Kak Emily? Aku sering lihat kamu dampingin Kak Emily!" cetus Jennifer.
Bara menghela napas panjang. Ia menoleh pada Jennifer, menatapnya sendu. "Beda. Itu sebatas pekerjaan. Ya walaupun dari dulu aku sayang banget sama dia. Mungkin udah ada ikatan batin."
"Ooh, kalau sama aku sayang nggak, Kak?" celetuk Jennifer yang sontak membuat Bara menoleh dengan mata mendelik.
Bersambung~
__ADS_1