
Dua pria bertubuh kekar dengan wajah garang berdiri tepat di depan Fauzan. Dalam benaknya merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tak berapa lama, muncul sebuah suara yang sangat dia kenal.
"Halo, Tuan Fauzan!" ucap Khansa muncul dari balik punggung dua pengawalnya melangkah pelan. "Silakan masuk di kediaman saya," lanjutnya berbalik dan duduk elegan di kursi tamu.
Fauzan mengerutkan keningnya dalam. Raut wajahnya nampak emosi. Tidak terima jika rumahnya diakui oleh Khansa. Ia melangkah panjang berdiri di sebelah gadis itu.
"Mau apa kamu di sini?" tanya Fauzan.
"Loh, terserah saya dong. Ini 'kan rumah saya," cetus Khansa mengangkat pandangannya dengan malas.
"Apa maksudmu! Keluar dari rumah saya!" pekik Fauzan mengepalkan kedua tangannya di meja.
Khansa berdiri meraih sebuah map yang berisi beberapa dokumen. Ia menyodorkannya pada Fauzan. "Silakan Anda baca siapa pemilik rumah tanah ini!" tegas Khansa menyeringai.
Fauzan meraihnya dengan kasar, ia tidak percaya lalu membuka dan membacanya dengan cepat. Matanya bahkan sampai melotot, kedua alisnya saling bertaut.
"Enggak mungkin." Fauzan menggelengkan kepalanya.
"Sudah jelas bukan? Semua sertifikat atas nama saya. Putri kesayangan Anda sudah menjualnya. Akta jual beli ada di tumpukan paling bawah. Sekarang, silakan angkat kaki dari rumah ini. Pakaian Anda sudah disiapkan oleh pelayan!" seru Khansa menepuk koper yang tergeletak di meja.
"Selamat ya, karena dipatok oleh piaraan sendiri!" cibir Khansa mengulurkan lengannya di hadapan Fauzan.
Napas Fauzan memburu dengan kasar. Dadanya naik turun, karena emosinya nyaris meledak. Kedua bola matanya tak lepas dari wajah cantik Khansa, yang tak kalah tajam menatapnya, lalu turun ke tangan Khansa. Dia mengira Khansa ingin mengajaknya bersalaman. Fauzan menepisnya hingga sebuah benda kecil terjatuh ke lantai.
Pandangan mereka teralih pada benda itu. Tanpa menunggu perintah salah seorang pengawal memungutnya, menyerahkan kembali pada Khansa sambil menunduk.
"Terima kasih, Paman," ucap Khansa menerimanya.
Khansa tersenyum, sembari memutar-mutar flashdisk di tangannya. "Tuan Fauzan, dalam flashdisk ini, ada rekaman anak kesayangan Anda yang telah menguras semua aset-aset berharga milik Anda! Jangan lupa ditonton ya," ucap Khansa mengulurkan tangannya meletakkan benda kecil itu pada tangan Fauzan dan menggenggamkannya. "Sepertinya, sudah cukup. Pintu keluarnya ada di sebelah sana kalau lupa!" imbuhnya menunjuk dengan dagunya.
Fauzan masih bergeming, ia cukup syok dengan kejadian sore itu. Tubuhnya mendadak terasa lemas dan wajahnya juga semakin pucat.
Dua pengawal itu menatap Khansa yang mengangguk, mereka lalu menyeret Fauzan keluar dari rumah itu dan membanting koper miliknya. Pintu kembali tertutup rapat, Fauzan tampak linglung. Pandangannya kosong, tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa menit setelahnya ia kembali tersadar. Fauzan bangun dan berlari ke arah pintu. Namun para pengawal tidak membiarkannya masuk. Bahkan Fauzan langsung dihempaskan begitu saja.
"Biarkan saya masuk! Ini rumah saya!" teriaknya menggila.
__ADS_1
Salah seorang pengawalnya meraih pistol dan mencondongkannya ke arah Fauzan. "Pergi!" ucapnya dingin.
Melihat senjata api, Fauzan berjalan mundur sambil mengangkat kedua tangannya. Keringat dingin membasahi wajahanya. la pun segera meraih kopernya dan berlari terbirit-birit menuju mobilnya. Tak butuh waktu lama, mobil pria paruh baya itu melesat dari kediaman Khansa.
Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, Fauzan menepikan mobilnya. Ia masih berusaha meredam detak jantungnya yang berdentuman dengan kuat.
Fauzan membuka laptop yang ada di sebelahnya. Ia penasaran dengan maksud ucapan Khansa. Buru-buru dia menancapkan flashdisk pada laptop dan membuka folder yang ada di dalamnya.
"Jihan bangsat!" teriak Fauzan yang melihat perempuan itu mengacak-acak ruang kerjanya.
Emosi yang membuncah, membuat Fauzan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Matanya menyalang merah, rahangnya mengetat dengan dengusan napas kasar.
Mengemudi dengan emosi membuatnya cepat sampai di rumah sakit. Fauzan bergegas turun dan berlari menuju ruangan Maharani. Ia tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang.
Saat membuka pintu, kening Fauzan mengernyit heran. Ruangan tersebut sudah kosong. Hanya ada seorang petugas kebersihan yang sedang merapikan ranjang.
"Di mana pasien yang ada di sini?" tanya Fauzan membuat petugas kebersihan itu terkejut.
Perempuan yang berseragam biru muda itu menoleh, "Baru keluar sekitar lima belas menit yang lalu, Pak," jawab wanita itu.
"Apa?! Kemana? Bukankah keadaannya belum membaik?" tanya Fauzan berjalan mendekat.
"Kemana?" seru Fauzan bernada tinggi.
"Maaf saya kurang tahu, Pak, permisi," sahut sang petugas kebersihan meninggalkan Fauzan yang terlihat semakin murka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam rumah, Khansa terduduk lemas. Ia menarik napas panjang sambil memejamkan mata. Leon sedang berbincang dengan Gerry sambil menuruni anak tangga. Saat pandangannya tanpa sengaja turun ke bawah, ia segera berlari menghampiri Khansa dan duduk di sebelahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Leon menangkup kedua pipi Khansa.
Khansa membuka kelopak matanya, manik indah itu nampak berkaca-kaca. Leon segera menarik ke dalam pelukannya. Khansa menggeleng pelan.
"Aku ... cuma merindukan ibu," sahut Khansa menyembunyikan wajahnya di dada Leon. Kedua lengan kurusnya melingkar erat di punggung Leon.
Leon tidak bisa berucap apa-apa. Dia hanya mengusap lembut kepala Khansa sesekali menciumnya. Gerry menelan ludah melihatnya. Mengingat bagaimana garangnya pria itu, namun berubah 180° saat bersanding dengan istrinya.
__ADS_1
"Sudah, jangan sedih terus. Nanti ibu mertua ikut sedih. Kita lihat kondisi kakek aja," ajak Leon setelah beberapa saat.
Khansa melepas pelukannya, ia mengangguk. Leon menyeka sisa-sisa air matanya. Mereka berdua menuju lantai dua, dengan jemari yang saling bertaut.
Seperti biasa, Khansa selalu menerapkan pijat tui na disertai akupuntur. Meski harapannya sangat tipis, Khansa tidak patah semangat untuk terus melakukannya.
Sedangkan pandangan Leon mengeliling. Ia mengamati peralatan medis yang menunjang kehidupan sang kakek.
"Sa, apa kamu pernah melihat dokter atau petugas medis yang datang ke sini?" tanya Leon.
Khansa mendongak, lalu menggelengkan kepalanya, "Enggak pernah. Aku juga nggak tahu datangnya setiap kapan," sahutnya sembari berpikir.
Khansa lalu beranjak dari duduknya. Ia mengobrak-abrik laci dan juga tempat sampah yang ada di sana untuk mencari sebuah petunjuk demi menguatkan kecurigaannya. Leon juga punya pemikiran yang sama. Ia sampai berjongkok mengamati setiap sudut dan kolong di kamar itu.
Hampir setengah jam mereka tidak bersuara. Namun seluruh inderanya bekerja. Dua orang itu seperti seorang detektif yang sedang beraksi. Keduanya terlalu fokus.
"Leon!" panggil Khansa pada akhirnya.
Pria itu menoleh, peluh sudah membasahi keningnya. Wajahnya terlihat jelas sangat lelah. Leon beranjak mendekati Khansa yang menemukan beberapa botol kecil dari tempat sampah. Sedangkan Leon menemukan sebuah bekas alat suntik di kolong lemari.
"Kamu menemukan sesuatu?" tanya Khansa yang juga sama lelahnya.
"Cuma ini," ucapnya menunjukkannya.
"Aku menemukan tiga jenis botol yang berbeda. Kamu bisa menyelidikinya?" tanya Khansa menatap serius.
Leon mengambil salah satu botol kecil itu. Mengamati sembari membaca komposisinya. Bergantian antara botol yang satu dengan yang lainnya.
"Gimana?" tanya Khansa dengan perasaan was-was dan jantung yang berdebar.
Bersambung~
🥱: Biasanya juga baek, Mas.
MasLe: Iyain deh biar othor bahagia. Kali aja nanti dapet notif lagi.
__ADS_1
😌: Gw mah bahagia gak bahagia juga tetep Up mas. awokwokk... Tapi Sepi Mas Le, keknya nggak pada nungguin deh. Lu jangan GR dulu...