Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 59 : Siang Pertama


__ADS_3

Emily ternganga ketika ia turun di sebuah tanah lapang yang langsung disambut desingan helikopter memekakkan telinga. Ia menoleh pada sang suami, bermaksud menanyakannya.


"Hari ini aku mau ngabisin waktu berdua saja denganmu. Tanpa ada yang mengganggu, matikan semua telepon!" titahnya melepas seatbelt lalu keluar dari mobil.


Di sana sudah ada beberapa bawahan Hansen yang sudah bersiap dengan berbagai tugasnya. Semalaman penuh dia menyusun rencana ini, hingga kurang tidur.


"Eh, Sayang! Itu kado dari Sasa bawa ya!" ucap Hansen membukakan pintu untuk Emily.


Emily hanya menurut. Ia keluar dengan membawa sebuah box berukuran cukup besar dengan hiasan pita di atasnya.


Hansen melempar kunci mobil pada sang bawahan, lalu meraih tangan Emily dan menggenggnya menuju helikopter yang sudah siap landas.


Setelah bersiap, mengenakan penutup telinga dan safety belt, mereka segera terbang menuju ke suatu tempat. Sedari tadi Hansen menahan senyumannya. Rasa tidak sabar kian memuncak di dadanya.


Sepanjang perjalanan Emily tidak mampu berkata apapun, speechless. Jemarinya panas dingin, digenggam erat oleh telapak tangan Hansen.


Sekitar satu jam berlalu, mereka mendarat di puncak gunung. Emily mengernyit, ketika turun manik matanya disuguhkan dengan pemandangan yang begitu menawan.


"Wow!" gumam Emily kagum ketika turun dari kendaraan udara itu.


Sudah ada tikar dengan beberapa camilan di sana. Gumpalan awan dan disertai sinar matahari yang kebetulan malu-malu menampakkan diri pagi itu, membuat rona jingga di langit.


Wanita itu begitu antusias. Ia segera berlari dan duduk di atas tikar yang sudah disiapkan. "Sayang! Bagus banget!" serunya segera mengambil ponsel dan mengabadikan pemandangan alam itu. Yang selama ini belum pernah ia lihat secara langsung.



Hansen tersenyum tipis, ia berjalan dengan langkah pelan, mengedarkan pandangannya. Tempat yang sangat ia suka. Tenang, sunyi, berbaur dengan alam, persis seperti karakternya.


Hansen duduk di belakang Emily. Kedua lengannya melingkar erat di bahu wanita itu, menyandarkan punggung Emily pada dada bidang Hansen. Hansen menarik napas panjang, memejamkan mata, "Akhirnya, hari ini pun tiba! Dimana aku, kamu menjadi kita."


Emily meletakkan ponselnya. Ia tersenyum, menyentuh kedua lengan Hansen, lalu sedikit menoleh pada pria tampan itu. "Terima kasih banyak, kamu selalu sabar dengan sikap aku, kamu sabar nungguin aku sampai selama ini." Emily berkaca-kaca. Ia terharu dengan kedewasaan lelaki itu. Sedikit banyak sikap kekanakannya pun berubah, terbawa dengan pendewasaan Hansen.


"Karena aku mencintaimu! Selama apa pun itu, aku tetap akan menunggumu!" ucapnya membelai rambut Emily.


Perempuan itu berbalik, hingga menemukan wajah tampan sang suami. "Aku juga mencintaimu, Sayang!" ucapnya menangkup kedua pipi Hansen. Kemudian mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan lembut di bibir Hansen.

__ADS_1


Hansen tersentak, namun segera menahan tengkuk Emily dan memagut lembut bibir tipis sang istri yang selalu menggodanya itu. Desiran angin di puncak gunung, di bawah langit yang terasa begitu dekat, sepasang pengantin itu menikmati tautan bibir yang syahdu. Tanpa gangguan siapa pun.


Hampir kehabisan napas, Hansen baru melepasnya. Keduanya saling melempar senyum, Hansen menyeka bibir Emily yang basah bahkan sedikit membengkak karena ulahnya yang begitu agresif.


"Masih mau di sini?" tanya pria itu yang dijawab anggukan oleh Emily.


Emily yang sangat suka mengabadikan momen, mengambil foto kemesraan mereka. Sesekali meminta Hansen untuk mengambil gambarnya dengan berbagai gaya yang menggemaskan.


Hari beranjak siang, Hansen mengajaknya berpindah tempat. Keduanya kini mendarat di rooftop salah satu hotel bintang lima, milik Leon di Palembang. Leon memberikan fasilitas terbaik untuk pasangan pengantin itu sebagai ganti malam pertama mereka yang gagal.


"Sayang, aku mandi dulu ya!" pamit Emily berlari ke kamar mandi setelah masuk ke sebuah kamar presiden suite.


"Kenapa nggak bareng aja sih?" goda Hansen.


"Enggak!" tolak Emily cepat menutup pintu. Ia tentu saja masih merasa malu.


Hansen menggeleng pelan, ia lalu meminta pihak hotel untuk menyiapkan makan siang spesial mereka. Sembari menunggu, Hansen melepas jas yang sedari tadi membalut tubuh kekarnya, melepas dasi dan kemejanya. Menyisakan kaos ketat berwarna putih, memperlihatkan otot-otot kekarnya.


Hansen menyulut rokok dan menghisapnya perlahan. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Habis satu puntung, terdengar pintu yang diketuk. Makanan mereka sudah siap.


"Terima kasih banyak, Tuan. Selamat menikmati." Pelayan itu membungkuk lalu pamit undur diri.


Emily keluar dengan mengusak rambutnya yang basah. Ia sudah berganti gaun santai. Mengurai senyum menatap suaminya, lalu duduk di samping pria itu.


"Ini apa sih?" Emily meraih kotak pemberian Khansa dan membukanya.


Tampak kotak besar itu berjajar kain berwarna pink berbentuk bunga mawar. Ia tersenyum meminta Hansen untuk mengambil gambar.


"Sayang, foto dulu!" pinta Emily. Hansen menurut saja mengambil beberapa gambar istri cantiknya itu walaupun tanpa balutan make up.



"Cantik banget, apaan sih itu?" gumam Hansen.


"Siapa yang cantik?" tanya Emily.

__ADS_1


"Istriku lah. Siapa lagi!" jawab Hansen gemas mencubit dagu sang istri.


Emily tersenyum, sedikit tertahan. Entah sudah berapa kali suaminya itu memujinya. Ia meraih kain itu satu, lalu membukanya. Terkejut karena ternyata sebuah lingerie tanpa lengan dan transparan.


"Pakai sekarang, Sayang!" perintah Hansen bersemangat.


"Glek!"


Emily menelan ludahnya. Mau tak mau ia pun segera memakainya, mengganti gaunnya tadi. Lalu kembali duduk di sebelah sang suami dengan ragu-ragu.


Hansen merapatkan tubuhnya, menghirup rambut Emily dalam-dalam. Memejamkan mata sembari menggesek kedua lengan Emily. Baru membayangkan apa yang akan terjadi saja sudah membuatnya menegang dengan debaran jantung yang berantakan.


"Sa ... sayang, mandi dulu sana!" ucap Emily.


"Nanti aja sekalian," gumam Hansen dengan suara beratnya.


Seketika jantung Emily hendak melompat dari sarangnya. Tubuhnya mendadak gemetar. Ia menahan napas ketika Hansen mulai menyusuri leher jenjangnya. Kedua tangannya mencengkeram kuat gaun yang ia kenakan.


"Sudah siap 'kan?" tanya Hansen.


"Siap nggak siap, aku harus siap 'kan?" ucap Emily yang napasnya tersengal-sengal.


Gelayar aneh mulai menggerayangi tubuhnya. Hansen semakin intens membuat jejak cinta di bahu dan lehernya ketika menurunkan gaun Emily.


Hansen semakin merasa terdesak. Ia segera menggendong tubuh Emily dan meletakkannya perlahan di atas ranjang. Tubuhnya tepat di atas Emily, jemarinya bergerak lamban menyusuri setiap jengkal wajah cantik istrinya.


"Ka ... kata Sasa, rasanya sakit. Ja... jadi tolong pelan-pelan ya," pinta Emily terbata-bata. Wajahnya sudah memerah, ia bahkan menoleh ke samping karena malu mengatakannya.


"Iya," Hansen segera melepas kain yang melekat di tubuh mereka. Kemudian kembali memberikan kecupan lembut dan menaburkan banyak jejak di kulit putih Emily.


Siang itu pun menjadi pergulatan panas untuk pertama kalinya bagi sang pengantin baru. Awalnya hanya sekian menit saja, karena Emily menangis tidak tahan dengan rasa aneh sekaligus sakit yang menelusup di tubuhnya.


Hansen masih bersabar, memberi jeda waktu beberapa saat. Hingga pengulangannya berhasil memberikan kenikmatan hingga seolah terbang ke langit ke tujuh.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2