Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 77. Konferensi Pers


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Fauzan berangkat ke kantor, ia menyerahkan semuanya pada istrinya, dan akan hadir saat tiba waktunya nanti.


Maharani sangat sibuk mempersiapkan konferensi pers siang nanti. Waktu yang paling tepat untuk para awak media, apalagi di hari senin mereka berlomba-lomba untuk mencari bahan berita.


Masalah waktu telah ditentukan, kini Maharani menunjuk sebuah hotel bintang lima di Kota Palembang untuk acara tersebut. Ia memilih lokasi yang strategis, dekat dengan pusat media, indoor yang mampu menampung ratusan orang.


“Bu, Jihan bantu apa nih?” tiba-tiba Jihan duduk di sebelah Maharani yang sibuk mengetik di layar ponselnya.


“Kamu urus undangan online deh, Sayang. Punya kenalan designer terbaik ‘kan? Untuk waktu, tempat sama daftar tamu nanti ibu kirim ke nomor kamu. Ini lagi minta data awak media di seluruh kota ini,” ucap Maharani menoleh sebentar pada Jihan lalu kembali fokus pada ponselnya.


“Okey, siap. Kenapa ibu yang ngurus sendiri sih? Nggak diserahin sama manajemen atau humas aja,” ucap Jihan meraih ponsel di sakunya.


“Ya, ini juga udah dibantu mereka kok. Namanya juga konferensi pers kilat. Semua harus cepet dong. Dan ibu mau acara ini digelar besar-besaran. Makanya kita harus turun tangan juga. Supaya semua berjalan sesuai ekspetasi kita. Waktunya nggak banyak nih, buruan!” seru Maharani dengan serius.


Jihan ber-oh ria sembari menganggukkan kepalanya lalu melakukan tugas yang diberikan oleh ibunya tersebut. Mereka berdua sangat antusias dan serius menanganinya.


“Halo, gimana dengan press releasenya? Udah jadi belum? Buruan! Waktunya mepet nih!” teriak Maharani berjalan mondar-mandir sambil menelepon.


“….”


“Bagus! Cepat kirim sekarang juga!” perintahnya lalu mematikan sambungan telepon.


Beberapa saat kemudian, undangan beserta press release sudah siap untuk disebarkan, Jihan dan Maharani pun segera mengirimnya pada semua awak media di seluruh Kota Palembang.


“Huuftt akhirnya kelar juga persiapannya! Oh iya, ibu mau ke hotel untuk cek penataan lokasi juga. Kamu mau ikut?” tawar Maharani yang meraih tas mewahnya.


“Enggak deh, Bu. Jihan mau ke salon aja. Jihan harus tampil cantik dong di depan kamera. Nggak sabar deh melihat Khansa diusir dari keluarga Isvara dengan mataku sendiri,” ucap Jihan menatap jam yang menggantung di dinding.


“Baiklah, ibu pergi dulu.”

__ADS_1


Maharani pun bergegas menuju hotel. Sesampainya di sana, manajer hotel tersebut tengah mengerahkan anak buahnya untuk mendesign lokasi sesuai permintaan Maharani. Wanita itu cukup puas dengan hasil kerja mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang harinya, semua kursi di ballroom Palace Hotel kini sudah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan. Awak media beserta tim kameramen sudah bersiap dengan alat tulis dan record di tangan mereka.


Ruangan tersebut sangat luas disertai fasilitas mewah yang lengkap sesuai dengan keinginan Maharani.


Fauzan berjalan perlahan dengan Maharani menggamit lengannya. Fauzan mengenakan stelan jas kerja seperti biasa. Sedangkan Maharani tentu saja mengenakan gaun mewah, warna merah menyala ditambah make up glowing di wajahnya semakin menambah kecantikan mantan artis itu.


Mereka memasuki ballroom diikuti Jihan di belakangnya. Kameramen berlomba-lomba mengambil gambar mereka. Suara jepretan ratusan kamera memenuhi ruangan, record video juga tak lupa mulai mereka nyalakan.


Maharani dan Fauzan berdiri di podium. Sedangkan Jihan duduk di kursi yang telah disediakan secara khusus. Acara segera dibuka dan tak berselang lama, wartawan dipersilakan untuk memulai wawancara. Para pemburu berita bergegas melempar pertanyaan bertubi-tubi.


“Tuan dan Nyonya Isvara! Bagaimana tanggapan Anda tentang berita mengenai Khansa Isvara yang beredar di internet?” cetus seorang wartawan melempar sebuah pertanyaan.


Maharani mendekatkan standmic di depannya, ia berdehem lalu mulai berbicara. “Jujur, saya sangat syok melihatnya. Saya sendiri tidak menyangka jika ternyata Khansa seperti itu. Sebagai seorang ibu, tentu saja hati saya sangat sakit. Saya benar-benar kecewa padanya,” ucap Maharani pura-pura sedih. Pandangannya menunduk, sembari meraih selembar tissu dari tasnya.


Kedua mata Maharani mengeluarkan air mata, tentunya dengan kesedihan yang dibuat-buat. “Kami sendiri tidak tahu di mana Khansa sekarang. Telepon dan pesan kami bahkan diabaikan,” ucapnya menyeka bulir bening dengan tissu di tangannya.


“Tindakan apa yang akan dilakukan oleh Keluarga Isvara terkait dengan perilaku tidak senonoh yang dilakukan oleh Khansa?” Pertanyaan berikutnya oleh wartawan yang berbeda.


Raut wajah Fauzan terlihat sangat muram, bibirnya mengerut dengan sorot mata yang gelap menambah aura kejelekan di wajahnya saja.


Fauzan membenarkan kacamata yang bertengger di hidungnya, pandangannya berubah tajam, “Melalui konferensi pers ini, saya Fauzan Isvara mengumumkan, dengan resmi mengusir Khansa dari keluarga Isvara. Perilakunya sangat mengecewakan dan tidak bisa ditolerir lagi. Karenanya, mulai saat ini Khansa bukan bagian dari keluarga Isvara lagi,” ucap Fauzan dengan tegas.


“Apakah Anda sudah memikirkannya dengan matang?”


“Ya, tentu saja saya sudah mempertimbangkan semuanya. Sebagai orang tua saya malu mempunyai anak seperti dia!” jawab Fauzan tanpa keraguan. 

__ADS_1


Suasana ballroom semakin ramai membicarakannya. Mereka tidak menyangka jika ayahnya akan bertindak sejauh itu. Banyak yang menggeleng tak percaya dengan keputusan pria itu. Tak lupa semua kameramen mengabadikannya baik dalam foto maupun video. Mereka tidak mau ketinggalan berita ter-hot saat ini.


Di tempat duduknya, Jiihan bersorak dalam hati, meski menunduk bibirnya tersenyum lebar, sedangkan Maharani diam-diam tersenyum kejam dan dingin. Akhirnya hari pembalasan yang mereka tunggu pun tiba.


Di tengah kasak-kusuk keramaian membincangkan mengenai pemutusan hubungan keluarga itu, tiba-tiba seorang awak media berteriak, “Khansa sudah muncul!” Pria muda mengangkat ponselnya sembari berdiri.


“Di mana? Di mana?” seru mereka semua memusatkan perhatian pada salah satu awak media di sudut ruangan. Bahkan mereka sampai berdiri agar dapat melihat pria itu.


“Lihatlah, Khansa ada di postingan instagram milik Emily Kurniawan!” seru pria muda dari salah satu stasiun televisi.


Mereka semua pun bergegas meraih ponsel masing-masing dan segera membuka salah satu media sosial terpopuler itu.


Rupanya Emily menggunggah foto dirinya bersama Khansa ke Instagram. Dalam foto tersebut, dua perempuan itu tampak sangat cantik dan sexy. Foto di mana Khansa pernah salah kirim pada Leon dulu.


Dalam unggahan tersebut, Emily menambahkan sebuah caption, “Sahabat datang ke Bali, senang sekali.”


“Ternyata Khansa di Bali!” pekik seorang perempuan yang masih fokus menamatkan pandangan di layar ponselnya.


“Jadi, apa mungkin foto yang semalam bukan Khansa?” balas awak media lainnya.


“Coba kalian perhatikan baik-baik deh. Kalau dari ciri fisiknya, kedua foto ini banyak perbedaan!” sambung seorang pria menatap dua foto dengan jeli.


Tak butuh waktu lama foto mereka menjadi topik paling trend di Instagram. Semua netizen mulai membandingkan foto Khansa dengan foto tak senonoh itu dan menyadari wanita itu bukanlah Khansa.


“Wah iya, benar!” seru mereka serentak.


Bersambung~


FYI;

__ADS_1


Presa release adalah informasi penting yang dikeluarkan oleh pembicara yang akan menyampaikan konferensi pers-nya. Biasanya, press release ini diberikan kepada media yang akan meliputnya.


__ADS_2