Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 128. Siasat


__ADS_3

Fauzan berjalan gontai menyusuri lorong apartemen. Sepulang dari rumah sakit, dia pergi ke bar dan mabuk berat. Puluhan kali menghubungi Jihan namun tidak bisa. Kini ia memutuskan pulang ke apartemen Jane di tengah malam.


"Brak! Brak!"


Fauzan menggedor pintu apartemen dengan kasar. "Jane! Buka pintunya!" teriak pria itu dengan suara beratnya.


Tubuhnya terhuyung dan bersandar pada pintu. Kedua matanya teramat sayu. Pandangannya buram dan membayang. Ia lalu terduduk di lantai.


Tak berapa lama, terdengar suara membuka kunci dari unit apartemen itu. Fauzan terjengkang hingga tergeletak di lantai saat Jane berhasil membuka pintu. "Iiih ngapa nih tua bangka pake acara mabok segala!" gerutunya kesal.


Jane menoleh ke sekelilingnya, suasana sunyi dan sepi. Ia pun menyeret pria itu masuk ke apartemen. Meski kesulitan, ia mengerahkan seluruh tenaganya. Tak peduli tubuh Fauzan bergesekan dengan lantai.


"Hah! Gila. Berat banget!" desah Jane melempar tubuhnya di sofa setelah ia berhasil menyeret Fauzan hingga di atas karpet. "Ngerepotin aja sih!" gerutunya mengipasi wajahnya yang mulai berkeringat, lalu kembali ke kamarnya. Meninggalkan Fauzan yang tergeletak di lantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hansen kembali mengelilingi ranjang kakek Khansa. Dia memperhatikan berbagai alat yang menunjang kehidupan sang kakek. Sedangkan Leon mengedarkan pandangan ke langit-langit.


"Sepertinya harus dipasang CCTV nih di setiap sudut," gumam Leon mencetuskan idenya.


Hansen memutar tubuhnya menghadap Leon, ia turut menatap ke arah mata Leon. "Hmm ya, tapi pakai yang canggih. Jangan sampai kelihatan. Agar siapa pun orang yang masuk tidak tahu jika sedang diawasi," tutur Hansen mengutarakan pendapatnya.


Leon menjentikkan jemarinya, "Ide bagus!" pujinya tersenyum menyeringai. "Gerry mana nih?" ucapnya mencari keberadaan sang asisten.


"Emang tadi ke sini?" tanya Hansen.


"Iya! Tapi kalau pulang kenapa nggak pamit?" ucapnya meraih ponsel untuk menghubungi Gerry.


Tak berapa lama, Gerry bergegas ke kamar kakek. Karena seharian dia berada di ruang kerja untuk memback up CCTV sepuluh tahun yang lalu.


"Saya, Tuan!" ucap Gerry setelah sampai di kamar.


"Gerry, besok pasang CCTV di segala sisi. Tapi pilih CCTV yang tidak terlihat mencolok. Terserah bagaimana pun bentuknya asal kualitasnya bagus, bisa merecord suara dengan jelas. Kalau perlu setiap lampu itu juga taruh CCTV." Leon menjelaskan sambil menunjuk bagian-bagian yang diprioritaskan.


Gerry mengangguk, "Baik, Tuan!"


"Istirahatlah di kamar tamu Gerry. Lanjutkan besok lagi. Terima kasih kerja kerasnya hari ini," ucap Leon menepuk bahu Gerry.


Sedari pagi dia sibuk bersama pengacara untuk mengurus pembelian rumah Khansa, mengurus balik nama dan harus mengambil rekaman CCTV untuk mengecek bagaimana bisa penjualan rumah itu terjadi. Semua harus serba cepat.

__ADS_1


Dan ternyata mereka menemukan berbagai hal tak terduga. Di mana Jihan mengobrak-abrik kamar dan juga ruang kerja Fauzan. Bahkan setelah itu dia juga harus memulai misinya sepuluh tahun ke belakang.


"Sama-sama, Tuan! Sudah tugas saya," ucap Gerry terharu dengan ucapan terima kasih bosnya itu.


"Istirahatlah, kamar sudah disiapkan," lanjut Leon.


"Baik, permisi, Tuan!" Gerry membungkuk lalu pamit undur diri.


Leon mengangkat lengan, untuk melihat jam kesayangannya. "Sudah hampir jam 12, Emily nggak dicari orang tuanya apa?" tanya Leon mengerutkan dahinya. Pria itu melangkah panjang menuju kamar Khansa. Hansen berjalan pelan mengikutinya dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Emily mengerjap beberapa kali setelah Khansa melempar pertanyaan padanya. "Aku?" tunjuknya pada diri sendiri. "Suka sama manusia kulkas dua pintu itu? Yang bener aja, Sa," sanggahnya berbalik, menatap langit-langit kamar Khansa.


"Eh, Hansen baik lo. Dia itu misterius, beda sama Simon yang suka nyablak dan banyak pacar," ucap Khansa memanasi.


"Sasa, stop! Jangan mengada-ada!" Emily mendecih, menelungkupkan tubuhnya sembari menutup bantal. Ia takut wajahnya yang memerah ketahuan Khansa.


"Iya aja sih, nanti aku bantuin deh," tambah Khansa tertawa semakin menggoda Emily.


Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Khansa menoleh dengan cepat, ia melihat Leon seperti menahan emosi. "Emily! Kamu disuruh pulang sama papamu! Iya 'kan, Han?" usir Leon secara halus. Leon menatap Hansen yang kini melebarkan kedua matanya.


Emily membuka bantal yang menutup wajahnya. Ia tersentak saat dua pria itu sudah berada di ambang pintu. Buru-buru Emily bangun dan merapikan rambutnya yang berantakan.


"Bilang iya!" geram Leon berbisik sembari melotot pada Hansen.


"I ... iya Emily, aku akan mengantarmu pulang," ucap Hansen melirik Leon yang tersenyum puas.


Emily mendecakkan lidahnya. Ia masih ingin bersama Khansa, tapi mengingat papanya yang kelihatan dekat dengan Hansen membuatnya percaya begitu saja.


"Sa, aku pulang dulu ya," pamit Emily memeluk tubuh Khansa.


"Iya, hati-hati," balas Khansa menepuk punggung Emily.


Emily menurunkan kedua kakinya, beranjak dengan wajah cemberut. Berbeda dengan Leon yang menampilkan binar kebahagiaan. Khansa ikut turun dari ranjang. Ia berjalan melalui Leon, mengabaikan pria itu. Ia lebih memilih mengantar Emily hingga keluar rumah.


"Kakak ipar, kami pulang dulu," pamit Hansen setelah melalui pintu utama.


"Hati-hati adik ipar. Jaga baik-baik bestieku, jangan sampai berkurang sedikit pun ya," gurau Khansa melambaikan tangannya.

__ADS_1


Emily memanyunkan bibirnya hendak membalas Khansa, namun segera mengikuti Hansen yang sudah masuk ke mobil. Khansa kembali masuk setelah mobil Hansen menghilang dari pandangannya.


Khansa menaiki tangga perlahan. Pintu kamarnya masih nampak terbuka lebar. Begitu masuk, ia melihat Leon duduk di sofa dengan posisi membelakanginya. Khansa menggigit bibir bawahnya, dadanya tiba-tiba berdebar kasar di tengah malam yang sunyi.


"Kamu mau di sana sampai pagi?" ucap Leon dingin tanpa menoleh.


Khansa tersentak, bola matanya memutar ke samping kiri dan kanan. "Eh, kok dia tahu?" gumamnya pelan. Khansa masuk perlahan dan menutup pintu. Ia berjalan perlahan dan mendudukkan tubuhnya di samping Leon.


Kedua tangan Khansa menggenggam erat tepi sofa. Perempuan itu merasakan hawa yang berbeda. Tiba-tiba Leon berubah dingin dengan kilat mata yang tajam. Wajahnya terlihat sangat lelah.


"Emm ... Leon," panggil Khansa mencoba mencairkan suasana.


Leon menoleh, menatap Khansa dengan malas namun tajam. Bibirnya masih terkatup rapat, tanpa ingin bersuara. Hal itu membuat Khansa semakin berdegub dan meneguk salivanya dengan kasar.


'Aku salah apa?' batin Khansa melirik Leon.


"Apa kamu mau mandi? Mau aku siapkan air hangat?" tawar Khansa.


"Tidak perlu! Aku mau mandi air dingin saja!" jawab Leon masih dengan nada dingin pula. Namun ia masih tak beranjak.


"Tapi, ini tengah malam Leon. Nanti kamu bisa sakit," ucapnya khawatir.


Khansa memberanikan diri memutar tubuhnya menghadap Leon. Gadis itu lalu membuka simpul dasi yang masih terikat sempurna. Leon hanya terus menatapnya dalam-dalam. Meski jemarinya bergetar karena terus ditatap Leon seperti itu.


"Aku siapin air hangat ya," ucap Khansa beranjak dari duduknya dan hendak melenggang pergi.


Tangan Leon mencekal lengan kurus Khansa, hingga langkahnya terhenti. Pandangannya menunduk menatap Leon.


"Tidak usah. Aku lebih suka air dingin, karena ada kamu yang akan menghangatkanku!"


DEG!


Bersambung~



😚 "Nyanyi mbak?"


Sasa : Bantuin lu ngamen thor... biar lanjut, nggak nanggung deg degannya ☺

__ADS_1


😌 nunggu rame mbak... tarik sis! 💃



__ADS_2