Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 160. Pemakaman Kakek


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Leon yang sudah berpakaian rapi menundukkan tubuhnya di ranjang. "Sayang, bangun!" bisiknya menciumi wajah Khansa yang masih terlelap dalam tidurnya.


Perempuan itu mengerjap lembut, ia tersenyum saat membuka mata menemukan suami tampannya. Tangannya mengulur menyentuh pipi suaminya, "Pagi," ucap Khansa dengan nada manja.


"Ayo bangun dan siap-siap. Kita harus segera mengurus pemakaman kakek," ucap Leon pelan sembari membelai puncak kepala Khansa.


Khansa segera beranjak duduk, buru-buru dia bangun dan bergegas mandi. Tak lama kemudian, ia sudah siap dengan gaun putih yang membalut tubuh rampingnya.


Mereka serentak menuruni anak tangga, nenek yang tengah membantu menyiapkan sarapan menoleh saat melihat kedatangan dua cucunya. Beruntung mereka pulang tepat waktu, bisa beristirahat sejenak tanpa dicurigai oleh sang nenek.


"Leon, Khansa, ayo sarapan dulu. Kalian mau kemana sudah rapi sepagi ini?" tanya sang nenek.


Leon mendekat dan mencium kening neneknya. Ia lalu menarik kursi untuk Khansa duduk, dan dia pun duduk di sebelahnya. "Nenek, hari ini kami mau mengurus proses pemakaman kakek," ucap Khansa pelan membuat nenek terkejut.


"Ya Tuhan!" pekik nenek menutup mulutnya. Nenek meletakkan piring di meja lalu menghampiri Khansa. Nenek memeluk perempuan itu dari belakang. "Kamu yang sabar ya, Sayang," ucapnya mengusap bahu Khansa.


"Iya, Nek. Dengan begini kakek sudah tidak sakit lagi," balas Khansa menyendu.


"Ayo, kita makan dulu!" Nenek pun segera duduk dan memulai sarapannya.

__ADS_1


Usai sarapan, Khansa dan Leon berangkat lebih dulu. Kali ini Leon memilih naik mobil sport berwarna merah. Sedangkan nenek akan menyusul bersama Paman Indra.


"Leon, mampir ke kafe semalam dulu ya," pinta Khansa diangguki oleh Leon.


"Helmnya nggak usah ambil, ribet," ujar Leon fokus menyetir.


Khansa mengangguk, ketika sampai di sana Khansa menyerahkan lima lembar seratus ribuan di meja kasir. "Buat bayar semalam, Mas. Helmnya buat mas aja. Makasih ya," ucapnya lalu melenggang pergi.


Kasir yang kebetulan belum berganti shift itu melongo, pembayaran yang dilebihkan ditambah mendapat helm mewah rasanya seperti mendapat durian runtuh. Ia sampai lupa mengucapkan terima kasih saking terkejutnya.


Leon menaikkan laju kecepatan mobilnya. Sesampainya di kediaman Khansa, sudah ada beberapa petugas medis yang bersiap untuk melepas semua alat-alat yang menunjang kehidupan kakek. Mereka langsung menuju ke kamar kakek.


Beberapa kerabat dekat mereka turut hadir. Mereka bertanya-tanya mengenai pria yang bersama Khansa. Namun, gadis itu tak peduli. Ia hanya fokus pada sang kakek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nenek!" panggil Simon saat bertemu dengan nenek di teras depan. Kebetulan mereka datang di waktu yang sama.


"Simon, kau sendiri? Mana Hansen?" tanya nenek saat tak melihat pria berkacamata itu.

__ADS_1


"Sepertinya lagi dinas, Nek," sahut Simon yang juga tidak tahu keberadaan saudaranya itu.


"Yasudah, ayo masuk!" ajak nenek Sebastian.


Kakek Khansa sudah selesai dimandikan, kini telah dipakaikan jas dan dimasukkan ke dalam peti. Leon masih setia berdiri di samping peti sambil memeluk istrinya. Melihat kakek lamat-lamat untuk yang terakhir kalinya.


"Sa," panggil nenek menyentuh lengannya.


Khansa menoleh, dia mengangguk sembari tersenyum tipis meski kedua matanya sudah berkaca-kaca. Nenek turut berdiri di sebelah Khansa, mengusap-usap lengan gadis itu.


Perhatian mereka tersita pada seseorang yang baru hadir dan berdiri di ambang pintu. Khansa juga menoleh, tatapannya sulit diartikan.


Bersambung~


*Dikit amat thor?


Enggg ... kalau udah nggak pusing entar lanjut lagi. Maaf yaa... 🥺


__ADS_1


__ADS_2