Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 66. Apa Posisiku di Hatinya?


__ADS_3

Khansa hampir terhuyung jika saja lengannya tidak segera berpegangan kursi kayu yang terletak di teras. Niat untuk mencari udara segar di luar Villa, justru menambah sesak dadanya. Meski sebenarnya, Khansa tengah menunggu kedatangan Leon karena rasa penasaran yang membuncah di hatinya.


Manik mata indahnya tengah memindai kedua makhluk yang kini baru saja turun dari mobil mewah Leon. Khansa menggigit bibir bawahnya, menahan napas yang tiba-tiba tercekat dan dada yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Ribuan jarum terasa menusuk jantungnya saat melihat keakraban mereka.


“Wah, ini keren banget, Tuan!” seru wanita sexy yang mengedarkan pandangan takjub pada bangunan mewah yang menjulang tinggi di hadapannya. Wanita itu merasa besar kepala saat tiba-tiba Leon menawarkannya untuk datang ke Villa Anggrek.


Leon memicingkan mata saat melihat Khansa berdiri di sana. Bibirnya tersungging senyum tipis penuh seringai.


“Ayo masuklah,” ucap Leon menatap Susan dengan senyum hangatnya. Sontak membuat Susan salah tingkah dengan senyuman itu. Rambutnya yang masih rapi diselipkan di belakang telinga untuk mengusir kegugupan yang tiba-tiba menghampiri.


Leon berhenti melangkah sejenak, untuk menunggu Susan membenahi pakaiannya yang sedikit kusut setelah turun dari mobil.


“Jadi Tuan Leon tinggal di sini ya?” tanya Susan dengan mata berbinar takjub melihat sekeliling. Bibir merahnya itu tak henti-hentinya mengurai senyum.


“Heem … ya,” jawab Leon singkat.


Keduanya melangkah beriringan masuk ke dalam Villa. Rupanya Leon membawa Susan, seorang chief public relation di perusahaannya.


Khansa tidak ingin Leon melihat dirinya yang nampak canggung. Ia membalikkan badan dan segera berlari ke lantai atas. Khansa meraih handel pintu kamarnya, segera masuk dan menutupnya dengan keras.


Perempuan itu masih berdiri di balik pintu dengan deru napas yang kasar. Tangannya meraba dada dan sedikit meremat baju yang saat ini dikenakannya seiring dengan detak jantungnya yang meningkat pesat.


Tubuhnya luruh merosot ke lantai, matanya terpejam, “Apa … apa wanita itu adalah pacarnya Leon? Jadi, sebenarnya aku ini apa bagi Leon? Apa posisiku di hatinya?” gumamnya bertanya-tanya pada diri sendiri.


Khansa berusaha berdiri, lalu melangkah menuju balkon kamarnya. Kedua lengannya menyentuh pagar pembatas yang terbuat dari stainless itu. Pandangannya menyebar melihat keindahan yang tampak dari balkon kamarnya.


Hembusan angin yang bertiup dingin di siang hari, tak mampu menyejukkan tubuh dan hati Khansa yang memanas. Rambut panjangnya yang terurai melambai tertiup angin. Gaun putih selutut yang dikenakannya juga berkibar dengan kencang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Leon meminta Susan untuk duduk di sofa tamu. Paman Indra dengan sigap menyuruh pelayan untuk menyiapkan minuman.


Belum habis kekagumannya di luar ruangan, kini Susan semakin berbinar dengan interior villa mewah itu. Hatinya terus berdecak kagum. Bahkan membayangkan jika ia akan menjadi nyonya di sana.


Paman Indra memimpin jalan, dua pelayannya mengekor dengan membawa minuman dan beberapa cemilan.


“Selamat datang, Nona. Silakan dinikmati,” ujar Paman Indra setelah dua pelayan meletakkan bawaan mereka.


“Hem, terima kasih,” ucapnya datar tanpa mau melirik para pelayan itu.

__ADS_1


“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanya Paman Indra masih berdiri di samping Leon.


Leon mengibaskan tangannya, “Belum. Pergilah, Paman,” ucap Leon.


“Baik, Tuan. Kami permisi.” Paman Indra dan dua pelayan itu membungkukkan separuh tubuhnya, kemudian memutar tubuh dan melenggang pergi.


Leon mengangkat satu kakinya, bertumpu pada pahanya lalu menyulut benda favoritnya. Punggungnya bersandar pada sofa single yang berseberangan dengan tempat duduk Susan.


“Minumlah dan nikmati camilannya,” ujar Leon dengan wajah datar tanpa melirik perempuan itu. Leon asyik menikmati sesapan demi sesapan perpaduan nikotin dan tembakau di sela jarinya.


“I … iya, Tuan,” jawab Susan yang merasa gugup karena lamunannya yang tiba-tiba buyar. Ia meraih gelas berisi minuman berwarna orange lalu mengangkatnya. Susan melebarkan senyum, “Mari minum, Tuan,” ucapnya meneguk sedikit lalu meletakkan kembali dengan perlahan setelah Leon mengangguk.


Susan menegakkan tubuhnya, dengan maksud mencondongkan bukit kembarnya yang sangat besar itu. Apalagi saat ini pakaiannya sangat ketat dengan belahan dada yang rendah. Wanita itu terlalu percaya diri.


Tiba-tiba Leon mematikan sumbu rokoknya. Mengusak pada asbak hingga benar-benar mati, menyisakan asap yang tidak begitu banyak.


“Nikmatilah, aku mau ke atas dulu, kalau perlu apa-apa panggil saja pelayan,” ujar Leon beranjak berdiri mengancingkan jasnya yang sempat terlepas.


Susan hanya memamerkan deretan giginya, kepalanya mendongak menatap pria tampan yang menjulang di hadapannya. “Baik, Tuan. Terima kasih.”


Leon tak menjawab lagi, kakinya menginjak satu persatu anak tangga menuju ke kamarnya. Ia ingin menemui Khansa. Mata Susan tidak lepas dari punggung lebar Leon yang semakin menghilang dari pandangannya.


Susan mengembuskan napas kasar, lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, “Sial! Udah dipancing begini  nggak diajak ngamar sekalian?” gerutunya kesal mendecakkan lidah.


“Sa!” panggil Leon namun tak ada sahutan dari sang pemilik nama.


Kemudian mata elangnya menangkap pintu balkon yang terbuka. Kedua kakinya mengayun tegas menuju ke sana.


Mendengar derap langkah mendekat, Khansa berbalik dengan kedua mata mendelik. Ia terkejut dengan kedatangan Leon. Pasalnya, ia tak mendengar apa pun saat Leon masuk. Mungkin terlalu larut dalam pikirannya.


“Ternyata kamu di sini?” Leon berjalan semakin mendekat. Berhenti tepat di samping Khansa. Menopang kedua tangan kekarnya di pagar balkon, wajah tampan itu menoleh, memperlihatkan senyum yang sangat tampan hingga membuat Khansa meneguk salivanya dengan berat.


Tak kuasa lama-lama ditatap seperti itu, Khansa segera kembali ke kamar dan mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. Memandang ke seberang yang berlawanan dengan Leon.


Pria itu melebarkan senyumnya, ia kembali masuk mengikuti sang istri. Leon menarik kursi yang terletak di depan meja rias lalu duduk berhadapan dengan Khansa.


Gadis itu menoleh, jarak yang cukup dekat membuatnya merasa  sesak kembali. “Ngapain ke sini? Nanti dicari pacarmu loh!” ucapnya ketus melirik tajam.


“Pacar? Yang mana?” goda Leon terkekeh geli.

__ADS_1


“Yang kamu ajak ke sini lah. Emang berapa wanita yang kamu ajak ke sini?” tanyanya menaikkan dagu, menyipitkan kedua matanya.


“Emm … wanita tadi.” Leon mengangguk-anggukkan kepala. “Wanita itu yang namanya Susan, Sa,” sambung Leon menopang kedua siku di atas pahanya. Khansa memberengut kesal. Ia membuang pandangannya ke samping sambil mengembuskan napas berat.


“Gimana menurutmu?” tanya Leon memiringkan kepala.


“Apa?” tanya Khansa balik sedikit ketus.


“Itu si Susan. Menurutmu gimana orangnya?” pancing Leon yang menatap Khansa lamat-lamat, menurutnya dalam kondisi seperti ini Khansa sangat menggemaskan di matanya.


‘Ngapain Leon tanya pendapatku?’ gerutunya dalam hati.


“Cantik, sexy dan sepertinya orang yang cerdas,” jawab Khansa jujur meski hatinya merasa tak nyaman mengatakannya. Ia tidak mau memperlihatkan cemburunya.


“Ahh iya, kamu benar. Dia memang sangat cantik, sexy dan berbakat,” balas Leon sengaja menggoda Khansa.


“Dasar buaya, mata keranjang!” umpat Khansa sangat pelan.


“Emmm … kamu mengatakan sesuatu?” tanya Leon menautkan kedua alisnya.


Buru-buru Khansa menggeleng, tubuhnya menegang, takut jika Leon mendengar umpatannya.


‘Kamu juga sangat cantik, bahkan lebih cantik, ucap Leon dalam hati. Bibirnya masih melengkungkan senyum yang indah.


Leon menjulurkan tangan, mengusap puncak kepala Khansa untuk menghiburnya, tepat saat itu, Susan tiba-tiba menerobos masuk dan suasana jadi sangat canggung. Hanya terdengar suara detak jam dinding.


Bersambung~


 FYI guys:


Chief Publik Relation adalah Kepala Divisi Humas. Beda ama Chef ya, 😁


Ciyee... yang senyum senyum dapet notif secepat ini... wkwkwk...


Happy weekend dengan ditemani 5 bab persembahan dariku~ Please bacanya pelan-pelan biar nggak cepet kelar karena aku ngetiknya semalaman.. 😂😂 gak adil banget dah sumpah..hahaa. So, jan asal scroll yah gengs, likenya diteken...komengnya juga boleh, selamat mengumpat. haha


Siapkan mental ya🤭 lima bab kemarin dah bikin erosi.. ah ini juga, tapi ada manis manisnya gituu..


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2