Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 174. Pertemuan tak disengaja


__ADS_3

Khansa mencuci muka dan berkumur setelah menuntaskan muntahnya. Napasnya memelan seiring tubuhnya yang melemas, kepalanya juga terasa berdenyut nyeri.


"Sa! Kita ke rumah sakit? Aku teleponin dokter ya? Atau aku harus gimana nih?" Leon menangkup kedua pipi Khansa dengan panik.


Khansa tersenyum, jemari dinginnya menyentuh punggung tangan Leon. "Sepertinya aku cuma butuh istirahat, ini sudah hampir tengah malam," ucapnya pelan.


Pria itu segera merengkuh tubuh Khansa, menggendongnya ala brydal style. Wanita itu tentu saja menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang suaminya. Leon melangkah perlahan menaiki anak tangga satu per satu dengan hati-hati.


Leon mengambilkan air minum yang selalu tersedia di atas nakas. Mengulurkan tepat di depan bibir Khansa ketika ia sudah mendudukkannya di ranjang. Satu tangannya membelai puncak kepala Khansa, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.


"Mau makan yang lainnya? Roti? Desert atau buah gitu?" tawar Leon menundukkan tubuhnya.


Khansa menggeleng, "Aku tidur aja ya," pamitnya mengurai senyum.


"Yaudah, ayo! Kalau ada yang sakit ngomong ya," balas Leon.


Leon beralih ke sisi ranjang lainnya. Merebahkan diri, menaikkan selimut lalu menggeser tubuhnya hingga tak berjarak dengan Khansa. Lengannya melingkar erat di perut wanita itu, menciumi puncak kepalanya dan mulai memejamkan mata.


Senyum lebar tersungging di bibirnya. Ia memiringkan tubuh saling berhadapan dengan sang suami lalu menyurukkan kepalanya di dada Leon, mendengar irama detak jantung pria itu yang berdentum kuat namun terasa menenangkan bagi Khansa.


"Tidurlah, aku takut nggak bisa nahan," gumam Leon mengeratkan pelukannya.


Khansa mendongak, "Nahan apa?" tanyanya mengerutkan dahi.


"Makan kamulah." Leon menggigit gemas telinga Khansa.


"Ah, Leon!" teriak wanita itu menutup telinganya. Tubuhnya meremang seketika. Sekujur tubuhnya memanas.


Leon terkekeh, "Tapi nggak tega kamunya lagi sakit, dah cepet tidur!" ujarnya menutup mata Khansa dengan telapak tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hendra terperanjat dari tidurnya ketika mendapat kabar buruk dari salah satu petugas keamanan di gudang penyimpanan bahan baku obatnya. Ia bergegas keluar dari ruang rawat inap sang ayah.


"Hendra, kamu mau ke mana?" tanya ibunya yang juga terbangun karena mendengar suara Hendra yang tergesa-gesa.


"Keluar sebentar ya, Bu," ujarnya tanpa menjelaskan apa pun.


Derap langkah kakinya mrnggema di lorong rumah sakit yang sunyi saat itu. Ia tergesa sembari menggeram dalam hati. Detak jantungnya berdebar berkali-kali lipat.


Hendra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama, dia bisa sampai di lokasi tidak lebih dari 15 menit. Hendra keluar dari mobilnya, membanting pintu dengan kasar.


Sepasang manik matanya bisa melihat kobaran api yang membumbung tinggi menjulang ke langit. Bahkan sesekali masih terdengar ledakan-ledakan kecil. Sepuluh mobil pemadam kebakaran sudah diterjunkan, namun tetap kuwalahan memadamkan amukan jago merah tersebut.


"Aaaarrgghh! Brengsek!" teriak Hendra mencengkeram rambutnya.


Emosinya membuncah hingga puncak kepala. Giginya bergemeletuk dengan keras. Masalah izin operasi rumah sakit masih dalam negosiasi, kini justru masalah besar tengah melahapnya. Kerugian yang ditanggung mencapai milyaran US Dollar.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" teriak Hendra seperti orang gila. Tidak ada staff yang berada di lokasi. Mereka yang tengah bekerja, selalu meninggalkan lokasi saat ada sterilisasi. Karena memerlukan waktu cukup lama sampai diperbolehkan bekerja kembali.


Kabar merambah dengan begitu cepat diendus oleh media. Para awak media pun berbondong-bondong mendatangi lokasi kebakaran tersebut. Mereka berlomba-lomba menayangkan berita besar itu secara live, pada jam tengah malam.

__ADS_1


Hendra mendekati lokasi kebakaran. Dia terus berteriak mengarahkan petugas pemadam agar bekerja dengan cepat. Namun karena memang hampir semua bahan kimia itu mudah terbakar, api cukup sulit ditaklukkan.


Sudah tiga jam lamanya, mereka berjuang memadamkan api. Asap hitam pekat mulai membumbung tinggi di udara, api mulai bisa padam. Hendra menatapnya nanar sambil berkacak pinggang. Kedua kakinya terasa melemas, tulang-tulangnya seolah terlepas. Habis, bangunan luas setinggi dua lantai beserta semua isinya tak bersisa. Rata dengan tanah.


Hendra segera pulang ke rumah. Ia menyerahkan kasusnya kepada pihak kepolisian. Sepanjang malam itu, Hendra berpikir keras untuk mempertahankan para relasi kerjanya. Hendra menyusun strategi untuk meyakinkan para kolega agar tetap mau bekerja sama dengannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam telah berganti, mentari sudah menyembul dari peraduan sejak satu jam yang lalu. Leon sudah selesai mandi dan sudah berpakaian untuk ke kantor. Namun saat ini masih duduk di tepi ranjang, memperhatikan istrinya yang tidur dengan damai.


Wajah cantik nan polos perempuan itu selalu membuat dada Leon berdebar tak karuan. Meski sudah beberapa bulan hidup bersama. Tetap saja, rasa itu tidak pernah berubah.


Khansa mengerjap pelan saat sinar matahari mulai menembus kedua matanya, pandangan pertama yang ia tangkap adalah wajah tampan sang suami. Bibirnya melebarkan senyum.


"Pagi, Sayang!" sapa Leon mengecup kening Khansa.


"Kok udah rapi, jam berapa ini?" tanya Khansa dengan suara seraknya. Kepalanya menoleh pada jam yang menggantung di dinding.


"Aku ada meeting pagi ini. Tapi nggak tega ninggalin kamu. Gimana? Masih ngerasa nggak enak?" tanya Leon meraba perut Khansa. Ia khawatir jika perempuan itu kembali muntah seperti semalam.


"Enggak kok, aku nggak apa-apa." Khansa beranjak duduk, merapatkan punggungnya pada sandaran kasur.


"Beneran?" Leon beralih meletakkan punggung tangannya di kening Khansa. Tidak demam sama sekali, dan itu membuatnya bernapas lega. Khansa mengangguk mantap.


Leon mengambil nampan di atas nakas. Menyodorkannya pada Khansa. Ia membawa seporsi roti bakar, dan beberapa buah yang sudah dipotong-potong juga segelas susu.


"Aku minta Bibi untuk siapin ini. Dimakan ya," ucapnya penuh perhatian.


Khansa mengangguk masih dengan senyum merekah di bibir pucatnya. "Makasih ya, Sayang."


"Oh iya?" Khansa berbinar, ia meletakkan nampan di sebelahnya lalu mengangkat telepon itu dengan bersemangat.


"Sasaaaa!" teriak Emily saat Khansa baru saja menggeser icon hijau di layar.


Khansa memejamkan mata, menjauhkan ponsel dengan satu tangan menutup telinga. Sahabatnya itu memang selalu heboh setiap waktu.


"Ya ampun, Emily. Kebiasaan deh selalu teriak-teriak gitu." Khansa terkekeh saat kembali meletakkannya di telinga.


Melihat sang istri baik-baik saja, Leon beranjak berdiri. "Aku berangkat ya," ucap Leon mengecup kening dan kedua pipi Khansa. "Kalau ada apa-apa langsung telepon aja, terus kalau ke mana-mana harus diantar sopir! Tidak usah antar aku ke depan!" cerocosnya tanpa jeda tidak mau mendengar bantahan.


"Iya, hati-hati Leon." Khansa melambaikan tangannya.


"Ehmm! Yang lagi mesra-mesraan," sindir Emily menyadarkan Khansa kalau ia masih berada dalam sambungan telepon.


"Eh, maaf Emily. Ada apa?" tanya Khansa sembari meneguk air putih.


"Aku jemput sebentar lagi. Temenin aku jalan-jalan ya," pinta Emily memaksa.


"Hah? Kamu pulang lagi?" Khansa sedikit terkejut.


"Iya, Bestie. Kamu di mana sekarang?"

__ADS_1


"Aku di rumah. Ke sini aja. Aku tunggu ya," balas Khansa.


"Oke!"


Keduanya lalu mengakhiri panggilan. Khansa bergegas mandi. Meski kepalanya masih sedikit terasa pusing, namun ia berpikir itu hanya karena kelelahan saja. Khansa pun mengabaikannya.


Usai mandi dan bersiap, Khansa memakan sarapannya hingga habis tak bersisa. Bahkan potongan buahnya pun juga habis. Dia sungguh kelaparan karena seharian kemarin tidak memakan apa pun akibat rasa mual yang menderanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu jam kemudian, Emily telah sampai di kediaman Khansa. Ia langsung berlari menuju kamar wanita itu, karena pintu sudah terbuka sedari tadi. Pelayan tengah bersih-bersih.


"Sasa! Yuhuu!" teriak Emily di depan pintu kamar.


Pintu terbuka dari dalam. Khansa merentangkan kedua lengannya. Dua gadis seumuran itu segera mengambur saling berpelukan.


"Kok cepet banget pulangnya. Tumben banget, biasanya juga berbulan-bulan," ucap Khansa setelah melepas pelukannya.


"Nanti aku ceritain. Cap cus yuk sekarang! Kita belanja!" ajak Emily bersemangat.


Khansa kembali masuk ke kamar, meraih sling bagnya. Sesuai perintah Leon, Khansa meminta sopir untuk mengantarkan mereka kemanapun. Emily berdebar saat ingin menceritakan hubungannya dengan Hansen. Tapi masih ia urungkan, rencananya akan bercerita pada situasi yang enak untuk mengobrol.


"Sasa! Udah denger kabar dari perusahaan Hendra? Wow emezing sih ini," seru Emily mengalihkan perasaannya yang berdebar sedari tadi.


"Mmm ... tentu saja. Aku yang tahu pertama kali sebelum para pemburu berita itu," cetus Khansa memainkan kedua alisnya.


Emily terdiam sebentar, mencerna setiap kalimat Khansa. Butuh beberapa detik untuk dia mengerti. Mulutnya langsung terbuka lebar, kedua matanya membelalak. Tangannya menepuk lengan Khansa dengan keras.


"Jadi? Itu? Kerjaan kamu?" bisik Emily di telinga Khansa. Khansa tersenyum, kepalanya mengangguk.


"Lebih tepatnya sama anak buah Leon juga. Eh ada Hansen dan Simon juga yang membantu," terang Khansa.


"Hah? Hansen juga?" Emily bertanya dengan nada terkejut.


Khansa mengerutkan dahinya, "Iya, kenapa?"


"Ah, enggak. Hehe," sahut Emily menggaruk kepalanya, ia tiba-tiba salah tingkah.


Dua gadis itu berjalan sambil bersenda gurau di dalam sebuah mall. Tanpa sengaja Khansa menabrak bahu seorang pria yang sedang fokus dengan ponselnya.


"Awww!" rintih Khansa menyentuh bahunya.


"Prak!"


Ponsel tersebut terlempar ke lantai. Pria itu berdecak sembari merunduk untuk meraih benda pipih tersebut.


Emily yang melihat Khansa meringis segera mendorong pria yang menabrak Khansa tadi. "Heh! Mata kamu di mana? Jalan kok jelalatan!" pekik Emily.


Saat kembali menegakkan tubuhnya, Khansa sedikit terkejut. Namun pandangan matanya sangat tajam, seperti tombak yang siap untuk menancap saat itu juga.


Bersambung~

__ADS_1


Ketemu siapa, Sa?



__ADS_2