Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 189. LEON vs TIGER


__ADS_3

Mario sudah bersiap di depan villa yang ditempati Leon dan Khansa. Ia sudah menempatkan beberapa pengawal bayangan untuk mengetatkan penjagaan. Dari kejauhan ia dapat melihat tuannya berjalan tegap dengan wajah dingin dan kilat mata tajam.


Buru-buru kepala pengawal itu membukakan pintu mobil sambil merundukkan separuh badannya. Leon mendudukkan tubuh di kursi penumpang, mata elangnya enggan mengerjap. Mario segera beralih ke balik kemudi dan menjalankannya menuju bar tidak jauh dari bangunan tersebut.


Hingar bingar musik DJ menghentak ruangan temaram dengan lampu kerlap-kerlip yang terus bergerak. Kaki panjang Leon terayun memasuki gedung yang mulai ramai tersebut. Baru mendaratkan bokongnya di sudut ruangan, seorang wanita sexy berpakaian minim langsung menghampiri kala melihat kedatangan pria itu.


"Selamat malam, Tuan!" sapa wanita sexy itu mengulurkan kedua tangan hendak merangkul bahu kokoh Leon. Namun belum sempat menggapainya, Leon segera menekan perut ramping itu dengan moncong pistol yang tadi bersembunyi di balik hoodienya.


Manik hitam Leon memutar ke atas. Menatap wajah pucat perempuan yang membeku di tempatnya. Kedua tangannya menggantung di udara. Ketakutan mulai menyerap darah di sekujur tubuh wanita itu.


"Menjauh atau aku tarik pelatuk ini hingga mengoyak seluruh isi perutmu!" geram Leon dengan nada rendah namun penuh ancaman. Wajahnya tampannya sangat dingin dan dipenuhi intimidasi.


"Ba ... baik, Tuan!" sahut wanita itu gemetar ketakutan. Ia segera mundur lalu berlari menjauh dengan panik bahkan sampai terjengkang ke lantai.


Leon melemparkan tatapan tajam seperti tajamnya mata pisau yang siap menghunus jantung wanita itu. Dia sudah gemetar melihat seringai dari pria super tampan itu. Keringat dingin mulai bermunculan, susah payah wanita penggoda itu beranjak bangun. Lalu mundur menjauh dan berlari untuk menenangkan diri.


Pria itu mendengkus, ia menuangkan minuman pada gelas kristal yang tersedia di hadapannya. Mulai menyesapnya sedikit, lalu duduk dengan gaya elegant. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru sudut ruangan, memindai seberapa kuat keamanan dari tempat hiburan tersebut.


"Tuan, ada empat orang penjaga yang berdiri di setiap sudut ruangan. Selebihnya penjagaan di luar semua," lapor Gerry yang berhasil meretas kamera pengawas tempat tersebut sejak beberapa jam yang lalu. Mereka masih terhubung melalui sistem jaringan komunikasi.


Leon hanya berdehem, ia masih belum menemukan mangsanya. Meski dipadati oleh manusia yang asyik menikmati alunan musik di sana, Leon tentu masih hapal dengan gestur tubuh sang kakak. Dia masih terdiam mengamati setiap inchi dalam gedung yang ramai itu sembari memainkan gelas di tangannya.


Sedikit jenuh karena meninggalkan istrinya cukup lama. Perasaan gelisah kini mulai membalut hatinya. Tapi dia harus bertahan untuk segera menyelesaikan pertikaian yang seharusnya tidak terjadi.


"Lepas! Tolong lepaskan saya, Tuan!" Seorang gadis mengenakan seragam pelayan tengah meronta, ingin melepaskan cengkeraman tangan Tiger.


Pria itu menyeret paksa agar menuruti keinginannya. Leon menangkap pergerakan itu. Matanya mengikuti gerakan sang kakak yang menyeret wanita dengan kasar hingga masuk ke ruangannya sambil menghela napas panjang.


Leon menyesap minuman di tangannya hingga tandas. Diletakkannya gelas kosong itu perlahan. Lalu bergerak menjauh dari kursi duduknya, berjalan dengan perlahan namun tegas di setiap langkahnya. Hoodie hitamnya masih menutup kepala, menyisakan wajah tampannya yang dingin tanpa ekspresi.


Tiba di depan pintu ruangan Tiger, Leon berdiri menatap benda itu dengan degub jantung yang mulai bergemuruh. Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, karena ruangan tersebut sudah dipasang pengedap suara di setiap dindingnya.


Leon mengulurkan lengan panjangnya menekan handel pintu hingga benda itu terbuka lebar. Wajahnya masih diam tanpa ekspresi saat menatap pemandangan di depannya.

__ADS_1


Tiger hampir kembali melakukan pelecehan pada Jihan di sofa ruangannya. Entah kenapa ia merasa candu dengan tubuh wanita itu. Jihan terus meronta mempertahankan harga dirinya, meski sebenarnya sudah diinjak-injak hingga hancur. Ia hanya berusaha mempertahankan yang tersisa.


Mendengar pintu terbuka, dua manusia itu menoleh serentak. Melihat seorang pria berperawakan tinggi menjulang gagah di ambang pintu.


"****! Siapa yang berani mengganggu kesenanganku!" teriak Tiger menegakkan tubuhnya penuh emosi.


Jihan segera beranjak, air matanya mengalir deras di kedua pipi mulusnya. Kedua tangan mencengkeram kemeja putih yang beberapa kancingnya sudah terlepas karena ditarik paksa oleh Tiger yang seperti orang kesetanan.


Leon bergeming, melirik ke arah Jihan yang tersedu. Ia membuka hoodie dan melemparkannya pada Jihan agar bisa menutupi dadanya yang terbuka.


Tiger melebarkan kedua matanya. Bibirnya tersenyum penuh seringai. Matanya menyala merah saat bersitatap dengan manik elang Leon.


"Brengsek!" Satu bogem mentah mendarat di sudut bibir Leon. Pria itu tidak bergeser, kedua kakinya masih bisa menopang dengan kokoh tubuh kekarnya. Hanya menoleh sedikit, lalu mengusap darah yang mengalir dengan ibu jarinya.


"Aaaa!" Jihan menjerit melihat Leon dipukul begitu keras. Ia meraih hoodie Leon menutup rapat dadanya. Tubuhnya masih gemetar ketakutan. Jantungnya seperti sedang berlari marathon.


Leon beralih menatap Jihan, "Keluar!" ucapnya dingin menggerakkan kepala ke arah luar ruangan.


Jihan yang masih dalam mode ketakutan mengangguk cepat. Ia seolah bisa bernapas dengan normal lagi. Tubuhnya menepi hingga dinding, menggeser langkahnya panjang-panjang sampai berhasil keluar dari ruangan Tiger, mengabaikan tatapan kemarahan yang memancar dari sepasang mata Tiger.


Leon melangkah masuk lalu menutup pintu itu rapat-rapat. Kedua tangan Tiger mengepal dengan kuat hingga kukunya memutih. Matanya melotot tajam, dengan gigi bergemeletuk keras. "Brengsek!" teriak Tiger dan kembali melayangkan pukulannya.


"Aku pikir kamu sudah menyusul ibu. Ternyata masih bernapas sampai sekarang." Tiger mulai membuka suara.


"Sekeras apa pun kamu ingin membunuhku, jika Tuhan belum berkehendak, aku tidak akan mati!" sahut Leon menunduk sejenak, menyentuh sudut bibir dengan ujung lidahnya. Menikmati rasa perih yang merayap pada wajah dan sudut bibirnya.


Leon kembali berdiri tegak, ia sama sekali tidak terpancing emosi. Menyentuh bahu kekar kakak yang memiliki paras berbeda dengannya itu. "Kak, cukup! Sudahi semua ini. Aku lelah!" ucapnya menunduk.


"Aku akan berhenti kalau kamu mati, Leon!" pekik Tiger melayangkan tinju pada perut Leon. Ia hanya meringis dan tidak membalasnya. Deru napas Tiger memburu dengan kasar. Sekujur tubuhnya memerah dan mengeras menahan emosi.


Leon menghela napas panjang, "Lalu sekarang apalagi yang kau inginkan? Semua asetku yang ada di Jakarta sudah kamu ambil, kepercayaan para klien pun sudah kamu dapatkan, banyak yang ingin menyerang dan menjatuhkanku! Kamu juga sudah mendapat harta dan kasih sayang dari ayah. Apalagi yang kamu mau?" ujarnya dengan mata memerah.


"Aku tidak mau kamu bahagia, Leon!" berang Tiger meremas kerah kemeja Leon. Matanya melotot tajam, ia selalu berambisi merenggut apapun yang dimiliki Leon.

__ADS_1


Raut wajah Leon sama sekali tidak memancarkan ketakutan. Ia justru tetap terlihat tenang meski kedua manik matanya berkaca-kaca. Dia tidak pernah mau membalas perlakuan sang kakak.


"Pukul aku sampai puas, Kak. Atau kau ingin membunuhku? Lakukanlah. Asal dengan satu syarat. Jangan pernah sentuh keluargaku!" tegas Leon menekankan kalimat terakhirnya.


"Hahaha! Justru aku sangat tertarik dengan istri hebatmu itu. Dan aku sangat penasaran secantik apa wajahnya, juga seberapa ganas dia di atas ranjang. Hahaha!" Tiger terbahak sembari mengusap rahang kokohnya yang ditumbuhi bulu halus itu.


Leon menggeram, dadanya seperti dinamyte yang hampir meledak. Kedua tangannya terkepal kuat sampai buku jarinya memutih. Matanya seperti tombak api yang siap melesat dan menancapkannya tepat di jantung Tiger.


"Bugh!"


Satu pukulan melesat di rahang Tiger, sampai terdengar gemeletuk dari giginya. Lidahnya tergigit, darah segar pun mengalir dari indera pencecapnya itu.


Leon bisa menahan lukanya sendiri, namun tidak akan membiarkan satu orang pun yang bisa menyentuh atau bahkan menyakiti istri kesayangannya.


Dua mata elang pria itu saling menatap kuat. Memancarkan amarah masing-masing. Keduanya saling memasang kuda-kuda bersiap untuk saling menyerang.


Tendangan dan pukulan masuk pada tubuh keduanya. Mereka sama-sama terpundur beberapa langkah sambil menekan dada dan perut masing-masing. Napas keduanya terengah-engah.


"Sudah kubilang jangan pernah sentuh keluargaku!" teriak Leon kembali melayangkan sebuah tendangan keras hingga Tiger terjengkang. Emosi Leon membuncah dan meledak-ledak. Jiwa devilnya muncul seketika. Sudah tidak peduli lagi dengan hubungan darah yang mengalir di tubuh mereka.


Tiger menyeringai tipis, dia tidak menyerah. Dengan sempoyongan ia berusaha berdiri. "Lihat saja nanti. Aku pasti bisa merebut wanitamu!" desisnya menatap remeh.


"Brengsek!!" pekik Leon berkabut amarah. Seperti angin yang menghantam tubuh Tiger dengan cepat. Leon menyerang dengan beberapa pukulan telak hingga berakhir dengan terhempasnya tubuh Tiger di atas meja yang bermaterial kaca tebal di dalam ruangan itu, sampai hancur berkeping-keping.


Darah mulai menyembur dari mulut Tiger. Kemarahan yang selama ini terpendam akhirnya meledak juga. Jika saja Tiger tidak mematik emosi Leon, dia tidak akan pernah melakukannya.


"Uhuk-uhuk!" Tiger terbatuk memegang dadanya yang terasa nyeri. Dia tidak bisa mengimbangi kekuatan Leon yang seperti ledakan gunung berapi itu. Satu tangannya menemukan botol minuman yang terguling di lantai.


Mata tajam Tiger menatap kuat sang adik yang masih memendarkan kemarahan dari sekujur tubuhnya. Ia berdiri dengan cepat dan ....


"PRAK!!"


Lengannya terayun dengan cepat membanting botol minuman pada kepala Leon dengan tenaga yang tersisa. Cairan kental berwarna merah pekat mengalir di kepala Leon.

__ADS_1


Bersambung~


Eciyyeee yang lagi begadang, nih ditemenin mamas Le... Happy satnight yaa... kalau kuat melek diusahain up kok. 😚 kalau engga kuat mon maap ya... yang penting ttep support aja biar semangit..


__ADS_2