Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 129. First Night


__ADS_3

Mon Maaf yang di bawah sUMUR tolong menjauh dulu~ Area terlarang.... Jomblo tanggung sendiri.... Yang berpasangan baca kalau malam saja 🤣🤣


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Leon berdiri tepat di hadapan Khansa. Gadis itu mendongak dengan tubuh yang terpaku. Leon merengkuh pinggang rampingnya, sedikit menunduk dan berbisik, "Siap-siap ya," ucapnya mengecup pipi Khansa lalu mundur selangkah. Ia sengaja melepas kemeja dan kaosnya.


Napas Khansa tertahan, ia menekan dada yang berdentum hebat. Pandangannya terus mengarah pada punggung kekar Leon yang putih, bersih sampai akhirnya menghilang di balik pintu. Khansa membuang napas kasar, dalam hati bertanya, 'Siap-siap apa?' gumamnya kembali bernapas normal.


Perempuan itu tak terlalu memedulikannya. Ia lalu menyiapkan baju tidur Leon yang sudah disediakan oleh Gerry sebelumnya. Hanya ada beberapa setel pakaian kerja dan piyama tidur. Karena memang persiapan yang mendesak.


Setelahnya Khansa kembali duduk di atas ranjang, menyandarkan punggungnya sembari bermain ponsel. Keningnya mengernyit saat melihat status watsapp Emily yang menampakkan pemandangan indah dari dataran tinggi. Karena banyak kerlap kerlip lampu yang berpendar di sekitarnya.


"Ni anak nggak jadi pulang?" ucapnya terkekeh.


Tak berapa lama, Leon sudah selesai dengan ritual mandinya. Khansa mengangkat pandangan, menatap Leon yang hanya mengenakan handuk melilit di pinggang, tangannya sibuk menggosok rambut dengan handuk kecil. Buliran air menetes di dadanya hinggal melalui perut sixpack yang tampak mengagumkan.


Kedua manik Khansa enggan berkedip, sayang sekali jika melewatkan pemandangan yang sangat indah itu, menambah debaran kasar dalam dadanya. Merasa diperhatikan, Leon menoleh. Khansa pun secepatnya menunduk, mencari pengalihan.


"Leon, ini pakaian gantinya," ucap Khansa tersenyum menyodorkan piyama untuk Leon.


Pria itu mendekat, Khansa terpundur sampai membentur headboard kasur. Manik mata bulatnya semakin melebar. Aroma mint dari sabun dan shampo menguar di hidung mancungnya. Mata Leon terus menatap Khansa.


Tanpa berucap, Leon meraihnya dengan kasar. Ia mengenakan pakaian di depan Khansa. Gadis itu membelalak, lalu memutar tubuh membelakanginya sebelum handuk itu terlepas dari tubuh Leon. Bibirnya terus mendumel karena tingkah Leon.


"Dasar mesum!" umpatnya.


Usai berpakaian, Leon berjalan ke sisi ranjang yang lain. Ia langsung merebahkan tubuhnya dan membelakangi Khansa. Gadis itu mengernyit bingung.


"Leon," panggil wanita itu. Namun tak ada sahutan apa pun. Hanya bahu yang terus bergerak karena napasnya yang teratur.


"Leon kamu sudah tidur?" tanya Khansa yang lagi-lagi tidak mendapat jawaban.


Merasa aneh saja kenapa tiba-tiba Leon berubah. Padahal biasanya kalau berdua saja, pria itu tidak bisa diam. Khansa berinisiatif mendekatinya. Ia menopangkan dagu di lengan Leon.


"Leon kamu kenapa sih? Aku ada salah?" rengeknya saat melihat Leon ternyata belum memejamkan mata. "Ck!" decaknya lalu kembali ke posisinya. Ia berusaha memejamkan mata dengan erat. Meski hatinya terus menggerutu.


Setelah beberapa lama, Leon beralih menghadap Khansa. Ia merapatkan tubuh dan memeluk Khansa dengan erat. "Bagaimana rasanya diabaikan?" tanya Leon yang akhirnya bersuara.


Khansa membuka kembali kelopak matanya yang sempat terpejam. Tubuhnya terkunci oleh lengan dan kaki Leon. "Tidak enak 'kan? Dan kamu selalu mengabaikanku jika sudah bertemu dengan Emily," lanjut Leon lagi membuat Khansa tersentak.


Gadis itu berusaha melepas lilitan tangan Leon, ia berbalik agar saling berhadapan. Kedua mata mereka saling beradu. Khansa lalu tertawa terbahak-bahak. "Jadi kamu cemburu dengan Emily?"


"Yaampun, tolong lah tuan muda. Cemburu itu yang masuk akal dan tepat sasaran," cebik Khansa masih disertai tawa.


"Tapi dia selalu mengambilmu dariku!"


"Maaf ya, mungkin karena kebiasaan kami dari kecil selalu bersama. Apalagi, ini kesempatan langka bisa bertemu dengan Emily. Dia 'kan super sibuk. Lagi pula, bukankah tadi sedang berbincang dengan Hansen. Oh iya, apa Hansen bisa menjelaskan sesuatu?" Khansa mengalihkan pembicaraan sembari meletakkan telapak tangan pada pipi Leon.


"Belum, harus diuji di lab dulu agar hasilnya akurat," jawab Leon meraba pipi Khansa dan melepas tautan cadar Khansa.

__ADS_1


Gadis itu diam tak mengelak, wajah cantiknya kini terlihat sempurna di mata Leon. Ia membelai pipi Khansa dengan punggung tangannya. Khansa mulai kembali merasakan debaran yang menyesakkan.


"Apa kamu percaya padaku?" tanya Leon menangkup pipi Khansa.


Mata bulat berbulu mata lentik itu mengerjap lembut. Ia meneguk salivanya dengan kasar. Sadar atau tidak, Khansa mengangguk pelan. Leon mulai mendekatkan kepalanya. Jemarinya menahan tengkuk gadis itu, lalu melahap bibir mungil sang istri, menyesapnya bergantian.


Khansa memejamkan matanya, tangannya mencengkeram kuat piyama milik Leon. Napasnya mulai tak beraturan. Sedangkan Leon semakin menyerangnya dengan menggebu.


"I love you, Sa!" bisik Leon di telinga Khansa semakin membuat tubuhnya merinding seketika.


Leon merebahkan tubuh Khansa, mulai menindihnya dan kembali meraup bibir kecil Khansa. Embusan napas Leon mulai terasa panas. Satu tangannya sibuk melepas kancing piyama Khansa satu per satu tanpa melepas tautan bibirnya.


Leon pun menanggalkan pakaiannya sendiri dan menarik selimut tebal. Tangannya sibuk meremas bukit kembar Khansa, yang membuat gadis di bawah kungkungannya bergerak tak karuan. Bahkan sesekali menggigit bibir Leon. Gelayar aneh mulai di sekujur tubuhnya.


Jemari Leon membelai lembut perutnya lalu turun ke pusat Khansa yang ternyata sudah sangat lembab. Leon melepas tautan bibirnya, menyatukan keningnya.


"Maaf kalau aku menyakitimu," ucap Leon bersuara berat mengecup kening Khansa. Ia sudah tidak tahan. Ia segera mengarahkan miliknya, menerobos dinding pertahanan Khansa dengan sangat pelan. Leon sangat takut menyakiti Khansa.


Gadis itu menahan napas, menggigit bibit bawahnya. Kedua tangannya mencengkeram kuat punggung Leon. Butuh waktu cukup lama, hingga akhirnya ia berhasil membenamkannya dengan sempurna.


"Aaah Leon!" pekik Khansa mencakar punggung kekar Leon.


"Maaf," ucap Leon kembali memeraup bibir manis Khansa untuk mengalihkan rasa sakitnya. Ia sendiri merasa kesakitan, seperti dicengkeram sangat kuat.


Leon mulai bergerak perlahan, Khansa masih memejamkan matanya. Menikmati rasa sakit yang menghujam dan mengoyak inti tubuhnya. Semakin lama, ia mulai bisa menikmati permainan Leon. Terbukti dari cengkeraman tangannya yang sudah tidak sekuat sebelumnya.


"Lepaskan aja, Sayang. Jangan ditahan," bisik Leon.


Khansa mendesah, meracau menyebut nama Leon terus menerus. Pendingin di ruangan itu tak mampu menyeka keringat mereka yang mengguyur tubuhnya. Kamar yang semula rapi, kini berubah berantakan.


Malam pertama yang begitu panas bagi pasangan pengantin lama itu akhirnya terlewati tanpa gangguan apa pun. Hingga sampailah lenguhan panjang disertai semburan lahar panas dari Leon bersamaan dengan ******* yang dicapai oleh Khansa. Pria itu menhujam semakin dalam, menebarkan benih percintaannya. Khansa memeluknya semakin erat.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih," ucap Leon mencium seluruh wajah Khansa.


Leon berguling ke samping, menghadap sang istri dan mendekapnya dengan erat. Keduanya tengah mengatur napas yang terengah-engah. Tubuh Khansa gemetar dan terasa lemas. Seolah seluruh tulangnya terlepas.


"Leon," panggil Khansa setelah beberapa saat.


"Hmm? Mau lagi?" gumamnya masih mendekap erat tubuh Khansa.


"Iissh ... masih sakit tau. Aku mau mandi," rengeknya mendongakkan kepala.


"Aku gendong!" ucap Leon mencari boxer dan mengenakannya.


Buru-buru Khansa menggulung tubuhnya dengan selimut. "Enggak! Aku mau sendiri," tolak Khansa dengan tegas. Wajahnya jelas memerah.


"Padahal aku udah tahu semuanya, ngapain ditutup sampai gitu sih?" cibir Leon terkekeh melihat keriweuhan sang istri sembari menyugar rambutnya yang lembab karena keringat.


Sudah hampir 30 menit, Khansa tidak keluar dari kamar mandi. Padahal sudah tidak ada suara guyuran air. Leon pun bergegas menuju kamar mandi dan mengetuknya. "Sa! Kamu tidur?" ucap Leon menempelkan telinga pada pintu.

__ADS_1


"Nungguin kamu tidur!" teriaknya menggema di kamar mandi.


"Hah? Kenapa? Buka pintunya!" seru Leon kembali mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku nggak bawa pakaian ganti," ucapnya dengan polos.


"Astaga! Keluar sekarang!" perintah Leon dengan tegas.


"Kamu tutup mata dulu!" sahut Khansa dengan cepat.


Leon tertawa tanpa suara, sambil berkacak pinggang. "Iya, iya. Buruan keluar nanti masuk angin."


"Udah tutup mata belum? Jangan buka sebelum aku mengatakan sudah selesai."


"Leon!" teriak Khansa lagi.


"Iya Sasa, Sayang!" sahut Leon memejamkan mata.


Dipanggil sayang menurut sebagian orang mungkin biasa saja. Tapi bagi Khansa, bisa membuatnya melambung dan berbunga-bunga. Bibirnya terus tersenyum dengan wajah bersemu merah. Sepolos itu ternyata seorang Nyonya Sebastian.


Perlahan, Khansa membuka pintu. Ia mengintip keluar. Benar, Leon sudah memejamkan kedua matanya. Ia lalu berlari sambil mengeratkan handuk yang melilit tubuhnya. Meski masih merasa aneh saat melangkahkan kakinya.


"Belum loh, jangan buka mata dulu!" ucap Khansa menarik piyama dengan cepat dari lemari.


"Hemm!" jawab Leon membuka sebelah matanya. Lucu sekali melihat istrinya yang panik seperti itu. Tubuhnya bersandar dinding sembari melipat kedua lengannya di dada. Bibirnya tak henti melengkungkan senyum sedari tadi. Ia lalu bergegas untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mengenakan pakaian, Khansa menyibak rambut panjangnya. Matanya mendelik, "Leooon!" teriaknya menggelar di seluruh penjuru ruangan.


Di tengah guyuran shower yang membasahi tubuhnya, pria itu terkejut dengan teriakan sang istri. Ia segera melilitkan handuk dan berlari keluar, takut terjadi sesuatu.


Bersambung~


Astagfirullahalazim maafkan hamba yaAllah 🤧 hamba Khilaf 🥺......



😒: Dihh... pereZzz!!


MasLe: Serius. gw seneng banget thor! Thankyouuu Thooooor!!!!!!


🙁: Ciyeein nggak nih???


MasLe: Kudu! Wajib.... Ciyeee 😍😍


😌: Udah dong, jan bikin jomblo meronta2....


MasLe: Tiap hari boleh lah Thor 🤓


🙄: xfkxjfhfbdbnmv

__ADS_1


__ADS_2