Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 156. Penyelamatan Ass. Gerry part 2


__ADS_3

Leon mendelik saat mereka berani menyentuh Khansa. "Hei, jangan menyentuhnya sebelum Gerry kembali dengan keadaan baik-baik saja!" pekik Leon menendang lengan salah satu tangan yang berani menyentuh istrinya.


Dari dalam rumah, nampak Gerry dipapah oleh dua orang, lalu dihempaskan ke lantai. Wajahnya penuh luka lebam. Kemeja putihnya berubah warna menjadi cokelat bercampur darah yang sudah mengering.


Leon semakin menajamkan tatapannya. Darahnya semakin berdesir melihat kondisi Gerry. Kedua tangannya sudah mengepal dengan kuat.


Khansa beralih menatap Gerry, para anak buah Leon sudah mulai menuruni lereng dengan mengendap-endap. Dua mobil lainnya juga sudah menyusul ke lokasi. Gadis itu berjalan santai mendekati Gerry, lalu berjongkok untuk memeriksa keadaannya. Meski beberapa dari mereka masih menodongkan pistol.


"Kami sudah menyerahkannya, sekarang ikut kami!" seru salah satu dari musuhnya.


Khansa mendongak dengan tatapan tajam lalu mengabaikannya, dua jari lentiknya menempel pada leher, pergelangan tangan dan di bawah lubang hidung Gerry. Khansa menaikkan pandangan, dia berkedip dua kali saat sudah melihat para anak buah yang semakin mendekat.


"Dua tiga!" ucap Khansa pelan yang bisa didengar oleh Leon beserta anak buahnya. Satu tangannya bersiap memegang bahu Gerry. Sebuah kode untuk Leon dan juga anak buahnya ketika sudah dalam waktu yang tepat.


Leon langsung menendang tangan orang-orang bersenjata hingga pistol mereka berhamburan, ia menjatuhkan tubuhnya di sebelah Gerry, lalu menodongkan balik pistol miliknya. Mereka cukup terkejut dengan serangan mendadak, disambung dengan segerombolan pria yang membentuk formasi pertahanan untuk Gerry dan bersiap melawan mereka.


Perkelahian tanpa senjata pun terjadi. Tidak berat sebelah karena anak buah Leon sampai di waktu yang tepat. Ia sengaja tidak mendatangkannya dalam waktu bersamaan agar tidak terlalu mencolok dan mengundang perhatian.


Khansa dan Leon membangunkan Gerry lalu melemparkannya pada tiga pengawal Leon yang sudah bersiap. Ketiganya segera membawa Gerry ke mobil dan melarikannya ke rumah sakit.


Mendengar keributan terjadi, empat orang lagi keluar dari rumah tersebut. Mereka membelalak karena tidak menyangka Leon membawa pasukan yang cukup banyak. Dua di antaranya membawa alat pukul.


"Sa!" seru Leon mengulurkan lengannya sedikit berjongkok.


Khansa meraih tangan Leon, satu kakinya bertumpu pada paha pria itu lalu melakukan tendangan bergantian pada empat orang yang hendak menyerang mereka.


Leon melepas genggaman tangannya, ia yakin Khansa bisa mengatasinya. Leon berlari meraih helm, mengenakannya dengan cepat, lalu melompat ke motor dan menyalakan mesinnya.


Ia melakukan gerakan memutar, untuk melihat kesiapan istrinya. Khansa lengah, ia berbalik tanpa melihat musuhnya. Salah seorang pria yang ditendang tadi bangkit dan berhasil memukul kepala Khansa.


"Aww! Sial!" jerit Khansa melotot tajam meraih lengan pria itu lalu memelintirnya. Tangan lainnya menghentak alat pukul itu hingga terjatuh.

__ADS_1


Pria itu memekik kesakitan. Khansa mematahkan lengannya dan memberikan hadiah sebuah jarum perak yang cukup besar pada leher lelaki itu. Dan akhirnya, pingsan seketika.


Khansa mundur dua langkah, matanya menatap waspada jika ada yang kembali menyerangnya. Tangannya meraih benda bulat dari saku yang diberikan Leon bersamaan dengan dessert deagle tadi.


Leon memasukkan gigi motornya, "Mundur!" ucap Leon yang terdengar jelas oleh Khansa dan para anak buahnya meskipun helm sudah terpasang di kepalanya. Ia memutar gas motor perlahan, lalu satu lengannya menjulur meraih tubuh Khansa, mendudukkannya di depan.


Semua anak buahnya mundur menjauh dari lokasi. Khansa segera menarik ujung benda yang ada di genggamannya lalu melemparkannya pada rumah tua itu.


"Boom!"


Suara ledakan cukup keras memekakkan telinga, saat mereka hendak mengejar Leon dan yang lainnya. Khansa memeluk erat tubuh Leon, menopangkan dagu pada salah satu bahu Leon.


Gadis itu dapat melihat jelas, asap pekat berwarna abu-abu yang membumbung tinggi. Deru napasnya memburu dengan detak jantung yang antah berantah. Khansa memejamkan matanya seiring dengan laju kecepatan motor Leon yang semakin tinggi.


Semua anak buah Leon selamat karena mereka pergi tepat waktu. Leon mendesah lega, tujuan utamanya sudah tercapai yakni menyelamatkan Gerry. Sebenarnya, ia tidak ingin menyakiti siapa pun, tapi melihat kondisi Gerry membuat amarahnya memuncak.


Saat di rasa jarak mereka cukup jauh, Leon memelankan laju motornya. Dia membalas pelukan Khansa, mengusap punggungnya naik turun yang masih bergetar hebat. Tangannya kembali meraih handle motor dan menghentikannya.


"Mau istirahat di sana dulu?" tawar Leon menunjuk sebuah kafe yang buka 24 jam.


Suasana kafe tampak sepi, hanya ada beberapa pemuda yang masih nongkrong di sana. Khansa dan Leon duduk berhadapan tak jauh dari pintu masuk.


"Bagaimana kondisi Gerry!" ucap Leon setelah menekan tombol di telinganya.


"Sudah ditangani dokter, Tuan," sahut seseorang di seberang.


"Hmm! Yang lain bagaimana? Ada yang terluka?" tanya Leon lagi.


"Tidak, Tuan. Kami semua baik-baik saja."


Leon kembali mematikan alat tersebut. Melepas sarung tangannya lalu meraih jemari Khansa yang terasa dingin dan menggenggamnya. Khansa mendesah pelan saat mendengar Gerry sudah mendapatkan penanganan.

__ADS_1


"Ada yang sakit?" tanya Leon membelai kepala Khansa.


"Pusing aja sedikit. Kena pukul tadi," keluh Khansa menopang kepalanya di atas meja.


"Lecet nggak helmnya?" gurau Leon mengintip keluar namun satu tangannya sibuk membelai kepala Khansa. Ia tahu Khansa masih syok. Dia belum pernah menggunakan granat atau sejenisnya. Leon mencoba untuk menghibur istrinya itu.


Khansa mencebikkan bibirnya sembari memutar bola matanya malas. Seorang pelayan mengantar secangkir minuman hangat khas dari kafe tersebut sembari menyerahkan buku menu.


"Lebih khawatirin helmnya?" Khansa mengerutkan bibirnya. Leon terkekeh melihatnya, mengusap lembut kepala Khansa sembari meneguk minuman di hadapannya. Pria itu lalu membolak balikkan buku menu. Seharian belum makan membuatnya memesan banyak makanan berat malam itu.


"Nasi goreng seafood boleh deh, steak, ceescake, minumnya vanilla late aja masing-masing dua," terang Leon menyerahkan kembali buku menunya.


Khansa mendelik, "Banyak amat pesennya! Yakin bisa habisin?"


"Bisalah, ini sekalian sarapan, makan siang sama makan malam," sahutnya tertawa.


Khansa berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Ketakutan di hatinya mulai mencair. Ia juga tidak mau Leon menjadi khawatir. Kali ini, Khansa tidak bisa menekan rasa penasarannya. Ia memberanikan diri untuk bertanya. Khansa menegakkan tubuhnya.


"Leon," panggil Khansa dengan ragu.


Pria itu mengangkat pandangannya. Melipat kedua tangan di meja sambil menatap kedua manik indah dan cerah milik Khansa.


"Yang mana Tiger itu? Kamu ada masalah apa sama dia?"


Bersambung~



🙄🙄🙄🙄


__ADS_1


😌 Slepet aja, Mbak. Macem macem!


Mas Le: Engga usah jadi kompor deh thor... Woy! Senin vote yok!!! Giftnya juga boleh biar othor seneng...


__ADS_2