Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 38. Hadiah dari Leon


__ADS_3

Sesuai perintah, Gerry sudah menunggu atasannya itu di depan ruangan. Ia datang sebelum jam yang ditentukan. Namun tidak berani mengetuk atau bahkan masuk ke ruangan. Gerry lebih memilih duduk sembari menghirup udara sejuk yang menerpa pagi itu.


Tak berapa lama, pintu terbuka. Leon dengan wajah khas bangun tidur tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya, keluar dan menutup pintu perlahan.


“Sudah lama, Ger?” tanya Leon yang melihat asistennya sudah standby di depan ruangan.


“Baru beberapa menit, Tuan,” sahut Gerry menunduk hormat.


“Hmmm … pulang terus ke kantor,” ucap Leon yang sudah berjalan keluar menyampirkan jas di salah satu bahunya.


“Baik, Tuan!” angguk Gerry patuh menyusul langkah tuannya.


Sesampainya di Villa, sang nenek tengah berdiri di halaman mengarahkan tukang kebun merapikan rumput liar.


“Pagi, Nek,” sapa Leon berlari memeluk sang nenek. Ia sangat merindukan wanita tua itu setelah Khansa.


“Leon, kamu pulang?” tanya sang nenek balik.


“Sudah sejak semalam, Nek. Tapi nginep di rumah sakit,” jelas Leon merengkuh tubuh neneknya, mengajak masuk ke rumah.


“Rumah sakit? Siapa yang sakit? Khansa baik-baik saja ‘kan? Nenek belum menemukannya sejak tadi,” sahut Nenek Sebastian panik bercampur khawatir.


Leon mendudukkan tubuhnya di sofa. Diikuti neneknya yang penasaran. Leon pun menceritakan kejadian semalam, namun meninggalkan kejadian Khansa yang dalam keadaan bahaya. Ia tidak mau sang nenek histeris panik ketika mendengar cucu menantu kesayangannya sempat di ambang bahaya.


“Ya Tuhan, kasihan sekali Khansa. Dia pasti lelah,” gumamnya khawatir.


“Nek, Leon mau mandi terus ke kantor dulu ya,” ucap Leon berpamitan setelah menceritakan keadaan Bibi Fida.


“Iya, iya. Baiklah,” sahut sang nenek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit, Khansa terbangun dari tidurnya yang nyenyak semalaman. Khansa mengedarkan pandangannya, tidak ada siapa pun selain dirinya dan juga Bibi Fida yang masih belum sadarkan diri.


Keningnya berkerut dalam, ia bangun dari tidurnya. Hidungnya mengendus aroma parfum Leon yang bercampur asap rokok di tubuhnya.


“Sepertinya semalam kita tidur bersama. Aku bahkan merasa dipeluk olehnya. Dan aroma ini ….” Khansa menaikkan kedua kakinya, bersila di atas sofa. Kedua tangannya menangkup wajah cantiknya. Ia sungguh lelah semalam, benar-benar hanyut dalam kenyamanan saat tertidur.


“Aaaa!! Jadi bener kita tidur bersama!” Khansa mengacak rambutnya frustasi.


Ia memejamkan mata pelan, jelas-jelas sudah bertekad mau membatasi hubungan dengan Leon, tapi mereka berdua saling berciuman dan tidur bersama. Bahkan dia terbuai, tidak kuasa menolaknya.

__ADS_1


Sebenarnya ada apa ini? Gumam Khansa dalam hati. Ia menghela napas panjang sembari merutuki dirinya sendiri.


Khansa bangkit dari sofa, masuk ke kamar mandi sekedar mencuci muka. Kemudian keluar, melangkah pada ranjang Bibi Fida.


Bibi Fida masih belum sadar, Khansa meraba denyut nadinya, merasakan aliran darah pada tubuh lemah itu, mencari pusat organ yang sakit untuk menentukan di mana ia harus melakukan pengobatan akupuntur. 


Khansa menusuk titik akupuntur dengan beberapa jarum perak di bagian dada Bibi Fida.


“Cepet sembuh ya, Bi,” ucap Khansa mencium kening bibinya yang sangat ia sayangi itu.


Kemudian Khansa pergi menemui dokter untuk berdiskusi tentang kondisi penyakit bibi Fida.


Setelah melihat hasil pemeriksaan darah, rontgen, pemeriksaan kulit dan beberapa serangkaian tes lainnya,  Dokter menjelaskan bahwa Bibi Fida mengidap penyakit TBC kronis.


Menurut diagnosisnya, penyakit tersebut sudah lama dideritanya tanpa pengobatan apa pun. Masih bisa bertahan hingga sekarang merupakan keajaiban Tuhan.


“Baik, terima kasih atas penjelasannya, Dok. Saya permisi,” ucap Khansa dengan nada sendu.


Ia pun segera kembali ke kamar inap Bibi Fida. Kelopak matanya sudah menggenang, tangannya meremas sling bag yang menggantung di bahunya. Langkahnya semakin cepat agar segera sampai.


Khansa meraih lengan renta itu, “Bibi, berjanjilah untuk sembuh, Bibi sudah bertahan sejauh ini. Sasa sayang sama Bibi. Jangan tinggalin Sasa, Bi. Sasa nggak mau kehilangan orang-orang terdekat lagi,” ucap Khansa menangis tersedu.


Seharian ia dengan telaten menjaga Bibi Fida. Mengkolaborasikan teknik  pengobatannya dengan medis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Baru menginjakkan kaki di ruang tamu, Nenek Sebastian bergegas menghampirinya. Menggamit lengan gadis itu dan mendudukkannya di sofa.


“Khansa, bagaimana keadaan Bibi Fida?” tanya


Nenek Sebastian. Khansa nampak terkejut, kenapa sang nenek bisa mengetahuinya.


“Leon yang mengatakan semuanya,” sambung sang nenek yang membuat Khansa mengangguk paham.


Khansa pun menjelaskan kondisi Bibi Fida, air matanya kembali tumpah di hadapan sang nenek saat bercerita. Entah kenapa Khansa sangat lemah jika berkaitan dengan orang-orang yang dia sayangi. Padahal dia sangat kuat ketika menghadapi para musuhnya.


Nenek Sebastian memeluk gadis itu. Mengusap lembut rambut hingga punggungnya naik turun, memberikan kekuatan pada cucu kesayangannya.


“Kamu pasti sangat lelah ya?” tanya sang nenek masih memeluknya.


Khansa menggeleng, “Tidak, Nek.” Ia mulai menjauhkan tubuhnya, meregangkan pelukan itu.

__ADS_1


Meski bibirnya berkata tidak, namun nenek melihat kelelahan yang mendera Khansa. Matanya sembab, wajahnya pucat tidak secerah biasanya dan tubuhnya yang sedikit lemah.


“Jangan bohong sama nenek. Nenek tahu kamu sangat kelelahan. Begini saja, kamu bawa pulang Bibi Fida ke sini. Kita rawat di Villa ini saja. Biar kamu nggak terlalu lelah. Nenek nggak mau kamu sampai sakit, Sayang,” saran Nenek Sebastian membelai lembut lengan Khansa lalu menggenggam kedua jemarinya.


Khansa terenyuh, air matanya kembali mengalir tanpa permisi.


Hati Khansa terasa hangat dan terharu dengan kebaikan dan sikap lemah lembut Nenek Sebastian yang selalu memanjakan dirinya.


“Terima kasih banyak, Nek. Tapi Khansa tidak mau merepotkan nenek,” tolak Khansa secara halus. Ia menumpukan satu tangannya pada punggung tangan nenek.


“Tidak! Tidak! Nenek sama sekali tidak merasa kerepotan, Sayang,” sergah Nenek masih mencoba merayu.


Di tengah percakapannya, perhatian Khansa teralihkan pada seekor kucing berwarna putih dengan bulu yang lebat dan panjang. Mata Khansa berbinar, ia segera berdiri dan meraih kucing itu dalam dekapannya.


“Hai, lucu sekali kamu,” sapa Khansa pada kucing persia yang begitu menggemaskan.


“Nek, ini kucing siapa? Khansa baru melihat kucing ini,” tanya Khansa pada sang nenek. Tangannya membelai lembut kucing tersebut.


Nenek turut bangun dengan mengurai senyum, ia berdiri tepat di samping Khansa. Tangannya mengulur turut membelai kucing tersebut. “Kamu suka?” tanya nenek.


Khansa mengangguk, “Suka banget, Nek,” seru Khansa semakin mendekap binatang itu.


“Syukurlah, ini hadiah dari Leon untuk kamu sepulang dari dinas kerja kemarin,” jelas sang nenek menatap Khansa yang tampak bahagia.


“Untukku, Nek?” seru Khansa menunjuk hidungnya dengan jari telunjuk.


“Iya. Nenek juga dikasih hadiah oleh Leon. Tunggu sebentar akan nenek tunjukkan,” sahut nenek bersemangat.


Tak berapa lama, nenek kembali dengan sebuah pot kecil berisi satu tangkai bunga mawar  yang mekar dengan sangat indah. Kelopaknya berwarna soft orange.


“Nih, Nenek dikasih juliette rose. Salah satu bunga langka dan termahal di dunia,” ucap nenek jumawa.


Wanita tua itu memang sangat menyukai semua jenis bunga. Ribuan bunga yang ada di taman belakang rumahnya, adalah hasil dari koleksi sang nenek.


“Bagus banget ya, Nek.” Khansa menyentuh kelopak mawar yang besar dan indah itu.


Namun tiba-tiba dia teringat dengan mendiang ibunya. Tangannya menggantung di udara, Ibu Khansa juga sangat menyukai semua jenis bunga. Sewaktu kecil, ia selalu merawat bunga-bunga di rumahnya dengan sang ibu. Kerinduan menyeruak dan memupuk di dadanya.


‘Ibu, Sasa sangat merindukan ibu,’ gumam Khansa dalam hati.


Bersambung~

__ADS_1


 


 


__ADS_2