
Leon menegakkan punggungnya hingga mata elangnya bersirobok dengan manik indah istrinya. Kedua alisnya terangkat bermaksud menanyakan maksud istrinya.
"Lihat ke sana deh," ucap Khansa dengan suara pelan sembari menunjuk ke belakang suaminya.
Leon menggerakkan netranya, mengeliling ke seluruh penjuru kantin yang sangat luas itu. Napasnya berembus berat karena malas tebak-tebakan dengan istrinya.
"Sayang! Kamu ngerti nggak sih?" seru Khansa kesal menarik-narik bahu suaminya.
"Enggak! Apa sih?" tanya Leon menggelengkan kepala.
"Iiihh!" kesal Khansa beranjak berdiri. Ia menangkup kedua pipi Leon dan mengarahkan pandangannya tepat pada seorang pria berambut keriting yang sangat lebat.
Merasa diperhatikan, pria itu menajamkan tatapan matanya. Bahkan kini wajahnya berubah dingin tak bersahabat. Leon mengerjapkan matanya masih tak mengerti dengan maksud istrinya.
Khansa sedikit menunduk, merangkul bahu suaminya lalu membisikkan sesuatu di telinga Leon. Pria itu melebarkan kedua matanya, memutar pandangan mengarah pada istrinya.
"Apa-apaan kamu, Sayang? Enggak!" seru Leon menolak tegas keinginan istrinya.
"Leon! Please! Ayolah! Nyesek banget lihatnya nggak rapi dan berantakan gitu," rengek wanita itu menarik-narik jas mahal suaminya.
Melihat Khansa yang tampak berkaca-kaca, Leon pun menyerah. Ia tak kuasa melihat istrinya menangis. Meski dalam hati menggerutu, "Ini seperti bukan kamu, Sayang!" gumam Leon menepuk dahinya.
Khansa menelan salivanya dan terus menatap pria itu. "Leon, buruan. Nanti keburu bapak itu pergi." Khansa terus merengek bahkan hampir menangis.
Helaan napas berat Leon embuskan, ia berdehem lalu beranjak berdiri. Kedua kakinya mengayun beberapa langkah mendekati pria yang dimaksud Khansa.
"Permisi, Tuan!" sapa Leon pada pria yang sedikit lebih tua darinya.
Demi istri tercinta, dia harus menurunkan gengsi untuk menyapa orang yang sama sekali tidak ia kenal. Apalagi tatapan pria di hadapannya itu sama sekali tak bersahabat.
"Hmm!" gumamnya terus menatap Leon tanpa berkedip.
"Eee ... mohon maaf sebelumnya. Bolehkah saya meminta izin untuk menyisir rambut Anda?"
Sontak pria itu melotot tajam karena merasa tersindir. Buru-buru Leon mengarahkan kedua telapak tangan ke hadapannya. "Tu ... tunggu, Tuan. Istri saya sedang hamil. Dan ada hasrat tak terbendung dari benaknya untuk menyisir rambut Anda. Maaf, sekali lagi!" tukas Leon sebelum salah paham berkepanjangan.
Pria itu memicingkan mata pada Khansa, wanita itu sedikit membungkuk lalu menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan.
__ADS_1
"Silakan!" ucap pria itu.
"Haaah!" Leon mengembuskan napas lega. Ia kembali menghampiri Khansa yang meraih sisir dari dalam tasnya. Wanita itu segera menyerahkan pada Leon sembari berkata, "Fighting, Papa. Ini keinginan twins!" ucapnya mengepalkan tangan ke wajah Leon.
Meski mendengkus kesal, Leon berbalik dan melakukan apa yang diinginkan istrinya. Untung saja di balkon tersebut hanya ada mereka bertiga. "Permisi," ucap Leon lalu mulai menyisir rambut gimbal itu dengan perasaan campur aduk. Ia bahkan sampai menahan napas selama tangannya bergerak di kepala orang itu.
Khansa tersenyum puas, hingga saat makan siang mereka dihidangkan, waitress membelalak saat melihat sang pemilik rumah sakit melakukan hal konyol pada salah satu pengunjung.
"Mbak," bisik Khansa mengayunkan tangannya agar perempuan itu pergi dan tidak memperhatikan Leon.
Pelayan itu mengangguk paham lalu segera melenggang pergi dari sana. Setelah berhasil meratakan sisir di sana, Leon meraih dompet dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Terima kasih, Tuan. Ini, terimalah sebagai ucapan terima kasih dari kami," ucap Leon menarik kedua sudut bibirnya meski terpaksa.
Buru-buru Leon melenggang pergi sebelum mendapat balasan satu kata pun. Ia tidak duduk di sebelah Khansa, melainkan pergi ke toilet untuk mencuci kedua tangannya. Meskipun rambut itu bersih dan wangi, tetap saja membuat Leon merasa pusing.
Ia segera kembali setelah mengeringkan kedua tangannya. Leon duduk di hadapan sang istri dengan wajah memucat. Leon sudah tidak menemukan pria tadi, kemungkinan sudah selesai makan karena mejanya kembali kosong.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Khansa meremas jemari Leon. Ia khawatir dengan keadaan suaminya.
"Pusing saja sedikit," sahutnya singkat.
"Aku mual, Sayang!" ujarnya menutup mulut, karena tiba-tiba merasakan gejolak pada perutnya. Salivanya sudah memenuhi rongga mulutnya dan terasa getir.
"Hah? Gara-gara nyisir rambut gimbal tadi?" tanya Khansa menurunkan lengannya. Menyeka bulir keringat yang membasahi kening suaminya.
"Sepertinya tidak. Karena aku mual setelah mencium berbagai sajian di meja ini saja," ucap Leon memejamkan mata. Lama kelamaan tidak bisa menahan gejolak dalam perutnya yang memberontak ingin segera keluar melalui tenggorokannya.
Segera ia berlari ke toilet lagi dan muntah-muntah. Khansa pun berubah khawatir. Ia segera menyusul sang suami dan menunggu Leon di depan toilet pria.
"Sayang!" panggil Khansa khawatir.
"I'm ok," sahut Leon meski dengan suara pelan.
"Kamu pengen aku pesenin makanan apa? Bubur ayam mau?" teriaknya dari luar.
"Enggak usah, Sayang. Jus alpukat saja," jawab Leon membasuh muka dengan guyuran air wastafel.
__ADS_1
Khansa bergegas untuk memesan tiga cup jus alpukat. Tak hanya itu, Khansa juga memesan salad buah dan dua kotak nasi. Ia teringat dengan Zahra, gadis kecil yang mengantar ibunya ke rumah sakit seorang diri.
"Eh, bukannya dia nggak suka jus alpukat? Itu 'kan minuman favoritku," gumam Khansa pelan setelah menerima pesanannya. "Ah, yaudahlah kali aja bisa ngurangin mualnya," ucapnya sembari terus menatap ke arah toilet.
Tak berapa lama, pria itu tampak berjalan gontai dengan kemeja kusut dan jas disampirkan di salah satu lengannya. Khansa segera menghampiri membantu memapah pria jangkung itu.
"Langsung istirahat aja di ruanganku ya," ajak Khansa dengan satu tangan menenteng banyak paper bag makanan dan minuman.
"Hmm. Itu apa, Sayang? Banyak banget," tunjuk Leon dengan ekor matanya.
"Oh, ini nanti aku mau kasih Zahra juga. Kasihan, dia pasti belum makan," ucap Khansa.
"Ikut!"
"Kamu harus istirahat dulu," tolak Khansa menatapnya lekat.
"Enggak! Aku mau ikut!" kekeh pria itu tak tergoyahkan.
Khansa menghela napas panjang, sepertinya kedua janinnya benar-benar adil dalam membagi tugas untuk kedua orangtuanya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan senyum. Ya, walaupun ada rasa tak tega ketika melihat suaminya harus mual muntah seperti tadi.
"Baiklah, pelan-pelan saja," pinta Khansa masih mengeratkan pelukannya pada lengan Leon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pasangan suami istri itu kini berdiri di depan ruangan yang sudah direservasi oleh Khansa sendiri, untuk memberikan pelayanan kesehatan pada ibu Zahra. Beberapa kali mengetuk pintu tidak ada jawaban, akhirnya Khansa membukanya perlahan.
"Lagi ibadah, Sayang," ucap Khansa pada suaminya setelah melihat Zahra tengah menjalankan sholat.
"Tunggu aja di sofa dulu," ujar Leon yang tidak tahan ingin segera duduk.
Khansa setuju dengan pendapat Leon. Mereka melenggang masuk dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggunya. Khansa tersentak ketika mendengar isak tangis dari gadis itu.
Apalagi kini sudah dalam posisi sujud, tubuh Zahra bergetar hebat dengan tangisan yang pecah. Hingga berakhir salam setelah beberapa lama, lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
Seuntai doa terucap diringi deraian air mata, membuat Khansa berdegub tidak karuan. Setelah mengadu pada sang pencipta, Zahra meraih Alqur'an berukuran kecil, membuka dan mulai membacanya. Suaranya begitu merdu dan fasih dalam melantunkan ayat-ayat suci itu. Khansa sampai menangis, mendengarnya. Ia seolah tersengat listrik, desiran darahnya juga semakin deras.
"Sayang?" panggil Leon khawatir menggenggam jemari Khansa.
__ADS_1
Bersambung~
Kalian pernah ada pengalaman ngidam apa bestiee?? kalo aku Pernah lihat tetanggaku, ngidam pen ngelus rambutnya kepala desa yang baru di lantik. mana masih muda, ganteng pula... kira2 ini modus apa ngidam 🤣🤣🤣