Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 169. Wedding Proposal


__ADS_3

Hawa dingin di ruang kerja Hansen menerobos kulit putih Emily yang sudah terbalut kain serba panjang. Sebenarnya suhu yang disetting normal seperti biasa. Hanya saja, serangan panik yang menyeruak di benak gadis itu semakin membuatnya menggigil kedinginan.


'Gue harus apa ya? Barbara belum kasih breafing apa pun,' ucapnya dalam hati memusatkan pandangan pada Hansen.


Emily beranjak dari duduknya. Ia memberanikan diri untuk mendekat pada Hansen. Gadis itu menunduk tepat di belakang tubuh tinggi Hansen, kedua jemarinya sibuk mencengkeram ujung blouse yang ia kenakan. Melampiaskan rasa panik yang sedari tadi mendera.


"Ehm!" Emily berdehem untuk menetralkan suaranya. Tenggorokannya terasa begitu kering. Ia menelan saliva beberapa kali untuk membasahinya.


"Hansen, aku minta maaf karena menerobos masuk ke sini. Di depan nggak nemu sekretaris, pas ketuk berkali-kali juga nggak ada jawaban. Tapi aku nggak ngapa-ngapin kok, sumpah! Cuma ketiduran aja sebentar," ungkap Emily menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.


Tidak terlihat pergerakan apa pun dari Hansen. Pria itu seakan tidak tersentuh. Ia bahkan tidak menganggap keberadaan Emily. Matanya masih fokus keluar gedung. Sepertinya pemandangan di luar sana lebih menarik bagi Hansen.


"Ada perlu apa datang ke sini?" Akhirnya suara bariton keluar dari tenggorokan Hansen setelah beberapa saat.


"Eeee ... itu ... aku ...." Emily gugup disertai debaran jantung yang kuat. Ucapannya terbata-bata.


"Kalau tidak ada kepentingan, keluarlah!" seru Hansen menambah kepanikan gadis itu.


Emily menunduk sambil meraup oksigen sebanyak mungkin, sekaligus menguatkan hatinya. Setidaknya ia akan berkata jujur daripada harus menyesal di kemudian hari.


"Aku ke sini mau minta maaf. Mungkin keputusanku kemarin terlalu terburu-buru dan menyakitimu. Tapi, asal kamu tahu, sebenarnya ... aku menyesal," aku Emily kembali menaikkan pandangan.


Hansen masih menampilkan ekspresi datar, nyali gadis itu kembali menciut. Tapi dia pantang menyerah. "Hansen, aku ... aku menyukaimu. Tapi aku belum bisa menikah untuk sekarang ini, karena aku masih ada beberapa kontrak pekerjaan. Bukan berarti aku menolakmu, tapi hanya meminta sedikit waktu. Maaf jika aku menyakitimu, Hansen. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu," lanjut gadis itu.


Melihat tidak ada tanggapan dari Hansen, Emily pasrah. Setidaknya setitik kelegaan menjalar di seluruh tubuhnya. Karena sudah mengungkapkan perasaannya.


"Keluar dari sini!" ucap Hansen dengan dingin.


Emily mengerjap beberapa kali, melarang keras air matanya keluar. Tubuhnya terpaku, kedua kakinya bahkan terasa lemas. Tangannya mengulur mencari pegangan.


"Keluar!" teriak Hansen lagi.


Gadis itu memejamkan matanya, sudah ditolak, dibentak-bentak pula. Ia paling tidak bisa jika dibentak. Dadanya bergetar menahan tangisnya, tenggorokannya tercekat.


"Baik, terima kasih atas waktunya. Sekali lagi, maaf ya Han. Permisi," ucap Emily berjalan gontai keluar ruangan.


Emily kembali membenarkan maskernya, menyeka air mata yang terus berjatuhan tanpa diminta. Ia lalu berlari dengan perasaan hancur. Sesampainya di lantai bawah, Emily mencari keberadaan Bara. Ia melihat pria itu masih seru berbincang dengan satpam yang berjaga di pintu masuk tadi.


"Bar," panggil Emily sesenggukan.


Mendengar suara yang tidak asing, Bara menaikkan pandangannya. Ia segera berdiri dan memeluk gadis itu. "Enggak apa-apa, yang penting kamu sudah mengungkapkan semuanya," ucapnya mengusap rambut Emily.

__ADS_1


"Mau pulang," rengek Emily menangis tersedu.


"Tunggu sebentar," sergah Bara melongokkan kepala seperti menunggu sesuatu dari dalam gedung itu.


"Maunya sekarang," rengek Emily lagi.


"Iya, iya, sekarang." Bara pun mengiyakan.


Belum beranjak satu langkah pun, tiba-tiba suasana menjadi riuh seketika. Satu persatu staff operasional laborat keluar dengan seragam putihnya. Bukan hanya itu, mereka juga membawa satu tangkai bunga mawar merah.


Senyum kecil tersungging di kedua sudut bibir Bara. Ia mendorong bahu Emily dan menyeka air mata gadis itu. "Lihatlah sekelilingmu," ucap Bara. Emily membuka kelopak matanya, Bara mengedikkan kepala saat tatapan mereka bertemu.


Gadis itu berbalik, ia tercengang saat banyaknya staff berseragam putih itu tengah mengelilingi mereka. Tak hanya itu, mereka juga membawa satu mawar di tangannya.


"Apa ini, Bar?" gumam Emily bertanya lirih menoleh pada pria itu.


"Tuh!" tunjuk Bara dengan dagunya.


Emily kembali memutar pandangannya, matanya membelalak lebar dengan mulut yang menganga. Hansen tengah berjalan pelan kearahnya. Pria itu tak berhenti tersenyum, membuat pijakan kaki Emily seolah runtuh. Tangannya sibuk mencari pegangan, namun tatapannya tak beralih dari Hansen.


"Bar, Bar!" sebut Emily.


Bara justru mundur beberapa langkah. Memberikan ruang dan waktu untuk dua sejoli itu. Hansen semakin merapat, mengikis jarak di antara mereka berdua.


Emily terpaku, panah asmara seolah menancap tepat di jantungnya. Napasnya tersengal-sengal. Ini tidak seperti yang ia duga.


"Aku tidak akan mengulang-ulang pertanyaanku. Maaf, karena aku tidak bisa romantis seperti keinginanmu. Aku tidak suka banyak basa-basi. Kalau kamu mau menerima lamaranku, ambil semua mawar yang dipegang para staffku!" tunjuk Hansen pada para staff yang melingkari mereka berdua.


Pandangan Emily mengeliling, ia tidak menemukan Bara. Yang ada di tengah lingkaran para manusia berbaju putih itu hanya dirinya dan Hansen.


"Waktumu tidak banyak, Emily! Sepuluh menit lagi mereka harus beristirahat. Kalau kamu tidak mengambilnya, itu artinya kamu menolak. Dan ini penawaran terakhir dariku," ucap Hansen melihat jam yang melingkar di tangannya.


Debaran dada Emily semakin keras, bahkan sampai terasa nyeri. Napasnya memburu dengan seluruh tubuh yang gemetar. Ia bingung mengekspresikan kebahagiaannya.


"Lima menit!"


Sontak, Emily tersadar. Ia melangkah dengan tubuh panas dingin, senyum merekah tak bisa ia sembunyikan. Perlahan, Emily meraih bunga mawar itu dari tangan para karyawan. Mengumpulkannya satu per satu hingga lengannya penuh memeluk bunga tersebut.


Hansen melipat lengannya di dada, pandangan matanya tak lepas dari gadis yang berjalan mengeliling. Hingga sampailah ia di ujung, lalu kembali ke tengah-tengah.


Ingin rasanya berteriak saat itu juga, meluapkan kebahagiaan yang tengah menderanya. Emily menatap Hansen yang tersenyum tampan padanya.

__ADS_1


"Jadi?" tanya Hansen menaikkan sebelah alisnya.


Emily mengedarkan pandangan. Ia bisa melihat ketegangan dari para karyawan itu dari raut wajah mereka. Harap-harap cemas.


"Aku mau menikah denganmu ... kulkas dua pintu," sahut Emily membuat semua orang bernapas dengan lega.


Tepuk tangan meriah juga pekikan tawa menggema di pelataran gedung tinggi itu. Pertama kali mereka mendengar wanita yang berani memanggil bosnya seperti itu. Hansen semakin melebarkan senyumnya. Ia maju beberapa langkah, memeluk Emily lalu mengangkatnya, memutar-mutar gadis dalam pelukannya itu. Kedua kaki Emily terayun di udara.


"Aaa ... Hansen!" pekik Emily terkejut. Tangannya refleks memegang kedua bahu Hansen. Bunga-bunga mawar itu terjepit di antara tubuh mereka. Tawa keduanya pecah.


Semua turut bahagia melihat atasannya sebahagia itu. Sayangnya, selama bekerja mereka tidak diperbolehkan membawa ponsel, sehingga tidak bisa merekam momen besar tersebut.


Hansen kembali menurunkan Emily, ia meraih sesuatu di kantong celana dan mengeluarkannya. Sebuah cincin berlian yang ia ambil dari kotak beludru berwarna merah. Hansen meraih tangan Emily, menyematkan cincin tersebut di jari manis gadis itu.


"I love you, Emily!" ungkap Hansen mencium punggung tangan Emily.


Tepuk tangan semakin riuh. Bahkan beberapa di antaranya banyak yang berteriak dan menjerit melihat bos dinginnya itu berubah 180Β°.


Tanpa mereka sadari, Bara tengah merekam momen tersebut dengan ponselnya. Ia sampai menitikkan air mata. Tidak bisa membayangkan, sebentar lagi akan kehilangan Emily.


"Selamat, Baby!" gumamnya lirih menahan tenggorokannya yang tercekat.


"Sudah waktunya istirahat, terima kasih semuanya!" ucap Hansen membubarkan para karyawannya.


"Baik, Tuan!" seru mereka serentak lalu memberi ucapan selamat pada pasangan baru itu satu persatu. Wajah Emily memanas di balik masker. Apalagi Hansen, menahan rasa malu di depan para karyawan demi mengungkapkan perasaannya. Untung hanya staff lantai teratas saja bukan seluruh karyawan.


Bara kembali memasukkan ponselnya ke saku. Ia mendekati Emily hendak memeluk gadis itu. "Baby!" serunya merentangkan kedua tangan.


Emily pun bersemangat hendak membalasnya. Namun tangan Hansen bergerak cepat, menarik blouse Emily di bagian leher. Gerakan perempuan itu terhenti, ia menoleh pada Hansen yang menatapnya dengan tajam.


Bersambung~


Maap ya Bestie, ternyata sibuk banget kmren ga sempet lanjutin. hehhehee.. big thanks yang udah ninggalin jejak like dan komennya. πŸ’•




πŸ™„Masle lu kemana nggak keliatan?


MasLe; Lagi rakit bom Thor...

__ADS_1


😳😳😳 heh?


__ADS_2