
Hari bergulir dengan cepat. Gelapnya malam kini menyelimuti kota Palembang. Leon dan Khansa berpamitan pada sang nenek untuk keluar pada jam 7 malam itu. Tidak ada yang mencurigakan, nenek pun mengizinkannya dengan mudah. Apalagi melihat kedua cucunya itu semakin hari semakin lengket saja.
Mobil Lexus LM350, sebuah mobil model panjang berwarna hitam kini melaju dengan kecepatan rata-rata. Tidak ada perbincangan selama perjalanan. Leon fokus dengan jalan raya, sedangkan Khansa larut dalam pikirannya.
"Leon, ayah bilang akan ikut," ujar Khansa yang baru saja teringat sesuatu.
"Oh iya? Bagus dong. Semakin banyak orang akan semakin cepat. Hansen dan Simon sudah menunggu di markas. Kita jemput ayah dulu nih?" tanya Leon sesekali menoleh pada Khansa. Perempuan yang duduk di sebelahnya itu mengangguk.
"Baik, Nyonya!" gurau Leon mengusap puncak kepala Khansa.
Tak berapa lama, mobil telah sampai di kediaman Khansa. Tampak, Fauzan telah berdiri di teras dan bersiap untuk menjalankan rencana bersama Leon dan Khansa. Rasa bersalah dan sesal yang membumbung tinggi, membulatkan tekad untuk ikut mengeksekusi.
"Ayah," panggil Khansa keluar dari mobil. Sedangkan Leon langsung memutar balik mobilnya.
"Ayah sudah menunggu dari tadi. Ayo!" ucapnya menggamit tangan Khansa.
Wanita itu hanya tersenyum, berjalan beriringan dengan sang ayah. Khansa lalu menggeser pintu belakang dan kembali menutupnya setelah Fauzan masuk. Ia beralih duduk di depan mendampingi suaminya.
Leon sempat menoleh ke belakang untuk menyapa ayah mertuanya. Dua pria berbeda usia itu saling mengangguk dan melempar senyum. Ia kembali melajukan mobil menuju markas besarnya.
"Leon, apa asisten Gerry sudah membaik?" tanya Khansa mengenakan sabuk pengaman.
"Sudah pulang dari rumah sakit, dia juga di markas sekarang. Tapi lengannya masih belum pulih. Dia hanya memantau dari sana," ujar Leon tanpa menoleh.
"Kasihan ya, aku jadi penasaran pengen ketemu Tiger, seperti apa sih orangnya," cetus Khansa membuat Leon mendelik seketika.
Wajah Leon mengeras, kedua tangannya mencengkeram kuat setir mobilnya. Dirinya saja selalu berusaha agar Khansa tidak pernah bertemu dengannya. Sedangkan istrinya justru ingin bertemu dengan kakaknya itu.
Khansa menoleh saat merasakan perubahan Leon, ia menyentuh lengan suaminya yang masih terasa keras. Bibir pria itu mengatup dengan rapat, napasnya menderu kasar.
"Aku bahkan mati-matian agar kamu tidak bertemu dengannya!" geram Leon dengan suara tertahan. Namun Khansa masih bisa mendengarnya.
"Sayang, aku nggak ada maksud apa-apa. Rasanya ingin memukul kepalanya saja biar dia sadar," kelakar Khansa sambil tertawa. Berharap bisa mencairkan suasana. Namun ia salah. Leon menoleh dengan kilat mata yang tajam. Khansa terdiam seketika ketika melihat amarah Leon. "Maaf," ucapnya kemudian.
Fauzan hanya memperhatikan dalam diam. Dia tidak berani menyela atau ikut campur. Tapi dia bisa melihat, betapa Leon sangat mencintai putrinya. Fauzan yakin, Khansa jatuh di tangan pria yang tepat.
Perjalanan sunyi itu tidak berlangsung lama. Leon memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Khansa menyadari ia salah bicara.
"Yah, kita siap-siap dulu," ucap Leon menoleh setelah mematikan mesin mobil.
"Oh, iya," sahut Fauzan.
__ADS_1
Khansa melirik sekilas, Leon bahkan tidak mengajaknya bicara sejak tadi. Pria itu turun terlebih dahulu. Fauzan menepuk salah satu bahu putrinya. "Suamimu cemburu," sindirnya terkekeh membuka pintu mobil lalu turun.
"Ayah," ucapnya malu-malu bergegas menyusul sang suami dan ayahnya.
Leon bahkan masuk ke bangunan besar itu tanpa menunggu istrinya. Dadanya masih berdebar kuat dan sekujur tubuhnya memanas. Wajahnya tampak sangat mengerikan.
"Kak!" panggil Hansen dan Simon bersamaan. Mereka segera berdiri saat melihat kedatangan Leon. Semua pengawal juga membungkuk hormat.
"Bagaimana?" tanya Leon duduk di kursi kebesarannya. Di sebuah ruangan dengan meja bundar, dikelilingi puluhan kursi.
Simon beralih mengambil beberapa pasang atribut dan meletakkannya di hadapan Leon. Sepasang baju tebal yang bisa membungkus seluruh tubuh disertai helm yang menutup rapat kepala.
Hansen menunjuk beberapa pengawal untuk membawa masuk beberapa kotak cukup besar yang terbuat dari baja. Sebuah besi pipih berukuran kecil dan cukup panjang, terhubung dengan kotak tersebut.
"Semua siap, Kak! Ini identitasnya. Hah, aku nggak sabar! Berani-beraninya dia melakukan tindakan kriminal dan bertahan sampai sejauh ini. Awas aja!" gerutu pria itu.
Simon menyodorkan beberapa kartu identitas. Ia menggeram sembari meninju telapak tangannya sendiri. Hansen sudah menceritakan semuanya, dan seperti dugaannya, Simon meluapkan emosi yang menggebu-gebu. Kedatangan Leon bisa membuatnya sedikit menurunkan amarah.
Khansa sudah bergabung bersama sang ayah. Dia langsung menempatkan diri di belakang Leon. Matanya berbinar melihat semua perlengkapan itu. Senyum samar tersungging di balik cadar.
"Hmm!" Leon membagi-bagi atribut tersebut pada Hansen, Simon, Fauzan dan empat pengawalnya. "Pakailah!"
"Kamu di mobil saja. Ini berat, Sa!" tunjuk Leon pada tangki berbahan baja itu.
Khansa mendengkus karena diremehkan. Ia lalu menggendong benda tersebut di punggungnya. "Aku bisa kok! Nih, kuat 'kan? Ayolah Leon, aku juga pengen turun tangan!" rayu Khansa menyentuh lengan Leon dengan kedua tangannya.
Leon mengembuskan napas berat. Ia lalu memberikannya satu pasang. "Keras kepala!" cebik Leon memutar bola matanya.
"Istri siapa sih?" goda Khansa memeluk atributnya tersebut.
Leon tidak bisa menahan senyumnya, meski tipis Khansa bisa melihatnya. Dalam hati mendesah lega karena Leon sudah sedikit mencair. Mereka segera mengenakan pakaian seperti astronot itu, kecuali helmnya. Leon menjelaskan pembagian tugas terlebih dahulu.
Ia menampilkan lokasi yang akan mereka datangi. Sebuah sinar infra red Leon gerakkan di layar. "Dion, pintu masuk sangat ketat. Setelah kamu berhasil menunjukkan kartu identitas beserta surat tugas, segera masuk dan berhenti di sini!" tunjuk Leon di sebuah titik. "Lalu, keluar dari gerbang yang berbeda. Sesuai pengamatanku beberapa hari ini, di sebelah sini! Saya harap kamu bisa menghafalnya. Jalan yang dilalui sedikit berkelok," jelas Leon panjang lebar.
"Siap, Tuan!" sahut pria yang ditunjuk untuk menjadi sopir mereka.
"Kalian bertiga bertugas di lantai dua. Hansen dan yang lain, kita menyebar di lantai satu. Jangan sampai terlewat satu jengkal pun. Mengerti?" tegas Leon menatap satu per satu yang akan bertugas sebentar lagi.
"Mengerti!" sahut mereka kompak.
"Baik, waktu kita hanya 15 menit. Kerja cepat dan kerja cermat. Yang lain tunggu kami di jalan ini." Leon menunjuk satu lokasi yang jauh dari keramaian searah dengan jalan pulang. Mereka mengangguk paham. "Kita berangkat sekarang!" lanjutnya berdiri mengenakan helm yang menutup seluruh wajahnya, menyisakan kedua manik mata elangnya. Yang lain segera mengikuti, sedikit berlari menuju mobil.
__ADS_1
Tidak ada suara apa pun selain deru mesin mobil selama 45 menit perjalanan. Khansa mulai berdebar saat mobil berhenti di depan pagar yang menjulang tinggi di hadapannya. Matanya menelisik dengan tajam.
Pemeriksaan sangat ketat, Dion sang sopir menunjukkan kartu identitas dan surat tugas dari sebuah perusahaan sterilisasi. Setiap seminggu sekali, bangunan besar sebagai gudang penyimpanan bahan kimia untuk produksi obat di perusahaan Hendra itu selalu disterilkan.
Dua orang penjaga juga mengecek ke dalam mobil, penyamaran Leon dan yang lainnya berhasil. Padahal Khansa sudah berdebar hebat karena takut penyamarannya gagal. Sikap tenang mereka tidak menimbulkan kecurigaan para penjaga.
"Buka!" ujar penjaga itu disertai isyarat tangan.
Pintu gerbang setinggi 2,5 meter itu terbuka lebar. Dari kejauhan gedung bertingkat dua itu sudah terlihat dan semakin dekat. Hingga berhenti tepat di depan pintu masuk.
Dion kembali menyerahkan surat tugas pada penjaga di sana. Setelahnya, penjaga itu meminta semua karyawan yang sedang bertugas untuk keluar dari gedung itu sampai batas waktu yang ditentukan usai sterilisasi. Tentunya demi kesehatan mereka.
"Bukankah tiga hari lalu baru selesai disterilkan?" Para karyawan saling bertanya dan mengedikkan bahu. Tapi tetap saja menurut keluar dari gedung tersebut.
Leon dan yang lainnya segera turun, satu persatu menggendong kotak baja yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Pria itu membantu meletakkan pada punggung Khansa.
Setelah dipastikan tidak ada orang sama sekali, mereka dipersilakan masuk. Dengan langkah cepat mereka segera menempatkan diri dan mulai menyemprotkan cairan yang diyakini para staff Hendra adalah desinfektan seperti biasanya.
Gerakan Leon dan yang lainnya sangat cepat. Termasuk Fauzan yang bisa mengimbangi para anak muda itu. Sudah dipastikan tidak ada celah yang tertinggal setitikpun.
Lima belas menit berlalu, mereka bisa menyelesaikan tepat waktu. Langkah mereka cepat menuju ke mobil. Tidak ada seorang pun yang menyadari, tangki Leon bocor.
Ia duduk di tepi dan tidak meggeser pintu hingga tertutup rapat, membiarkan cairan di tangkinya terus menetes hingga mobil hampir mencapai pintu gerbang keluar, Leon mematik korek api dan melemparkannya tepat di jalur yang sudah ia buat.
Api merembet dengan begitu cepat. Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi. Semua penumpang mobil itu mengarahkan pandangan ke belakang, kecuali sang sopir yang fokus dengan jalan raya.
Hampir semua bahan kimia yang tersimpan adalah bahan yang mudah terbakar. Dan tidak menunggu lama ....
"DUAARRRR!!!"
Ledakan keras bertubi-tubi menggelegar hingga memekakkan telinga mereka. Bahkan dalam jarak yang sudah cukup jauh.
Bersambung~
Selamat hari senin Bestie... Jan lupa like komen dan VOTE nya yaa.. Maksa. 😂😂😂 Mon maap kalo nemu typo ya... nanti aku edit pelan2.
__ADS_1