
"Hai, Kak. Aku bawain makan siang spesial nih buat Kakak," sahut Alexa tersenyum manis mengabaikan gadis di samping Hansen.
Emily menajamkan tatapannya, Hansen menoleh pada Emily hingga keduanya saling menatap lekat. Banyak pertanyaan tertimbun di benak Emily.
"Kamu percaya sama aku 'kan?" gumamnya pelan menautkan jemari lebarnya di sela-sela jari tangan Emily dan meremasnya kuat.
Emily mengangguk beberapa kali, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kalau begitu aku juga percaya kamu bisa menjadi petarung tangguh. Aku padamu, Baby!" lanjutnya pelan, membelai salah satu sisi pipi Emily.
Kini ia mengerti, tatapan tajam dilayangkan pada perempuan yang baru saja berdiri dan menyandarkan bokongnya di tepi meja kerja Hansen. Tangannya melipat di dada membalas tatapan Emily dengan senyum remeh.
Pasangan itu berjalan semakin dekat. Hingga jarak antara mereka tinggal satu meter saja. Alexa menatap Emily dari ujung kepala hingga kakinya. Lalu tersenyum miring karena menganggap itu hanya serangga kecil yang dengan mudah bisa ia singkirkan.
"Anda siapa? Kenapa tidak punya sopan santun masuk ruangan orang dan bahkan dengan lancang duduk di kursi kerjanya?" ujar Emily dengan ketus.
Alexa menatap lekat gadis yang bersama pria idamannya itu. Sempat merasa kagum, gadis itu memang terlihat sangat cantik alami. kulitnya putih bersih, tidak ada cela sedikit pun.
"Saya, Alexa. Wanita pilihan Nyonya Mahendra untuk menjadi pendamping Kak Hansen," cetus perempuan itu dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Emily terkekeh, mengangkat tangannya yang saling bertautan erat dengan tangan Hansen. Membaliknya hingga terlihat jelas cincin berlian tersemat di jari manisnya.
"Kalau begitu kenalkan, saya Emily, tunangannya," ucap Emily menoleh pada pria di sebelahnya yang menatap lembut.
"Hahaha! Kak Han, serius tunangan sama karyawan sendiri? Lagi pula, kalau memang kalian sudah tunangan, kenapa orang tua kakak tidak tahu? Bahkan aku tidak pernah mendengar kabar apapun selama ini. Padahal aku selalu bersama dengan Tuan dan Nyonya Mahendra!" papar Alexa tersenyum menyeringai.
Saat Emily hendak membalasnya, Hansen melepas tautan tangannya hingga membuat gadis itu tersentak. Namun ternyata pria itu beralih merengkuh pinggang Emily, merapatkan tubuhnya hingga tanpa jarak sejengkal pun.
__ADS_1
"Lexa! Pulanglah. Kamu tidak akan mendapat apa pun di sini. Emily adalah tunanganku, sebentar lagi menjadi istriku. Masalah dengan keluargaku, itu urusanku. Kamu tidak perlu ikut campur. Dan satu lagi, aku tegaskan sama kamu. Emily, bukan bawahanku. Kami sengaja backstreet karena dia publik figur. Dan ini semua untuk menjaga privasi kami berdua." Hansen menjelaskannya panjang lebar dan cukup menyentil dada Alexa.
Gadis itu seolah terhimpit beban yang sangat berat hingga kesulitan bernapas. Namun ia masih menjaga wibawanya dengan berdehem lalu menegakkan tubuhnya. Ia menyibak rambut yang menjuntai di salah satu pipinya.
"Hmm ... publik figur? Jangan lupakan siapa yang membantu perusahaan Tuan Mahendra di Australia, Kak. Tanpa aku, mungkin saat ini perusahaan itu sudah berganti nama!" papar Alexa dengan tegas.
"Itu urusan kalian. Tidak ada hubungannya denganku!" sambar Hansen menyeringai dingin.
Emily semakin melangkah maju, menatap kuat perempuan yang mengaku pilihan calon mertuanya itu. "Nona, pernikahan itu bukan sekedar balas budi atau adu tahta tertinggi. Jika saja kamu berhasil menjadi pengantinnya, kamu hanya memiliki raganya, bukan hatinya. Tapi jangan senang dulu, karena aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Usaha lebih keras ya, Nona Alexa," ujar Emily bernada lembut diiringi senyuman yang mempesona.
Hansen menghela napas panjang, wanitanya sudah lebih dewasa. Meskipun seringkali masih menunjukkan sifat kekanak-kanakannya. Ia tersenyum bangga, karena saat ini Emily lebih bisa mengendalikan emosi. Bahkan memilih untuk menyerang balik dengan gaya elegan.
Alexa menggeram, kepalan di kedua tangannya semakin kuat. Ia menatap nanar pada Hansen dan Emily bergantian.
Alexa semakin merasa sesak. Dadanya naik turun dengan cepat, tangis yang tertahan seolah hampir melesak dari kedua mata indahnya. Dengan tangan gemetar, Alexa meraih tasnya lalu melangkah panjang, keluar dari ruangan.
Oksigen di paru-parunya seolah habis saat melihat kemesraan mereka. Hampir mencapai pintu, tiba-tiba suara Hansen menghentikannya.
"Tunggu!" teriak pria itu.
Alexa terpaku, ia merasa ada setitik harapan. Tubuhnya berpaling ke belakang. Ia sudah menemukan Hansen di hadapannya mengulurkan paper bag yang tadi ia bawa.
"Makanan kamu ketinggalan. Maaf, aku tidak tertarik," cetusnya yang cukip menusuk jantung Alexa.
Gigi-gigi Alexa terdengar bergemeletuk. Deru napasnya berubah kasar dan diiringi jatuhnya bulir bening melalui kedua sudut mata indahnya.
__ADS_1
Ia segera merampas paper bag itu lalu bergegas keluar dan melempar benda di tangannya di tempat sampah. Sekretaris Hansen terlonjak kaget, ia menatap heran perempuan yang baru saja keluar dari ruangan sang bos. Pasalnya sangat berbeda dibandingkan sewaktu perempuan itu masuk dengan rasa percaya diri yang tinggi.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Sementara itu, di dalam ruangan besar presdir, suasana semakin terasa dingin saat dua manusia di sana saling terdiam. Tubuh Emily gemetar dengan kepalan tangan yang kuat. Meski di luar ia terlihat kuat dan baik-baik saja, lain halnya dengan hatinya yang diliputi ketakutan.
Semua ucapan Alexa terekam jelas di memori otaknya. Dan seakan berputar-putar terus hingga membuat kepalanya berdenyut nyeri. Tidak menyangka hubungannya akan berada di titik ini. Padahal selama ini baik-baik saja.
"Sayang!" gumam Hansen meraih kedua bahu Emily dan mendekapnya erat.
Tangisnya pun pecah di pelukan Hansen. Kedua tangan kurusnya mencengkeram kuat kedua sisi jas yang dikenakan Hansen. Tidak, ia tidak akan sanggup jika harus melepas Hansen begitu saja.
"Kamu nggak akan ninggalin aku 'kan?" ucap Emily mendongak dengan deraian air mata.
"Tentu saja tidak! Bukankah aku sudah pernah bilang, aku hanya akan melamarmu secara resmi ketika orang tuaku pulang. Sayangnya, dulu kondisi Ayah sedang menurun. Sehingga mengurungkan niatnya untuk pulang ke Indonesia. Kebetulan sekali bukan, sesuai dengan keinginanmu yang ingin menikah ketika Khansa sudah pulang?" jelas Hansen menangkup kedua pipinya, menyeka air mata yang berjatuhan.
"Iya, tapi bagaimana dengan ibumu? Alexa terlihat sekali wanita karir yang hebat. Bagaimana kalau dia menolakku?"
Hansen mengerutkan keningnya, "Hei, mana Emily yang mau bertarung tadi? Kamu juga perempuan hebat, Sayang. Dan yang harus selalu kamu ingat dalam kepalamu yang mungil ini," pria itu menangkup kepala Emily dengan kedua telapak tangan lebarnya. "Aku bisa meninggalkan segalanya, tapi tidak bisa meninggalkan kamu. Aku bisa jauh dari keluargaku selama bertahun-tahun. Tapi tidak bisa jauh darimu."
"Ah, kenapa jadi sweet gini sih? Kan jadi makin cinta!" seru Emily menepis kedua lengan kekar Hansen, lalu menubruk dada bidangnya. Tempat ternyaman kala ia merasa gundah gulana.
"Habis makan, aku antar ke salon ya. Buat persiapan nanti malam," ujar pria itu yang dijawab anggukan oleh Emily.
Bersambung~
__ADS_1