Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 133. Mulai Mengerti


__ADS_3

Leon berhenti tepat di samping mobil menggenggam kedua tangan Khansa dan menatapnya dalam. "Ke depannya, aku nggak selalu ada di sampingmu. Bahaya bisa saja mengintaimu kapan pun dan di mana pun. Aku hanya mempersiapkan dirimu saja," ucap Leon mengusap pipi Khansa dengan lembut.


Kedua manik Khansa sudah berkaca-kaca, "Kamu mau ke mana?" tanyanya sendu.


"Ya kerja lah. Emang ke mana lagi!" sahutnya terkekeh lalu menarik Khansa dalam dekapannya.


Entah kenapa ketakutan tiba-tiba melingkupi hatinya. Khansa membalas pelukan itu sangat erat. Dia takut, sangat takut kehilangan orang yang dia cinta untuk yang ke sekian kalinya.


"Jadi ini alasan kamu nggak pernah muncul di media mana pun? Selalu menyembunyikan identitas dari orang-orang? Apa karena bahaya tengah mengintaimu?" tanya Khansa mendongak namun kedua tangannya masih mencengkeram erat kedua sisi jaket Leon, matanya memerah.


Perlahan ia mulai mengerti mengenai suami misteriusnya itu. Dan dalam hatinya merasa masih banyak yang belum dia tahu. Entah kejutan apalagi yang akan dia terima nanti.


"Pinter," puji Leon mencolek ujung hidung Khansa. "Dan nggak selamanya kita bisa bersembunyi seperti ini. Kamu harus bisa lebih kuat, bahkan kalau bisa melebihi kemampuanku," ucap Leon menempelkan kening mereka.


Khansa meneguk ludahnya dengan berat. Ia bertekad akan berusaha untuk menjadi sumber kekuatan Leon. Bukan sebaliknya. Karena biasanya, musuh akan mengincar orang terdekatnya sebagai kelemahan mereka.


"Baik! Berjanjilah, kamu akan selalu baik-baik saja. Aku akan berusaha," ucap Khansa dengan suara bergetar sembari mengangguk.


"Tentu saja, Sayang."


Leon mengecup bibir Khansa sekilas. Meski masih terhalang cadar, namun kecupan singkat itu mampu menggetarkan hati Khansa. Setiap sentuhan Leon membuatnya merinding. Apalagi semenjak Leon berhasil merenggut mahkotanya.


"Masuklah, panas banget," ucap Leon membukakan pintu mobil.


Khansa melepas lilitan tangannya. Ia segera duduk dan mengenakan sabuk pengaman. Leon berputar lalu duduk di kursi kemudi. Ia kembali mengenakan kacamata hitamnya.


Saat atap hendak tertutup, Khansa mencegahnya. "Jangan ditutup! Biar terbuka aja," pinta Khansa.


"Nanti kamu kepanasan," sergah Leon mengintip sinar matahari yang memaparkan suhu panasnya.


"Enggak apa-apa. Aku nggak takut panas. Aku lebih takut kehilanganmu," goda Khansa melepas sabuk pengamannya dan tiba-tiba memeluk Leon.


Pria itu terpaku sejenak, dalam hati berbunga-bunga. Senyum lebar tersungging di bibir tipisnya. "Sekarang pinter gombal!" ucap Leon membalas pelukan itu dengan erat, sembari mencium keningnya.


Khansa malu, ia menyembunyikan wajah merahnya di dada Leon. Entah kenapa tadi dia keceplosan berkata seperti itu. Mungkin memang saat ini di otaknya hanya ada rasa takut kehilangan lagi.

__ADS_1


"Udahan dulu pelukannya, nanti dilanjut di rumah," ucap Leon membuat Khansa memicingkan mata. Ia segera menjauhkan tubuhnya dan menjadi salah tingkah.


Leon menahan senyumnya, kembali melajukan mobil mewah itu. Pandangannya fokus ke depan. Di satu sisi dia sangat bahagia, pendampingnya adalah gadis yang tangguh. Perempuan yang selalu terlihat hebat di matanya. Tidak pernah mengeluh meski dihantam badai sebesar apa pun. Namun jauh di lubuk hatinya, ada ketakutan tersendiri. Mereka saling diam, larut dalam pikiran masing-masing. Menikmati terik dan desir angin secara bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Emily! Bangun!" Teriakan sang mama diiringi gedoran pintu yang begitu keras mengganggu gadis cantik di balik selimut.


"Emily, udah siang loh!" teriak mamanya lagi.


Emily mengerjapkan mata, tubuhnya menggeliat, mengumpulkan jejak-jejak nyawanya yang masih berhamburan entah kemana.


"Iya, Ma!" sahut Emily dengan suara seraknya.


Ia segera beranjak dari ranjang, saat berdiri tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Pandangannya menunduk. Netranya menangkap sebuah jas berwarna biru navy. Tangannya mengulur untuk mengambilnya.


Emily kembali terduduk, ingatannya kembali pada malam tadi di mana Hansen rela kedinginan, membalutkan jas pada tubuhnya. Semalaman ia bahkan tidak melepas jas tersebut waktu tidur. Aroma tubuh pria itu bahkan terasa menempel pada tubuhnya.


"Emily!" teriak Monica lagi karena tiba-tiba anak gadisnya tak bersuara lagi.


"Ya ampun, jam berapa ini masih tidur? Mandi dulu sana. Langsung makan siang! Mama sama Papa tunggu di bawah!" titah sang mama.


Emily hanya memamerkan deretan gigi putihnya sembari mengangguk. Monica melenggang pergi. Emily pun bergegas untuk membersihkan dirinya agar segera bergabung untuk makan siang bersama. Hal yang tidak bisa ia lakukan saat berada jauh dari kedua orang tuanya.


"Semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Frans di sela makannya.


"Emmm ... jam tiga, Pa." Emily menjawab dengan ragu. Ia pasrah kalau nantinya akan dimarahi.


"Kemana aja sampai jam segitu?" sambar Monica yang memang tidak tahu kejadiannya.


"Ke rumah Sasa, Ma. Terus mampir ngopi bentar, tapi karena indah banget pemandangannya Emily sampai lupa waktu. Maaf, Ma, Pa," ucap Emily menunduk.


Bukan kemarahan yang ia dapat, namun senyuman dari sang papa. "Tidak masalah selama kamu bersama Hansen!" cetus Frans, Emily langsung mendongak dan melebarkan matanya.


"Papa nggak takut anaknya diapa-apain?" pekik Emily tidak terima karena sikap papanya.

__ADS_1


"Papa sudah lama mengenal Hansen. Papa tahu bagaimana sifatnya. Dia tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun selama ini. Jadi, Papa yakin dia tidak akan pernah merusak anak gadis papa." Frans mengacak rambut Emily, ia berpamitan untuk kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang tertunda.


Monica bergegas mengantar suaminya ke depan. Sedangkan Emily hanya terpaku mendengar perkataan papanya. Ia juga teringat dengan ucapan Khansa, yang mengatakan kalau Hansen itu misterius dan juga baik.


"Ah tapi dia terlalu datar, irit bicara. Bahkan aku nggak bisa menilai bagaimana dia sebenarnya. Lurus-lurus aja gitu. Nggak kelihatan senengnya, marahnya gimana. Jangan terlalu percaya diri Emily!" ucapnya pada diri sendiri sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


Dadanya kembali berdebar kasar saat membahas pria itu. Emily tak kuasa menahan senyumnya saat mengingat kebersamaannya dengan Hansen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Fauzan baru tersadar dari tidurnya. Matanya membelalak saat melihat jam yang menempel di dinding. Tubuhnya terasa sakit semua karena semalaman tidur di lantai.


"Jane! Kenapa kau tidak membangkan aku, hah?" teriak Fauzan menggema di seluruh penjuru apartemen.


"Sial!" umpatnya berusaha bangun meski kepayahan. Sisa mabuk semalam masih terasa. Tidak ada sahutan apa pun, suasana apartemen itu sangat sepi. Dia bergegas membersihkan diri dan buru-buru berangkat ke kantor.


Langkahnya tegas meninggalkan apartemen tersebut. Meski sudah selesai mandi, pria itu masih terlihat kusut dan suram. Hatinya masih dipenuhi amarah mengingat kehilangan jejak Jihan yang sudah menguras seluruh aset-asetnya.


"Awas saja kalau ketemu. Akan kubunuh kamu Jihan!" geramnya mengepalkan kedua tangan.


Mobil yang dikendarai Fauzan melaju dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama, dia telah sampai di perusahaan. Namun mobilnya tidak langsung masuk ke basement. Matanya membelalak saat melihat banyaknya orang yang memenuhi pelataran Perusahaan Isvara.


Napasnya tersengal-sengal, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Keringat dingin pun mulai membasahi seluruh tubuhnya. Berkali-kali ia meneguk salivanya yang terasa kering.


Bersambung~



😟Emilyy..... lu mau ngapain?


Emil: Lompat Thor biar ada yang nangkep.


😅: Artis satu ini memang beda cara capernya.


Em: Muka gw kok gak keliatan thor?

__ADS_1


🤨 Pan elu sendiri yang pake topi Em...


__ADS_2