Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 206. Hatiku cuma Milikmu


__ADS_3

"Tiger! Kau mau membunuhku secara perlahan, hah?" pekik Milano menggeram marah.


Dadanya seolah merasakan ledakan sangat dahsyat. Pria paruh baya itu mengepalkan kedua tangan dengan mata menyala merah layaknya bara api. Tiger memejamkan matanya, ia sudah siap jika harus menerima bogem kembali dari ayah angkatnya itu.


Namun yang terjadi, bukanlah seperti yang dibayangkan. Milano sedikit menunduk sambil mencengkeram kuat rambutnya. Segala rasa tumpah ruah dalam hatinya. Matanya memanas dengan serbuan buliran bening yang mulai menyeruak. Dadanya semakin terasa sesak sampai nyeri tak tertahankan. Satu tangannya mencengekeram dada kirinya, Milano memekik tertahan hingga seluruh tubuhnya menegang.


"A ... ayah!" panggil Tiger membuka matanya, melihat kondisi sang ayah yang tengah mengerang kesakitan.


Buru-buru Tiger memundurkan mobilnya, menoleh ke kanan memastikan jalan aman untuk dilalui. Tangannya memindahkan transisi dengan cepat, sedang kakinya menginjak pedal gas kuat-kuat. Ia bergegas menuju ke rumah sakit terdekat.


"Ayah, bertahanlah!" ujar Tiger ketakutan.


Kepanikan kian melanda hatinya, Milano masih mengerang kesakitan meremas dada sebelah kirinya. Napasnya seolah tertahan karena diserang nyeri yang teramat sangat.


Tak lama, mobil Tiger berhenti di depan IGD. Ia berteriak panik memanggil perawat yang tengah berjaga. Milano sudah tidak sadarkan diri dan itu semakin membuatnya ketakutan.


Tiger mondar-mandir di depan IGD, sesekali duduk lalu berdiri. Pikirannya melayang ke mana-mana. Dia berusaha melacak keberadaan Leon. Sayangnya tidak pernah berhasil. Sekalipun ia menyewa hacker terhandal, keberadaannya tidak pernah bisa ditembus.


Hampir satu jam menunggu, dokter muncul dari balik pintu IGD menjelaskan bahwa Milano terkena serangan jantung ringan karena shock berlebih. Tekanan darahnya juga cukup tinggi, dokter menyarankan agar dirawat selama beberapa hari sampai kondisinya stabil.


Kini Milano sudah berada di ruang perawatan dalam keadaan sadar. Pandangannya kosong mengarah langit-langit ruangannya. Tiger menunduk dalam setelah mengakui kebejatannya. Mereka terdiam beberapa saat.


"Siapa perempuan itu?" tanya Milano dingin tanpa menoleh. Ia sungguh kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak becus mendidik anak-anaknya.


"Dia, karyawan di bar, Yah. Sepertinya wanita itu saudaranya Khansa. Karena tadi dia ada di rumah itu," sahutnya pelan.


"Mmm ... segera daftarkan pernikahannya."


Tiger mengangkat pandangannya, ia cukup terkejut dengan pernyataan sang ayah yang langsung menyetujui. Walau hatinya berat menerimanya, setidaknya ia tidak ingin membuat masalah baru untuk saat ini.


"Baik, Yah," jawabnya singkat kemudian meraih ponsel dan meminta bawahannya untuk mengurus semua dokumen yang harus diperlukan dan mendaftarkannya ke sekretariat negara maupun agama.


"Tiger!" Milano menghela napas panjang. "Ayah senang kamu berubah menjadi pria bertanggung jawab. Ayah harap, ini menjadi awal yang baik. Maaf jika selama ini ayah terkesan tidak peduli."

__ADS_1


Ingin sekali marah dan memukul anak angkatnya itu, tapi Milano sadar, semua berawal dari kesalahannya. Tiger hanya tersenyum getir dan mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil yang mengantar nenek Sebastian baru saja sampai di Villa. Hansen langsung berpamitan dan mengajak Emily melenggang pergi.


Lamborghini hitam milik Hansen melaju dengan kecepatan tinggi melalui jalan toll yang cukup lengang. Langit mulai menggelap, Emily terdiam kaku saat merasakan hawa dingin yang menyebar di sekelilingnya. Jemari lentiknya mencengkeram seatbelt dengan kuat, ia menggigit bibir bawahnya yang tipis. Suara embusan napas dan detak jantungnya bahkan terdengar jelas di telinga.


Sesekali Emily melirik dengan ekor matanya yang menangkap ekspresi dingin kekasihnya itu. Ia menghela napas panjang, hatinya seperti teremas saat didiamkan pria itu.


"Eee ... Hansen, kita mau ke mana?" Akhirnya setelah beberapa lama Emily memberanikan diri bersuara.


Tidak ada balasan apa pun, Hansen masih setia merapatkan bibirnya. Mata elangnya terus fokus ke depan disertai gerakan tangan dan kakinya, menguasai laju mobil tersebut.


Emily lelah, ia menyandarkan kepala dengan mata terpejam di sandaran jok mobil. Pasrah saja dibawa pria itu kemanapun. Sepengetahuannya, ini bukan jalur menuju rumahnya ataupun kantor milik Hansen.


Demi mengusir rasa bosan, Emily mengulik ponsel dan menggulirnya. Bola matanya bergerak perlahan pada Hansen, lalu kembali lagi pada layar ponselnya. Bibirnya tersungging senyum miring.


Ia menempelkan benda pipih itu pada daun telinga kanannya. "Halo, Bar! Gue bosen nih. Temenin ngobrol ya," ucap Emily dengan manja.


"Sudah bersama aku masih berani hubungi pria lain?" serunya mengetatkan rahang.


Emily hanya mengerutkan bibirnya. "Lagian diajak ngobrol dari tadi juga nggak ada sahutan. Berasa ngomong sama patung es!" sindirnya memicingkan mata sembari melipat kedua lengan di dada.


Hansen menggenggam ponsel Emily dengan sangat kuat. Kepalan tangannya sampai terlihat urat-urat yang menonjol, emosi dalam dadanga seakan hampir meledak. "Kau!" sentaknya, lalu membuka jendela dan hampir melempar ponsel itu keluar.


"Eeee, tunggu! Tunggu! Hansen jangan!" teriak Emily panik menarik jas yang dikenakan oleh Hansen dengan kedua tangannya.


Gerakan Hansen pun terhenti, deru napasnya terdengar sangat kasar. Ia bersandar dengan mata terpejam sambil mengembuskan napas berat, mencoba menenangkan hatinya. Emosi masih menguasai dirinya mengingat ucapan Emily yang berencana menikah saat Khansa kembali. Berbanding terbalik dengan rencananya yang ingin secepatnya mengikat gadis itu dalam ikatan pernikahan.


"Iihh liat dulu dong! Main lempar-lempar aja!" cebik Emily merebut kembali ponselnya dan menunjukkan layarnya yang dalam keadaan mati. "Nih, mati!" semburnya mendekatkan ponsel itu pada wajah Hansen hingga kepalanya semakin mundur.


"Kamu ngerjain aku?!" Hansen melotot tajam.

__ADS_1


"Ya abisnya kamu nggak peka, sih! Orang kalau lagi nanya itu dijawab. Jangan diem-dieman kaya musuhan gini. Nggak enak tahu nggak! Kita ketemu tuh bisa diitung jari. Bukannya memanfaatkan momen kita bersama, malah dianggurin! Tahu gini aku langsung terbang ke Bali aja tadi!" Emily meluapkan semua amarahnya.


Hansen melepas sabuk pengaman, lalu bergerak mendekat ke kursi Emily dan memeluknya sangat erat. Menghirup aroma manis yang selalu dia rindukan setiap saat. Wangi khas yang hanya dimiliki oleh sang kekasih.


Emily membelalak, tubuhnya membatu tak bisa bergerak. Hangatnya dekapan pria itu mampu melunakkan tulang-tulangnya yang menegang sedari tadi. Jantungnya seolah terlepas dari sarangnya. Bibirnya menyungging senyum tipis dan hatinya berteriak kegirangan.


"Maaf! Aku hanya masih kecewa. Kamu memutuskan menikah setelah Khansa kembali. Sedangkan kita sendiri nggak tahu kapan mereka pulang," ucap Hansen menurunkan nada suaranya.


"Aku ... aku ingin momen bahagiaku dirayakan bersama dengan Sasa," sanggah Emily masih kekeuh dengan keinginannya.


Hansen melonggarkan pelukannya, menyenthh kedua bahu gadis itu. Pandangannya jatuh membingkai seluruh wajah imut perempuan yang sangat dicintainya. Meskipun ia jarang mengungkapkan atau menunjukkannya.


"Kita bisa menikah dulu. Nanti resepsinya menyusul, barengan sama Sasa sesuai keinginanmu." Hansen menaikkan dagu lancip Emily.


"Enggak mau. Sensasinya pasti beda. Lagian saat ini aku lagi berada di puncak karirku, Hansen."


"Aku bisa menghidupimu Emily! Kamu tidak perlu kerja keras siang malam seperti itu!"


Hansen mulai frustasi. Emily menangkup kedua rahang kokoh pria itu, menatapnya lembut dengan senyum yang melumpuhkan emosi Hansen.


"Aku tahu, Sayang! Aku mohon beri aku waktu untuk melepas duniaku. Enggak bisa semudah itu langsung keluar dari dunia entertaint begitu saja. Ini bukan masalah uang, tapi sebuah tanggung jawab dan juga kebanggaan tersendiri bisa mencapai di titik ini," ucapnya pelan.


Pria itu tersenyum getir, kembali menegakkan duduknya dan meluruskan pandangan ke depan. "Kamu tahu nggak? Aku cemburu setiap ada adegan mesra dengan lawan jenis. Rasanya ingin kubunuh saat itu juga!" geramnya menoleh dan menatap penuh kobaran api cemburu.


Semua agenda Emily, Hansen selalu mengetahuinya meskipun mereka jarang berkomunikasi. Dia terus memantau melalui Bara, setiap jam manajer Emily itu selalu mengirim apa pun kegiatan Emily.


Mendengar ungkapan Hansen, justru membuat Emily berbunga-bunga. Senyumnya tersungging semakin lebar dan menawan. Puas mendengar kata cemburu keluar dari bibir pria kulkas itu. Emily melepas seatbelt lalu bergerak memeluk pria itu dengan erat. Tanpa mengirim sinyal apa-apa, ia beralih menatap wajah tampan itu lalu memagut bibir Hansen.


Seperti bom yang meledak di dadanya, tubuh Hansen membeku karena terkejut. Namun sesaat kemudian, kedua tangannya terangkat, menarik pinggang Emily hingga tubuh keduanya semakin merapat tak berjarak. Hansen membalas ciuman itu dengan agresif dan menguasai semua bibir gadis cantik itu.


Hampir kehabisan napas, Emily menjauh. Ia tersenyum dengan ibu jari mengusap bibir Hansen yang basah. Dadanya meletup-letup tidak karuan. "Kamu tenang aja, hatiku cuma milikmu, Tuan Hansen Mahendra!" bisiknya di telinga pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung~


Panjang banget... potong dulu 😄


__ADS_2