Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 187. Pilihan


__ADS_3

Lolongan yang keluar dari tenggorokan Maharani, menarik perhatian para warga desa. Mereka menatap lekat wanita yang diangkut paksa oleh orang-orang misterius bawahan Leon.


Suara mereka terdengar berdengung, saling melempar tanya dan juga sedikit merinding saat melihat gestur orang-orang tersebut.


Maharani kini menghilang bersamaan para pengawal Leon, melaju dengan iringan mobil yang entah akan dibawa ke mana. Tatapan para warga desa kini beralih pada Leon yang berdiri di bawah terik cahaya matahari.


Kemeja hitam panjang yang ketat membalut tubuh kekar Leon dengan dua kancing teratas terbuka. Mata telanjang orang-orang bisa mengintip dada bidang Leon. Celana bahan berwarna hitam membungkus kaki panjang pria itu. Kilatan sepasang sepatu hitam pun tampak menyilaukan mata. Wajah tampannya bersinar, kulit putihnya nampak memerah akibat paparan sinar matahari.


Seketika para kaum hawa menelan ludahnya saat menatap pria gagah nan rupawan itu. Mereka baru memusatkan pandangannya pada Leon, setelah sedari tadi hanya fokus pada barang-barang yang akan mereka terima.


"Ya Tuhan! Inikah jelmaan malaikat!"


"Dia pangeran dari mana?"


"Suami orang sempurna sekali."


Decakan kagum dari para wanita yang enggan memalingkan pandangan dari Leon, mulai terdengar di telinga Khansa. Perempuan itu segera memutar tubuhnya, ia mendelik seketika saat melihat para wanita entah tua ataupun muda, kini menatap kagum suaminya.


Tangannya dengan posesif melingkar di lengan kokoh Leon. "Mohon maaf semuanya, ternyata kami tidak sengaja menemukan buronan polisi. Jadi silakan dilanjutkan, permisi," ucap Khansa membungkuk setengah badan lalu menyeret paksa lelakinya yang masih bergeming.


Leon tersentak kaget dengan gerakan tiba-tiba dari istrinya. Keningnya mengernyit, namun akhirnya kakinya melangkah seirama dengan wanita itu. Raut wajahnya nampak masam.


"Kenapa, Sayang?" Leon meraih dagu Khansa dan hendak memutar pandangannya. Tapi perempuan itu menepisnya. Ia membuang muka ke arah samping membelakangi sang suami. Kesal sekali rasanya. Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaan itu.


"Aku ada salah?" sambung Leon lagi saat tidak mendapat jawaban dari bibir tipis istrinya. Hanya mendengar deru napas kasar saja yang mampu melambaikan cadar tipisnya.


"Enggak ada! Mata mereka yang jelalatan tuh yang salah!" ketus Khansa masih enggan menatap suaminya.


Keduanya melangkah menuju mobil. Leon terdiam sesaat namun kemudian tertawa terbahak. Khansa masuk dan menutup pintu dengan kasar. Leon bahkan harus memutar langkah dan duduk di sebelah Khansa. Tawanya masih menyembur saat menyadari ternyata istrinya tengah terbakar api cemburu.


"Jalan, Mario! Ke lokasi yang sudah dikirim Gerry!" tandas Leon berbicara pada sopir sekaligus kepala pengawalnya.


"Baik, Tuan!" balas Mario tegas sembari mengangguk. Tangan dan kakinya segera bekerja untuk mengendarai mobil mewah milik tuannya itu.

__ADS_1


Leon menangkup kedua pipi Khansa, mengunci pergerakan kepala gadis itu dan menatapnya lekat-lekat. "Bukan salahku tampan sejak lahir, Sayang!" gumamnya menaik turunkan kedua alisnya. Senyum bangga terukir di bibirnya.


"Ck!" decak Khansa mengerucutkan bibirnya. 'Iya juga, kenapa aku kesalnya ke dia?' Khansa masih melempar tatapan tajam pada suaminya.


"Ah, pokoknya aku nggak suka kamu jadi pusat perhatian! Pakai pakaian kaya gini aja liatinnya kaya gitu! Apalagi kalau mereka lihat kamu pakai baju kerja kaya biasa. Bisa kejang-kejang kali!" gerutunya mendorong dada Leon hingga cekalan tangan Leon terlepas.


Khansa menyandarkan punggungnya sedikit keras. Pandangannya terlempar keluar jendela. Dadanya masih kembang kempis mengingat tatapan-tatapan lapar dari para wanita di desa tadi.


Leon menarik bahu Khansa, membenturkan kepala perempuan itu pada dada bidangnya. Memeluk dengan erat sambil menghirup dalam-dalam puncak kepala Khansa, matanya terpejam dengan rapat menikmati aroma khas yang menyeruak dari tubuh Khansa.


"Kamu harus terima kenyataan kalau suamimu ini memang terlampau tampan!" goda Leon lagi hingga sebuah cubitan mendarat di perut liatnya, membuat pria itu memekik kesakitan disertai tawa kencang.


"Galak bener bumil satu ini. Kamu jangan galak kaya mama ya, Nak. Kita harus bersatu melawan mama!" gurau Leon meraba lembut perut Khansa.


Perempuan itu mengerjap berulang, sorot matanya berbinar, ia memundurkan tubuh menatap raut wajah suaminya. "Leon! Kau sudah tidak apa-apa?" Jemari lentiknya menyambut punggung tangan Leon dan menggenggamnya. Khansa tidak tertarik membalas gurauan Leon, dia lebih antusias dengan kemajuan pria itu.


"Masih berusaha, jangan bosan bantu aku ya. Berkat cinta, kasih sayang dan perhatianmu, setiap hari aku selalu merasa lebih baik," ujar Leon merapikan anak rambut Khansa.


Haru dan kebahagiaan Khansa membuncah. Ia mengangguk beberapa kali lalu mengambur ke pelukan Leon lagi. Enggan melepas tautan lengannya di punggung kekar pria itu, bahkan hingga mobil yang ditumpanginya berhenti di tengah hutan.


Khansa menegakkan tubuhnya. Ia sampai lupa jika dalam mobil itu bukan hanya ada mereka berdua. Wajahnya memerah dan nampak salah tingkah. Sedangkan Leon hanya mengangguk tanpa suara saat bersitatap dengan sang sopir melalui kaca spion.


"Ayo!" ajak Leon membuka pintu sebelahnya, lalu turun terlebih dahulu.


Udara sejuk mulai menerpa kulit mereka, meski matahari kian menanjak tepat di atas kepala. Pohon yang rimbun masih bisa menguarkan udara dingin. Gemericik air terjun disertai suara hewan yang saling bersahutan cukup memekakkan telinga.


Khansa menjajakkan kedua kakinya di atas dedaunan kering yang berserakan di pelataran luas itu. Ia sempat memejamkan kedua matanya, menghirup dalam-dalam oksigen yang terasa sangat bersih. Suasana asri yang mengingatkannya sewatu tinggal di sana. Perlahan ia kembali membuka mata, mengayunkan kakinya mendekati Maharani.


Maharani menoleh seketika. Wanita yang tengah dilanda kepanikan itu menatap tak ramah menyambut kedatangan Khansa. Tubuhnya terlilit seutas tali, menyatu dengan kursi rodanya.


Leon menyulut rokok terlebih dahulu, menyesapnya dengan gaya elegan baru melangkah panjang menyusul istrinya. Ia memberi kode pada salah satu anak buahnya, yang langsung diangguki patuh.


"Gimana Maharani, kau mau membuat sebuah pengakuan untuk meringankan hukuman, atau rela dijatuhi hukuman seberat-beratnya atas semua kasus yang menjeratmu?" ucap Khansa dengan dingin.

__ADS_1


Diam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Maharani. Ia justru memalingkan muka, enggan menatap Khansa. Leon menyandarkan punggungnya pada salah satu batang pohon yang cukup besar.


"Aku sudah menyimpan semua bukti-buktinya. Kau tahu, kemungkinan kamu bisa dijatuhi hukuman mati. Tapi sepertinya tidak akan seberat itu kalau kamu mau mengakui semuanya." Khansa menunduk dengan seringai tajam.


Dalam benak Maharani memang ketakutan. Tapi di sisi lain, hatinya mengatakan bahwa kejadian itu sudah sangat lama. Sangat tidak mungkin bisa menemukan bukti yang bisa menjerumuskannya ke dalam bui. Karenanya dia hanya diam membisu.


"Dor!"


"Aaaarrggh!!" jerit Maharani terkejut. Tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berpacu dengan kuat. Napasnya tersengal saat tiba-tiba sebuah peluru melesat tepat mengenai kursi rodanya.


Khansa menoleh secepat kilat. Matanya memicing saat melihat suaminya meniup asap yang muncul dari moncong pistol dalam genggamannya. "Leon!" teriak Khansa mendelikkan mata.


"Yah, meleset!" keluh Leon dengan santai. Khansa menggeram, tatapan tajamnya beradu dengan manik Leon yang membuat pria itu bergidik seketika. "Aku bercanda, Sayang!" ucapnya melebarkan senyum di bibirnya sembari mengangkat kedua tangan. Bahkan tatapan mata Khansa terasa lebih menyeramkan dari senjata di tangannya.


"Enggak lucu!" cebik Khansa. Ia khawatir jika Leon benar-benar melesatkan timah panas pada Maharani. Emosi pria itu tak tertebak.


"Cuma mencoba keluaran terbaru dari USA, ingin memastikan seberapa akurat dan kekuatan senjata kecil ini!" sambung Leon membolak balikkan benda mengerikan di tangannya.


Wajah Maharani berubah pucat. Bahkan aliran darahnya seolah berhenti seketika. Kulitnya berubah seputih kapas. Kepalanya tertunduk semakin dalam, keringat dingin pun membasahi sekujur tubuhnya.


Leon melangkah dengan tegas mendekati sang istri. "Sudahlah! Biarkan saja. Dia sudah memilih akhir hidupnya sendiri! Ada pesan terakhir, Nyonya Maharani?" ucap Leon menaikkan dagu wanita itu dengan ujung pistolnya.


Maharani semakin menegang, ia kepayahan meneguk ludahnya yang terasa begitu berat. Napasnya tertahan dengan mata melirik benda itu. Pikirannya berkabut, ia baru sadar kini berhadapan dengan orang yang salah.


"Kau menakutinya Leon! Jauhkan pistol itu!" tepis Khansa dengan pelan menjauhkan senjata itu dari wajah Maharani. Barulah Maharani bisa mengembuskan napas lega.


Leon mengendikkan bahu lalu memasukkan benda itu ke dalam sakunya. Senjata dengan design mungil tapi sangat mematikan walau dalam jarak yang begitu jauh.


"Tuan!" panggil Gerry dari alat komunikasi yang menempel di telinganya.


Leon segera menjauh dari mereka. "Ya!"


"Kabarnya Tuan Tiger ada di sini sejak dua hari lalu. Apa Anda tidak ingin berubah pikiran?" tanya Gerry lagi.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2