
Tiger meringkuk dan hanya berusaha menutupi wajah dengan kedua lengannya. Kemarahan Leon sudah meledak hingga menutup mata dan juga perasaannya. Cukup lama dia mengamuk sambil berteriak memaki Tiger, Milano berusaha bangun dan hendak mencegah Leon. Lengannya sudah terulur ingin menggapai bahu Leon. Tapi sebuah teriakan menghentikan gerakannya.
"Jangan pernah sentuh cucuku dengan tangan kotormu, Milano!" teriak Nenek Sebastian berjalan mendekat.
Ia meraih lengan Leon dan menarik ke dalam pelukannya. Leon menangis, sedikit membungkuk dalam dekapan sang nenek. Mata nenek menatap nyalang putranya itu. Dia masih tidak terima. "Kamu tidak pantas menyandang gelar ayah untuknya!" lanjutnya begitu dingin dan menusuk jantung Milano yang mematung seketika.
"Leon, Sayang. Lihat nenek!" pintanya menyentuh kedua pipi Leon.
Pria itu menegakkan tubuhnya. Wajahnya memerah dan terasa panas. Kemarahan juga kesedihan meluap menjadi satu. Nenek sedikit mendongak, telapak tangan lembutnya bergerak menyeka bulir keringat di wajah tampan sang cucu.
"Leon, kamu jangan seperti ini. Siapa yang akan menguatkan Khansa kalau kamu begini, hem? Ayo, kamu harus bangkit. Kamu harus bisa menjadi sandaran untuk Khansa. Dia sangat membutuhkanmu, Sayang!" ucap nenek lembut menahan air matanya.
"Aku kehilangannya, Nek! Aku kehilangannya," racau Leon merebahkan wajah di pundak samg nenek.
"Nenek tahu ini pasti berat, tapi jangan sampai kamu menyesal karena kehilangan lagi! Khansa sangat butuh dukunganmu, Leon!" Nenek membelai kepala Leon.
Emily pun turut beranjak lalu melangkah mendekati mereka. Ia memberanikan diri untuk mengusap bahu Leon, "Leon, kalau kamu terpuruk, Sasa akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Tolong, kuatlah Leon. Demi Sasa!" ucap perempuan itu dengan pelan.
Perlahan Leon kembali menegakkan tubuhnya, kepalanya mengangguk. Ada setitik kelegaan yang menjalar di hatinya. Kini kedua tangan pria itu menyeka air mata di kedua pipinya.
Leon beralih hendak masuk ruangan. Tiger merangkak cepat dan melingkarkan lengan di kaki Leon hingga langkah pria itu terhenti. Pandangannya lurus ke depan, detak jantung masih saling berkejaran terhantam emosi.
"Leon, mungkin seribu kali maafku tidak bisa menghapus lukamu. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku," ucap Tiger dengan suara bergetar. Malu, insecure, takut menggulung menjadi satu di hatinya.
Leon bergeming dengan tangan terkepal kuat. Tangannya mencengkeram erat handel pintu. "Lepas! ujar Leon dingin. Namun Tiger masih bertahan di posisinya. Merengkuh kaki Leon dengan erat. Tenggelam dalam pusaran penyesalan terdalam.
"Lepaskan Tiger!" gertak Leon menendang dada Tiger hingga terjengkang lalu meninggalkannya masuk ke ruangan.
Semua orang menatapnya sinis. Lebam dan darah memenuhi wajah Tiger. "Antar dia ke IGD, Milano! Obati lukanya! Meski semua luka itu tidak cukup mengganti apa yang telah dia renggut!" titah sang nenek tanpa menoleh. Walaupun kebencian mengakar dalam jiwanya, nenek masih punya hati.
Perempuan baya itu melenggang masuk diikuti cucu-cucunya untuk melihat keadaan Khansa. Sedangkan Milano terdiam menatap nanar punggung Tiger yang kini berusaha untuk duduk. Dia menganggkat kedua lututnya, menumpukan kedua lengan di atas lutut lalu menenggelamkan kepala.
Kecewa, Tiger benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri. Ia merasa tidak berguna dan hanya menjadi parasit untuk keluarga Sebastian. Ternyata semua dugaannya salah, ia pikir Milano mengabaikannya dan hanya memperhatikan Leon saja, berbagai cara dilakukan untuk merebut perhatiannya, tapi ternyata tidak berguna sama sekali. Karena dia bukan siapa-siapa.
"Bangunlah! Obati dulu lukamu. Jangan menyerah untuk mendapat maaf dari Leon." Milano berdiri dan berucap dingin.
Tiger mendongakkan kepala tidak percaya. Ia menatap ayah angkatnya yang menjulang di sampingnya dengan pandangan lurus ke depan tanpa meliriknya sedikitpun.
"Cepat bangun!" lanjut Milano lagi dengan tegas.
Tiger beranjak dengan susah payah. Milano melangkah terlebih dahulu diikuti Tiger yang berjalan menunduk. Sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sementara itu di dalam ruang VVIP yang begitu luas, Khansa memejamkan kedua manik indahnya di atas brankar. Selang infus kembali tertancap di lengannya.
"Tekanan darah pasien sangat rendah, denyut nadinya juga sangat lemah. Saya harus memberinya obat penenang agar bisa beristirahat cukup lama. Sabar ya, Tuan. Saya tahu ini berat. Tapi, dukungan Anda sangat berarti untuk istri Anda agar proses pemulihannya lebih cepat," papar dokter kemudian pamit undur diri.
Leon naik ke atas ranjang. Ia tidak mau dipasang infus lagi setelah tadi terlepas karena memukuli Tiger. Ia merapatkan tubuhnya pada Khansa, memeluknya sangat erat. Hingga lama kelamaan Leon pun terlelap menyusul sang istri ke alam mimpi.
Nenek berjalan mendekati ranjang, membelai kepala Leon dan Khansa bergantian lalu memberi kecupan pada kening keduanya. 'Semoga setelah ini kalian akan meraih kebahagiaan yang lebih,' doa tulus mengalir dari hatinya.
"Nek, pulanglah. Biar kami yang menjaganya. Nenek juga harus menjaga kesehatan," ujar Hansen penuh perhatian.
"Iya, benar kata Hansen, Nek. Lebih baik nenek pulang saja. Kalau ada apa-apa kami akan segera kabari nenek," sambung Emily menggenggam tangan keriput sang nenek.
Nenek mengangguk tanpa suara, lalu menyeka air mata yang menerobos jatuh tanpa permisi. Tenggorokannya masih tercekat. Tubuhnya berbalik dan melenggang pergi. Di luar sudah ada Paman Indra yang sigap mengantar nyonya nya kemanapun.
"Kita pulang ke villa, Ndra!" titah nenek Sebastian berjalan pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu juga istirahat! Sana tidur!" ucap Hansen tanpa ekspresi pada Emily.
Perempuan itu memicingkan mata, bibirnya mengerucut lalu memutar bola matanya malas, kembali menatap pasangan suami istri yang tidur lelap di atas ranjang pasien.
"Ah elah, Han! Han! Nggak ada romantis-romantisnya jadi laki!" cibir Simon.
"Dihh dikasih tahu nyolot! Tanya nih rajanya penakluk wanita! Hah, dahlah gue mau cuci mata sekaligus cari makan. Laper liat orang mesra-mesraan!" ucap Simon membusungkan dada sambil berjalan keluar.
"Heh? Nggak salah tuh raja penakluk wanuta tapi jomblo!" sindir Emily tertawa.
Simon berhenti dan memutar tubuhnya. Ia berkacak pinggang dengan tatapan geram. "Gue masih jomblo tuh karena selektif, Maemunah! Biarpun gue bukan laki-laki baik, seenggaknya calon bini gue harus yang terbaik! Biar bisa nanem bibit unggul!" seloroh Simon yang sontak membuat Emily tertawa namun tertahan.
"Sembarangan panggil dia maemunah!" Hansen tidak terima balas melotot tajam sembari meraih koran dan menggulungnya. Lengannya mengayun hendak memukul Simon, namun pria itu keburu berlari keluar dan kembali menutup pintu.
"Udah, udah. Jangan marah-marah terus. Nanti cepet tua," celetuk Emily mendaratkan tubuhnya di sofa panjang dan lebar lalu merebahkan tubuhnya.
Kini tatapan tajamnya beralih pada Emily yang seketika membuat nyali gadis itu menciut lalu buru-buru merapatkan bibirnya. "Tidur!" sembur pria itu.
"Ck! Dasar kulkas. Keknya bukan cuma dua pintu tapi jadi dua puluh pintu!" gerutunya pelan memejamkan mata membelakangi Hansen.
Pria itu melirik sekilas meski senyum samar tersungging di bibirnya, namun memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya, mengawasi jalannya kinerja para bawahannya yang sedang melakukan penelitian di perusahaan induk. Setelahnya juga memeriksa laporan di perusahaan cabang.
Beberapa waktu berlalu ....
Emily sudah terlelap dalam tidurnya. Hansen melepas kacamata, mengusap mata yang terasa pedih karena terus menatap layar tabletnya.
__ADS_1
Ia menoleh pada Emily, melepas jasnya lalu membentangkan di atas tubuh mungil Emily. Tangannya sempat mampir di atas puncak kepala gadis itu dan membelainya meski sekejap. Ia lalu melenggang pergi meninggalkan kamar tersebut hendak mencari makanan untuk sang kekasih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari semakin beranjak sore. Khansa mulai mengerjapkan mata, tubuhnya merasa berat. Saat matanya terbuka sempurna, ia langsung menemukan wajah tampan sang suami yang berjarak sangat dekat dengannya. Satu tangannya terangkat membelai pipi Leon.
"Leon," panggil Khansa lirih.
Mendengar suara Khansa, seketika mata Leon terbuka dan langsung bertabrakan dengan manik indah dan sayu milik Khansa. "Hai, Sayang. Sudah bangun?" Leon mengecup kening Khansa sangat lama. Keduanya memejamkan mata, tak terasa lelehan air mata mulai mengalir di kedua sudut mata mereka.
"Jangan sedih, dia sekarang sudah bahagia bersama oma-omanya," gumam Leon yang membuka matanya terlebih dahulu.
Ia menjulurkan tangan dan menyeka air mata Khansa. Sekuat hati Leon menahan diri agar tidak menampilkan kesedihan di depan sang istri. Senyum ia paksakan menyungging di bibirnya. "Cepatlah sembuh, nanti kita akan buat Leon-Khansa junior lagi!" candanya memainkan anak rambut Khansa.
"Maaf, aku nggak bisa menjaganya!" gumam Khansa dengan suara bergetar.
"Sssttt! Ini bukan kesalahanmu, Sayang. Kamu harus cepet sembuh, kita masih punya banyak kesempatan." Leon menekan kepala Khansa, menyandarkan pada dada bidangnya, memeluk wanita itu sangat erat. Leon tidak bisa banyak bicara karena tenggorokannya pun tercekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari bergulir dengan begitu cepat. Sudah satu minggu tragedi yang merenggut kebahagiaan Khansa dan Leon. Mereka pulang ke Villa Anggrek. Wanita itu menjadi lebih pendiam. Hanya berbicara seperlunya saja. Kondisi tubuh keduanya berangsur membaik. Tidak ada luka serius yang mengkhawatirkan.
Milano ingin sekali menemui Leon dan menantunya. Namun nenek dengan tegas melarang dan tidak pernah mengizinkannya. Tempat ini sangat privasi. Tidak semua orang tahu dan bisa masuk begitu saja.
Tiger masih tenggelam pada penyesalan terdalamnya. Milano semakin mengabaikannya, sikap pria itu juga semakin dingin padanya. Ia frustasi memikirkan cara untuk mendapat maaf dari keluarga Sebastian.
"Nek!" panggil Leon menepuk bahu nenek yang sedang melamun memperhatikan Khansa, yang kini duduk merenung sendiri di taman belakang. Menatap hamparan bunga-bunga yang indah. Sejak pulang dari rumah sakit, dia selalu menghabiskan waktu di sana.
"Leon! Mengejutkan saja. Untung nenek nggak jantungan," gerutu nenek menatap tajam cucu kesayangannya.
Leon hanya tersenyum, merangkul bahu nenek dari belakang. Pandangannya pun mengarah pada Khansa. "Maaf ya, Nek! Oh ya, Nek. Leon mau pamit."
Seketika nenek menoleh dengan cepat, menatap terkejut laki-laki tampan di hadapannya itu. "Pamit pamit apanya?!" sentak nenek Sebastian.
Bersambung~
nah lo! mau kemana mas?
😌 iyoowess! Sakarepmu. Tapi itu biasa aja tatapannya bisa nggak?!
MasLe; nggak bisa thor lg mantau kang komen.
__ADS_1