
“Cukup!” pekik Jihan yang jengah mendengarkan pertengkaran orang tuanya. Ini bukan pertama kalinya, mereka meributkan sesuatu. Bahkan biasanya suatu hal kecil selalu dibesar-besarkan.
Kali ini, Jihan sudah cukup muak. Dihari yang seharusnya merupakan hari kebahagiaannya, harus terenggut paksa.
“Kalian berdua selalu saja bertengkar. Apa kalian nggak sadar? Kalian membuat kepalaku semakin ingin pecah saja! Di mana sih hati nurani kalian? Bukannya prihatin, tapi malah menambah masalah dan beban pikiran! Kalian egois!” seru Jihan menatap kedua orang tuanya bergantian.
Maharani dan Fauzan terdiam sejenak. Mereka sadar sudah keterlaluan, bertengkar di depannya saat kondisi Jihan sedang tidak baik-baik saja.
“Maafin ayah, Ji. Ayah hanya kesal dengan ibumu yang selalu membuat onar dan menjadi biang masalah,” elak Fauzan membela diri dan melempar kesalahan pada istrinya.
Maharani tentu saja tidak terima. Ia berkacak pinggang, telunjuknya menunjuk-nunjuk dada Fauzan. “Heh! Ngaca dong kamu! Kamu juga ikut berperan dalam acara malam ini. Jangan bisanya nyalahin orang saja! Tapi tidak bisa instropeksi diri!” pekik Maharani.
Mereka bertiga tidak sadar bahwa sedari tadi masih menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Ditambah pertengkaran Fauzan dan istrinya semakin membuat mereka antusias.
“Nggak nyangka ya, selama ini yang kita lihat ternyata nggak seperti kenyataannya,” gumam seorang wanita paruh baya.
“Iya, ya. Padahal selama ini mereka selalu terlihat harmonis. Tapi ternyata, ckckck!” decak wanita satunya menggelengkan kepalanya.
Sambil duduk di kursi, juga memakan beberapa dessert yang disediakan di atas meja, mereka terus memperhatikan keluarga Isvara yang tampak kacau itu.
“Sepertinya quotes yang pernah aku denger benar deh,” gumam gadis berambut ikal sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Apaan?” sambar temannya penasaran.
“Don't judge a book by it's cover. Aku lihat bukti nyatanya nih. Dibalik keharmonisan Fauzan sama Maharani, pada kenyataannya tidak seperti yang diperlihatkan selama ini,” celoteh gadis itu.
“Brak!” Jihan menggebrak meja sangat keras dengan napas memburu.
“Kalian mau bertengkar sampai berapa ronde? Tidak ada rasa simpati sedikit pun di hati kalian buat aku?” pekik Jihan lagi-lagi membuat Fauzan terdiam.
__ADS_1
Maharani memeluk kepala Jihan. “Maaf, maafin ibu. Ibu tidak bermaksud,” ujar Maharani menyesal lalu memeluk putrinya.
“Maafin ayah, Ji,” sambung Fauzan menunduk. Mereka sadar bahwa pertengkaran keduanya semakin melukai perasaan putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di dalam sebuah kamar yang tertutup rapat ….
Hendra kembali menatap layar ponselnya. Ia membaca deretan huruf yang tertera pada benda pipih itu. Sebuah surat dari rumah sakit, hasil pemeriksaan Khansa yang menyatakan bahwa Khansa masih perawan. Karena Hendra sangat yakin bahwa Khansa merupakan perempuan tidak baik yang memiliki banyak simpanan.
“Ini nggak mungkin!” Hendra menggelengkan kepalanya. Sudah beberapa kali ia membaca ulang, tapi hasilnya tetap sama saja. Khansa masih perawan.
“Kenapa nggak mungkin? Kamu saja yang terlalu percaya dengan hasutan orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, Hendra!” ucap Khansa dengan sinis.
Hendra kembali menscroll waktu dan tanggal pemeriksaan. Lagi-lagi ia dibuat tercengang karena surat itu baru dikeluarkan kemarin.
“Kamu mau lihat surat aslinya? Wait.” Khansa meraih amplop berwarna putih yang di depannya terdapat Kop sebuah rumah sakit ternama. Khansa menekankan kertas itu pada dada Hendra. “Nih, baca! sampai kamu katarak sekalipun hasilnya akan sama. Dan ini bisa diuji keasliannya, datang aja ke rumah sakit itu kalau tidak percaya. Aku baru melakukan pemeriksaan kemarin!” ujar Khansa melipat kedua lengannya.
“Tapi aku pernah melihatmu bermalam dengan seorang pria, Sa!” Suara Hendra meninggi. Ia merasa apa yang dilihatnya itu tidak salah, setelah ditunjukkan beberapa foto kebersamaan Khansa dengan seorang pria.
“Hng! Aku tidak pernah melakukan apa pun dengan pria itu selain membantu mengobatinya, Hendra! Otak kamu sudah dicuci oleh Jihan, sehingga yang kamu lihat selalu benar di matamu!” pekik Khansa melempar tatapan tajam.
“Siapa yang menjamin kalau kalian tidak melakukan sesuatu? Hanya tinggal berdua saja antara laki-laki dan perempuan. Tidak mungkin jika tidak melakukan apa-apa!” berang Hendra yang masih kekeh dengan pemikirannya.
Khansa yang sudah sangat geram sedari tadi, melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras di pipi Hendra. Telapak tangannya sampai terasa panas dan kebas saking kerasnya.
“Aku bisa menjaga diri. Dan aku masih punya harga diri, tidak menghalalkan segala cara demi kesenanganku saja, bahkan untuk bertahan hidup sekali pun selama bertahun-tahun, aku bisa mengandalkan kemampuanku tanpa menjual diri seperti yang kamu tuduhkan, brengsek!” teriak Khansa penuh amarah.
Dadanya bergulung ombak kemarahan yang siap menghantam apa pun. Napasnya menderu dengan kasar, kedua mata indahnya layaknya tombak api yang siap menyerang saat itu juga.
__ADS_1
Hendra merasakan nyeri pada dadanya. Seolah diremas oleh tangan-tangan tak terlihat saat melihat kemarahan Khansa seperti itu. Bodoh sekali jika selama ini dia begitu mudahnya diperdaya oleh hasutan Jihan.
Kedua mata pria itu memerah, ia meraih kedua tangan Khansa sembari bersimpuh di depannya. Hendra menumpahkan tangis penyesalannya.
“Maafin aku, Sa. Maaf karena tidak percaya padamu. Maaf aku terlalu banyak menyakitimu, maaf,” gumamnya menunduk dalam dengan kedua bahu yang bergetar.
Meski merasakan sakit di hatinya, namun Khansa merasa mati rasa. Ia tidak mudah luluh hanya dengan air mata pria itu. Sekalipun sampai menangis darah. Hatinya tidak akan tersentuh.
Hendra mendongakkan kepala, “Sa, aku mohon maafin aku. Bisakah kita memulainya dari awal? Aku ingin kita bersama kembali, Sa. Aku janji akan selalu percaya sama kamu,” ucap Hendra memohon, masih berlutut di depan Khansa.
Gadis itu menundukkan pandangan, tersenyum sinis dengan tatapan dingin pada Hendra, “Ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”
Hendra merasa Khansa membuka jalan untuk hubungan mereka. Ia segera beranjak berdiri, “Apa itu, Sa? Katakanlah!” ucapnya dengan antusias.
“Jelasin kenapa saat itu kamu mau menjebakku?” tanya Khansa membuat Hendra mengerutkan keningnya.
“Maksudnya?” tanya pria itu balik.
“Kenapa kamu dulu mengatakan pada semua orang kalau aku yang mendorong kakek dari tangga?” Khansa menekan setiap kalimatnya. Setiap nada dinginnya membuat bulu kuduk Hendra berdiri.
“Sa, aku … aku sungguh menyesal. Aku benar-benar minta maaf, Sa.” Hendra berkilah, mengalihkan pembicaraan dan tidak menjawab.
“Bukan itu yang mau aku dengar, Hendra! Apa alasan kamu melakukan itu semua sama aku?” sentak Khansa dengan sangat keras. Hendra menggerakkan bola matanya ke sana ke mari karena bingung bagaimana mencari alasan. Hendra diam selama beberapa saat.
“Cih! Sudah kuduga. Sekali pengecut tetaplah pengecut. Sekali pengkhianat tetaplah pengkhianat. Aku sungguh kecewa sama kamu, Hendra. Orang yang aku anggap sebagai malaikat dan pelindungku, ternyata berbalik menikam hingga membuatku jungkir balik menghadapi kerasnya hidup seorang diri. Aku sungguh kecewa padamu, brengsek! Aku membencimu sampai urat nadi dan deru napasku!”
Khansa berteriak mengungkapkan kekecewaannya. Hendra sangat menyesali perbuatannya. Tapi semua tak berguna. Hati Khansa seperti sudah tidak tersentuh. Khansa mendorong dada Hendra dengan kuat, lalu berlari menuju pintu, memutar kuncinya.
“Sasa,” Hendra memanggil Khansa dengan suara yang serak, “Apa sudah tidak ada kemungkinan lagi bagi kita untuk bersama?” Seperti tidak punya muka, Hendra masih berani mengucapkannya.
__ADS_1
Bersambung~