
“Sasa! Udah mau malem nih, ayo balik! Anginnya makin kencang!” teriak wanita cantik mengudara hingga menelusup pendengaran Khansa.
Sang pemilik nama pun membuka kedua kelopak matanya yang sedari tadi terpejam, kepalanya menoleh melambaikan tangan sembari tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit.
“Masih mau di sini sampai matahari tenggelam,” sahut Khansa menikmati deburan ombak yang menghantam kedua kakinya.
Emily berkacak pinggang, “Dasar keras kepala,” gumamnya menurunkan kedua kakinya dari kursi santai yang ia pakai untuk rebahan sedari tadi.
Gadis cantik itu berjalan tanpa alas kaki menuju resto mewah tak jauh dari sana. Sebelum kembali ke villa resort, Emily ingin mengajak Khansa makan malam dengan suasana outdoor di tepi pantai.
Khansa memang sangat menyukai suasana alam. Apalagi, desir angin sore hari di pesisir pantai terasa begitu sejuk menerpa kulitnya. Ombak pasang begitu berisik namun terasa menenangkan. Khansa menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia benar-benar merasa rileks. Hatinya sangat tenang saat ini.
Langit mulai menghitam, dihiasi taburan bintang yang mulai menyala terang. Emily bergegas mendekati Khansa yang masih duduk di tepi pantai.
“Ayo makan dulu, angin malam nggak baik buat kesehatan kamu,” ujar Emily merengkuh bahu Khansa.
Khansa menengok, seulas senyum terbit di bibirnya. “Di villa? Apa di mana nih?” tanyanya.
“Tuh, aku udah pesen makanan.” Emily menaikkan dagunya menunjuk sebuah meja makan yang sudah terhidang berbagai makanan dan dessert.
Dua perempuan muda itu kembali saling bersitatap, terdiam beberapa saat lalu berdiri serentak mengalihkan pandangan ke sana.
“Yang duluan sampai bayarin!” teriak Khansa berlari namun tidak terlalu kencang.
Sedangkan Emily yang tidak fokus berlari sekuat tenaga hingga mampu menyalip Khansa. Emily bahkan menjulurkan lidahnya mengejek Khansa.
Namun, gadis itu masih berlari dengan tenang dan tidak terburu-buru. Hingga akhirnya Emily yang sampai duluan.
“Yeaay menang dong!” serunya dengan napas tersengal-sengal sambil bersorak.
Khansa sampai setelah beberapa detik. Ia lekas duduk dan menyesap es jeruk yang sudah menggodanya sedari tadi.
“Berarti kamu yang bayar!” tutur Khansa menunjuk Emily dengan sedotan.
“Loh, kok aku?” Emily turut duduk mengibaskan kedua tangan di depan muka. Ia kegerahan usai berlari tadi.
__ADS_1
“Tadi aku bilang apa coba?” Khansa mencoba mengingatkan sembari menaikkan kedua alisnya.
Emily menggaruk kepalanya mencoba mengingat-ingat. Sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak, “Yang duluan sampe bayarin yah? Hahaha!”
Tawa keduanya pun pecah, dua wanita itu tidak sadar sampai mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya. Hal-hal receh seperti itu, membuat mereka saling merindu kala berjauhan.
“Woaa, ayam betutu dengan sambel ijo. Like banget ini,” seru Khansa saat menatap hidangan di meja. Dengan segera ia mencuci tangan dan mulai mengeksekusi salah satu makananan khas Bali itu.
“Abisin, kalau nggak abis cuci piring,” gurau Emily melakukan hal yang sama. Khansa hanya menanggapinya dengan tawa.
Mereka pun menikmati makan malam ditemani deburan ombak dan sepoi angin yang menerbangkan rambutnya sembari bersenda gurau.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai makan malam, dua perempuan itu berjalan menjinjing sandalnya masing-masing menuju villa resort tempat mereka menginap.
“Kamu mandi dulu aja, Sa!” ucap Emily ketika sampai di kamar.
“Okay,” sahut Khansa meraih handuk dan menyiapkan pakaian ganti.
Tak butuh waktu lama, Khansa keluar lebih segar dengan balutan piyama milik Emily. Liburan dadakannya itu, membuat Khansa sama sekali tidak ada persiapan. Kini giliran Emily yang mandi. Khansa sibuk mengeringkan rambutnya sambil menikmati pemandangan malam dari jendela besar yang disibak tirainya.
Menatap pantulan dirinya di kaca jendela, membuat gerakannya terhenti. Entah kenapa tiba-tiba terlintas Leon di kepalanya saat mengeringkan rambutnya. Bibir Khansa menyunggingkan senyum sedari tadi.
“Pletak!” Sebuah sisir kecil mendarat di kepala Khansa.
“Aww! Emily,” rengek Khansa mengusap kepalanya.
Emily justru terkekeh, berjalan mendekati Khansa turut mengusap kepalanya, “Lagian dipanggil dari tadi nggak nyahut, lagi mikirin Leon ya? Ciyee,” godanya.
“Iihh apasih, enggak kok,” elak Khansa menurunkan tangan Emily.
“Enggak salah ‘kan? Hayo ngaku!” tambah Emily lagi.
Khansa mengerucutkan bibirnya. Ia terus mengelak meski hatinya berteriak iya. “By the way, nasib Maharani gimana sekarang?” tanya Khansa mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Nih menurut berita, gara-gara Jihan keceplosan, Maharani dipukul sama ayahmu. Terus diserang sama para awak media. Mereka merasa dipermainkan dan Jihan juga ikut kena amukan massa,” jelas Emily membaca hot news di ponselnya.
Khansa mengalihkan pandangan pada ponsel sahabatnya itu. Kasihan sih melihatnya namun itu masih belum seberapa. “Mereka pantas mendapatkannya.” Khansa berpindah menuju ranjang diikuti Emily.
“Iya, bahkan masih nggak seberapa itu dibanding dengan yang kamu rasakan. Tenang aja, aku selalu ada untukmu.” Emily mencoba menghibur Khansa yang tiba-tiba sedikit murung. Ia merangkul Khansa, menepuk-nepuk bahunya.
Khansa memiringkan kepalanya, “Aku baik-baik aja Emily, dan semua karena bantuanmu. Makasih ya, tidak pernah meninggalkanku dalam situasi dan keadaan apa pun” ucapnya menempelkan kepala pada sang sahabat.
“Sasa, darah memang lebih kental dari pada air. Namun, kamu akan lebih membutuhkan air pada saat transfusi,” celetuk Emily membuat Khansa mengernyit lalu tertawa.
"Nggak nyambung," cetus Khansa di sela tawanya.
Keduanya saling memeluk dengan erat. Emily menyalurkan kekuatan untuknya. Khansa sangat bersyukur karena memiliki Emily dalam hidupnya.
“Oiya, Sa. Kenapa tidak membiarkan Leon menghabisi semua musuh-musuhmu sih? Sekali Leon bertindak pasti langsung dilibas habis, yakin deh!” cetus Emily meregangkan pelukannya menatap wanita cantik bercadar di hadapannya.
“Aku hanya ingin mandiri dan tidak ingin mengandalkan orang lain Emily,” balas Khansa membalas tatapan sahabatnya.
“Tapi kamu nggak bakal kesulitan lagi, Sa. Aku yakin kok Leon pasti dengan senang hati akan membantumu. Dan para cecunguk itu pasti langsung tidak berkutik,” sambung Emily mencoba membujuknya.
Khansa menggeleng, “Tidak Emily, aku tidak mau terlalu bergantung padanya. Aku akan berusaha semampuku untuk melawan mereka. Aku lebih puas menghabisi mereka dengan kedua tanganku sendiri,” kekeh Khansa mengepalkan kedua tangannya ke atas.
“Haiss … dasar keras kepala, padahal udah dikasih enaknya tinggal tunjuk tuh mana dulu yang pengen kamu hancurin, lalu Leon akan membuatnya porak poranda dalam sekejap,” gumam Emily berlebihan.
Khansa tertawa melihat antusias Emily, “Enggak mau ah, nggak seru nanti. Aku maunya mereka merasakan kehancuran perlahan-lahan sampai benar-benar menjadi butiran debu,” tepisnya mengelak usulan Emily. Pandangannya menajam dan misterius.
Emily mengembuskan napas dengan kasar. Ia tidak berhasil membujuk Khansa untuk merubah pemikirannya. Ia tahu, Khansa memang perempuan kuat dan keras kepala. Ia sudah terbiasa menghadapi masalah sendiri sejak kecil.
“Hemm … iya deh iya. By the way, gimana ceritanya kamu bisa selamat dari penculikan itu, Sa?” tanya Emily penasaran.
Bersambung~
Eeeeemmmmm...... no coment tapi harus tinggalin komentar 😂😂 eh gimana sih?
pokoknya I lope you sekebon cabe yang nungguin ... walaupun mahal, aku punya kebon sendiri kok. 🤣🤣
__ADS_1