
Jangan nahan napas gengss.. bahaya 🤣🤣
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kilat cahaya yang memantul dari mata pisau menyilaukan ekor mata Leon. Tepat saat Khansa melompat dan melingkarkan kedua lengan di leher Leon, satu tangan Leon menahan mata pisau yang melayang ke arahnya.
Nyaris sekali mengenai Khansa jika saja gerakannya terlambat satu detik saja. Mata Leon melebar dengan kening mengerut dalam. Pria berhoodie itu terus berusaha menusukkannya dengan kuat. Namun telapak tangan Leon tak kalah kuatnya menahan serangan itu.
Napas Khansa tersengal-sengal. Keringat bercucuran di kening hingga mengalir membasahi wajah cantiknya. Mata indahnya terpejam dengan erat, sama eratnya dengan rengkuhan lengannya di leher Leon.
"Siapa kamu?" ucap Leon dingin dengan tatapan menusuk.
Leon menarik pisau itu hingga membuat sang pemilik turut maju mendekat. Sebuah tendangan dilayangkan tepat di perut pria itu hingga terjatuh ke tanah.
Khansa membuka kelopak matanya. Kedua lengannya mengendur dan berdiri dengan tegap. Kepalanya menoleh ke samping. Pria berhoodie itu lari ketakutan.
"Sial!" umpat Leon menggertakkan giginya. Hampir saja dia mengejar pria itu namun Khansa menahan lengannya.
"Leon? Kamu enggak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Khansa panik menelusuri tubuh Leon. Matanya menelisik, takut jika Leon terluka. "Aaahh! Leon! Darah! Tanganmu berdarah!" Khansa mengibaskan lengan Leon, pisau itu terjatuh di tanah.
Tubuh Khansa gemetar melihat darah segar yang membanjir dari telapak tangan Leon. Buru-buru ia merobek gaun putihnya, meski sedikit kesulitan karena kedua tangannya gemetar hebat. Dadanya terasa berdenyut nyeri.
Dengan telaten Khansa membalut luka di tangan Leon, mengikatnya dengan kuat dan rapi untuk mencegah pendarahan. "Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Khansa masih memegang telapak tangan Leon, ia menengadahkan pandangannya menatap wajah tampan Leon yang mulai memucat.
Yang dikhawatirkan justru hanya tersenyum sedari tadi. Ia senang karena Khansa sangat perhatian padanya. Apalagi saat melihat kepanikan Khansa.
"Aku nggak apa-apa, tenang aja," balas Leon santai mengusap lembut pipi Khansa.
"Nggak apa-apa gimana? Darahmu bisa dipake buat mandi tahu nggak?!" teriak Khansa menatapnya tajam.
"Lebay!" Leon terkekeh geli. "Tapi aku suka! Nggak apa kena tusuk terus asal diperhatiin terus sama kamu," celetuk Leon menjapit dagu Khansa dengan gemas.
"Leon!" serunya menghentakkan kaki. "Bercandamu nggak lucu!" lanjut Khansa memalingkan muka.
Tepat sekali dengan mobil Emily yang berhenti di samping mereka. Emily membuka jendela, "Kalian kenapa? Hah! Itu kenapa tangan Leon? Cepet masuk!" pekik Emily terkejut saat melihat tangan Leon berlumuran darah.
"Enggak apa-apa! Laki-laki mah biasa!" cetus Leon tertawa mengangkat kelima jarinya.
Khansa membuka pintu penumpang dengan cepat. Menuntun Leon masuk diikuti olehnya. Emily segera melajukan mobil berwarna merah itu menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Oh iya, Sa. Ambilin ponselku dong. Aku mau telepon Gerry buat ngambil pisau tadi," ucap Leon menatap Khansa. Mereka duduk bersisian, sedangkan Emily fokus menyetir di depan.
"Di mana?" tanya Khansa.
Mata Leon menunjuk ke bawah, "Itu di saku celana," jawabnya.
Khansa menaikkan sebelah alisnya, bibirnya mengerut, tangannya maju mundur hendak meraih benda pipih itu di saku celana Leon. Ragu bercampur takut.
"Kenapa?" tanya Leon menggodanya.
"Pakai ponselku saja," sergah Khansa meraih miliknya dari tas.
"Aku nggak hapal nomornya. Udah sih, ambilin aja!" paksa Leon.
"Glek!"
Khansa menelan salivanya. Ia melirik Emili yang senyum-senyum sendiri dari tadi. Ia menjadi canggung, dengan hati-hati Khansa memasukkan jemari lentiknya ke dalam saku celana Leon.
"Aw, Sa!" seru Leon mengerjai Khansa.
Gadis itu segera mengangkat kedua tangannya ke atas, sepasang bola matanya melebar. Leon terkekeh geli melihat ekspresi Khansa.
"Sekalian dong, Sa. Pencetin terus taruh di telinga, awww sakit banget," desis Leon mengibaskan tangannya.
Tanpa menjawab, Khansa pun membuka ponsel Leon. Ia mendongak, "Passwordnya?"
"Tanggal lahir kamu," jawab Leon santai.
"Masa?!" Khansa tidak percaya.
Ia pun memasukkan deretan angka sesuai tanggal lahirnya. Dan ternyata benar, bisa terbuka. Khansa menahan senyumnya. Ia mencari nomor kontak asisten Gerry, setelah menekannya, Khansa meletakkan di telinga Leon.
Seketika wajah Leon berubah serius. Tidak ada senyum seperti sebelumnya. "Ger, ambil pisau yang terjatuh di halaman. Amankan dan jangan kamu sentuh langsung. Berikan pada polisi sekalian!" tegas Leon.
"Baik, Tuan!" Tanpa banyak bertanya, Gerry bergegas melakukannya.
Leon menoleh, wajah Khansa begitu dekat dengannya. Embusan napas hangat Leon bahkan terasa hingga kening Khansa. Keduanya terpaku dan saling menyelami dengan tatapan dalam. Di balik telepon, Gerry mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan tuannya yang tidak langsung menutup telepon seperti biasa. Bahkan hanya diam saja.
"Tuan!" panggil Gerry membuat Khansa gelagapan. Saking dekatnya, Khansa bisa mendengar suara Gerry.
__ADS_1
"Sudah," ucap Leon mengangguk.
Khansa lalu mematikan telepon dan meremas ponsel itu kuat-kuat. Wajahnya bersemu merah, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Pandangannya tertuju keluar jendela. Leon hanya mengulum senyum dari bibir pucatnya. Kehilangan cukup banyak darah membuatnya sedikit pusing. Ia menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.
"Baru kali ini gue nemu nyamuk yang nggak nyakitin, malah berguna banget," celetuk Emily di tengah keheningan.
"Apa?" tanya Khansa bingung. Sedangkan Leon masih bertahan dengan posisinya.
"Gue 'kan jadi nyamuk kalian berdua, Sa. Buktinya nggak nyakitin, malah jadi supir. Hahaha," kelakar Emily tertawa terbahak-bahak. Khansa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
"Udah nanti aku kasih hadiah," sambung Leon masih memejamkan mata.
Khansa menoleh, keringat dingin mulai bermunculan di wajah Leon. Tangannya mengulur dan mulai menyekanya dengan perlahan.
"Asyik! Nah gitu dong. Kan jadi semangat." Emily memukul-mukul setirnya sambil tertawa.
"Hemm, aku jodohin sama Hansen!" lanjut Leon merasakan kelembutan tangan Khansa. Membuatnya de javu beberapa tahun yang lalu. Hatinya terasa damai dan nyaman.
"What?! Kenapa jadi ke sana! Ogah!" pekik Emily memicingkan mata.
"Gengsi digedein," cetus Leon meraih jemari lentik Khansa dan mencium telapak juga punggung tangannya. Emily mencebik, namun tak urung membuatnya teringat pria berkaca mata itu. Ada debaran halus yang dia rasakan di dada. Kepalanya menggeleng, mencoba mengelak perasaannya.
Kelopak mata Leon perlahan terbuka, menoleh pada Khansa sambil mengurai senyum, yang semakin membuatnya terlihat tampan. Khansa pun tersenyum merebahkan kepalanya di bahu Leon, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Leon mengecup puncak kepalanya beberapa kali. "Maafin aku, terima kasih. Berkali-kali kamu sudah menyelamatkanku!" gumam Leon menumpukan kepalanya.
Khansa masih belum ingin membahasnya. Karena seketika merusak moodnya saat ini. "Sudahlah, kita bahas lain waktu. Jangan merusak suasana hatiku," ucap Khansa. Leon kembali memberi kecupan pada pucuk kepala Khansa. Sungguh, penyesalan terdalamnya adalah tidak menepati janjinya pada Khansa pada waktu itu untuk kembali menemuinya.
Emily lega melihat Khansa sudah mulai menemukan secercah kebahagiaan. Satu persatu keluarga Isvara sudah ditumpaskan secara perlahan. Tinggal menghitung waktu, semuanya akan hancur tak bersisa. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Membiarkan dua sejoli penumpangnya, menikmati kebersamaan mereka.
Bersambung~
Ciyee yang senyum senyumm....
😒: Dasar Bucin!
__ADS_1
😴 : Iyo iyo karepmu lah.