
Leon semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya terasa sakit mendengar kisah Khansa kala itu. Ia sampai tidak bisa berkata apa-apa. Sekarang ia mengerti, kenapa Khansa selalu menjaga jarak dengannya, kenapa Khansa tidak mudah dia luluhkan begitu saja dan kenapa Khansa tidak mau menyerahkan dirinya dengan mudah.
Sebegitu besar luka yang menggores hatinya. Khansa, hanya menjaga agar luka itu tidak semakin lebar dan dalam. Tugasnya adalah membuat gadis itu percaya bahwa masih ada orang yang tulus mencintainya.
Leon menopangkan kepala di ceruk leher Khansa. Gadis itu merinding seketika, ia mulai merasa tidak nyaman. Tapi Leon sama sekali tak ingin melepaskannya.
"Leon," panggil Khansa pelan. Tak ada jawaban, Khansa menyentuh pinggang pria itu dengan erat, "Leon!" ulangnya lebih keras.
Pria itu menegakkan tubuhnya, matanya memerah. Ia menangkup kedua pipi Khansa. "Mulai saat ini, tidak akan kubiarkan seorang pun bisa menyakitimu. Akan kuledakkan kepalanya saat itu juga jika terjadi!" ujar Leon dengan nada tegas.
Khansa mengerjap lembut, ia lalu terkekeh merasa lucu diperhatikan seperti itu. Karena selama ini dia adalah single fighter. Leon mengernyit heran. "Aku serius, Sasa!" geramnya menatap Khansa dengan tajam.
"Iya, terima kasih Tuan Leon. Tapi sepertinya aku lebih tertarik untuk belajar meledakkan kepala orang deh," jawab Khansa sambil berpikir.
"Nanti aku ajari!" ucap Leon membalikkan tubuh Khansa menghadap Bibi Fida lagi. Wanita tua itu terenyuh melihat kasih sayang Leon yang menurutnya begitu tulus.
"Bibi, setelah itu apa yang terjadi?" tanya Leon merundukkan kepalanya.
Bibi Fida pun kembali bercerita usai perasaannya sudah lebih baik. Setelah kejadian itu, Tuan Ugraha yang merupakan seorang dokter dan pemilik perusahaan farmasi, menawarkan untuk melakukan obat jalan pada Kakek Khansa.
Fauzan percaya begitu saja. Selama bertahun-tahun, kakek dinyatakan koma. Tuan Ugraha menyatakan sanggup untuk melakukan pengobatan di rumah.
"Lalu, apa yang dilakukan mereka pada Bibi?" tanya Khansa lembut.
"Mereka mengasingkan Bibi di tempat yang sangat jauh dari pusat keramaian. Bibi juga nggak tahu, Non." Napas Bibi Fida mulai berat.
Khansa beranjak berdiri, berjalan menuju dispenser dan mengambilkan minum lagi. Leon mengamati setiap gerakan Khansa yang cekatan dan telaten. "Minum lagi, Bi."
Leon segera membangunkan Bibi Fida, sedangkan Khansa menyuapkan minuman itu. Setelah beberapa sesapan, Bibi Fida kembali berbaring.
"Apa Bibi dirawat dengan baik oleh mereka?" tanya Khansa menyendu.
"Kadang sehari sekali, kadang tiga hari sekali baru dikasih makan, Non," adu Bibi Fida tersenyum namun berlinang air mata.
Khansa mencium tangan Bibi Fida, kedua bahunya bergetar karena tangis yang pecah. Leon dengan sigap menjadi sandaran untuk perempuan itu.
Khansa sangat yakin, makanan yang berikan tidak bergizi. Dan keadaan lingkungannya juga tidak sehat, sehingga membuat Bibi Fida mengidap penyakit tersebut.
"Hendra!!" gumam Khansa menggeram dalam hati.
"Bibi, istirahat lagi ya. Biar cepet sembuh," ucap Khansa menusukkan sebuah jarum di keningnya. Tak lama setelahnya, Bibi Fida pun tertidur.
Khansa membenarkan selimut, lalu beralih ke sofa. Ia membanting tubuhnya, menyandarkan punggung dengan mata terpejam. Leon berjalan pelan menghampiri, mendaratkan tubuhnya di sebelah istrinya.
"Kita harus mengusutnya sampai tuntas," ucap Leon merebahkan kepala di bahu Khansa. Lengannya melingkar di perut wanita itu.
Khansa mengangguk, "Aku curiga!" ucapnya menoleh. Jarak wajah mereka sangat dekat. Menimbulkan sensasi yang menggelora dalam dada.
__ADS_1
"Dengan?"
Belum sempat menjawabnya, Khansa mendapatkan sebuah notifikasi pesan di ponselnya. Ia memilih untuk mengambil ponselnya terlebih dahulu.
Jemari lentiknya menggesek layar benda pipih itu. Sempat terkejut, bola matanya beralih menatap Leon. Pria itu mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?" tanya Leon.
"Emily menemukan ini!" ucap Khansa menyodorkan ponselnya ke hadapan Leon.
Leon enggan beranjak, dia sudah berada di posisi wenak. Hanya menggerakkan mata saja untuk menatapnya. Keningnya mengerut dalam, "Ini rumah kamu dijual? Siapa? Masa ayah kamu?" tanya Leon menyentuh ponsel Khansa, memperhatikan lamar-lamat.
"Aku udah nggak punya ayah," elak Khansa.
Mereka lalu saling menatap cukup lama, bibir keduanya menyunggingkan senyum penuh arti. Leon menaikkan kedua alisnya yang dibalas anggukan oleh istrinya.
"Tapi kamu punya aku sekarang!" Leon menimpakan kakinya di atas paha Khansa, mengeratkan pelukannya.
"Leon, berat ihh!" Tubuh Khansa terkunci.
"Biarin, biar nggak kabur-kaburan lagi!" Leon menghujani kecupan di wajah Khansa.
"Iya, iya, nggak kabur lagi. Lepasin dong," seru Khansa menoleh menghindari ciuman Leon.
Pria itu lalu melepaskan Khansa sembari terkekeh. "Tidurlah," ucap Leon merapikan rambut Khansa.
"Kamu juga!" ucap Khansa menatap mata elang pria itu.
Khansa mendelik, 'Duh salah bicara,' jeritnya dalam hati.
"Dengan senang hati Nyonya Sebastian!" Leon merengkuh tubuh Khansa. Gadis itu tersentak dengan debaran jantung luar biasa. Tangannya melingkar di leher Leon dan terus menatap pria itu. Leon merebahkannya di ranjang penunggu pasien, yang berada tak jauh dari ranjang Bibi Fida.
Leon pun segera melepas jas dan sepatunya. Ia juga merebahkan tubuhnya di sebelah Khansa, memeluk erat wanita itu. "Selamat malam, Sayang!" ucap Leon mengecup keningnya sekilas.
Seketika detak jantung Khansa seolah terhenti. Wajahnya memanas saat mendengar kata sayang terucap dari bibir Leon. Hanya seperti itu saja, hatinya serasa dihujani ribuan bunga.
Khansa memiringkan tubuhnya, melempar senyum ketika pandangan keduanya saling beradu. "Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi," ucapnya menangkup sebelah pipi Leon.
Pria itu mengecup telapak tangan Khansa, "Aku yang salah di sini. Tapi, kenapa kamu tidak mengenaliku? Tidak mungkin kamu lupa wajah tampan ini 'kan?" tanya Leon menaik turunkan kedua alisnya.
"Di dunia ini, ada orang yang mirip meski tanpa hubungan darah. Iya aku akui laki-laki yang aku tolong waktu itu memang tampan. Meski banyak luka kecil menggores wajahnya. Tapi pria yang di depanku ini lebih tampan, lebih gagah. Masa iya, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba mengatakan kalau aku adalah penyelamatmu? Iya kalau dugaanku benar, kalau salah?" Khansa tertawa membayangkannya.
"Salahku memang. Tidak mencarimu lagi," ucap Leon sendu, membelai puncak kepala Khansa dan menciumnya sangat lama.
"Udah sih, jangan dibahas terus. Jadi ngingetin sama si Yenny!" cebik Khansa menunduk.
Leon menaikkan dagu Khansa, sebelum tidur dia harus mendapat asupan. Perlahan, ia menyibak cadar Khansa, mempertemukan bibir keduanya, memagutnya lembut. Khansa memejamkan kedua matanya, menerima setiap sapuan bibir Leon. Meski harus berusaha menekan dadanya yang berdebar tak karuan.
"Tidur, sebelum aku khilaf!" ucap Leon melepas pagutannya dan menyatukan kening mereka. Napas keduanya memburu.
__ADS_1
Mendengar suara berat Leon, Khansa buru-buru memejamkan kedua matanya. Leon menarik kepala Khansa dalam dekapannya. Gadis itu bisa mendengar betapa kuatnya debaran jantung sang suami.
Beberapa saat kemudian, napas Khansa sudah kembali teratur. Leon menunduk untuk memastikannya. Khansa sudah tidur dengan pulas meski malam belum larut. Pria itu masih terjaga, memikirkan langkah yang akan dia ambil ke depannya. Selain strategi, dia juga khawatir dengan keselamatan Khansa dan Bibi Fida.
Perlahan Leon melepas lilitan tangan Khansa, dia turun dari ranjang secara perlahan. Mengambil sepatu dan jasnya, meninggalkan kedua wanita itu.
"Selamat malam, Tuan!" ucap dua pengawal yang diutus Leon untuk menjaga ruangan itu.
Leon hanya berdehem. Ia duduk di kursi yang terbuat dari stainless itu mengenakan sepatunya dengan benar. Lalu meraih ponsel untuk menelepon seseorang.
"Selamat malam, Tuan!" sahut Gerry dengan cepat.
"Gimana? Sudah tertangkap?" tanya Leon tanpa basa-basi.
"Sudah Tuan. Di tempat biasa," jawab Gerry segera diangguki oleh Leon.
Ia mematikan sambungan telepon itu, lalu beranjak menatap para pengawalnya. "Perketat penjagaan. Sebagian ikut saya!" tegas Leon.
"Baik, Tuan!"
Langkah Leon tegas diikuti oleh beberapa pengawal di belakangnya. Pancaran matanya yang penuh amarah. Ia segera melesat pergi ke tempat yang dimaksud oleh Gerry.
Bersambung~
Semangat pagee Bebsskii... Yang mau silaturrahmi bisa ke IG sini ya ๐ @sensen_n. Akun lama membuatku insecure. Jadi follow ke sini aja โบ
Lu nggak deg degan ya mati, Dul. Hadeeh piye to?
Mas Le: Sembarangan! Nggak gitu, maksudnya detaknya berpacu makin tinggi.
๐คจ: Kenapa?
Mas Le: Makin cinta Thor.
๐: Ohh makasih...
Mas Le: Sasa Wehh!
๐: Nggak ada orangnya.
Mas Le: Ada tuh lagi siap-siap.
๐ณ: Ngapain?
__ADS_1
Seremm amat ๐ฑ๐ฑ๐โ๐๐