
Leon beralih menggenggam kedua lengan nenek Sebastian. Ia menunduk untuk menyamakan tingginya dengan sang nenek, bibirnya sedikit mengulas senyum sembari menghela napas panjang.
"Leon mau pindah ke luar negeri, Nek," ucapnya pelan memejamkan mata.
"Apa?!" pekik sang nenek. "Kau mau meninggalkan nenek di sini sendirian?" lanjutnya mulai berkaca-kaca.
"Nek, dengerin Leon dulu." Leon membimbing nenek Sebastian untuk duduk di sofa.
Leon langsung merengkuh tubuh renta yang kini mulai menangis. Sebenarnya ia pun tidak tega meninggalkan sang nenek. Namun Leon lebih tidak tega lagi melihat istrinya yang seolah kehilangan separuh jiwanya.
"Nek, coba lihat Sasa. Dia masih terguncang. Bahkan kemarin masih ketakutan waktu naik mobil. Jika dia terus stay di sini, ingatan buruk akan terus berputar di kepalanya. Leon khawatir akan memperburuk psikisnya. Leon berharap, membawanya ke tempat baru dengan suasana baru bisa mengembalikan Sasa yang dulu lagi," ungkap Leon mengusap lengan sang nenek dengan perlahan.
Nenek menatap nanar perempuan yang sudah beberapa bulan menjadi keluarganya itu. Setelah beberapa lama bergelut dengan hatinya, nenek mengangguk setuju. "Baiklah, berikan yang terbaik untuk Khansa. Nenek juga tidak tega melihatnya. Kembalilah jika kalian sudah baik-baik saja. Nenek akan selalu berdoa untuk kalian berdua. Nenek tunggu kabar bahagianya," ujar nenek menatap sayang manik elang Leon.
"Makasih, Nek." Leon memeluk erat wanita baya itu. Nenek pun tersenyum sembari menyeka air matanya.
Leon melepas pelukannya lalu beranjak berdiri, melangkah pada istrinya. Berdiri di belakang wanita itu, dengan tatapan sendu. Kedua lengan kekarnya melingkar di bahu Khansa, menopangkan dagu di atas puncak kepalanya. "Sayang!" panggil Leon lembut.
Khansa hanya diam, tatapannya masih kosong. Sesekali air matanya jatuh di kedua pipi mulusnya. Napasnya berembus sangat berat.
"Aku sudah mendaftarkan kamu untuk kuliah di luar negeri, bulan depan sudah mulai masuk. Bukankah impianmu menjadi seorang dokter?" tutur Leon memiringkan kepala.
Khansa menoleh, matanya yang berair langsung bersirobok dengan manik hitam Leon. Sorot matanya menyuarakan berbagai ungkapan, terkejut sekaligus terharu. Leon mencubit dagu Khansa dengan senyum yang sangat lembut.
"Mungkin sekarang saatnya! Aku yakin suatu saat nanti kamu bisa menjadi dokter yang hebat!" lanjut Leon menunduk lalu mencium pipinya.
Senyum mengembang di bibir Khansa, namun air mata haru menyeruak dan mengalir semakin deras. Ia segera berbalik dan memeluk erat suaminya. "Jika ada ucapan di atas terima kasih, akan aku katakan ribuan kali!" Kalimat terpanjang yang terucap dari bibir Khansa, semenjak mereka pulang dari rumah sakit.
Perempuan itu lalu menatap wajah tampan sang suami, menjatuhkan pandangan pada belahan bibir yang selalu membuatnya berdegub hebat. Leon terperanjat ketika tiba-tiba istrinya mencium bibirnya dan memagutnya lembut. Matanya membelalak, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik hingga membeku dan sulit digerakkan. Beberapa saat kemudian, pagutan itu pun terlepas.
"Sayang!" seru Leon menyentuh kedua lengan Khansa. Dadanya bertalu kuat dengan deru napas kasar, dan tentu saja langsung membuat juniornya bereaksi seketika.
"Mau lagi!" rengek pria itu manja memejamkan matanya. Menahan hasrat yang kian menanjak.
"Isshh!" Khansa menepuk dada Leon. Wajahnya sudah merah seperti tomat.
__ADS_1
Nenek pun tersenyum senang melihat ada secercah binar bahagia dari wajah Khansa. Ia akan mendukung apa pun demi kebahagiaan dua cucunya itu.
"Masih harus libur ya?" tanya Leon menyatukan kening keduanya.
"Hmmm!" Khansa mengangguk pelan.
"Haiihh!" Desahnya kasar mengacak rambutnya. "Nanti sore jam 6 kita berangkat!" ucap Leon menarik pinggang Khansa, hingga tubuh keduanya merapat.
Khansa nampak mengernyitkan keningnya, lengannya mengalung di bahu kokoh sang suami. "Kita?" ulangnya.
"Ya!"
"Kemana?" tanya Khansa penasaran.
"Negeri ginseng. Aku ada beberapa anak perusahaan di sana. Mungkin akan mengembangkannya biar lebih besar lagi. Selama ini yang menjalankannya para bawahan saja, ya walaupun masih aku pantau. Kita buka lembaran baru di sana, raih cita-citamu," ucap Leon yang seketika kembali membuat Khansa berkaca-kaca.
Speechless, tidak bisa lagi berkata-kata. Suaminya selalu tahu apa yang ia inginkan tanpa harus meminta. Support system terbaik dalam hidupnya.
"Leon! Aku mencintaimu!" teriak Khansa memeluk erat pria itu.
Khansa tersentak saat mengingat sesuatu. "Tunggu! Nenek gimana?" Ia meregangkan tubuhnya dari Leon.
"Ini bukan zaman purba, Sayang! Kalau kangen kita bisa video call. Atau pulang sesekali kalau lagi nggak sibuk. Tenang aja, nenek selalu mendukung keputusanku! Apalagi demi cucu kesayangannya ini. Yang sayangnya ngalahin cucu kandungnya!" cetus Leon mencubit hidung Khansa dengan gemas.
"Iya juga. Yaudah, ayo siap-siap!" Khansa hendak melenggang pergi namun lengannya ditahan oleh Leon dan menariknya lagi ke dalam dekapannya.
"Enggak perlu siapin apa-apa. Semua udah tersedia di sana. Kita tinggal berangkat aja!" ucap Leon mencium ceruk leher Khansa.
Khansa menggeliat, tubuhnya merinding seketika. "Iisshh! Leon!" ujarnya mendorong kepala Leon karena kegelian. Leon tertawa melihat ekspresi Khansa yang menggemaskan.
Tak lama kemudian, tiba-tiba Khansa terdiam. Seperti tengah memikirkan sesuatu. Leon duduk di kursi taman dan menarik Khansa untuk duduk di pangkuannya.
"Kenapa?" tanya Leon menggenggam kedua tangan Khansa.
"Sebelum pergi, aku ingin memastikan sesuatu. Anterin aku ke desa ya!" pinta Khansa memohon.
__ADS_1
Leon menaikkan sebelah alisnya. "Ngapain ke sana, Sayang? Aku nggak mau kamu sedih lagi nantinya!" sergah Leon menangkup kedua pipi Khansa.
Perempuan itu memejamkan mata, menghirup oksigen dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Manik indah nan cerah itu kembali terbuka dan tampak menyilaukan. "Tidak! Aku tidak akan sedih lagi. Please Leon, aku nggak akan tenang sebelum mengetahui kebenarannya. Firasatku nggak enak!" mohon Khansa dengan tatapan puppy eyes.
Kalau sudah begitu, Leon pun tak kuasa untuk menolaknya. Ia mendesah kasar sembari memijit pangkal hidungnya. "Baiklah, tapi janji jangan sedih lagi!"
"Siap, Bosku! Kita berangkat sekarang!" Khansa bangkit dari paha Leon dengan bersemangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari yang menjulang tinggi di angkasa, menemani perjalanan Leon dan Khansa kembali ke desa. Kali ini mereka berkendara dengan motor gede yang pernah dipakai sewaktu menyelamatkan asisten Gerry dulu. Khansa masih trauma naik mobil. Leon pun tidak masalah, keduanya sangat menikmati perjalanan panjang itu. Lelah pun terhapus dengan keromantisan keduanya.
Khansa memeluk erat sang suami, dagunya menopang di salah satu bahu kokoh sang suami, sesekali Leon mengusap paha Khansa sambil menoleh untuk berbincang ringan dan bersenda gurau.
Berbeda dengan mobil, mereka pun lebih cepat sampai di tujuan. Khansa meminta untuk kembali mendatangi resort yang pernah ia singgahi sekaligus menjadi tempat paling mencekam dalam hidupnya.
"Kamu yakin?" tanya Leon memastikan setelah menghentikan motornya di lahan parkir.
Kilasan-kilasan kejadian satu minggu lalu masih membekas jelas di kepalanya. Dadanya mulai sesak, dan tubuhnya gemetar. Leon menggenggam tangan Khansa dan menautkan jemari mereka dengan erat. Ia menangkap wajah pucat Khansa dan itu membuatnya sangat khawatir.
"Kita balik aja!" ujar Leon hendak kembali memacu motor gedenya.
"Tu-tunggu!" cegah Khansa. "Kita harus masuk," lanjutnya lalu menjajakkan kedua kaki jenjangnya ke tanah lapang itu dan menguatkan dirinya.
Buru-buru Leon membuka helmnya lalu segera menyusul istrinya yang sudah melangkah masuk. Ia mensejajari langkah kaki Khansa, menggenggam jemari lentiknya dengan erat. Khansa balas menggenggam tak kalah kuat. "Sebenarnya kamu mau ngapain, Sayang?" tanya Leon dengan perasaan membuncah.
Bersambung~
🤗 Yooii, Ngab!!
MasLe; Weeh! Demi apa thor?
😘 Demi mereka yang setia nunggu dan selalu ninggalin jejak hemm... the best support system! love you all berkebon2 😘😘😂 maap gak bales dulu ya. biar fokus dulu...
__ADS_1