
Khansa terpaku, tubuhnya menegang, manik mata bulatnya mengerjap sangat pelan. Bulu mata lentik itu saling bergesekan indah. Ia menelan salivanya gugup. Khansa tidak menduga hal ini akan terjadi.
“Be … benarkah?” Entah kenapa malah kata itu yang keluar dari bibir tipisnya. Ia ingin memastikannya kembali bahwa ia satu-satunya yang disukai Leon.
Mengingat penjelasan asisten Gerry, ia menyimpulkan bahwa saat ini Susan yang memang ganjen. Dan pelajaran tadi sepertinya tidak cukup membuatnya jera.
“Aku bukan orang yang romantis, Sa. Aku tidak bisa merangkai kata yang indah. Tapi aku selalu konsisten dengan apa yang aku katakan. Aku menyukaimu Khansa Isvara, dan hanya kamu yang bisa membuatku seperti ini,” jelas Leon menatapnya dalam.
Tak bisa dipungkiri, kebahagiaan Khansa membuncah di hati. Desiran darah yang mengalir di tubuhnya semakin deras. Rongga dadanya mengembang dan mengempis begitu kuat, seiring dengan debaran jantung yang semakin cepat.
Tangan Khansa mendadak dingin, satu tangannya masih bertahan di dada Leon, bertangkup dengan telapak hangat nan lebar milik pria itu. Khansa merasakan denyut jantung Leon yang sama kuatnya seperti miliknya. Pancaran ketulusan dan kejujuran dari sepasang manik mereka, seolah enggan berpaling. Keduanya saling menyelami rasa yang menelusup di hati keduanya.
“Tapi ….” Khansa masih ragu.
“Kita bisa pergi ke rumah sakit untuk periksa kalau aku masih perjaka jika kamu masih tidak percaya,” sanggah Leon memotong keraguan Khansa.
Khansa menunduk, wajahnya memanas saat ini. Ia tak dapat menyembunyikan senyuman meski di balik cadar. Leon meraih jemari Khansa lalu menciumnya, tanpa mengalihkan padangan dari Khansa. Sentuhan bibir Leon di kulit mulusnya, membuat Khansa seperti tersengat aliran listrik. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat untuk mengalihkan kebahagiaannya.
“Jangan dilihatin terus, aku malu!” seru Khansa dengan nada manja. Ia masih menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Leon melepas ciumannya, menggenggam erat jemari lentik Khansa, menautkannya di sela jari besarnya untuk menyalurkan kehangatan.
“Kenapa harus malu?” Leon membelai rambut Khansa dengan lembut. Telinga Khansa turut memerah. Ah, tubuhnya semakin gemetar. Jantungnya sudah tidak terkendali lagi.
Leon mengangkat dagu Khansa, senyum lebar tersungging di bibir pria itu. “Sa, mulai saat ini kamu mau ‘kan jadi pacar aku?” tanya Leon dengan suara lembut. Tidak ada nada dingin, angkuh dan arogan seperti biasanya. Pendengaran Khansa justru merasa asing namun membuatnya berdebar dan serasa ingin salto.
“Pacar?” Khansa mengulang sembari mengernyitkan dahinya hingga kedua alis saling bertautan.
“Ya, pacaran setelah menikah,” jawab Leon terkekeh. “Aku yakin, kamu pasti belum pernah pacaran ‘kan?” Leon semakin menarik pinggang Khansa, kursi yang didudukinya pun turut bergerak semakin mendekat pada Khansa yang masih duduk di meja.
“Yee … siapa bilang?” elak Khansa. Leon menaikkan sebelah alisnya. “Bener sih, hehe!” lanjutnya terkekeh.
__ADS_1
Leon memutar bola matanya, namun senyum tidak luntur dari bibirnya. Ia mencubit pipi Khansa dengan gemas. Keduanya tertawa bersama saling bersenda gurau. Dinding pertahanan di hati Khansa mulai runtuh karena juga menyukai Leon.
“Jadi? Kamu nerima suamimu jadi pacar kamu nih?” Leon menanyakan hal yang membuat Khansa tertawa terbahak-bahak.
“Mmmm ... suamiku adalah pacarku. Haha!”
Tawa yang menyembur begitu saja, membuat hati Leon menghangat. Ini pertama kalinya Leon melihat Khansa tertawa lepas. Khansa merasa canggung saat sadar ternyata Leon hanya memperhatikannya dalam diam. Seketika tawanya terhenti.
“Apa kamu menyukaiku, Sa?” tanya Leon tiba-tiba.
Khansa menunduk sekaligus perlahan, “Iya, aku menyukaimu. Karenanya aku benci dengan para wanita yang ada di sekitarmu,” akunya dengan wajah bak kepiting rebus.
“Makanya, terus di samping aku biar nggak ada yang berani menggodaku, hilangkan pikiranmu untuk kabur dariku. Karena aku tidak akan pernah membiarkannya,” ucap Leon merapikan anak rambut Khansa.
“Mmm ... tapi, kamu yakin? Aku sangat galak loh dan bisa memukul orang. Kamu nggak takut aku pukul?" ucap Khansa kembali menatap Leon.
“Justru aku sangat menyukai sifat bar bar kamu. Bagiku, itu sangat menggoda di mataku,” ujar Leon.
“Sasa! Sasa!” Leon menggeleng sambil terkekeh melihat Khansa yang menggemaskan baginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Leon beranjak dari duduknya, ia pun merasakan hal yang sama seperti Khansa. Bagai anak muda yang baru merasakan jatuh cinta dan menemukan cinta sejatinya. Langkahnya pelan namun berwibawa, tiba-tiba saat melalui ruang tengah Susan berlari menghampirinya.
“Tuan Leon!” panggil Susan berdiri tepat di depannya.
“Kamu masih di sini?” tanya Leon tanpa mengeluarkan tangan dari sakunya. Tubuh tegap dengan otot yang menambah kesan sexy, sungguh menggoda Susan. Ingin rasanya gadis itu mengambur ke pelukan pria tampan di depannya.
Susan mengeluarkan senyum terbaiknya, ia juga bahkan menaikkan sedikit rok mini yang dikenakan. Berharap mampu memikat pria itu.
“Emm … Tuan Leon, bantu aku untuk memberi pelajaran pada pelayan bercadar tadi. Aku tidak terima diperlakukan seperti itu. Lancang sekali dia!” ucap Susan mengepalkan kedua tangannya saat mengingat bagaimana Khansa menghajarnya dan juga mengancamnya tadi.
__ADS_1
Leon menghela napas panjang, “Susan! Sepertinya kamu yang harus aku beri pelajaran,” tegas Leon dengan suara dingin.
“Loh, kok saya, Tuan? Dia pasti memfitnah saya kan dengan memutar balikkan fakta. Tuan, wanita itu yang salah. Aku tiba-tiba diserang olehnya. Harusnya dia yang dihukum, Tuan. Buka mata Anda!” seru Susan membela diri.
“Hei!” pekik Leon menggelegar di ruangan itu. Susan terlonjak kaget dan terdiam seketika. “Siapa kamu berani memerintahku, hah?” teriak Leon menggeram. Matanya melotot tajam.
“Ma … maafkan saya, Tuan!” Tubuh Susan gemetar ketakutan. Kepalanya tertunduk dalam. Leon memicingkan matanya, “Mulai saat ini aku minta kamu menghilang selamanya dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!” bentak Leon tepat di depan muka Susan.
Susan terperanjat, ia mendongak, “Lho, ta … tapi salah saya apa, Tuan?” tanya wanita itu bingung dengan bibir bergetar. Wajahnya sudah pucat pasi.
“Ingat baik-baik di otakmu. Pelayan yang kau maki-maki itu adalah Nyonya Sebastian, ujar Leon penuh penekanan. “Sikapmu yang keterlaluan mengharuskan kamu untuk angkat kaki malam ini juga!” sembur Leon.
“A … apa?” Seperti disambar petir tepat mengenaj jantungnya. Seluruh tubuh Susan melemas.
“Paman Indra! Usir wanita ini, jangan pernah biarkan muncul di villa ini lagi!” teriak Leon pada kepala pelayan yang memang sudah stanby di sana sejak mendengar teriakan Leon.
“Baik, Tuan Muda!” angguk Paman Indra patuh dan segera menyeret Susan keluar dari rumah itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Leon masuk ke kamar, melepas jas yang dikenakannya lalu menggulung kedua lengan kemeja hingga siku. Ia mendudukkan diri di ranjang king size yang sudah lama dia tinggalkan.
Tak berapa lama, Khansa keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap. Leon memutar kepala tepat pada Khansa yang masih terpaku di depan pintu kamar mandi.
Leon tersenyum lalu menepuk-nepuk bagian samping ranjang yang masih kosong, “Naiklah kemari,” pintanya.
Bersambung~
__ADS_1