
"Hah? Kakak? Adik?" gumam Hansen dengan seruan detak jantung yang menggema dalam tubuhnya. Perlahan ia menyandarakan punggung pada dinding ruangan, tiba-tiba rasa lemas mendadak menyerangnya. Keringat dingin pun mulai bermunculan di wajah tampannya.
Jennifer mendongak, memutar pandangan pada sang kakak. "Ya, mereka kakak beradik, dan kakak tahu? Kak Emily adalah putri dari seorang jenderal," bisik Jennifer sedikit berjinjit.
Satu lengan Hansen menyeka keringat sembari mengatur napasnya, kabar ini sungguh sangat mengejutkan. "Kalau itu Kakak sudah tahu. Bahkan ibunya adalah pengacara hebat dan terkenal saat itu. Tapi kakak baru tahu, bahwa Bara adalah kakaknya. Karena waktu kecelakaan, laki-laki itu tidak ditemukan," desah Hansen masih memperhatikan Emily dan Bara.
Hansen memang sedari awal sudah menelusuri identitas Emily. Alasannya sederhana, di saat akan menikah nanti, ia mau mendapat restu dari semua keluarganya. Sempat terkejut ketika mengetahui identitas orang tua Emily yang sengaja disembunyikan rapat oleh Tuan Frans demi keselamatan dan kenyamanan Emily. Karena di negara ini, mereka tidak ada sanak saudara.
Jennifer menghela napas panjang, "Ceritanya panjang, Kak. Yang pasti mereka adalah saudara. Dan kali ini perjuanganmu mungkin lebih berat. Karena Kak Bara tahu sendiri bagaimana ibu memperlakukan Kak Emily malam itu," bisik gadis itu menepuk-nepuk lengan Hansen.
Hansen terdiam menatap lekat dua saudara yang masih menangis dan berpelukan erat. Kali ini tidak ada alasan ia cemburu pada Bara, lelaki yang merupakan calon kakak iparnya. "Dunia begitu sempit," gumamnya terdengar sangat pelan.
Emily menjauhkan kepalanya, meski masih mengalir air matanya bibirnya tersenyum lebar. Pandangannya saling bertautan erat dengan manik cokelat Bara. Mereka sampai tidak bisa berkata-kata. Lengan kecil Emily memukul dada keras dan bidang sang kakak.
"Hah! Managerku adalah kakakku!" ucapnya serak, lalu menangkup kedua pipi Bara. "Masih nggak percaya. Ini bukan mimpi 'kan, Bar?" serunya menghentakkan kedua kakinya.
"Mulai sekarang panggil aku kakak! Nggak sopan!" ucap Bara mencubit hidung mancung Emily.
"Iya, Kakak! Kakakku yang gemulai," sahut Emily mencebikkan bibir yang langsung ditarik oleh tangan Bara.
"Tidak! Kakak janji akan berubah demi kamu."
Kedua mata sipit Emily membelalak, mulutnya pun sedikit terbuka. "Serius?!" pekik Emily kegirangan.
"Tentu saja. Mana ada kakak yang mau mempermalukan adiknya. Seorang artis terkenal pula. Maaf ya, bantu kakak untuk berubah," ujar Bara dengan tatapan serius.
Tangis haru kini lagi-lagi menyeruak, gadis itu mengangguk dan kembali menghambur ke pelukan Bara. Sudah tidak ada kecanggungan di antara keduanya.
Setelah beberapa lama, Khansa pun menyela. "Sudah ya kangen-kangenannya. Besok dilanjutkan lagi. Bara, ayo kembali ke ruanganmu. Nanti aku benerin itu infusnya," titah Khansa menggenggam infus Bara yang terlepas. "Emily, kamu juga harus istirahat ya. Biar cepet pulih," lanjutnya membantu Emily kembali ke ranjangnya dibantu Bara dan juga Hansen yang dengan sigap melangkah ke sana.
__ADS_1
Masih tampak aura permusuhan dari raut wajah Bara. Namun Hansen mengabaikannya. Emily merasa saat ini tengah dijadikan ratu oleh dia pria.
"Urusan kita belum selesai!" desis Bara menggeram kesal.
"Kak, udah. Istirahatlah! Sana!" pinta Emily dengan suara lembutnya.
Hansen diam saja tak menggubris, dia sadar posisinya yang memang salah. Bara kembali diantar Khansa dan juga Leon. Sedangkan Hansen meminta izin jika malam ini ia yang akan menemani Emily.
"Ma, Pa, tolong izinkan Hansen yang menjaga Emily," mohon pria itu dengan raut wajah sendu.
Monica menatap ke arah Emily, baginya kebahagiaan Emily tetap yang utama. Emily tersenyum dan mengangguk, yang akhirnya mau tidak mau mengabulkan permintaan Hansen.
"Baiklah, Mama dan Papa pulang dulu. Jangan nodai kepercayaan Mama untuk yang kedua kalinya Hansen!" ucapnya dengan tatapan tajam.
"Iya, Ma. Hansen janji," sahutnya tersenyum bahagia karena masih diberi kepercayaan orang tua Emily.
Frans dan Monica segera melenggang pergi. Hansen duduk bersemangat di kursi tunggu di sebelah ranjang Emily. Sedangkan Jennifer duduk di sofa, memperhatikan kedua kakaknya yang selalu dimabuk asmara.
Sementara itu, Hansen masih terjaga. Menyeka sisa-sisa air mata Emily dan sesekali memberi kecupan di keningnya. "Tidurlah."
"Jennifer nggak pulang? Kasihan dia kalau tidur di sini juga," ucap Emily mencari keberadaan gadis muda itu.
"Biarinlah. Dia sangat khawatir sama kamu. Aku bisa sampai di sini juga karena dia," sahut Hansen mengecup punggung tangan Emily.
"Oh ya?"
"Iya, dia sangat menyayangimu. Aku aja sampai dibentak-bentak tadi!"
Emily tertawa kecil, ia senang karena setidaknya ada saudara Hansen yang menerimanya dengan tangan terbuka.
__ADS_1
"Besok kalau boleh pulang sama Khansa, kita langsung ke rumah ya?"
"Enggak dulu deh. Aku masih merasa ...."
"Sakit hati?" tukas Hansen memotong ucapannya.
Emily mengembuskan napas berat. Pandangannya beralih ke langit-langit ruangannya. "Bukan, bukan itu yang lebih dominan. Tapi setiap ucapan ibumu, justru menjadi pelecut semangatku untuk berubah." Jemari lentiknya menyusup di sela jari Hansen, menggenggamnya dengan kuat.
"Berubah jadi apa? Kamu sudah menjadi wanita terbaik yang kupilih. Jadilah diri sendiri, jangan pernah insecure," sanggah Hansen memberinya semangat.
"Kamu tahu, aku sudah mulai mengurangi eksistensi di dunia entertainment. Aku melarang Bara untuk menerima banyak job. Karena aku mau fokus mengurus pernikahan kita. Tapi ternyata, aku berubah pikiran," papar Emily pelan.
DEG!
Jantung Hansen seolah melompat dari sarangnya. Ia tertawa sumbang dengan keputusan sepihak Emily. "Hei! Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Lalu kamu mau memintaku menundanya lagi? Ck! Aku tidak sekuat itu." Hansen menatapnya lekat. Ia beranjak dan membungkukkan tubuh hingga tak berjarak dengan tubuh Emily.
"Han ...," panggil Emily dengan suara bergetar.
"Atau aku harus gunakan cara lain agar kamu mau segera menikah denganku?" bisiknya dengan suara berat di telinga Emily. Lalu bibirnya menyusuri pipi Emily hingga berhenti di bibir tipis perempuan itu, mengecupnya sebentar sambil memejamkan mata.
Emily tersentak, dadanya meledak-ledak di dalam sana. Ia melebarkan kedua mata saat Hansen mulai ******* bibirnya. Mencecap rasa manis dan lembut bibir tersebut. .
Tidak peduli dimana posisinya saat ini. Kedua lengan Hansen menyiku di antara tubuh Emily. Tubuh kekarnya hampir menghimpit perempuan itu. Refleks Emily menekan dada Hansen yang berdetak tak karuan.
Bibir keduanya saling bertautan, Hansen meluapkan emosi mendengar pernyataan gadis itu. Enggan melepas bibir Emily bahkan sampai perempuan itu gelagapan karena kehabisan napas.
Pukulan kecil di dada Hansen, membuat pria itu segera melepas ciumannya. Menyatukan kening keduanya dengan napas saling berkejaran.
"Kita urus pernikahan secepatnya. Aku akan mengurus ibu dan perempuan licik itu. Tidak peduli siapapun kamu, apa pekerjaan kamu yang jelas aku mencintaimu. Dulu, saat ini dan selamanya. Hanya kamu! Jangan pernah mundur apapun rintangannya, kita hadapi bersama!" tegas Hansen lalu mencium kening Emily sangat lama.
__ADS_1
Bersambung~