Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 105. Kemarahan Nenek Sebastian


__ADS_3

Leon mengembuskan napas kasar, lidahnya terus berdecak kesal. Ia hendak kembali masuk ke unit apartemen. Namun sayangnya, pintu tertutup otomatis.


"Haisss sial!" umpat Leon menendang pintu itu dengan napas yang menderu kasar.


Kedua tangannya berkacak pinggang, berkali-kali ia mengembuskan napas kasar untuk membuang rasa kesalnya. Mungkin hari ini adalah hari sial baginya.


Leon merogoh kantong untuk mengambil ponselnya, mengetikkan pesan pada Khansa melalui watsapp.


"Sa! Kamu di mana?"


Menunggu selama beberapa menit tidak ada balasan, bahkan centang dua masih berwarna abu-abu. Leon mengusak rambutnya dengan kasar.


"Sasa, kamu pulang bawa mobil?" tanya Leon lagi. Namun tetap tidak dibaca.


Tak ada pilihan lain, Leon pun memutuskan untuk menelepon sang asisten. Tanpa menunggu lama, Gerry segera menjawab telepon atasannya itu.


"Gerry! Jemput saya sekarang juga di apartemen Puri Garden. Telepon saya jika kamu sudah sampai. Saya ada di lantai 5!" seru Leon sebelum Gerry berucap dan langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


"A ...." Gerry mencebik kesal karena belum sempat menjawab apa pun. Namun meskipun begitu, ia segera berlari keluar untuk menjemput tuan mudanya.


Hanya sekitar lima belas menit Gerry sudah sampai di lokasi. Ia berjalan tergesa menuju lantai 5, di mana Leon berada karena tak mau membuat pria itu menunggu terlalu lama.


Sementara Leon masih menatap ponselnya sedari tadi. Berharap ada tulisan online di bawah kontak nama Khansa. Namun masih sama saja, semua chat yang dikirim sama sekali belum dibaca oleh Khansa.


"Tuan!" seru Gerry dengan napas tersengal. Seketika tatapannya menelisik dari ujung rambut hingga ujung kaki Leon. Pria yang biasanya rapi dan perfect dalam segala hal pagi ini terlihat kacau dan berantakan.


"Lihat apa?!" sentak Leon menatapnya tajam.


Gerry langsung menunduk, "Maaf, Tuan," ucapnya.


"Hemm, antar pulang sekarang!" perintah Leon mendahului langkah Gerry.


"Ee ... Tuan!" panggil Gerry dengan ragu-ragu.


Leon berhenti melangkah, memutar tubuhnya menatap jengah sang asisten. "Apa?" tanyanya dengan ekspresi tak ramah.


"Di mana sepatu, Tuan?" ucap Gerry menatap kedua kaki Leon yang masih berbalut kaos kaki.


Leon menunduk, ia baru sadar belum mengenakan sepatu sejak bangun tadi. Kepalanya mendongak menatap datar pintu apartemen Emily. "Haihhh!" desah Leon berkacak pinggang sembari membuang napasnya kasar dengan kaki menendang udara.


"Kau tidak membawakannya, Ger?" sentak Leon menatap marah pada Gerry.

__ADS_1


Gerry menelan salivanya dengan kasar, "Tuan, Anda tidak memintanya tadi," ujarnya membela diri.


"Kau menyalahkanku?!" bentak Leon semakin garang.


"Maaf, Tuan!" ucap Gerry menunduk menekan kacamata agar tidak melorot. 'Ya Tuhan, kenapa aku selalu salah?' lanjut Gerry dalam hati.


Leon pun melanjutkan langkahnya meski tanpa menggunakan alas kaki. Ditinggal sendirian, terkunci dengan jas dan sepatu yang tertinggal, mobil dibawa pula. Suasana hati Leon semakin carut marut.


Gerry berlari menyusulnya, sebenarnya ia penasaran apa yang terjadi pada tuannya. Namun cepat-cepat diurungkan, karena yakin 1000℅ ia akan menjadi sasaran amukan Leon.


"Tuan, tunggu di sini saja. Saya akan membawa mobilnya ke sini," ucap Gerry dengan sopan saat mereka sampai di loby.


"Heh! Berani kau menyuruhku!" seru Leon berkacak pinggang dengan sorot mata yang tajam.


Gerry menghentikan langkah seketika. Dadanya berdegub dengan embusan napas tak beraturan. Matanya terpejam erat sambil menepuk bibirnya. Menyesal mengeluarkan suara disaat otak dan hati sang boss sedang memanas.


"Sana buruan!" perintah Leon, membuat Gerry segera berlari.


"Untung boss. Kalau enggak sudah kugadaikan!" gerutu Gerry di tengah larinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nek!" panggil Leon saat menemukan sang nenek menikmati secangkir teh dengan elegan.


Tatapan nenek berubah nyalang dan menyeramkan. Leon terkejut dengan ekspresi sang nenek. Ia memelankan langkah, lalu duduk di sebelah nenek Sebastian.


"Di mana Khansa? Kenapa kamu pulang sendiri?" tanya nenek dengan nada dingin. Padahal tahu luka-luka di wajah Leon, namun dia mengabaikannya. Lebih memilih untuk menanyakan Khansa.


"Leon, tidak tahu, Nek. Leon pikir Khansa pulang ke sini. Soalnya ...."


"Berani kamu pulang tanpa Khansa, Leon?!" bentak nenek dengan suara lantang. Kedua mata rentanya menyalang merah. Sebuah tatapan yang tidak pernah Leon lihat sebelumnya.


Leon bergidik melihat neneknya seperti itu. Degub jantung Leon mulai berdenyut kencang. Refleks ia menyentuh tengkuknya. Leon mengembuskan napas berat yang terasa sesak di dada.


"Kamu sadar nggak apa kesalahanmu sampai Khansa tidak mau pulang, hah?" berang nenek menunjuk muka Leon.


Leon bergeming, ia menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling meremas di atas paha. "Maaf, Nek," gumam Leon dengan suara pelan tanpa berani menatap sang nenek.


"Minta maaf sama Khansa, istrimu. Bukan sama nenek! Siapa wanita yang kamu kasih uang milyaran itu?" cecar nenek menegakkan punggungnya masih menatapnya dengan tajam.


"Siapa Leon?!" tanya nenek dengan suara lantang, urat-uratnya sampai menonjol di permukaan kulitnya. Semua pelayan mengambur dan melihat dari kejauhan, tidak berani mendekat.

__ADS_1


Leon tidak bisa menjelaskannya. Ia sangat menjunjung tinggi privasinya, walau keluarganya sendiri yang bertanya.


"Kamu telah menyakiti hati Khansa. Nenek kecewa sama kamu, Leon!" teriak nenek melembar sebuah dokumen yang tadi ada di meja.


"Maaf, Nek. Tapi Leon sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengan wanita itu. Hanya sebatas berbalas budi," aku Leon tanpa menjelaskan secara detail.


"Membalas budi dengan mengorbankan perasaan istrimu? Di mana hati nuranimu, Leon?!" bentak nenek mendorong dada Leon lalu memukuli lengan Leon dengan tangan rentanya.


Pria itu pasrah sama sekali tidak melawan. Hanya diam dan menunduk. Dia tidak pernah menyangka bahwa ini akan menjadi trending topik yang menggiring opini publik yang bukan-bukan mengenai hubungannya dengan Yenny.


"Kamu jahat! Kamu menyakiti perempuan selembut Khansa. Nenek tidak terima. Nenek adalah orang pertama yang akan membunuhmu kalau sampai Khansa tidak mau pulang ke Villa ini lagi!" ancam nenek dengan ekspresi serius.


Leon mendongak, dia bisa melihat betapa merahnya muka sang nenek saat mengatakannya. Merah karena menahan amarah yang tertahan sejak semalam.


"Leon janji akan membawanya pulang, Nek," ucap Leon dengan pelan.


"Nenek tidak butuh janji. Nenek mau bukti. Dan sekarang dimulai dengan kamu menanda tangani berkas-berkas ini! Nenek tidak mau kamu melakukan kesalahan seperti ini lagi!" tegas sang nenek meraih sebuah stopmap tadi lalu melempar tepat di dada Leon dengan kasar.


Bagai tersangka yang tengah menghadapi sidang. Leon terhakimi oleh neneknya sendiri. Perlahan dia mengambil berkas-berkas itu dan membukanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di sebuah jalan raya yang lebar, Emily menyetir mobil mewah milik Leon dengan Khansa duduk di sampingnya. Atapnya terbuka, sehingga embusan angin yang sejuk menerpa tubuh keduanya. Rambut mereka melambai mengikuti gerakan angin.


"Yuhuuu! Bestie gue sultan!" teriak Emily mengangkat satu lengannya ke atas. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti alunan musik DJ yang menggema.


"Emily! Jangan teriak-teriak!" seru Khansa menutup mulut Emily dengan telapak tangannya, matanya mendelik karena sedari tadi Emily terus berteriak mengundang perhatian pengguna jalan lainnya.


"Peace! Hehe." Emily hanya menyengir sembari menaikkan kedua tangannya membentuk huruf V. Khansa menggeleng dengan senyum tertahan melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia menurunkan lengannya lalu kembali fokus ke depan.


"Kita belanja dulu ya, beli bahan makanan menuhin kulkas," ucap Emily diangguki oleh Khansa.


"Oke!" sahut Khansa singkat.


Saat menginjakkan kaki mereka di salah satu mall terbesar di Palembang, mereka melihat Yenny dan Jihan yang juga tengah berbelanja di sana. Emily sudah bersemangat ingin menghajar mereka berdua.


Bersambung~



😒 ; what the? Lu sendiri yang cari gara-gara bambang!

__ADS_1


__ADS_2