
Khansa segera menahan tangan Leon, “Leon!” Gadis itu membulatkan kedua matanya. Dadanya berdegub hebat.
“Aku sedang datang bulan,” ucap Khansa mengingatkan.
Leon mengusak rambutnya dengan kasar. Ia turun bangkit dari tidurnya. “Hah! Sudah tahu sedang datang bulan kenapa kamu menggodaku?” dengkus Leon kesal.
“Ssshhh!” Tiba-tiba Khansa meringis, sambil memegangi perutnya. Ia selalu merasa kesakitan setiap datang bulan. Sedari tadi, ia mampu menahannya. Namun kali ini semakin terasa.
Mendengar rintihan istrinya, Leon kembali mendekat. Wajahnya penuh kekhawatiran, “Kamu kenapa, Sa? Mana yang sakit?” tanya Leon panik. Ia menyentuh permukaan perut Khansa, mengusapnya dengan sangat lembut.
Khansa tersenyum, tampak dari kedua matanya yang menyipit. Entah kenapa rasanya terharu diperhatikan seperti itu. “Aku nggak apa-apa. Biasanya kalau baru datang bulan memang sering seperti ini. Apalagi tiap hari pertama dan kedua,” jelas Khansa.
Leon terus mengusap perut ramping Khansa. Sesekali tangan mereka saling bertumbukan.
“Ayo kita ke rumah sakit. Aku nggak mau kamu kenapa-napa,” ucap Leon memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu lengannya. Karena tangan yang lain masih sibuk di perut Khansa.
“Tidak!” tolak Khansa tegas. “Ini tidak apa-apa. Percayalah. Nanti aku bikin minuman herbal aja buat redain nyerinya,” jelasnya.
Leon mengangguk, ia tahu ini hal yang mudah bagi Khansa. Khansa menggenggam jemari Leon, menumpukan tangannya kecilnya dan merematnya perlahan. Pandangan Leon kembali mengarah pada Khansa.
“Aku boleh minta tolong?” ucap Khansa sedikit ragu.
“Katakanlah,” balas Leon.
Khansa menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Tolong belikan pembalut. Aku lupa nggak bawa stok di tas,” ujar Khansa memohon.
“Apa? Enggak!” tolak Leon dengan tegas.
“Ayolah Leon, aku malu kalau keluar sekarang. Di celanamu saja ada nodanya. Celanaku juga pasti ada. Perutku juga sakit, tolong ….” rengek Khansa menggoyangkan tangan Leon.
Melihat Khansa yang memohon seperti itu, ditambah Khansa yang sesekali meringis kesakitan akhirnya memutuskan untuk membelikannya.
“Baiklah, tunggu sebentar.” Leon mendesah dan turun dari ranjang mengambil hoodie di lemari.
Leon meraih kunci mobil, handphone dan dompetnya. Meski langkahnya terasa berat, ia tetap memaksa kedua kakinya bergerak. Saat menyentuh handel pintu, Khansa berseru, “Leon, terima kasih banyak. Aku udah kirim gambarnya ke ponselmu. Fighting!” Khansa mengepalkan tangannya ke atas.
Hanya hembusan napas berat sebagai jawaban Leon sambil mengangguk lemah lalu menutup pintu. Khansa tidak menyangka Leon mau melakukannya.
Seumur hidupnya, selama 27 tahun ini pertama kalinya Leon mencari benda keramat wanita itu.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Leon melaju dengan kecepatan rata-rata, karena ia harus mencari minimarket terdekat. Tak sampai 15 menit, ia memarkirkan mobil sport nya itu di pelataran minimarket.
Baru turun dari mobil, pria itu sudah memikat banyak mata para wanita. Di sekelilingnya saling berbisik dan menatap kagum ketampanan pria itu.
“Selamat datang, selamat berbelanja!” sapa pramuniaga yang sedang berjaga sembari membukakan pintu. Leon hanya sedikit mengangguk lalu mengambil keranjang belanja.
Para gadis yang tak sengaja berpapasan dengan Leon pasti menghentikan aktivitas belanjanya hanya untuk menatap Leon. Bahkan ada yang pura-pura mengekor di belakangnya. Tapi pria itu tak acuh. Terus melangkah melewati setiap lorong untuk menemukan rak khusus kebutuhan wanita.
Dua kali berbelok, akhirnya dia menemukannya. Kepalanya mendadak gatal, tangannya menggaruk dengan kasar. Banyak sekali merk dan jenis pembalut.
“Eh, ya ampun. Cakep gitu mau beliin pembalut! Cowokku aja udah jelek, miskin, nggak mau beliin,” gumam wanita yang mengikutinya tadi bersama temannya.
“Aah gila sih, ini mah langka. Mana keliatannya tajir pula. Mau juga dong punya laki kek gitu satu aja,” sahut teman satunya.
Leon tampak kebingungan, dua wanita itu pun bergegas menghampiri untuk menawarkan bantuan.
“Mas! Cari pembalut ya? Mau beliin mamanya atau adeknya? Nanya gih sama aku. Aku tahu kualitas dan jenis yang paling bagus loh. Mas carinya yang gimana?” cetus wanita yang mengikutinya tadi dengan genit.
Leon melirik sekilas, lalu ia teringat jika Khansa sudah mengirimkan gambar di ponselnya.
“Ayo, Mas ngomong aja nggak usah malu. Mau cari yang sayap, daun sirih atau yang ada sensasi dingin dinginnya gitu? Kalau buat adeknya tuh cocoknya yang ini. Nah kalau buat mama pakai yang ini,” ucap wanita satunya sambil menunjuk dua jenis berbeda.
Leon memilih jenis pembalut sesuai gambar yang dikirim Khansa. Ia mengambil lima pack dan memasukkannya ke keranjang belanja. “Ini, buat istri saya,” ucapnya tegas lalu melenggang pergi meninggalkan dua wanita yang tersentak itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Hansen baru tiba dari dinasnya. Ia langsung menghampiri saudaranya di bar 1949. Kini dua tuan muda itu tengah berbincang hangat di sebuah balkon. Mereka memang sering berkumpul atau menginap di sana. Masing-masing tuan muda itu mempunyai kamar presiden suite sendiri-sendiri.
“Silakan, Tuan,” ucap seorang pelayan mengantarkan dua cangkir kopi dan beberapa camilan.
“Terima kasih,” ucap Hansen yang segera menyesap kopinya.
“Han, semalam Kak Leon sama kakak ipar taruhan.” Simon mulai bergosip.
“Taruhan apa?” tanya Hansen meletakkan cangkirnya.
Simon pun menceritakan kronologi kejadiannya. Bagaimana hebatnya Khansa saat berhadapan dengan Leon, juga perlakuan Leon saat melihat Khansa digoda oleh pria-pria kaya lainnya. Tak lupa keromantisan mereka berdua yang dibumbui alay khas Simon.
“Aku yakin Kak Leon udah bucin tuh sama kakak ipar,” ucap Simon setelah selesai dengan ceritanya.
__ADS_1
“Ya baguslah,” sahut Hansen dengan santai.
“Kamu lempeng amat sih, Han. Nggak ekspresif. Aku udah cerita panjang lebar jawabanmu cuma dua kata,” cebik Simon kesal lalu menghisap rokoknya.
“La terus harusnya gimana?” tanya Hansen dengan eskpresi datar.
Saat Simon baru mau berucap, bersamaan dengan kedatangan Leon yang membawa plastik berwarna putih dengan merk minimarket tadi.
“Kak!” sapa Hansen melambaikan tangan sambil tersenyum.
“Han? Kapan pulang?” seru Leon membalas lambaian tangan Hansen.
"Belum lama."
Simon dan Hansen melihat bungkusan yang ditenteng Leon. Sedangkan pria itu jadi salah tingkah menyembunyikan bungkusan tersebut di balik punggung. Tapi terlambat, mereka sudah mengetahuinya.
“Kak, itu pembalut ya?” tanya Hansen menatap saudaranya yang gugup itu.
“Han, bener ‘kan apa yang aku bilang. Kak Leon mah udah cinta mati sama kakak ipar. Bayangin aja seorang Tuan Muda Sebastian bahkan rela membeli pembalut demi istrinya!” goda Simon menepuk bahu Hansen. Dia memang sangat antusias jika menggoda Leon.
Hansen hanya tertawa melihat wajah Leon yang sudah memerah.
“Terusin aja! Terus! Sampai kalian puas!” cetus Leon dengan kesal. Ia segera naik ke atas.
“Yah, ngambek dia, hahaha,” Hansen tertawa.
“Jelaslah, kamu tahu sendiri gengsinya setinggi langit selama ini? Tapi sekarang bisa lihat sendiri ‘kan? Kakak ipar bisa membuat Kak Leon jungkir balik!” Simon berpendapat. Hansen tersenyum sambil menganggukkan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Leon memasuki kamarnya perlahan, ia melongokkan kepala. Keningnya mengerut saat menemukan kamarnya dalam keadaan kosong.
Leon panik seketika. Ia menghempaskan belanjaan tadi di atas ranjang.
“Sa! Kamu di mana!” teriaknya khawatir. Takut terjadi sesuatu padanya. Apalagi tadi perempuan itu sempat mengeluh sakit.
Bersambung~
__ADS_1
Done~ eaaak diabeteess dah.. tapi belum saatnya unboxing. sabar pemisah 😂😂 sesabar mas Le.