Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 149. Benang Merah


__ADS_3

Hansen masih terdiam dalam kebingungannya, tiba-tiba terdengar teriakan Emily juga di seberang. "Barbara! Siapa yang telepon!"


"Aduh, Bara, Baby! Bara! Nggak pake bar di depannya ya. Kebiasaan deh cewek satu ini, minta disentil ginjalnya. Lanjutin aja makannya, bentar lagi take noh!" teriak pria yang menerima telepon tersebut.


Hansen langsung mematikan ponselnya lalu melempar ke kursi sebelahnya. Napasnya menderu kasar, kedua tangannya mencengkeram kuat setir mobilnya. Punggungnya bersandar dengan mata terpejam.


"Sasa bukan?" seru Emily lagi.


"Bukan! Nggak jelas deh dari tadi enggak ada suaranya!"


"Kan ada namanya, Barbara!" sentak Emily kesal meski mulutnya penuh makanan. Dikejar daedline, membuatnya harus kerja keras selama beberapa hari ke depan. Untuk makan saja dia harus terburu-buru.


"Kulkas dua pintu!"


Emily membelalak, ia tersedak seblak mie level sedang itu. "Uhuk! Uhuk! Bar minum!" Emily terbatuk sampai mengeluarkan air mata. Tenggorokannya terasa pedas dan juga panas yang bersamaan.


"Aduh, Baby. Bisa nggak sih kalau makan itu pake perasaan. Jangan asal telen aja." Bara menyodorkan air mineral pada Emily. Gadis itu segera menenggak bahkan sampai habis setengahnya.


"Hah, serius, Bar? Mana lihat!" Emily mengulurkan tangannya. Namun belum sempat menerimanya, ia sudah mendapat panggilan untuk take lagi. "Iissh!" keluhnya segera beranjak menuju lokasi syuting.


Sementara itu Hansen segera menyalakan mesin mobilnya, melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Tak lama kemudian, dia berhenti di basement perusahaan Leon.


Langkahnya tegas dengan ekspresi dingin, ia langsung menuju ruangan Leon yang berada di lantai teratas. Namun tanpa disangka, Leon justru sedang kebingungan di ruangannya.


"Kenapa, Kak?" tanya Hansen menerobos masuk saat melihat pintu yang sedikit terbuka.


"Sasa nggak tahu ke mana. Ditelepon nggak diangkat dari tadi," gerutu Leon mendudukkan tubuhnya dengan kasar.


"Tadi ikut ke sini?" tanya Hansen yang duduk di hadapan Leon. Hanya ada meja kerja yang besar sebagai pembatas.


"Ya. Aku tinggal sebentar pas balik ke sini udah nggak ada!" gumam Leon memberengut kesal.


Hansen menghela napas kasar. Pasalnya ia sendiri pun sedang kesal, tidak tahu apa alasannya. Ia mengetukkan jari-jarinya di meja dengan pandangan kosong.


"Kemana sih ni anak!" Leon membanting ponselnya di meja. Karena segala jenis panggilan sama sekali tidak ada respon dari Khansa. Leon beranjak berdiri, berjalan menuju jendela sambil berkacak pinggang.


Hansen yang tengah larut dalam lamunannya pun terlonjak kaget. Dia memutar bola matanya, menatap saudara sepupunya yang terlihat sangat kesal itu.


"Mungkin dia bosan, Kak. Nanti bentar lagi juga balik," sahut Hansen dengan santai sembari meletakkan beberapa lembar kertas di meja kerja Leon. "Kak, obat-obatan yang ditemukan di kamar Tuan Besar Isvara ternyata illegal. Tidak ada izin edar dari BPOM. Ini produksi perusahaan Ugraha," lanjutnya.


Leon segera memutar tubuhnya, pandangannya berubah serius. Ia segera kembali duduk di kursi kebesarannya dan meraih laporan dari Hansen tersebut.

__ADS_1


"Sebenarnya perpaduan bahan kimia yang dipakai untuk produksi obat tersebut bisa digunakan untuk mencegah pendarahan. Namun, penggunaan dalam dosis besar justru bisa membekukan darah dan menghambat peredaran darah dalam tubuh manusia." Hansen meraih lembaran berikutnya.


"Obat satunya lagi lebih berbahaya. Karena merusak kinerja otak dan sistem syaraf."


Leon mengeratkan rahangnya, giginya bergemeletuk melihat betapa kejamnya keluarga Ugraha. Leon menghela napas panjang dan membuangnya dengan kasar. Kedua tangannya mengepal dengan kuat.


"Keluarga Ugraha memang bajingan!" sembur Leon dengan kilatan tajam di kedua matanya.


"Sebenarnya apa motif mereka melakukannya? Bukankah dulu, dua keluarga itu sangat dekat?" tanya Hansen penasaran.


"Ya, itu dulu. Sebelum tragedi kecelakaan kakek. Hendra adalah pelakunya. Demi menutupi semua kejahatan putranya, Tuan Ugraha melakukan berbagai cara. Menculik Bibi Fida yang saat itu menjadi saksi, memfitnah Khansa hingga ia dibuang ke desa, menghapus jejak CCTV dan mengatakan pada Fauzan bahwa dia bersedia mengobati Kakek tanpa harus dibawa ke rumah sakit," papar Leon mengurai benang kusut yang terjadi.


Hansen mulai mengerti, ia mengangguk sembari membenarkan kacamata beningnya. Kedua alisnya saling bertaut, pria itu menegakkan duduknya, "Jadi, kalau Tuan Ugraha menyembuhkan kakek Khansa maka akan terbongkar pelaku sebenarnya. Dan kalau dia menyatakan kakek sudah meninggal, maka akan disalahkan juga karena sedari awal dia yang menawarkan diri untuk mengobati kakek," timpal Hansen yang langsung mengerti tujuan Tuan Ugraha.


Leon menjentikkan jarinya, "Tepat sekali. Bahkan kemarin aku meminta dokter khusus untuk memeriksa keadaannya. Dan kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?"


Hansen mengedikkan kedua bahunya, "Mana kutahu?"


"Dokter menyatakan bahwa sebenarnya kakek sudah meninggal," ucap Leon lirih memajukan tubuhnya.


"Apa? Bagaimana mungkin? Semua alatnya masih berjalan seperti biasa!" elak Hansen terkejut.


"Masih aku selidiki. Kalau sudah terbongkar semuanya, baru aku kasih tahu Khansa yang sebenarnya," ujar Leon kembali menyandarkan punggungnya.


Suara pintu terbuka tentu saja sangat mengejutkan dua pria yang tengah mengobrol serius itu. Pandangan mereka mengarah pada pintu yang terbuka. Ternyata Khansa yang muncul dari balik pintu.


Tubuh Leon menegang dengan jantung yang berdetak semakin kuat. Matanya saling lirik dengan Hansen. Dia sampai lupa menyapa Khansa saking tegangnya.


"Kenapa kalian liatin aku begitu? Ada yang salah?" tanya Khansa memperhatikan sekujur tubuhnya.


"Ah, eng ... enggak kok!" Leon mendesah lega. Tidak ada respon apa pun dari Khansa. Itu berarti dia sama sekali tidak mendengar percakapan mereka tadi.


Leon beranjak berdiri dan berjalan mendekati istrinya. "Kamu dari mana? Aku telepon dari tadi nggak diangkat!" cebik Leon memegang kedua bahu Khansa.


Khansa menaikkan satu lengannya, menunjukkan satu bungkus plastik yang berisi makanan. "Nih beli makan. Abisnya seharian nggak dikasih makan sih. Ponsel aku 'kan ketinggalan di rumah sakit."


Leon menepuk dahinya, "Maaf, Sayang. Aku sampai lupa ngajak kamu makan dulu tadi," ucap Leon menarik lengan Khansa dan mendudukkannya di sofa.


Hansen hanya menggeleng melihat pasangan itu. Bicara soal makanan, dia jadi teringat dengan Emily. Tidak memberinya makan selama berjam-jam saat di laboratorium miliknya. Ah sungguh ia ingin memutar waktu itu kembali.


"Sepertinya aku harus pulang nih," ucap Hansen membereskan berkas-berkasnya dan memasukkan kembali ke dalam tas kerjanya.

__ADS_1


"Loh, kenapa buru-buru. Ayo kita makan bareng," ajak Khansa mengeluarkan beberala kotak makanan.


"Oh, terima kasih kakak ipar. Tapi, aku buru-buru. Ada urusan di luar," ujar Hansen segera melenggang pergi.


"Pergilah!" Leon mengibaskan tangannya.


Khansa menatap tajam suaminya, "Leon," panggilnya. Leon hanya menyengir memperlihatkan deretan giginya.


"Sini aku suapin." Leon merebut makanan milik Khansa. Meski awalnya Khansa enggan memberikannya bahkan sampai terjadi tarik menarik, hingga akhirnya ia pun mengalah membiarkan Leon melakukan apa pun keinginannya.


Khansa sudah bersiap membuka cadarnya, Leon mengulurkan tangan mendekatkan pada bibir Khansa. Namun saat Khansa sudah membuka mulutnya, Leon iseng menurunkan tangannya. Tanpa sadar Khansa menunduk turut mengikuti gerakan Leon yang semakin turun sampai akhirnya, sebuah kecupan mendarat di kening Khansa.


"Aaaa, Leon! Ngeselin banget deh!" gerutu Khansa menahan senyumnya. Disatu sisi merasa kesal, namun di sisi lain juga berbunga-bunga.


Leon terkekeh melihat istrinya yang selalu menjadi moodboster nya itu. "Maaf, kali ini serius." Kedua bahu Leon bergerak naik turun karena terus tertawa. Dan akhirnya mereka pun makan dalam sendok yang sama. Meskipun dua box nasi yang mereka buka. Leon tidak membiarkan Khansa makan sendiri, karena sesekali ia mengerjai istrinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hansen sampai di bar milik Simon. Ia langsung membersihkan tubuhnya lalu bersantai di balkon dekat kamarnya. Tubuhnya bersandar di kursi sembari menyesap rokok favoritnya. Kedua netranya tak lepas dari layar ponselnya yang menampilkan wajah Emily. Bibirnya tersungging senyum tipis. Sesekali ia menyesap wine yang sudah dituangkan sebelumnya.


"Siapa pria itu? Bahkan memanggil Emily dengan kata Baby," tanyanya saat mengingat suara pria yang terdengar akrab.


Tak terasa, malam semakin larut. Hansen sudah menghabiskan beberapa gelas kecil minuman beralkohol itu. Dia memberanikan diri untuk kembali menelepon Emily.


Wajah pria itu nampak kesal, ia melepas kacamatanya sembari mengusap mukanya dengan kasar. Sudah beberapa kali panggilan namun selalu tidak tersambung. Karena ponsel wanita itu sedang berada dalam panggilan lain.


"Aah sial!" gerutunya kesal meletakkan ponsel dengan kasar di meja lalu menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Berbagai pikiran buruk kian bergelayut di otaknya.


Bersambung~



😳 Lah.. napa gumusnya sama gw, Tong?


Mas Le: Sering2 aja bikin scene gumush buat gw thor... pelajaran buat lu Han. Harus baek2in othor biar dibikin mulus kek jalan tol...



😌 makanya jan terlalu kaku jadi orang, bambang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Updatenya napa ngirit thor?


😐 engg... enggak gitu. kalo lgsg banyak pasti yg dikomen sama like cuma bab terakhir doang. kan nganuu...


__ADS_2