Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab134. Kehancuran Fauzan


__ADS_3

"Bayar gaji kami!"


"Kami sudah menjalankan kewajiban sebagai karyawan. Tapi Anda tidak memenuhi hak kami!"


"Kalau sudah tidak sanggup, tutup saja perusahaannya! Anda sudah memeras tenaga dan otak kami untuk mengabdi!"


Teriakan demi teriakan para karyawan saling bersahutan. Gaji dan beberapa tunjangan sudah tiga bulan tidak dibayar. Mereka menuntut agar segera digaji dan setelahnya bisa segera resign dari perusahaan.


Mereka juga menyegel pintu masuk agar tidak ada aktivitas sama sekali di perusahaan tersebut. Beberapa di antara gerombolan itu ada yang merekamnya secara live yang seketika menjadi trending di mana-mana.


Fauzan sudah berkeringat dingin. Matanya mengeliling melihat emosi ratusan karyawannya yang meledak-ledak. Perlahan ia memundurkan kembali mobilnya. Namun sialnya, di belakangnya sudah ada barisan orang-orang yang membawa alat pukul di tangannya.


"Mau kabur ke mana kamu, hah?!" teriak seorang pemuda memukul kaca belakang Fauzan diikuti yang lainnya.


"Mana tanggung jawab Anda sebagai pimpinan? Cuma meras tenaga dan otak kami, Anda pikir kami kuda!" pekik lainnya yang turut memukul kaca jendela Fauzan.


Fauzan meringkuk menutup kedua telinganya. Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Seketika, semua orang berbondong-bondong mengelilingi mobil Fauzan. Mereka menunjuk-nunjuk, memaki dan meneriaki Fauzan dengan brutal.


Fauzan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jika berani keluar dari mobil, ia akan habis. Kemarahan para karyawan itu membuncah. Kesabarannya sudah habis.


Tak lama kemudian, banyak stasiun televisi yang datang ke lokasi. Mereka menayangkan siaran langsung bagaimana ratusan karyawan perusahaan itu mengamuk.


"Kami juga butuh makan, Tuan Isvara! Kami punya keluarga yang menggantungkan hidup dari gaji kami!" teriak seorang pria paruh baya melempar sebuah batu tepat menembus kaca depan Fauzan.


"Aaarrggh!" pekik Fauzan menyentuh keningnya yang berdarah.


"Setidaknya berikan gaji pokok kami!" lanjut yang lainnya yang juga melempari batu mengarah pada Fauzan.


Fauzan sudah tidak tahu harus berbuat apa. Karena kini, dia tidak punya apa pun yang bisa dia jadikan sebagai jaminan. Pajak, tagihan kartu kredit dan hutang-hutangnya sudah menggunung. Kali ini ia benar-benar hancur berkeping-keping.


Beritanya sudah menyebar ke seluruh penjuru kota dengan sangat cepat. Jane yang sedang berada di sebuah mall melihat siaran langsung tersebut. Matanya membelalak melihat kondisi Fauzan yang penuh luka.

__ADS_1


Tubuhnya tiba-tiba menegang. Buru-buru dia pulang ke apartemen dan membereskan semua barang-barangnya. Ia tidak mau menerima kehancuran Fauzan.


"Sialan! Baru juga ngerasain hidup enak eh malah gulung tikar!" gerutunya memasukkan semua barang pribadinya ke dalam koper. Jane juga membawa barang-barang berharga yang bisa dia jadikan uang.


"Aku harus segera pergi sebelum tua bangka itu pulang! Siapa yang mau sama orang kere!" ucapnya sinis berjalan meninggalkan unit apartemen pemberian Fauzan.


Sementara itu, Khansa dan Leon duduk dengan tenang di dalam mobil yang sudah tertutup atapnya berjarak beberapa meter dari mobil Fauzan. Tatapan mereka sangat tajam, terutama pandangan mata Khansa.


Ada sedikit rasa iba pada pria itu. Namun rasa sakit juga masih bergelayut di benaknya. Yang bahkan sampai seumur hidupnya, ia tidak akan pernah bisa lupa.


"Apa dia bisa mati?" tanya Khansa dengan pandangan lurus ke depan, melihat betapa brutalnya orang-orang menyerang Fauzan.


Leon menoleh, ia dapat melihat kilat amarah dari manik indah Khansa yang berubah nyalang. Tangannya meraih jemari lentik Khansa, "Tentu saja. Kalau kita biarkan dia bisa mati."


"Kalau begitu, bagaimana caranya biar dia nggak mati dulu?" Kini Khansa pun menoleh, meminta pendapat sang suami.


"As your wish, Baby!" Leon meraih ponselnya melakukan sebuah panggilan.


Tubuhnya dibanting ke badan mobil, lalu dipukuli dengan beringas. Wajahnya sudah tak berbentuk, luka lebam dan darah memenuhinya.


Tak berapa lama, seruan sirine memekakkan telinga orang-orang di sana. Semburan gas air mata membubarkan massa. Terutama para awak media yang berlari panik demi menyelamatkan kamera mereka.


Fauzan terkulai lemah di tanah. Ia sudah terkapar tidak berdaya. Polisi pun segera mengamankannya dari amukan massa. Ia juga membawa perwakilan dari karyawan untuk dimintai keterangan.


"Beres! Paling enggak, dia selamat dari maut untuk saat ini," ucap Leon membuka telapak telapak tangannya. Khansa mengangguk, menepuk tangan Leon.


Beberapa karyawan masih stay di sana. Mereka duduk lesehan di tanah. Meratapi nasib yang saat ini harus mereka terima. Kerja rodi, ditambah harus mencari pekerjaan baru. Yang mana tentu saja itu bukanlah hal yang mudah.


"Tapi, sebenernya kasihan juga sama para karyawan itu. Masa udah tiga bulan kerja rodi, bayangkan jika mereka adalah tulang punggung keluarga," tutur Khansa yang justru memikirkan nasib para karyawan itu.


"Sepertinya sudah saatnya Sebastian Grup melebarkan sayapnya di kota ini. Bagaimana Nyonya Sebastian? Apa kau mengizinkan?" tanya Leon menyandarkan punggungnya, masih menatap Khansa.

__ADS_1


"Aku 'kan nggak ngerti soal bisnis, Leon," sanggah Khansa berucap lembut.


Leon mengeratkan genggaman tangannya, "Tinggal bilang iya atau tidak. Serahkan semuanya pada suamimu," ujar Leon jumawa menepuk dadanya.


"Aku lupa kalau suamiku adalah presdir yang hebat," puji Khansa dengan bangga.


"Baru sadar ya? Tapi seluruh administrasi atas nama Nyonya Sebastian saja biar lebih aman. Aku di balik layar saja. Baiklah kalau kamu setuju, itu artinya kamu menyelamatkan ratusan karyawan di sini. Kamu juga menyelamatkan perusahaan ini. Kamu memang hebat, Sayang."


Leon mencium kening Khansa lalu kedua pipinya dengan gemas. Khansa hanya tertawa mendengar ucapan sang suami. Keduanya lalu meninggalkan lokasi setelah polisi berhasil membawa Fauzan beserta beberapa perwakilan demo tadi.


"Huhh gara-gara Fauzan, kita terlambat makan siang," gerutu Leon mengedarkan pandangan untuk mencari lokasi makan siang.


Khansa masih termenung, ia tidak tahu apakah langkahnya tepat atau tidak. Setelah ini banyak sekali yang harus mereka kerjakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah rumah sakit di pinggiran kota, Jihan sibuk mondar mandir di depan ruang ICU. Uang hasil penjualan rumah, emas dan perhiasan ibunya akan dia gunakan untuk menghidupi mereka. Tidak peduli ke depannya nanti, yang terpenting saat ini mereka bisa bertahan hidup.


Jihan menjauh dari kota agar tidak bisa ditemukan oleh siapa pun. Dan dia akan hidup tenang bersama ibunya. Meskipun di pinggiran kota, beruntung Maharani masih bisa ditangani dengan baik. Peralatan medis di rumah sakit itu pun juga cukup memadai.


"Nona Jihan!" panggil seorang dokter yang baru saja selesai menangani Maharani.


Gadis itu bergegas mendekat. Ia takut terjadi sesuatu dengan ibunya. Karena hanya sang ibu saja yang ia punya saat ini. "Bagaimana, Dok?"


Bersambung~



😌Iye, Tong.... iyee... gw taauu...


BTW.. aku lagi di jalan terus kirim nih naskah. maap kalo ada typo2 atau kalimat rancu ya.. tandain aja. nanti malem aku edit.. tenkyouuu beiibskiii😘

__ADS_1


Makasih banyak like komen dan hadiahnya 😍😘 makasih juga yang kasih tips.. masyaAllah... semoga dilancarkan rizkinyaa.. aamiin..


__ADS_2