Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 106. Full Support


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu....


"Engh!" Maharani melenguh meski dengan suara yang sangat lirih.


Yenny yang selalu standby bergegas memeriksa keadaan ibunya. Detak jantung sudah tidak selemah sebelumnya, denyut nadi juga lebih stabil. Namun napasnya pendek-pendek. Yenny lalu memencet tombol emergency dan tak berapa lama, dokter yang menangani ibunya pun datang.


Jihan masih tidur di sofa. Gadis itu sama sekali tidak terganggu dengan keramaian di sekitarnya. Yenny hanya menatapnya jengah. Ingin sekali segera menendang adiknya itu saat ini juga.


Dokter telah selesai memeriksa setelah beberapa saat. Pria berbaju putih itu menyarankan untuk dilakukan rontgen, berdasarkan diagnosisnya ada kebocoran pada paru-parunya. Kekebalan tubuhnya tak mampu menahan infeksi dan bakteri yang menyerangnya.


Tiga puluh menit kemudian, hasil sudah keluar. Dan memang benar sesuai dugaan. Kantung udara milik Maharani sudah terisi cairan dan juga nanah, sehingga siklus peredaran darah dalam tubuh Maharani sangat terganggu.


"Berikan penanganan terbaik untuk ibu saya, berapa pun biayanya," ucap Yenny setelah mendengar penuturan dokter.


"Untuk sementara, tolong dijaga agar ibu Anda tidak mengalami shock atau stress. Karena akan berakibat fatal. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," sahut sang dokter.


Yenny mengangguk dan segera kembali ke ruang rawat Maharani. Wanita itu masih terbaring lemah. Yenny menyentuh jemari ibunya, lalu mendaratkan tubuhnya di samping ranjang.


"Bu, jangan sedih ya. Ayah tidak jadi menceraikan ibu dan sebentar lagi Yenny pasti akan menjadi nyonya salah satu keluarga besar di kota ini," ucap Yenny mengusap punggung tangan ibunya.


"Bagus. Te ... rima kasih, Nak," ucap Maharani dengan napas tersengal.


"Ibu juga jangan khawatir, Jihan akan aku sekolahkan di luar negeri. Biar bisa melanjutkan pendidikan di sana, siapa tahu nanti bisa berpacaran dengan salah satu anak orang kaya," gumam Yenny sambil tertawa.


Maharani sedikit menyunggingkan senyumannya. Matanya berkedip beberapa kali untuk menjawabnya. Rasa sakit dan sesak di dadanya membuat Maharani tidak bisa mengucapkan banyak kata.


"Kalau begitu ibu istirahat lagi ya. Jangan banyak berpikir, berita tentang ibu juga sudah tergeser kok. Yenny mau ngajak Jihan berbelanja untuk persiapan kuliah di luar negeri. Agar bisa secepatnya berangkat," lanjut Yenny yang hanya dibalas kedipan mata lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Khansa dan Emily sudah bangun pagi-pagi sekali. Banyak tugas yang harus mereka kerjakan saat ini.


"Sa, suami kamu gimana?" tanya Emily berhenti melangkah di ruang tamu.


"Gimananya gimana? Biarin, dia bakal pules sampe nanti. Pake mobilnya saja," ucap Khansa merogoh kunci mobil yang sempat ia masukkan ke kantong jas Leon.


"Ide bagus." Emily berbinar lalu menundukkan tubuhnya tak jauh dari Leon, "Pinjem mobilnya bentar ya, Tuan Leon. Biarin kami bahagia," bisik Emily terkekeh.


Dua perempuan itu bergegas ke Villa Anggrek. Emily membuka atap mobil lalu mengenakan kacamata hitam. "Berangkat!" celetuknya melajukan mobil, tak lupa dengan musik rock yang menambah semangat pagi itu. Tubuhnya turut bergerak dengan heboh mengikuti alunan lagu sesekali berteriak turut menyanyi.

__ADS_1


Khansa tersenyum sambil menggelengkan kepala, sohibnya itu memang tidak ada anggun-anggunnya. Khansa memilih menatap kemacetan yang mendominasi di mana-mana. 'Maaf ya, Leon, setelah beres aku kembalikan semuanya,' gumamnya dalam hati sembari berkedip lembut.


Tiga puluh menit berlalu, mereka telah sampai di pelataran villa. Khansa mengajak Emily untuk masuk. Nenek yang kebetulan di teras merasa senang sekali karena Khansa sudah pulang.


"Nek," panggil Khansa mencium punggung tangan sang nenek.


Emily mengikutinya, turut mencium punggung tangan nenek sembari memperkenalkan diri. "Emily, Nek. Sahabatnya Sasa sejak kecil," ucapnya tersenyum lebar.


"Oh, ya ampun nenek sering melihatmu di televisi. Ternyata aslinya lebih cantik. Ayo masuk!" ajak nenek menarik lengan kedua gadis itu.


"Ah, nenek bisa aja," sahut Emily tersipu.


"Ada hal penting yang ingin kami bicarakan sama nenek," ucap Khansa setelah mereka duduk di ruang tengah.


"Bicara saja, Sayang," ucap sang nenek lembut membelai tangan Khansa.


Khansa melihat ke arah Emily, gadis itu memberi isyarat dengan sebuah anggukan. Jemarinya meremas ujung blouse yang saat ini dikenakan. Meski ragu, namun Khansa harus segera melakukannya.


Khansa mengeluarkan sebuah kartu pemberian Leon, "Nek, sudah lama sekali Leon memberikan kartu ini pada Sasa. Sasa ingin meminta izin pada nenek untuk ...." Ia memejamkan kedua mata, tangannya gemetar disertai debaran jantung yang kuat.


Nenek Sebastian menggenggam jemari Khansa, "Katakanlah, Nak."


Nenek menangkap kegetiran dari suara Khansa. Bagaimanapun, nenek sangat menyayangi Khansa.


"Maaf, Nek. Bukan maksud Sasa ingin menguasai harta Leon, Sasa hanya ingin menjaganya agar Leon berpikir dulu sebelum bertindak. Sasa ...."


Tanpa diduga, nenek Sebastian justru menangis memeluk perempuan di sampingnya. Ia merasa bersalah atas apa yang sudah Leon lakukan padanya. Ia pun sudah melihat sendiri bagaimana hebohnya dunia jagat maya tentang issu hubungan Leon dan Yenny. "Maafkan Leon ya, Sa. Dia pasti sudah sangat menyakitimu. Nenek juga tidak rela Leon semaunya sendiri seperti itu."


Emily terharu dengan tanggapan nenek. Khansa pun turut berkaca-kaca membalas pelukan hangat sang nenek. Wanita tua yang sangat tulus menyayanginya, melebihi cucu kandungnya sendiri.


"Khansa juga salah, Nek," sanggah Khansa.


"Tidak, kamu sudah melakukan hal yang benar. Kamu siapkan dokumen pernikahan kalian, nenek akan mengurus pemindahan aset ini dan juga aset suami istri bersama atas nama kamu," ucap nenek membelai kedua pipi Khansa.


"Terima kasih banyak, Nek, Khansa ke kamar dulu," ujar Khansa tersenyum meski kedua matanya memerah karena terharu mendapat dukungan penuh sang nenek.


Khansa pun melenggang pergi ke kamar. Mengambil beberapa helai pakaian ganti juga menyerahkan dokumen pernikahannya pada sang nenek.


Sebelum pergi, Khansa memeluk bantal yang biasa digunakan Leon untuk tidur. Mencium aromanya dalam-dalam, menyimpan dalam memori otak juga hatinya. "Aku harap kamu benar-benar menjaga hatimu seperti yang pernah kamu ucapkan padaku. Maaf, kali ini aku harus lebih tegas."

__ADS_1


"Nek, terima kasih sudah menyayangi Sasa. Kasihan dia, Nek. Sasa sudah menderita sejak kecil. Sekarang sudah saatnya dia mendapat kebahagiaan." Emily menyeka air mata yang sedari tadi berjatuhan.


Nenek menyentuh jemari Emily, "Tentu saja, Khansa sudah seperti cucu nenek sendiri. Nenek bisa melihat ketulusan juga luka yang dalam dari sorot matanya."


Tak berapa lama, Khansa kembali bergabung dengan mereka. Buru-buru Emily menghapus air matanya hingga tanpa jejak.


"Nenek, ini dokumennya. Selebihnya, Sasa serahkan sama nenek. Karena nenek pasti tahu yang terbaik untuk kita semua. Sasa izin beberapa hari menginap di apartemen Emily ya, Nek," pamit Khansa meletakkan dokumen di meja.


"Iya, Sayang. Bersenang-senanglah dulu, tenangkan diri. Leon biar jadi urusan nenek, sabar ya," balas sang nenek.


"Sasa sayang sama nenek," ucap Khansa memeluk tubuh wanita tua itu.


Nenek pun segera menghubungi pengacara keluarga untuk segera memprosesnya. Dua wanita cantik itu baru pergi setelah semua dokumen sudah beres.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini maksudnya apa, Nek?" tanya Leon meneliti lembar demi lembar kertas yang ada di depannya.


"Kamu bisa baca 'kan?" Nenek bertanya balik. "Khansa istri kamu, dia yang lebih berhak menerima hartamu. Bukan orang asing, apalagi kamu tahu sendiri bagaimana hubungan Khansa dengan keluarga itu. Apa kau buta bagaimana perlakuan mereka terhadap Khansa? Nenek saja yang hanya melihatnya merasa sakit hati dan sedih. Apalagi Khansa yang mengalaminya. Nenek selama ini diam karena menghargai semua keputusan Khansa. Dia sungguh perempuan kuat. Tapi kamu justru menambah luka di hatinya, Leon!" Nenek masih merasa kesal.


Leon terdiam sejenak, tanpa berpirkir ulang, Leon menandatangi surat-surat tersebut. Nenek tersenyum melihatnya.


"Sebenarnya Tuan Leon itu cucu kandungnya apa bukan ya?" gumam salah satu pelayan yang melihat semua kejadian di villa tersebut.


"Ssstt ... jangan mulai bergosip, tapi emang bener sih. Jangan-jangan cucu yang tertukar. Lihat aja nyonya besar justru lebih membela nyonya muda," timpal yang lainnya.


"Lanjutkan bekerja!" seru Paman Indra membuat mereka kalang kabut.


Bersambung~



🤦‍♀️; Emang lu maunya gitu?


Enggak bisa! Lu bahagia kalo udah tamat. 😋


200 komentar lagii... up selanjutnya 😄😄 ini udah 1.200 kata jan bilang pendek tolong 😩


Btw makasih ya yg suka kasih gift. moodbooster sih... sereceh itu 😅 Dan yg sering kasih tips/hati semoga lancar rizkinya. amiin 🤲

__ADS_1


__ADS_2