
Lima bulan kemudian....
"Sayang, udah! Tidurlah, kamu pasti lelah," ucap Khansa pada Leon yang tengah memijit betis hingga telapak kakinya.
Di usia kehamilan memasuki trimester ketiga, kedua kaki Khansa membengkak. Setiap hari Leon selalu membantunya untuk merendam kaki Khansa dengan air hangat. Tak hanya itu, dengan telaten pria itu selalu memijitnya lembut sepulang dari bekerja.
"Nggak apa-apa, tidurlah, Sayang," balas Leon tersenyum.
Khansa mulai kesulitan bergerak, ia mudah sekali lelah. Ditambah sudah mulai tidak bisa tidur. Hatinya terus gelisah dan tidak bisa menemukan posisi yang nyaman.
Wanita itu merasa terharu sekaligus tidak enak karena akhir-akhir ini selalu mereporkan suaminya, di tengah kesibukan sang suami sepulang dari bekerja. Leon sering lembur karena harus menyiapkan diri ketika anak-anaknya lahir nanti. Dari jadwal dokter seharusnya 2 minggu lagi.
"Nggak bisa tidur," keluh Khansa merasakan sesak di dadanya.
Semakin besar kandungannya, dadanya seolah terasa terhimpit. Ia sering kali merasa seolah kekurangan oksigen. Khansa juga sering merasa panas, padahal Leon sampai menggigil karena AC disetting dengan suhu sangat rendah.
Leon segera merangkak naik, ia merebahkan tubuhnya di hadapan Khansa yang kini miring ke arahnya. "Mana yang sakit?" tanyanya mengusap lembut pipi Khansa.
"Pinggangnya pegel banget, punggung panas, dada juga sesak," ucapnya menarik kaos Leon lalu menyusupkan kepalanya manja di dada bidang sang suami.
"Sabar ya, Sayang," ucap Leon lembut mencium kening istrinya.
Lengan kekar pria itu segera melingkari pinggang Khansa, bergerak naik turun berharap bisa meredakan rasa sakitnya. Ia sungguh tidak tega melihatnya.
"Huum, demi twins!" tutur Khansa lembut.
__ADS_1
Sudah 3 bulan Khansa tidak pernah ke rumah sakit. Leon memaksanya untuk mengurangi aktivitas. Di rumah, waktunya dihabiskan untuk memasak, mengurus tanaman bersama nenek agar tidak bosan, dan belajar banyak hal mengenai parenting juga kehamilan.
Leon beralih ke perut buncit istrinya, tampak sekali gerakan yang bergelombang dari perut Khansa. Leon terkekeh melihatnya. Lalu menyentuh dengan lembut. "Sayang, mereka lagi berantem kayaknya!" ucapnya tertawa.
Khansa juga turut tertawa mendengar celetukan Leon. Suaminya itu selalu berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Hai twins, jangan ribut di dalam sana. Kasihan nanti mommy kesakitan." Leon menciumi perut Khansa. "Istirahat ya anak-anak, biar mommy juga istirahat," lanjutnya membelai lembut permukaan perut Khansa.
Setelah lebih tenang, Leon kembali mensejajarkan kepalanya dengan Khansa. Mengusap lembut wajah cantik yang sudah mulai pucat.
"Sekarang tidur ya," ucap Leon pelan.
Khansa mengangguk, "Terima kasih, Sayang," ucap Khansa mencari kenyamanan di dada sang suami.
Satu minggu kemudian, Khansa sedari pagi tidak keluar dari kamar. Kedua kakinya terasa kaku dan setiap gerakannya membuat perutnya terasa nyeri.
Namun, satu hal yang membuatnya sedikit panik. Sejak semalam, Khansa merasakan cairan keluar dari pangkal pahanya. Tidak berwarna, juga tidak ada bau apa pun. Hanya cairan bening seperti air.
"Sasa!" panggil nenek sembari mengetuk pintu.
"Ssshhh! Iya, Nek, masuk saja," sahutnya beranjak bangun. Ia merasa tidak nyaman.
Pintu segera dibuka, nenek merasa khawatir karena cucunya sama sekali tidak keluar rumah sedari tadi. Tidak seperti biasanya, setiap pagi jalan-jalan tanpa alas kaki di taman bunga belakang.
"Kamu baik-baik saja? Nenek khawatir sama kamu," tanya wanita tua itu segera melangkah ke ranjang cucunya.
__ADS_1
Nenek terkejut ketika melihat wajah Khansa yang sangat pucat. Apalagi kini keringat mengguyur wajah pucat itu. Nenek menangkupnya, menyeka keringat Khansa.
"Astaga, Sayang! Apa yang terjadi?" tanya nenek.
"Nek, sepertinya ketuban aku rembes. Tolong antar Sasa ke rumah sakit, Nek. Sasa ingin keluar tapi tidak kuat, tubuh Sasa sangat lemas setelah sarapan tadi," paparnya dengan suara lirih.
"Ya Tuhan! Leon! Indra! Indra! Leon!" teriak nenek dengan panik berbalik keluar kamar.
"Nyonya!" Paman Indra bergegas mendekat.
"Siapkan mobil ke rumah sakit! Telepon Leon agar segera menyusul segera! Cepat Indra!" pekik nenek membuat kepala asisten rumah tangga itu berlari keluar.
Khansa mengatur napasnya, ia dibantu bibi untuk bangun. Ada yang membawakan koper, yang sudah disiapkan Khansa jauh-jauh hari. Nenek kembali lagi, ia sangat khawatir dengan cucu menantunya itu.
"Kamu sudah telepon Leon?" tanya nenek pada bibi yang membantu Khansa berjalan.
"Sudah Nyonya, beliau langsung meninggalkn meeting dan menuju rumah sakit," sahutnya sopan.
Khansa tak banyak bicara, ia tegang karena tidak merasakan apa pun dari perutnya. Pikirannya ke mana-mana. Takut terjadi sesuatu dengan bayinya. Bahkan teriakan-teriakan nenek seolah tak terdengar di telinganya. Dadanya berdegub tidak karuan.
"Cepat Indra! Jangan sampai cucuku kenapa-napa!" teriak nenek setelah mereka duduk di kursi penumpang.
Disaat seperti ini, biasanya Khansa yang berperan untuk menenangkan semua orang. Namun ia sendiri sedang berperang dengan pikiran dan hatinya.
Bersambung~
__ADS_1