
"Kakak!"
Bersamaan dengan itu, pintu terbuka dengan kasar. Dari sana muncul dua orang pria yang melebarkan matanya melihat ruangan Tiger yang porak poranda. Mereka semakin tercengang saat melihat Leon dan Tiger yang sudah berlumuran darah.
Simon dan Hansen segera melakukan perjalanan kilat setelah mendapat informasi dari Gerry mengenai Leon yang ingin menemui Tiger. Mereka tahu seluk beluk hubungan kakak beradik itu.
Oleh karena itu, Simon juga Hansen bergegas meninggalkan semua pekerjaan dan segera menyusul Leon. Mereka tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada Leon. Karena sedari dulu, dia selalu diam tidak pernah bergerak untuk melawan serangan sang kakak.
"Kak Leon!" seru Hansen panik menghampiri Leon yang sedang memegang kepalanya. Darah kental mulai mengalir melalui sela-sela jarinya.
Hansen segera memapah tubuh Leon, membawanya keluar dari sana. Sedangkan Simon menajamkan tatapannya pada Tiger. Ia mencekik saudara sepupunya itu. "Kamu gila, Tiger! Benar-benar gila! Sekali lagi kamu sakiti Kak Leon, kami tidak akan tinggal diam!" gertak Simon menghempaskan tubuh Tiger hingga terhuyung ke belakang. Tenaganya sudah terkuras habis usai pertempurannya dengan Leon.
"Jangan ikut campur anak ingusan!" dengus Tiger kembali menegakkan tubuhnya dengan mata menyalang.
Tanpa membalas ucapan, Simon melangkah geram lalu memberi satu pukulan telak pada tulang pipi Tiger. "Itu peringatan! Ketika kamu menyakiti Kak Leon, berarti kamu juga menyakiti aku dan Hansen! Sampai di sini paham, pria psychopath?" sindir Simon menekankan kalimatnya.
Simon meninggalkan Tiger yang masih dirundung emosi. Dadanya naik turun dengan cepat. Kakinya menendang guci besar yang berdiri gagah di sebelahnya. Benda keramik itu pun hancur berkeping-keping.
"Aarghh!! Leon, Leon, Leon terus! Semua orang di dunia ini selalu berpihak pada Leon." teriaknya frustasi melihat kedua sepupunya itu selalu berada di pihak Leon. Tubuhnya serasa panas terbakar amarah.
Sementara itu, di lantai utama, Mario dan Gerry membereskan 4 pengawal yang berjaga di sana. Sedangkan di luar, nampak pengawal Leon bertarung sengit dengan bawahan Tiger. Suasana sangat kacau dan berantakan. Semua musuh bisa dipukul mundur oleh orang-orang Leon.
"Gerry! Mario!" pekik Hansen masih memapah Leon.
Dua bawahan Leon segera berbalik, mencari sumber suara. Bola mata mereka melebar seketika saat melihat Leon bersimbah darah. Dengan sigap Gerry segera berlari membantu Hansen membawa tuannya itu. Sementara Mario berlari keluar menyiapkan mobil, berhenti di depan pintu masuk.
Leon didudukkan di kursi penumpang, disusul oleh Hansen dan Gerry. Simon pun segera menyusul, duduk di samping Mario.
"Kalian kok bisa sampai di sini?" tanya Leon dengan suara pelan.
Mario mengulurkan sebuah handuk berwarna putih yang segera disambut Hansen untuk menekan pendarahan Leon. Leon mengatur napas sembari menyandarkan punggungnya. Kepalanya menengadah ke atas.
"Gerry yang memberi tahu. Kami segera meluncur. Kenapa Kakak ceroboh sekali!" ujar Hansen menatap Leon yang mulai memejamkan mata. Pandangannya sedikit meremang.
"Mmm ... aku hanya ingin menyelesaikannya baik-baik. Aku tidak mau Khansa menjadi bulan-bulanan Tiger. Apalagi sekarang dia sedang mengandung," aku Leon tanpa membuka matanya. Rasa nyeri di kepala semakin menderanya.
__ADS_1
Sontak, Hansen dan Simon menoleh pada Leon. Kedua mata mereka membelalak lebar, lalu mereka berdua saling pandang. "Khansa hamil?" ulang Hansen terkejut.
"Ya!" Leon sedikit mengangangguk.
Keterkejutan seketika berubah menjadi kebahagiaan pada dua tuan muda itu. Apalagi Simon yang nampak antusias sekali usai mendengarnya.
"Woylah! Gua mau jadi uncle!" teriak Simon menepuk bahu Mario yang sedang fokus menyetir.
"Tapi kenapa Kakak ceroboh seperti ini? Tiger tidak akan pernah bisa diajak damai," sambung Hansen menatap khawatir.
Leon menghela napas panjang, "Dia mengincar Khansa. Aku tidak bisa berdiam diri terus."
Mario memeperhatikan GPS yang tersambung dengan ipad Gerry. Mobil segera melesat bermaksud pergi ke rumah sakit terdekat.
"Tuan, maaf. Rumah sakit cukup jauh dari sini." Gerry menyela sembari mengamati ipad di tangannya.
"Tidak perlu! Aku harus segera kembali. Khansa lagi ngapain, Ger? Masih tidur 'kan?" gumam Leon mengerjapkan mata.
"Mohon maaf, Tuan. Tapi Anda tidak mengizinkan saya untuk meretas semua ruangan pribadi Anda dan nyonya," terang Gerry menunduk.
Leon mendesah pelan, tubuhnya mulai melemah. Napasnya pun berembus dengan pendek-pendek. Ia baru teringat, bahwa tidak ada yang boleh mengusik ruang pribadinya.
"Tapi, Kak ...."
Leon mengangkat satu tangannya, hingga menghentikan ucapan Hansen. Pria tampan berkacamata itu pun kembali mengatupkan bibirnya.
"Aku tahu apa yang terbaik untukku! Tidak mungkin aku meninggalkan Khansa terlalu lama. Tenanglah, aku baik-baik saja. Kalian menginaplah dulu di sini."
Setiap kalimat yang keluar dari bibir Leon, seperti perintah bagi mereka semua. Tidak ada yang berani untuk menyanggah ataupun mengelak pernyataannya.
"Lepaskan tanganmu, Hansen!" titah Leon melirik pada saudara sepupunya itu.
Sejenak mereka saling beradu tatap, ada keraguan yang terlihat dari raut wajah Hansen. Namun, keyakinan yang berpendar dari sorot mata Leon membuatnya menurut. Perlahan Hansen menurunkan lengannya beserta handuk kecil yang sedari tadi menempel di kepala Leon. Warnanya sudah berubah menjadi merah tua.
Benar saja, aliran darahnya sudah tidak begitu deras. Gerry menelisik luka tersebut. Satu hal yang membuat Gerry begitu khawatir. Sejak kecelakaan lima tahun lalu, dokter mengatakan agar kepala Leon tidak terluka kembali. Untung saja, lukanya tidak pada tempat yang sama.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekujur tubuh Khansa menegang dalam tidurnya. Kedua tangan kecilnya mengepal dengan kuat. Ia terus menggerakkan kepala ke kiri dan kanan, matanya masih memejam dengan rapat. Detak jantungnya begitu berantakan, piyama yang dikenakannya bahkan basah karena keringat.
"Tidak! Stop! Jangan!"
Tanpa sadar, Khansa terus meracau berulang-ulang. Ia bahkan menangis dalam tidurnya. Tangannya beralih mencengkeram bed cover di bawahnya. "Leooonn!!" teriak Khansa membuka mata dengan cepat.
"Hah! Hah!" Khansa terjingkat sembari menekan dadanya. Ia menunduk sejenak untuk mengatur napasnya yang terasa hampir putus. Dadanya pun nyeri tak tertahankan. Wajah cantik itu berubah pucat pasi dalam gelapnya malam.
"Leon!" panggil Khansa dengan suara bergetar.
Pandangannya mengedar, lengannya mengulur meraba tempat tidur di sampingnya. Terasa dingin, pertanda tempat itu sudah lama ditinggalkan.
Khansa menaikkan kedua lututnya. Tangannya beralih menyibak rambut panjangnya yang tergerai. Ia berusaha untuk berpikiran positif sembari menetralkan detak jantungnya.
Tapi tidak bisa, hatinya semakin bergejolak seperti ada sesuatu yang menekan batinnya. Sesak sekali, napasnya masih tersengal-sengal dan debaran jantungnya semakin kasar.
"Leon!" panggil Khansa lagi yang suaranya mulai tercekat.
Khansa meraih ikat rambut di atas nakas, mengikat mahkota kepalanya yang lepek karena keringat itu dengan asal asalan. Kedua kakinya segera menjajak lantai yang terasa dingin menembus kulitnya.
Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi, memeriksa keberadaan suaminya. Namun kosong, tidak menemukan apa pun. Lagi-lagi ia menarik napas panjang dan membuang segala pemikiran negatif.
"Leon!" teriak Khansa lagi yang sudah tidak tahan.
Rasa nyeri di hatinya semakin terasa. Beban di dadanya seolah semakin besar, walau ia terus berusaha untuk menepis segala pemikiran buruk. Kakinya melangkah dengan cepat dan nyaris berlari. Ia menuruni tangga dengan begitu cepat.
Pandangannya kembali mengedar, mencari Leon di seluruh penjuru ruangan. Namun, tidak ia temukan. Ia melangkah cepat menuju pintu utama, khawatir berlebih mulai menyeruak dalam hatinya. Khansa membuka pintu dengan kasar dan melenggang keluar.
"Brugh!"
Tubuhnya terantuk dada seseorang begitu keras. Khansa reflek menekan dada itu, pandangannya mendongak hingga bersitatap dengan orang tersebut.
Bersambung~
__ADS_1
Sepertinya yang doain biar gadang kuat banget 😅😅 ditambah komen2 unyu kalian. wuhh mematik semangat nih.. hahaa.
Ketemu senin lagi nih... vote nya yaa..hadiahnya juga boleh... kali aja nanti kesulut lagi emosinya buat ngetik lanjutannya.. wkwkwk😂