Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 94. Mulai Berulah


__ADS_3

Tawa Khansa memudar seketika saat mendengar ucapan Leon. Kepalanya menjauh, raut kepanikan pun mulai terpancar dari wajahnya.


“Kenapa tegang gitu mukanya?” ucap Leon terkekeh memegang kedua bahu Khansa yang menegang.


“A … aku ….” Tiba-tiba Khansa berkeringat dingin, tubuhnya sedikit gemetar. Leon menyadari perubahan Khansa.


“Kamu kaya lagi kena serangan panik,” cetus Leon menyeka keringat di kening Khansa. Padahal pendingin ruangan menyala dengan suhu yang rendah.


Khansa menunduk, ia benar-benar takut. Leon paham apa yang dirasakan Khansa. Gadis remaja yang masih polos belum pernah tersentuh oleh laki-laki.


Leon menggenggam jemari tangan Khansa. Ia dapat merasakan betapa dinginnya tangan Khansa saat ini.


“Sa, kalau kamu memang belum siap, it's ok. Aku nggak akan maksa. Aku akan menunggunya sampai kamu benar-benar siap,” tutur Leon dengan lembut. Rasanya tidak tega jika ia harus merenggut paksa kesucian Khansa.


Perlahan, Khansa menggerakkan kepalanya untuk sedikit mendongak. Rasanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.


“Hemm … sebenarnya ya kenapa-napa. Tapi aku akan berusaha menahannya. Ingat, berusaha ya,” tegas Leon mencubit hidung mancung Khansa. “Sudahlah, ayo tidur sebelum aku kehilangan kendali.” Leon merebahkan tubuh Khansa di ranjang empuknya.


Sekelebat matanya menangkap cahaya yang aneh. Leon telingkup dan mengamati dada Khansa. Gadis itu mendelik menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Bentar deh,” ucap Leon mencoba menurunkan tangan Khansa.


“Jangan!” rengek Khansa ketakutan.


“Lihat doang, Sasa!” tegas Leon menajamkan matanya.


Khansa terdiam, ia pun menurut pasrah saat Leon menurunkan kedua tangannya.


“Apa ini? Aku baru lihat,” gumam Leon menyentuh liontin berwarna merah dengan ukuran lumayan besar.


“Ah, ini kalung dari nenek. Katanya jimat pelindung agar terhindar dari marabahaya. Dan nggak boleh sampai hilang,” jelas Khansa turut menggenggamnya.


'Dan biar cepet punya keturunan,' gumamnya dalam hati.


Leon mengangguk, lalu melepaskan kembali kalung tersebut, “Yaudah, dijaga baik-baik. Jangan sampai hilang ya,” ucap Leon menjulurkan telapak tangan lebarnya, untuk mengusap kepala Khansa.


“Iya,” sahut Khansa mengangguk disertai senyuman.


Keduanya tidur saling berhadapan, melempar tatapan penuh cinta dan sayang. Khansa melihat Leon yang berbeda malam ini. Binar bahagia tengah menggulung hati keduanya.

__ADS_1


“Tidurlah sebelum aku berubah pikiran,” ucap Leon menutup mata Khansa.


Sebenarnya kantuknya menghilang, ingin berlama-lama memandang wajah tampan suaminya. Namun ancaman yang keluar dari bibir pria itu membuat Khansa memaksa matanya terpejam.


Sedangkan Leon masih terjaga. Melihat keindahan makhluk di hadapannya. Alis yang indah tanpa harus disulam, bulu mata lentik nan tebal membalut kelopak mata indah milik Khansa.


Jemarinya sibuk menyusuri setiap inchi wajah Khansa. Pipi tirus, hidung yang mancung dilanjutkan mengecup kening Khansa cukup lama. Ia merapatkan tubuh pada Khansa, mendekap tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Rasanya sudah lama sekali Leon tidak merasakan kenyamanan saat tidur. Dan kali ini tak butuh waktu lama, ia pun menyusul khansa ke alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dering ponsel disertai suara getar menggema di penjuru kamar. Khansa mengerjapkan matanya. Ia melihat di sebelahnya sudah kosong.


Khansa bangun setelah beberapa saat. Ponselnya masih terus berdering tanpa putus. Lengannya terulur meraihnya. Matanya menyipit memperjelas penglihatannya.


Ibu jarinya menggeser layar datar itu, menempelkan pada telinga. “Halo,” ucap Khansa pelan.


“Halo Khansa? Aku Yenny, masih ingatkah kamu denganku?” tanya Yenni dengan nada lembut.


“Hmm … tentu saja. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku sudah lama menantikan hal ini, Yenny,” sambung Khansa dengan nada tenang.


Sewaktu kecil, Yenny merupakan sahabat baik Khansa. Meski Emily sudah berkali-kali mengingatkannya, bahwa sebenarnya Yenny itu bermuka dua. Namun Khansa tak percaya saat itu. Masih menganggap bahwa Yenny orang baik. Emily sangat membencinya.


“Kau tidak perlu terlalu memikirkannya, Yenny. Aku tumbuh dengan baik di desa. Dan saat aku kembali, aku akan membuat kalian porak poranda dengan tanganku sendiri,” ancam Khansa terdengar menakutkan.


Terdengar tawa dari seberang telepon. “Apa yang kamu sombongkan dari desa, Sa. Kamu tahu? Sepuluh tahun aku bekerja keras agar bisa menjadi pencabut nyawa untukmu,” ujar Yenny dengan sarkastik.


Khansa mendecih, “Aku sangat menunggu hal itu, Yenny. Kita lihat siapa sang pencabut nyawa sebenarnya,” balas Khansa tersenyum mengerikan. Untung saja tidak ada yang melihatnya.


Yenny dan Khansa saling menyindir, Yenny sangat kesal karena merasa Khansa menantangnya. Ia mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Khansa berdiri menatap mentari yang menyembul di ufuk timur. Ia pun menurunkan ponsel di tangannya. Khansa merasa Yenny bukan lawan yang bisa diremehkan, tidak seperti Maharani dan Jihan.


Beberapa saat kemudian, Khansa segera turun dari kamar. Ia sudah tidak melihat Leon di mana pun.


“Khansa, kamu sudah bangun?” tanya sang nenek di ujung tangga. “Leon tadi cuma titip pesan, katanya nggak tega bangunin. Dia harus berangkat pagi-pagi sekali, ada beberapa hal yang harus diurus belakangan ini,” jelas nenek Sebastian.


Khansa mengangguk, “Iya, Nek. Tidak apa-apa. Khansa mengerti,” balas Khansa tersenyum lalu melanjutkan langkahnya.


“Kalau begitu ayo kita sarapan?” tawar nenek mengulurkan tangannya.


“Nenek belum sarapan?” tanya Khansa memastikan.

__ADS_1


“Belum, nenek nungguin kamu,” jawab nenek tersenyum.


Hal sederhana seperti saja membuatnya sangat bahagia. Ia merasa berharga. Khansa membalas uluran tangan tersebut. Lalu mereka menikmati sarapan penuh kehangatan disertai obrolan ringan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelahnya, Khansa membuka Instagram, ia melihat Yenny menggunggah sebuah foto yang membuat khalayak ramai menjadi kasihan dan menyalahkan Khansa.


Dalam foto tersebut, Yenny tampak sangat sedih. Ia menunduk sambil menggenggam jemari Maharani yang tengah tertancap sebuah infus. Terlihat juga selang oksigen di hidung wanita itu.


Yenny menambahkan sebuah caption, “Aku buru-buru pulang karena mendengar berita buruk tentang ibuku. Aku tahu dia bersalah, bahkan ibu mengatakan sangat menyesal meski terlambat. Dia hanya ingin sedikit maaf. Aku bersedia menanggung akibatnya,” tulis wanita itu di bawah foto.


Yenny bukan hanya seorang dokter muda. Dia juga menjadi model endorse banyak barang ternama. Akun instagramnya memiliki jutaan followers. Dalam sekejap, foto tersebut mengundang simpati dari para fansnya.


“Kasihan Yenny, aku turut sedih melihatnya. Semangat kesayangan,” tulis salah seorang fans.


“Kami turut sedih melihat masalah yang tengah menimpa keluargamu. Terus semangat ya, Cantik. Kamu tidak sendiri. Kami selalu mendukungmu.” –tulis fans lainnya.


“Semoga semua cepat berlalu, sedih deh melihat Yenny seperti ini. Kami doakan yang terbaik.”


Dan masih banyak sekali ungkapan simpati yang membanjiri kolom komentar di bawah foto tersebut.


Khansa hanya tersenyum miring saat menscroll foto-foto Yenny. Ia sudah menyiapkan mental untuk semua yang akan terjadi.


Bersambung~


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2