Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 207. Lembaran Baru


__ADS_3

Seoul, Korea Selatan.


"Sayang, bangun!" ucap Leon membelai pipi mulus istrinya yang masih bersandar nyaman di dada bidangnya.


"Emmmmh, masih ngantuk!" balas Khansa dengan manja dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Kita sudah mendarat, Baby!" lanjut Leon masih memainkan jemarinya di pipi mulus Khansa.


Meski berat, Khansa memaksa membuka kelopak matanya. Pesawat yang mereka tumpangi sudah berhenti di landasan khusus. Ia meregangkan tubuhnya, setiap gerakannya justru nampak menggoda di mata Leon. Pria itu hanya menghelakan napas sembari menahan diri agar tidak menerkam wanita kesayangannya itu.


"Pakai dulu mantelnya. Dingin banget," ujar Leon meraih mantel tebal dan panjang milik Khansa lalu membantu memakaikannya. Dengan telaten Leon mengaitkan kancingnya satu persatu. Khansa merasa terharu, Leon selalu menjadikannya ratu bukan cuma di hatinya. Namun juga di dunia nyata.


Selesai itu, Leon membelitkan shall di leher Khansa untuk menepis hawa dingin yang berembus malam itu. Tak lupa menggenggam rambut panjang Khansa dan menggerainya karena sempat tertutup mantel dan shall tersebut.


"Makasih, Leon!" gumam Khansa berkaca-kaca. Hatinya tiba-tiba dilingkupi rasa takut yang teramat sangat. Ia takut kehilangan untuk yang ke sekian kalinya. Tidak! Khansa benar-benar tidak akan sanggup jika kehilangan pijakan kakinya. Leon adalah nyawanya.


Leon mencium kening perempuan itu, lalu memeluknya erat. "Selamat datang di kehidupan baru kita," gumamnya mencium puncak kepala Khansa bertubi-tubi.


"Jangan pernah tinggalin aku, Leon. Aku nggak akan sanggup!" Suara Khansa mulai serak dan tercekat.


Leon meregangkan lengannya, ia menunduk menatap istrinya lamat-lamat. Khansa mendongak, hingga mata jernihnya yang berair bersirobok dengan mata elang Leon yang menajam.


"Kamu berbicara tentang hal yang tidak mungkin aku lakukan!" ucapnya menarik ujung hidung Khansa dan menggerakkannya. Khansa menepisnya dengan kesal.


Leon segera beranjak dan merapikan mantel tebal yang membalut tubuh kekarnya. Ia melirik istrinya yang menatapnya manja. "Apa?" tanya Leon melihat gelagat aneh dari istrinya.


"Gendong!" pintanya mengulurkan kedua tangan ke depan.


"Manja banget! Istri siapa sih!" gerutunya, namun tak urung ia berbalik dan berjongkok.


Khansa segera beranjak dari duduknya, melompat di punggung kokoh sang suami dan melingkarkan kedua lengan di lehernya. Beberapa awak pesawat tampak tersipu melihat kemesraan pasangan tersebut.


Leon berdiri tegap, menahan bokong sang istri dengan kedua tangan lalu melenggang dengan santai keluar dari pesawat tersebut. Pramugari yang berjajar di pintu tersenyum sambil membungkuk hormat ketika Leon melaluinya.


Tepat di bawah pesawat itu berdiri seorang pria tampan yang merupakan kepercayaan Leon untuk mengelola cabang perusahaannya di Korea.


"Selamat datang, Tuan!" sambut pria berpenampilan rapi meskipun hari sudah sangat larut.


"Hmm ... Apa kabar Vincent?" sapa Leon yang membuat pria itu justru melongo. Terkejut dengan keramahan sang boss yang selama ini belum pernah ia lihat.


Mendengar ada suara lain, Khansa memaksa untuk turun dari gendongan sang suami. Namun Leon tak membiarkannya, justru semakin erat menguncinya.

__ADS_1


"Leon turunkan aku!" bisik Khansa menyembunyikan wajahnya di balik punggung Leon namun terus bergerak.


"Sssst! Diem, nanti jatuh," gumam Leon sedikit menoleh.


Vincent menelan salivanya, ini benar-benar kejutan baginya. Meski sebelumnya sudah mengetahui kedatangan Leon bersama sang istri, ia tidak menyangka bosnya itu bisa bersikap seposesif itu pada wanitanya.


Leon segera melenggang menuju mobil yang berdiri gagah tak jauh darinya. Buru-buru Vincent berlari membukakan pintu penumpang untuk atasannya tersebut.


Dalam perjalanan, Khansa terus bersandar di lengan Leon. Jemarinya menggenggam erat telapak tangan lebar Leon. Kedua matanya terpejam erat. Tangan Leon lainnya membelai lembut kepalanya, sesekali menciumnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Vincent menghentikan mobil di pelataran luas sebuah penthouse yang terletak di pusat kota. Leon sengaja memilih apartemen kelas atas yang dekat dengan perusahaan dan universitas tempat Khansa kuliah.


"Mau digendong lagi?" tanya Leon yang melihat Khansa masih bergeming.


"Enggak!" Buru-buru ia membuka mata dan menatap sekelilingnya.


Ia menatap takjub bangunan tinggi dan luas di hadapannya. Lampu-lampu malam yang berpendar menambah suasana estetik tempat itu.


"Tinggalkan kami, Vin. Jangan lupa datang pagi-pagi dan bawa orang-orang yang saya minta!" tandas Leon pada asisten kepercayaannya di negara ini.


"Baik, Tuan!" balasnya mengangguk hormat.


Leon tidak pernah melepas tautan tangannya dengan Khansa selama berjalan menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke unit apartemennya. Hingga pintu lift berhenti dan terbuka di lantai teratas, Khansa terkagum-kagum dengan eksterior apartemen yang luasnya bahkan setara dengan luas rumahnya. Satu lantai itu seluruhnya adalah unit milik mereka.


"Langsung istirahat! Besok aja lihat-lihatnya," ajak Leon merengkuh pinggang istrinya, berjalan menuju lantai dua.


Sebuah kamar yang sangat luas, dengan hampir keseluruhan dindingnya berbahan kaca, sehingga bisa menembus pemandangan langit yang dipenuhi gemerlap bintang bertaburan.


Dalam kamar itu sudah tersedia beberapa lemari besar di walk in closet. Semua fashion Khansa dan Leon sudah tertata dengan rapi di sana.


Khansa terkagum-kagum, ia berlari menuju salah satu jendela. Menyibak gorden berwarna putih dengan senyum merekah. Bangunan tersebut terletak paling tinggi di antara bangunan-bangunan lain. Pandangannya menuju langit yang seketika membuat hatinya dalam kedamaian.


"Kamu suka?" tanya Leon melingkarkan lengannya di perut Khansa setelah berganti pakaian tidur.


Khansa mengangguk beberapa kali, senyumnya semakin lebar lalu menggerakkan kepala menatap sang suami. "Aku merasa melihat dunia!" candanya menurunkan pandangan. Yang mana ia melihat banyaknya bangunan berjajar, kendaraan yang melaju di jalan raya bahkan ia juga bisa melihat keindahan laut yang terletak lumayan jauh dari tempatnya.


"Baiklah, kalau ada sesuatu yang ingin kamu benahi, katakan saja pada para pelayan besok. Sekarang kamu harus tidur! Jangan membantah biar cepet pulih!" titah Leon melepas mantel dan shall milik Khansa.


"Iya, suamiku!" sahut Khansa mencium pipi Leon lalu berlari menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


"Genit! Tapi aku suka!" teriak Leon tertawa sembari menyentuh pipinya.

__ADS_1


Dengan gerakan santai, Leon berjalan menuju ranjang luas dan merebahkan tubuhnya di sana. Khansa tampak berlari, langsung melompat di sebelah Leon hingga membuat pria itu terkejut karena gerakan kasar sang istri.


Perempuan itu menyembunyikan badannya di balik selimut tebal, mencengkeramnya dengan kuat. Wajahnya memerah, Leon menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?" tanya pria itu memiringkan tubuhnya.


"Enggak! Enggak apa-apa," ujarnya tersenyum canggung.


Leon menautkan kedua alisnya. Lalu merapatkan tubuhnya pada sang istri, lengannya masuk ke dalam selimut dan memeluk erat wanita itu. Bergerak perlahan menyusuri punggungnya hingga membuat Khansa menegang.


"Leon, jangan gitu! Merinding semua nih!" keluh Khansa merasakan sekujur tubuhnya meremang. "Besok aku mau beli piyama. Masa gaun tidurnya tidak layak pakai semua!" desisnya mengerucutkan bibir.


Leon menyemburkan tawa, ia baru mengerti kenapa Khansa bertingkah aneh. "Hahaha! Nggak usah, aku sengaja meminta yang seperti ini. Lagian kenapa sih?"


"Iihh geli Leon!" elak Khansa mendongak dan menepuk lengan kekar Leon.


"Biar gampang bukanya, Sayang!" bisiknya di telinga Khansa.


"Pikiranmu ke sana mulu!" serunya melotot tajam.


Leon terkekeh geli, lalu mendekap erat istrinya. Mengunci tubuh mungil itu dengan tangan dan kakinya. "Tidur! Cerewet!" gumamnya menekan kepala Khansa yang hampir melayangkan protes.


Tidak bisa bergerak akhirnya Khansa pun pasrah dalam kungkungan suaminya. Hatinya damai mendengar detak jantung sang suami. Keduanya saling berpelukan hingga menembus alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Teriknya mentari menerobos dinding kaca, membangunkan Khansa dari tidur lelapnya. Ia masih berada di posisi yang sama. Matanya mengerjap berulang, mengumpulkan seluruh kesadarannya. Sudut bibirnya terangkat ke atas saat manik matanya menangkap wajah tampan sang suami yang masih lelap dalam tidurnya.


Perlahan Khansa melepas lilitan tangan dan kaki Leon, bergegas mandi dan bermaksud menyiapkan sarapan. Namun setelah turun ke lantai dasar ia terkejut karena ada banyak pelayan yang sedang melakukan tugasnya masing-masing.


"Selamat pagi, Nyonya!" sapa mereka saat melihat Khansa menuruni tangga.


"Pagi semua," balas Khansa mengangguk disertai senyuman lembut.


Bell apartemen tersebut berbunyi. Khansa yang berada tak jauh dari pintu bergegas membukanya, melarang maid yang tengah berlari ke arah pintu. "Enggak apa, Bi. Biar saya saja," ucap Khansa yang sudah menyentuh handel pintu.


Kening Khansa mengernyit saat membuka pintu dengan lebar. Ia melihat dua orang wanita cantik berdiri di hadapannya. Satu di antaranya mengenakan pakaian feminim dan berkacamata, sedang satunya lagi mengenakan celana panjang dan atasan kaos berbalut jaket kulit. Keduanya tersenyum sembari menunduk.


"Selamat pagi! Benar ini alamat Tuan Leon Sebastian?" ucap perempuan feminim dengan suara lembut.


DEG!


'Siapa mereka?' tanya Khansa dalam hati.

__ADS_1


Bersambung~


Sesuai permintaan 😄


__ADS_2