Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 120. Aku Mencintaimu


__ADS_3

Suara merdu yang keluar dari tenggorokan Emily mengejutkan Khansa. Begitupun dengan Emily yang terkejut sembari membuka mulut dan kedua matanya lebar-lebar. "Yaampun! Mata gue ternoda!" serunya menutup mulut dengan kedua tangannya.


Khansa panik lalu mendorong paksa dada Leon, hingga pagutan bibir mereka terlepas. Wajah Khansa memanas, rasa malunya melonjak hingga ubun-ubun. Ia segera merapikan cadar, dadanya terasa nyeri karena debaran yang begitu keras. Napasnya pun menjadi tak beraturan.


"Aiihh, ngapain sih? Ganggu aja!" cebik Leon menatap Emily dengan malas.


"Gila! Ini rumah sakit, Tuan Leon! Bukan kamar pribadi. Astaga!" seru Emily melipat kedua lengannya di dada.


"Saya bahkan bisa menjadikan rumah sakit ini sebagai rumah pribadi!" ucap Leon ketus sembari memicingkan mata elangnya.


Satu sudut bibir Emily terangkat, "Sombong amat!" semburnya.


Khansa menghela napas panjang. Ia segera menarik lengan Emily sebelum terjadi perang di ruang UGD itu. Dua manusia itu jika bertemu, hobinya selalu berdebat. Leon merasa, Emily merenggut Khansa darinya.


Leon turut melangkah dengan tegas di belakang dua perempuan itu. Sudah seperti bodyguard saja. Khansa yang masih merasa malu, berjalan tanpa bersuara.


"Bibi!" Khansa berucap setelah membuka pintu. Tubuhnya terpaku, matanya berkaca-kaca saat melihat wanita itu sudah membuka kedua matanya.


Perlahan, kepala Bibi Fida menoleh ke arah pintu. Bibirnya yang kaku mencoba untuk membentuk senyuman saat menatap nona kecilnya yang sudah beranjak dewasa.


"Non," ucap Bibi Fida sangat lirih. Air matanya pun menyeruak, mengalir ke pelipisnya.


Khansa berlari mengambur ke ranjang pasien, memeluk Bibi Fida dengan sangat erat. "Bibi, akhirnya kau sadar," seru Khansa mulai terisak.


Ingin sekali sang bibi membalas pelukan itu, seperti yang ia berikan semasa kecil dulu. Namun apa daya, tubuhnya masih lemah. Belum mampu bergerak banyak.


Emily tersenyum menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Sedangkan Leon berjalan perlahan mendekati Khansa. Ia merengkuh tubuh mungil itu dengan lengan panjangnya.


"Hai, Bi," sapa Leon membungkukkan tubuhnya. "Kenalin, suaminya Sasa," lanjutnya dengan senyum yang indah.


Khansa beranjak berdiri, ia menoleh pada pria di sampingnya. Merasa tidak percaya, saat Leon mau mengakui hubungannya. Leon pun beralih menatap Khansa, masih dengan merengkuh bahu perempuan itu. Bibirnya masih menyungging senyum tipis.


"Non, sudah ... menikah?" ucap Bibi Fida terbata-bata.

__ADS_1


"Iya, Bi. Kami sudah menikah," sambar Leon menjawabnya. Khansa hanya mengangguk pelan. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi, memegang tangan kurus Bibi Fida dan menciumnya.


"Bibi, apa yang dirasakan sekarang?" tanya Khansa mengalihkan pembicaraan.


Leon masih setia berada di belakang Khansa. Satu tangannya menyangga sandaran kursi dan tangan lainnya menopang ranjang Bibi Fida, tubuh jangkungnya sedikit merunduk. Jarak mereka sangat dekat, hal itu cukup membuat Khansa menjadi gugup.


"Selamat ya, Non. Bibi turut bahagia." Bibi Fida menatap dengan lembut, napasnya masih terasa berat. Bibirnya pun kering dan terlihat pucat.


"Bibi mau minum dulu?" tawar Khansa meraih segelas air putih.


Leon dengan sigap membantu membangunkannya dan Khansa menyodorkan pipet pada mulut Bibi Fida. Wanita tua itu meneguk sedikit demi sedikit air putih, hingga mampu membasahi kerongkongannya. Emily tidak ingin merusak suasana haru tadi. Ia memilih keluar dan duduk di kursi tunggu.


"Bibi istirahat dulu aja ya," ucap Khansa yang tidak tega. Sebenarnya banyak hal yang ingin dia tanyakan saat ini. Namun Khansa mencoba menekannya, mengingat keadaan Bibi Fida yang masih melemah.


Khansa menatap Leon, memberi isyarat agar kembali merebahkan Bibi Fida. Khansa menaikkan selimut hingga dada. Membelai pucuk kepala Bibi Fida yang perlahan mulai memejamkan kedua mata.


Leon memeluk Khansa dari belakang. Kedua lengannya melingkar di leher Khansa, gadis itu mendongak dengan kening yang mengerut. Dengan cepat Leon mengecup keningnya.


"Kamu ini kenapa sih Leon? Sikapmu benar-benar aneh. Aku sampai ragu, ini kamu bukan sih?" tanya Khansa masih mendongak.


"Uhuk! Aduh, Leon! Nggak bisa napas!" Khansa memukul lengan kekar Leon yang terlalu erat memeluknya.


Leon mengendurkan pelukannya. Menarik lengannya, agar pindah di sofa. "Duduk sini aja. Nanti ganggu bibi," ucap Leon mendaratkan tubuhnya dan menarik Khansa di pangkuannya.


"Leon! Ada Emily!" Khansa merasa tak nyaman dan berusaha untuk berdiri. Tapi Leon tak mengizinkannya.


"Biarin aja, biar dia juga cepat menikah," sergah Leon terkekeh melihat wajah Khansa yang sudah memerah.


"Ck! Leon!" decak Khansa terus menatap ke arah pintu. Was-was jika ada yang masuk ke ruangan. Jantungnya seperti berlarian di dalam rongga dadanya.


Kedua tangan Leon menangkup pipi Khansa, menatap kedua manik beningnya bergantian. "Sa, apa yang kamu inginkan sekarang?"


"Tidak ada yang aku inginkan selain kesembuhan kakek, Bibi Fida dan kehancuran mereka," ucap Khansa pelan tanpa berkedip.

__ADS_1


"Kali ini jangan melarangku lagi. Biarkan aku melakukan hal yang harus aku lakukan. Jangan memintaku berhenti dan jangan membahayakan dirimu sendiri. Mmm ... satu lagi, jangan jauh dariku. Kejadian tadi, membuatku takut akan ada orang yang akan mencelakaimu. Tolong, menurutlah kali ini. Kalau kamu tidak mau melakukannya demi aku, lakukan demi nenek, demi orang-orang yang kamu sayangi. Bisa?" papar Leon dengan tegas.


Khansa termenung sejenak, selama ini dia terlalu keras kepala. Dan sampai sekarang ia masih merasa ragu menumpukan hidupnya pada Leon. "Aku ...."


"Sa, please. Aku nggak mau kamu kenapa-napa! Aku nggak mau kehilangan kamu lagi," ucap Leon masih menangkup kedua pipi Khansa.


Khansa meneguk salivanya, cahaya yang berpendar dari sorot mata Leon menampakkan ketulusan dan kekhawatiran yang mendalam. "Kenapa?" tanya Khansa yang darahnya mulai berdesir.


"Karena aku mencintaimu!" ucap Leon dengan lugas tanpa keraguan sedikitpun.


Tubuh Khansa justru melemas, air matanya kembali menyeruak dari kedua sudut matanya. Bukan, bukan tangis kesedihan. Tapi terharu dan merasa bahagia. Rasa tak percaya masih bergelayut di hatinya.


Khansa memukul dada Leon dengan kedua tangan kecilnya, masih dengan isakan yang semakin menggema. Leon membiarkan Khansa melepaskan emosinya. Mengeluarkan semua rasa yang membebani hatinya. Setelah beberapa saat, Leon menarik kepala Khansa ke dalam pelukannya.


"Kamu tahu? Aku pernah berada di titik terendah, sampai-sampai aku tak sanggup untuk berdiri lagi." Khansa mulai bersuara meski lirih. Leon diam mendengarkan, sembari mengusap kepalanya dengan lembut.


"Aku pernah kehilangan cahaya, hingga hidupku menggelap seketika. Bahkan sekarang, aku tidak ingin berpijar terlalu terang. Karena pernah terhempas, ditusuk lalu dibiarkan tenggelam dengan luka menganga," ujar Khansa dengan suara bergetar.


Orang yang pernah terluka begitu dalam, pasti mengalami trauma. Dia akan berjuang mati-matian untuk bangun dan berdiri lagi. Dan disaat ia sudah berhasil menopang kedua kakinya dengan kokoh, hal terbesar yang paling dia takutkan adalah kehilangan kembali. Inilah yang dirasakan Khansa. Rasa takut kehilangan disaat dia sudah menemukan kenyamanan.


Leon mengeratkan pelukannya, "Izinkan aku untuk menjadi matahari dalam hidupmu yang menyinari dan menghangatkan tubuhmu. Kamu nggak sendiri, Sa! Jangan anggap aku orang lain lagi."


Khansa menegakkan tubuhnya, menatap Leon dengan serius, "Aku serasa menemukan Leon yang lain," ucapnya datar.


Leon terkekeh, merapikan rambutnya yang berantakan dan menyelipkannya di belakang telinga. "Aku bersikap seperti ini hanya kepadamu dan nenek."


"Masa?" cibir Khansa enggan percaya. "Eh! Emily di mana?" tanya Khansa menepuk keningnya saat mengedarkan pandangan dan tidak menemukan siapa pun di ruangan selain mereka bertiga. Pandangan Leon turut mengeliling, lalu mengendikkan bahunya.


Bersambung~


Haddeeehh aku TerSaLe-SaLe..... Plong rasane ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„ manis manis terus diabets gak nih...wkwkwk.


__ADS_1


Iyo, mass.... eh! Ojo macem2 Mas Le... ๐Ÿคจ



__ADS_2