Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 36 : Couvade Syndrome


__ADS_3

Baru saja satu langkah masuk melalui pintu, Leon kembali memutar langkahnya, buru-buru keluar. Ia bingung harus ke mana, karena toilet ada di dalam ruangan.


Kakinya terayun sangat cepat, kembali ke pelataran dekat mobil. Satu tangannya menekan kap mobil dan membungkuk untuk mengeluarkan isi perutnya.


Sedangkan Khansa baru sampai di resepsionis, melebarkan sepasang manik indahnya ketika berbalik. Karena tidak menemukan suaminya.


"Loh, Leon mana ya?" tanya Khansa mengedarkan pandangannya.


Emily ikut memutar tubuhnya dan ya, tidak menemukan suami sahabatnya itu dimana pun. "Masih di luar kali," ucap Emily.


"Bentar deh. Aku susul dulu," ujarnya merasakan firasat tidak enak.


Khansa melangkah cepat keluar ruangan. Matanya menyapu di seluruh penjuru. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan mencari suaminya.


"Leon!" pekiknya saat menemukan sang suami sedang berusaha memuntahkan isi perutnya.


Sepasang kaki jenjangnya nyaris berlari. Ia bergegas menghampiri sang suami yang sudah begitu pucat. Khansa meraih tengkuk Leon dan memijatnya lembut. Satu tangannya menyeka keringat yang membasahi kening sang suami.


Selang beberapa waktu, Leon beranjak menegakkan tubuhny, berjalam gontai lalu membuka pintu mobilnya. Ia duduk setelah tenaganya seolah terkuras habis.


Khansa segera membuka jas pria itu, membuka dasi dan beberapa kancing teratasnya. Tak lupa membaluri leher dan hidung Leon dengan minyak angin.


"Minum dulu, Sayang," ucap Khansa menyodorkan air mineral yang selalu disediakan dalam mobil. Ia sudah membukakan tutup botol.

__ADS_1


Leon menerimanya, segera menelan hingga habis setengahnya. Khansa menggenggam jemari Leon, menatapnya dengan sangat lekat. "Kamu kenapa bisa sampai kayak gini?" tanya nya lembut.


"Nggak tahu. Waktu mau masuk, aroma bunga-bunga itu membuatku mual," jelas Leon masih mengatur napas.


"Hah?" Khansa terkejut. "Lah terus gimana nanti dekorasinya? Pasti 'kan pakai bunga, Sayang." Dengan telaten Khansa meraih tisu dan menyeka bibir Leon hingga bersih.


"Nggak kuat," Leon menggeleng pelan sembari memijit pangkal hidungnya.


Emily menyusul karena Khansa tak kunjung kembali. Ia menghampiri bersama Hansen, takut terjadi sesuatu. "Sasa! Ada apa?" tanya Emily ketika sampai.


"Leon mabuk sama bunga," ucap Khansa menoleh pada Emily.


"Loh?! Kok bisa?" Emily memekik heran.


Leon yang sempat memejamkan mata, kini kembali terbuka, "Benarkah begitu, Sayang?" tanyanya pada bibir pucatnya.


Khansa mengangguk, "Heem, biasanya akan hilang sendiri kalau masuk trimester kedua. Itu tandanya kamu memiliki ikatan emosional tinggi dengan anak-anak kita," jelasnya lagi.


Leon beranjak, menegakkan duduknya. Lalu menarik kedua pinggang Khansa dan menempelkan kepala pada perut wanita itu. Khansa pun tersenyum, memeluk suaminya.


"Aah so sweet sekali sih. Aku juga pengen kaya gitu nanti," sahut Emily memeluk pinggang Hansen yang diam saja sedari tadi.


Hansen menelan ludahnya, tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia yang mengalami mual muntah seperti Leon. "Sepertinya jangan deh. Nanti siapa yang rawat kamu?" tanya Hansen bersuara lirih. Emily mendelik sembari mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


"Kalau Kakak ipar 'kan dokter, dia tidak akan panik jika menghadapi situasi seperti ini. Beda sama kita, nanti yang ada malah kalang kabut," sambungnya menjatuhkan pandangan pada calon istrinya itu.


Emily yang awalnya mendengkus kesal, kini mulai menyunggingkan senyum. Ia melesakkan kepala pada dada bidang Hansen. "Iya juga, hehe," ucapnya. "Yaudah, aku panggil tim WO ke sini aja. Kita duduk di sana. Gimana?" sambung Emily menunjuk tempat duduk yang melingkar di teras gedung.


Khansa mengangguk, Leon mulai melepaskan lilitan tangannya, memastikan kursi tersebut tidak ada bunga sama sekali.


"Kak Leon mau kubantu?" tawar Hansen sebelum beranjak.


"Nggak usah, sama Sasa aja," jawab Leon menautkan jemarinya dengan sang istri.


"Yaudah, aku duluan," lanjut Hansen menyusul Emily.


Khansa memberi jalan untuk Leon. Pria itu kembali menjajakkan kaki panjangnya, keduanya saling berpelukan erat kembali melangkah ke gedung tersebut.


"Sudah mendingan?" tanya Khansa saat keduanya duduk di sofa double seat.


"Udah, makasih, Sayang!" ucapnya mencuri ciuman di pipi Khansa bersamaan dengan Emily dan beberapa team WO yang membawa konsep untuk acara mereka. Seketika Khansa salah tingkah dan menunduk malu.


"Leon ih! Nggak tahu tempat!" semburnya pelan, mencubit paha suaminya.


"Aduh!"


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2